Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-9 dan Peluncuran Mitra Bukalapak, 10 Januari 2019, di Hall B, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Januari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.229 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Pak Achmad Zaky, CEO Bukalapak, beserta seluruh founder, Mas Nugroho Herucahyono, dan Mas Fajrin, serta seluruh manajemen yang hadir pada malam hari ini,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja yang hadir,
Serta Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, yang saya cintai.

Pertama, ingin saya informasikan bahwa UMKM yang ada di negara kita itu ada 56 juta. Jumlah yang sangat besar sekali, 56 juta. Ada banyak problem di UKM-UKM kita yang berkaitan dengan bagaimana membangun brand, bagaimana mengikuti desain yang sesuai dengan keinginan pasar, bagaimana membuat kemasan agar menarik pembeli. Dan persoalan-persoalan lain yang menyangkut modal, menyangkut akses ke pasar, yang kita lihat ini satu per satu akan bisa selesai kalau dunia usaha, swasta ini, bersama-sama dengan pemerintah membangun negara ini bersama-sama. Saya melihat, saya melihat, ada peluang dengan hadirnya Bukalapak.

Yang pertama, yang sudah siap, yang sudah siap, UKM-UKM kita yang sudah siap bisa langsung masuk ke online store, ke toko online, ke Bukalapak bisa masuk. Tetapi yang banyak adalah banyak yang belum siap untuk masuk. Problem-problem yang tadi saya sampaikan, baik yang berkaitan dengan kemasan, membangun brand setiap produk itu adalah tugas kita bersama-sama, tugas pemerintah dan tugas dunia usaha, dunia swasta.

Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini saya mengajak, mengajak Bukalapak agar membangun ekosistem online ini supaya sambung dengan ekosistem offline-nya. Artinya apa? Seluruh UMKM, seluruh UKM yang ada di negara kita ini bisa masuk semuanya ke Bukalapak. Caranya seperti apa? Bisa saja kerja sama dengan, misalnya dengan Menteri Perindustrian, dengan Menteri Koperasi dan UKM untuk memperbaiki packaging, memperbaiki kemasan-kemasan yang ada di UKM-UKM kita.

Saya ini hampir setiap hari, setiap minggu masuk ke kampung, masuk ke desa. Saya sedih kalau melihat sebuah produk kualitasnya bagus, barangnya bagus tapi enggak bisa masuk akses ke pasar karena packaging-nya yang jelek. Tidak diberi sebuah brand yang kelihatan memiliki kualitas. Misalnya, ini misalnya, ada sebuah tempe yang enak di sebuah kampung yang saya lihat, tapi kemasannya tidak dibungkus dengan baik, mereknya juga ‘Suka Makmur’. Lha ini, memberi nama ini penting.  Inilah pekerjaan besar kita.

Belum nanti kita berbicara masalah yang berkaitan dengan desain. Contoh yang saya tahu, misalnya, furnitur. Banyak UKM-UKM kita memiliki produk yang bagus tapi tren tidak mengikuti tren pasar. Desainnya bagus tapi warnanya tidak mengikuti juga keinginan pasar. Seperti inilah yang tadi saya sampaikan, kalau bisa disambungkan antara ekosistem offline dan ekosistem online ini akan menjadi sebuah kekuatan yang besar bagi produk-produk yang ada di negara kita. Sangat besar peluang itu. Jangan sampai karena produk kita enggak bisa masuk, produk-produk UKM enggak bisa masuk ke online diisi oleh barang-barang dari luar. Jangan sampai kejadian ini terjadi, marketplace kita produknya justru dari luar. Mungkin sementara enggak apa-apa tapi dalam jangka pendek, jangka tengah, ini harus diusahakan bersama-sama agar barang-barang itu semuanya produk dalam negeri kita.

Tadi Pak Zaky menyampaikan bahwa sekarang pelapak yang ada di Bukalapak ini ada empat juta. Itu jumlah yang sangat besar. Tetapi, kalau dibandingkan dengan 56 juta, Bukalapak masih punya pekerjaan besar yang 52 juta, Pak Zaky. Juga ini tugas pemerintah, menteri-menteri yang ada, agar semuanya itu masuk, 56 juta itu masuk bersih semuanya ke Bukalapak. Laporan yang saya terima juga 70-80 persen pedagang yang ada, pelapak yang ada di Bukalapak ini adalah UKM. Saya juga senang sekali.

Saya juga mendapatkan laporan bahwa Bukalapak tahun ini diseleksi oleh pemerintah kita untuk menjadi salah satu penyalur kredit ke UKM, yang namanya Kredit UMi (Kredit Ultra Mikro). Ini saya kira sangat bagus sekali. Instrumen kredit ini akan sangat bermanfaat bagi usaha-usaha mikro yang kita miliki.

Yang ketiga, laporan yang saya terima, Pak Zaky tadi juga menyampaikan bahwa  Bukalapak ini sudah didirikan sembilan tahun  yang lalu, modalnya Rp80.000, benar? 80 ribu dolar atau rupiah ini? Rupiah, betul? Rp80.000. Ini untuk iuran reservasi alamat internet www.bukalapak.com. Kemudian, ini katanya, saya hanya dengar, benar atau ndak nanti tanya ke Pak Zaky langsung, di 2011, setahun setelah didirikan Pak Zaky sempat agak putus asa. Agak. Sudah mau menyerah karena sudah kehabisan uang dan juga calon mertuanya enggak yakin apakah Bukalapak ini memberikan penghasilan yang stabil atau tidak. Jadi Pak Zaky saat itu sudah mau tutup, sudah mau bubarin Bukalapak. Tapi karena saat itu sudah ribuan UKM yang mulai tergantung pada platform Bukalapak, Pak Zaky enggak tega dan bersemangat bagaimana agar bertahan, agar bisa survive, dan meneruskan perjuangannya. Dan pelan, tahap demi tahap sampai menjadi sukses besar seperti yang kita lihat sekarang ini.

Saya ingin agar keberanian Pak Zaky beserta seluruh manajemen, kebaikan Pak Zaky yang bersedia untuk memperjuangkan nasabahnya, yaitu ribuan UKM kita saat itu, saya ingin itu menjadi sebuah contoh, menjadi sebuah inspirasi bagi seluruh pengusaha muda kita yang ada di negara kita Indonesia.

Bapak-Ibu yang saya hormati,
Peluang e-commerce di Indonesia masih sangat besar sekali. Baru dua bulan yang laku Google dan Temasek Singapura menerbitkan hasil riset bersama atas perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara. Google dan Temasek memperkirakan nilai perdagangan e-commerce di Indonesia di tahun 2018 adalah USD23,2 miliar atau sekitar Rp336 triliun Gross Merchandise Value. Dan angka itu naik kurang lebih 114 persen dari tahun sebelumnya. Sebuah lompatan yang sangat tinggi sekali. Google dan Temasek juga memprediksi bahwa angka itu akan naik dua kali lipat dalam enam tahun ke depan sehingga mencapai USD53 miliar di tahun 2025. USD53 miliar itu berarti triliunnya berapa itu? Kira-kira 700 triliun lah, gede sekali. Rp700 triliun.

Sekali lagi, harapan saya kita tidak hanya mengeksploitasi pertumbuhan ekonomi digital. Yang saya lihat, Bukalapak ini adalah organisasi yang memiliki hati, yang memiliki jiwa, punya misi sosial, jauh di luar hanya sekadar mengejar profit dan keuntungan. Inilah saya kira yang menjadi contoh, menjadi teladan kita agar semua pelaku ekonomi digital kita ini meniru dan memiliki semangat yang sama.

Terakhir, saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-9 kepada Bukalapak. Terima kasih atas kerja kerasnya, atas segala semangat positifnya dalam ikut membangun ekonomi di negara kita, Indonesia. Dan juga kepada kita semuanya, selamat tahun baru 2019, selamat berlapak di 2019 ini.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru