Pertemuan dengan Petani, 24 November 2018, di Pringsewu, Lampung

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 24 November 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.768 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Pak Gubernur, Wakil Gubernur, Bapak Bupati Pringsewu beserta Ibu,
Yang saya hormati Ketua  Forum Kelompok Tani Lampung Berjaya beserta Ketua Serikat Petani Indonesia,
Bapak-Ibu sekalian seluruh petani yang bisa hadir sore hari ini bersama-sama dalam pertemuan ini di Kabupaten Pringsewu.

Selamat sore!
Tabik Pun!
Tabik Pun!
Tabik Pun!

Bahasa Lampung yang saya bisa hanya Tabik Pun. Ini pun baru belajar tadi pagi. Karena kita tahu memang bahasa daerah di seluruh tanah air ini ada 1.100 lebih bahasa daerah, beda-beda.  Saya belajar, misalnya di Jawa Barat nanti pindah ke Lampung yang Jawa Barat sudah lupa. Pindah lagi nanti besok ke Sumsel, nanti yang Lampung sudah lupa lagi. Jadi banyak sekali bahasa daerah kita ini.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Saya sangat bahagia, saya sangat senang sekali bisa hadir sore hari ini di tengah-tengah hamparan sawah yang hijau. Ya meskipun ada yang belum ditanami tapi kan ini di sawah kan? Karena apa, kenapa saya sampaikan saya senang, saya bahagia? Karena memang masa kecil saya itu ada di desa. Di desa. Saya ini wong ndeso. Jadi dalam kehidupan sehari-hari ya seperti yang mungkin Bapak-Ibu rasakan sekarang. Hanya berbeda begitu, kalau dulu kalau bajak sawah pakai luku, garu. Pakai luku, pakai garu sekarang pakai traktor. Mungkin bedanya di situ. Tadi waktu menuju ke sini ada yang bisikin ke saya, “Pak, awas Pak, becek Pak”, becek ya biasa, saya wong ndeso. Biasa. Biasa sekali.

Tapi yang perlu saya sampaikan bahwa negara kita ini negara besar. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Negara ini besar dengan penduduk sekarang sudah 263 juta. Apa yang ingin saya sampaikan? Tantangannya juga besar, masalah-masalah juga kompleks dan juga besar. Kalau negaranya kecil, masalahnya juga kecil. Negara kita ini negara besar, masalahnya juga besar-besar.

Saya pernah terbang dari Aceh di Banda Aceh sampai di Wamena di Papua, naik pesawat. Berapa jam yang dibutuhkan? Sembilan jam lima belas menit. Sembilan jam lima belas menit itu naik pesawat, kalau jalan kaki berapa tahun coba? Negara ini negara besar. Itu kalau terbangnya dari London di Inggris ke timur itu sampai Istanbul di Turki itu melewati mungkin satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh negara, tujuh negara. Artinya negara ini negara besar. Masalahnya juga besar sekali.

Masalah di pertanian kita ini apa sih? Yang paling utama adalah air, saya lihat. Enggak hanya di Lampung saja, air bermasalah juga di NTT, di NTB, dan di provinsi yang lain. Kenapa air? Padahal kita ini hujan sering sekali, hujan banyak. Tapi memang waduk kita ini kurang,  bendungan kita ini sangat kurang sekali.

Coba dibandingkan, bandingkan, sampai tahun 2014, waduk/bendungan yang kita miliki itu 231 bendungan dan waduk di seluruh Indonesia. 231 waduk. Saya ingin menginformasikan kepada Bapak-Ibu sekalian para petani, Di China, di Tiongkok itu memiliki 110.000 waduk dan bendungan, kita hanya 231. Di India, India memiliki 1.500 waduk, kita 231 thok. Di Amerika, di Amerika punya 6.100 waduk dan bendungan, kita memiliki 231 bendungan dan waduk, thok. Di Jepang, Jepang itu memiliki kurang lebih 3.000 bendungan dan waduk, di Indonesia memiliki 231 waduk dan bendungan thok.

Oleh sebab itu, inilah pekerjaan besar kita bagaimana menyediakan air untuk para petani, menyediakan air untuk irigasi, menyediakan air untuk sawah-sawah kita. Tanpa itu lupakan yang namanya ketahanan pangan. Kita harus sadar itu. Waduk kita kurang, bendungan kita kurang.

Di sini baru proses dibangun waduk dua. Pak Bupati yang mengajukan ke saya, “Pak di sini minta waduk, Pak, Pak, di sini minta waduk Pak”, banyak sekali karena memang kita ini kurang penampungan air dalam jumlah yang besar. Kalau urusan waduk dan bendungan sudah selesai, harus dipikirkan irigasinya, irigasinya. Baik irigasi primer, irigasi sekunder, irigasi tersier. Semuanya harus disiapkan. Ini pekerjaan besar kita sehingga yang biasanya setahun misalnya menanam padi hanya panen misalnya sekali, bisa panen dua kali. Yang biasanya panen dua kali, bisa panen tiga kali. Itu kalau airnya cukup. Ini memang belum cukup. Inilah pekerjaan besar kita.

Oleh sebab itu, sekarang kita bangun, memang baru 49 plus 16, berarti 65 waduk yang kita kerjakan di seluruh tanah air. Sangat kurang, itu masih sangat kurang sekali. Karena kita sudah sekian puluh tahun tidak membangun waduk dalam jumlah yang sangat besar. Oleh sebab itu, saya sangat menghargai sekali sekarang ini mulai dibangun embung-embung kecil di desa-desa, di daerah-daerah dibangun embung kecil, itu juga sangat membantu.

Dana Desa. Dana Desa  yang telah digelontorkan ke desa itu bukan jumlah yang kecil. Saya ingin memberi tahu bahwa 2015 uang yang digelontorkan/diberikan ke desa ada Rp20,7 triliun ini 2015. 2016 Rp47 triliun. 2017 Rp60 triliun. Di 2018 Rp60 triliun. Totalnya sudah sekarang ini Rp187 triliun. Sangat banyak sekali. Tahun depan Rp73 triliun, banyak sekali. Tapi memang masih sangat kurang sekali meskipun sudah banyak digelontorkan, masih kurang. Dengan Dana Desa itu telah dibangun jalan desa, posyandu, PAUD, pasar desa, jembatan, irigasi, embung, air bersih, BUMDes dibangun di desa-desa. Kenapa diberikan Dana Desa? Ya untuk itu.

Saya pesan kepada kepala desa tadi malam. Tadi malam sudah bertemu dengan kepala desa se-Lampung. Saya sampaikan, hati-hati menggunakan Dana Desa, hati-hati. Saya awasi lho. Jangan, jangan ada yang macam-macam, kuping saya ada di mana-mana. Kuping saya ada di mana-mana. Hati-hati.

Dana Desa yang masuk ke satu desa ada Rp1 miliar lebih, kadang hampir Rp2 miliar. Uang gede banget, itu harus jadi barang. Entah jadi jalan desa silakan, jadi bangunan irigasi silakan, jadi embung silakan. Tapi hati-hati jangan sampai ada dimasukkan ke…, hati-hati. Hati-hati. Saya ingatkan kepada kepala desa tadi malam, hati-hati masalah itu. Setuju ndak? Karena ini adalah untuk masyarakat kita.

(Dialog Presiden RI dengan Perwakilan Petani)

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya mengajak kepada kita semuanya, baik gubernur, baik bupati, baik perangkat desa, kepala desa, semuanya beserta masyarakat untuk bekerja keras bersama-sama. Tanpa kerja keras negara ini tidak akan maju. Kita harus percaya itu. Dengan kerja keras negara ini akan maju. Kita harus percaya itu. Kita tidak mau negara kita  ditinggal oleh negara-negara lain, kita harus lebih baik dari negara-negara lain, kita harus lebih maju dari negara lain. Tapi kuncinya, semua, masyarakat, birokrasi kita, pemerintah kita, semuanya bekerja keras untuk itu.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru