Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional BNPB dan BPBD Seluruh Indonesia, 2 Februari 2019, di JX International Exhibition, Surabaya, Jawa Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.297 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Kepala BNPB Pak Doni Monardo beserta seluruh jajaran BNPB,
Yang saya hormati Sekretaris Kabinet, Ketua Komisi VIII DPR RI, Gubernur Jawa Timur beserta seluruh Gubernur, Bupati, Wali Kota yang hadir, lebih khusus Bu Wali Kota Surabaya,
Yang saya hormati seluruh Pangdam, Kapolda, dan
Bapak-Ibu sekalian seluruh unsur BPBD dan Bappeda Provinsi yang hadir pagi hari ini,
Bapak-Ibu tamu undangan yang berbahagia.

Ini saya duduk di sini kayak mau debat. Panggungnya bulat, saya di tengah sendiri, ini kayak forum debat saja. Yang pertama yang ingin saya sampaikan, forum ini forum yang sangat strategis sekali dalam rangka mengoordinasikan, mengonsolidasikan kekuatan-kekuatan yang kita miliki dalam rangka yang berkaitan dengan bencana.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pagi hari ini. Yang pertama, ini penting sekali dan lama ini tidak kita singgung yang berkaitan dengan perencanaan perancangan pembangunan di daerah. Ini berkaitan dengan bupati, wali kota, gubernur, dan juga bappeda. Harus kita mulai karena kita harus sadar bahwa negara kita ini berada di dalam garis-garis cincin api sehingga setiap pembangunan ke depan, rancangan pembangunan ke depan harus dilandaskan pada aspek-aspek pengurangan risiko bencana.

Bappeda ini harus mengerti ini, di mana daerah merah, di mana daerah hijau, di mana daerah dilarang, di mana daerah yang diperbolehkan. Dan rakyat harus betul-betul dilarang untuk masuk ke dalam tata ruang yang memang itu sudah diberi tanda merah. Artinya mereka harus taat dan patuh kepada rencana tata ruang.

Karena bencana itu di kita selalu berulang-ulang, tempatnya di situ-situ saja. Kita tahu semuanya. Saya berikan contoh misalnya di NTB, itu tahun ’78 ada. Di Palu tahun ’78 atau ’79 juga ada di situ. Ada siklusnya. Sehingga kalau ada ruang-ruang, tempat-tempat yang memang itu sudah merah dan berbahaya, ya jangan diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Bappeda juga harus mulai merancang,  rakyat diajak untuk membangun bangunan-bangunan yang tahan gempa kalau memang di daerah itu rawan gempa.

Yang kedua, ini juga harus dilakukan secara masif, pelibatan akademisi, pelibatan pakar-pakar kebencanaan untuk meneliti, untuk melihat titik-titik mana yang sangat rawan bencana dan rawan bencana. Meneliti, mengkaji, menganalisis potensi-potensi bencana yang kita miliki. Supaya kita mampu memprediksi ancaman dan dapat mengantisipasi serta mengurangi dampak bencana. Libatkan akademisi dan pakar-pakar. Jangan kalau ada bencana baru kita bekerja, bukan itu. Mestinya kita harus mengerti. Pakar-pakar di sini ada, meskipun enggak banyak tapi ada.

Sehingga kita tahu misalnya akan adanya misalnya megathrust. Kita tahu bahwa akan ada pergeseran lempengan, misalnya. Dan itu kalau sudah pakar-pakar berbicara, akademisi berbicara ya disosialisasikan ke masyarakat, bisa lewat pemuka-pemuka agama, bisa lewat pemda. Ini penting sekali.

Yang ketiga, apabila ada kejadian bencana, maka ini otomatis, kita harus tahu semuanya, bahwa gubernur akan menjadi komandan satgas daruratnya, secara otomatis. Dan juga pangdam dan kapolda yang terkait ini menjadi wakil komandan satgas untuk membantu gubernur. Jangan sedikit-sedikit langsung naik ke pusat. Jangan sedikit-sedikit naik ke pusat. Ini kita harus tahu semuanya.

Yang keempat, pembangunan sistem peringatan dini yang terpadu, yang berbasiskan rekomendasi dari pakar tadi, dari hasil penelitian, dari hasil kajian para akademisi dan pakar ini harus dipakai. Jadi sistem peringatan dini yang terpadu. Daerah harus sudah mulai membangun itu. Nasional kita juga akan kita kerjakan itu di titik-titik mana, di tempat-tempat yang mana. Untuk itu pada kesempatan yang baik ini, saya minta Pak Doni, Kepala BNPB untuk mengoordinasikan semua kementerian dan lembaga terkait agar sistem peringatan dini ini segera terwujud dan kita pelihara, kita rawat.

Saya melihat video di Jepang misalnya, ada gempa, masyarakat baru makan, ada gempa, tetap makan. Tidak panik, tetap makan. Tapi begitu tanda sirene itu sudah nguing nguing baru lari, tetapi rutenya juga jelas, ke arah mana juga jelas. Hal-hal seperti ini yang harus mulai kita kerjakan.

Sehingga yang kelima, saya ingin ini segera dikerjakan, lakukan edukasi kebencanaan. Tahun ini harus dimulai. Tahun ini harus dimulai edukasi kebencanaan, baik di masyarakat, baik di sekolah-sekolah, terutama di daerah-daerah yang rawan bencana, sampai ke tingkat masyarakat. Sekali lagi, sekolah-sekolah gunakan, masyarakat lewat pemuka-pemuka agama gunakan. Sehingga yang namanya papan-papan peringatan itu diperlukan. Papan-papan peringatan itu diperlukan. Rute-rute evakuasi itu harus ada. Jangan kalau ada bencana ada yang lari ke timur, ada yang lari ke barat, ada yang lari ke utara. Jelas rute evakuasi itu menuju ke mana. Segera ini dikerjakan!

Yang terakhir, lakukan simulasi latihan penanganan bencana secara berkala dan teratur untuk mengingatkan masyarakat kita secara berkesinambungan sampai ke tingkat paling bawah RT/RW, sampai ke tingkat paling bawah. Sehingga masyarakat kita betul-betul siap menghadapi setiap bencana.

Itu bukan hanya gempa bukan, hanya tsunami, bukan hanya banjir, bukan hanya tanah longsor. Tetapi memang yang banyak menelan korban adalah di gempa bumi dan tsunami. Oleh sebab itu saya minta, ini ada yang dari Palu? Yang dari Palu, BNPB dari Palu? BPBD dari Palu ada? Yang dari Lombok, yang dari NTB? Oh Ibu Wakil Gubernur ada? Yang dari Aceh? Ya coba dari Palu maju satu!

(Dialog Presiden RI dengan Perwakilan Peserta Rakornas BNPB dan BPBD Seluruh Indonesia)

Presley Tampubolon (Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu)
Bapak Presiden, Nama saya Presley Tampubolon, saya Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu.

Presiden Republik Indonesia
Saat Palu terkena bencana saya sebetulnya mau terbang ke sana tetapi ternyata airport tidak memungkinkan dan pesawat tidak bisa turun sehingga saya menunggu sampai beberapa hari kemarin. Saya turun di sana setelah berapa hari?

Presley Tampubolon (Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu)
Kalau Bapak turun hari ketiga, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Betul, ini betul. Kalau di Lombok itu juga ada gempa, saya langsung ke sana karena airport-nya kita bisa turun.

Pertanyaan saya apa yang paling sulit saat terjadi gempa di Palu, di hari pertama?

Presley Tampubolon (Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu)
Yang pertama paling sulit adalah menertibkan pengungsi-pengungsi untuk masuk di dalam shelter yang terkumpul, Pak. Karena semua pengungsi ini mengambil tempat sesuai dengan arah mereka, sehingga tersebar. Malam pertama itu Pak. Tenda-tenda sementara di tempat-tempat tertentu, Pak. Karena kami belum bisa menjangkau semua wilayah.

Presiden Republik Indonesia
Apa yang paling sulit di hari pertama?

Presley Tampubolon (Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu)
Yang paling sulit adalah koordinasinya Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ini. Yang kita lihat di hari-hari di mana itu ada di hari pertama yang paling sulit di hari pertama, kedua, ketiga itu adalah mengonsolidasikan, mengoordinasikan seluruh instansi-instansi yang terkait dengan ini. Yang paling sulit di situ. Semua orang masih syok. Gubernur syok, Kapolda-nya syok. Pak Presley juga enggak tahu syok atau ndak?

Presley Tampubolon (Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu)
Syok tapi langsung ke lapangan Pak. 18.20 kami sudah turun ke lapangan Pak, di pantai-pantai dan lokasi-lokasi yang terdampak.

Presiden Republik Indonesia
Oke, bagus, bagus, bagus. Iya betul. Yang paling sulit di situ. Ini lah yang mulai harus kita desain, kalau ada bencana itu apa, yang harus dikonsolidasikan itu apanya. Nanti itu tugasnya Pak Doni.

Silakan Bu, dikenalkan Bu.

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
Nama saya Tuti Indriani Pak, dari Bappeda Kota Lhokseumawe, Aceh.

Presiden Republik Indonesia
Begini, pengalaman Aceh begitu tsunami melanda, dari sisi perencanaan apa yang didesain dan mungkin apa yang sebelumnya sudah ada yang itu merupakan rancangan dari Bappeda?

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
Belum pernah Pak, karena saat itu memang baru pertama sekali di Aceh Pak. Jadi kita belum pernah tahu kondisi apa yang terjadi saat itu, Pak. Jadi memang belum ada perencanaan apapun saat untuk tsunami itu Pak. Kejadian baru pertama dan tidak pernah dialami Pak.

Presiden Republik Indonesia
Pertanyaan saya, dengan kejadian itu Bappeda merancang tata ruangnya sekarang seperti apa, yang akan datang seperti apa?

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
Pertama-tama mungkin Pak, setelah pengalaman dari itu kita membuat perencanaan evakuasi-evakuasi,  jalur evakuasi Pak. Dan bangunan-bangunan untuk penyelamatan tsunami tersebut, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Artinya, artinya bangunan-bangunan yang rawan berada di pinggir-pinggir pantai itu sekarang tidak ada?

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
Bangunan untuk sekarang di bibir pantai kita usahakan tidak akan ada Pak.

Presiden Republik Indonesia
Sekarang pertanyaan saya, ada atau tidak ada sekarang?

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
Tidak ada, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Benar? Saya ini orang lapangan lho, saya cek lho.

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
Kalau di Kota Lhokseumawe Pak, tidak kita izinkan pendirian bangunan di sepanjang bibir pantai Pak.

Presiden Republik Indonesia
Berapa meter?

Tuti Indriani (Bappeda Kota Lhokseumawe)
100 meter Pak dari bibir pantai.

Presiden Republik Indonesia
Dekat kalau itu masih. Begini, yang saya kira mulai, ini harus mulai dibicarakan, Bappenas nanti, di BNPB, kemudian di bappeda daerah, harus memulai merancang seperti yang tadi saya sampaikan merencanakan betul-betul dan terutama daerah-daerah yang sangat rawan bencana, harus. Harus berani kita berkata tidak kepada rakyat, daripada nanti pada saat ada bencana menelan korban yang sangat banyak. Harus berani. Memang kita sering kedahuluan dengan masyarakat, perencanaan belum ada masyarakat sudah tinggal di situ. Ini yang memang menyulitkan di situ. Tapi memang kita harus mulai tegas membangun ini. Enggak bisa tidak kayak dulu-dulu, enggak bisa. Karena kita sadar, sekali lagi, kita berada pada negara yang rawan bencana.

Ya silakan kembali. Sebentar-sebentar Bu, sebentar, ya ini enggak dapat sepeda tapi dapat foto. Ini kalau ditukar dengan sepeda lebih mahal ini karena ada tulisannya ini, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’. Ini yang namanya kerja cepat itu seperti ini, baru duduk di sini lima menit fotonya sudah jadi. Ini memang kita ini semuanya harus kerja cepat, enggak bisa kita kerja lambat-lambat kayak dulu-dulu. Semuanya harus cepat.

Ya saya rasa enam poin itu saja yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, kita harus betul-betul bisa mengonsolidasikan, bisa mengoordinasikan semua kekuatan potensi yang kita miliki dalam rangka manajemen bencana di setiap peristiwa yang terjadi di manapun di negara kita.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru