Pertemuan dengan Seluruh Pejabat Eselon I, Eselon II, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) di Lingkungan Kemenristekdikti, 10 Oktober 2018, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.498 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri, para Rektor, para Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, seluruh pejabat Eselon I, Eselon II di lingkungan Kemenristekdikti,
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terlebih dahulu ucapan terima kasih kepada Bapak-Ibu Rektor, seluruh pimpinan perguruan tinggi atas kepedulian dan bantuannya untuk masyarakat korban gempa bumi dan tsunami, baik di NTB maupun yang di Sulawesi Tengah. Saya tahu di NTB misalnya, ada yang mengirim insinyur-insinyur, teknik sipil, ada yang mengirimkan tim medis. Di Palu ada yang mengirimkan psikolog, juga bantuan pangan dan obat-obatan. Dan juga ada pula yang memberikan beasiswa, ada pula yang menawarkan transfer SKS, transfer mata kuliah, ini sangat membantu mahasiswa-mahasiswa kita yang berada di wilayah bencana tadi. Saya kira ini merupakan sebuah contoh kecil bahwa perguruan tinggi Indonesia selalu berusaha untuk relevan dan kontributif, berusaha memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat dan selalu berusaha memberikan nilai-nilai yang lebih untuk masyarakat dan kemajuan bangsa. Sekali lagi terima kasih.

Bapak-Ibu sekalian yang berbahagia,
Meningkatkan relevansi dan nilai lebih membawa konsekuensi untuk selalu dinamis, selalu menyesuaikan dengan perubahan zaman, menyesuaikan diri dengan masalah yang berubah. Karena memang dunia sekarang ini berubah sangat cepat sekali. Tantangan yang berubah, tantangan yang kita hadapi baik di dalam negeri maupun tantangan eksternal juga sudah berubah. Peluang yang juga berubah. Kita harus tahu ini. Masalah berubah, tantangan berubah, peluang berubah, dan juga ilmu pengetahuan dan teknologi yang berubah begitu sangat cepatnya. Kita harus paham dan kita harus sadar akan hal ini.

Perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi jelas membawa implikasi yang sangat besar terhadap lanskap kehidupan kita. Lanskap ekonomi pasti berubah, lanskap politik pasti juga berubah, baik di lokal, baik di kabupaten/kota, baik di provinsi, maupun di lanskap nasional, maupun lanskap global, pasti berubah, serta lanskap sosio dan kultural yang saya yakin juga berubah. Yang pasti harus direspons secara berbeda oleh perguruan tinggi. Ini perlu direspons. Jangan kita terjebak pada dalam zona nyaman yang tahu berubah tapi tidak cepat merespons dari perubahan-perubahan yang ada. Direspons secara berbeda oleh program pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi. Saya terus, ini saya kejar-kejar terus Pak Menristekdikti agar kita ini berubah, karena memang dunia sudah berubah. Dan saya berkali-kali di beberapa universitas juga saya sampaikan ini dan akan saya ulang-ulang terus. Supaya kita semuanya sadar bahwa memang ada perubahan yang harus kita respons secepat-cepatnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi juga berkembang sangat-sangat cepat sekali. Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan yang sangat dahsyat. McKinsey Global Institute mengatakan Revolusi Industri 4.0 ini 3.000 (kali) lebih cepat dari revolusi industri yang pertama. Saya tidak bisa membayangkan kecepatan itu akan terjadi seperti apa. Ada artificial intellegence, ada internet of thing, ada advanced robotic, big data, virtual reality, cryptocurrency, bitcoin. Kita baru kaget, keluar lagi yang lain, baru kaget, keluar yang lain. Respons kita ini harus cepat dan yang bisa merespons cepat itu tidak ada yang lain kecuali perguruan tinggi, kecuali universitas. Saya meyakini itu dan saya mengajak kita semuanya untuk berubah, memberikan respons terhadap perubahan itu.

Coba 3D printing, membuat rumah hanya 24 jam. Belum akan lho, ini sudah kejadian. Robot untuk membersihkan airport. Coba lihat di Changi sekarang robot semuanya. Saya selalu jelaskan ini. Saya masuk ke Silicon Valley, ke markasnya Facebook, markasnya Google, markasnya Twitter, markasnya Plug and Play. Coba, saya masuk ke sana, markasnya Facebook, disuruh pakai kacamata gede begini, oculus, diajak main pingpong sama Mark, (Zuckerberg) CEO-nya Facebook, tidak ada bolanya, tidak ada mejanya, tidak ada betnya, tapi bisa main pingpong. Tang, tung, tang, tung, tang, tung. Ini kayak begini, betul-betul persis kita main pingpong. Itu sudah tiga tahun yang lalu saya ke sana. Saya tanya kepada Mark, “Mark, ini apakah hanya untuk pingpong?” “Tidak Presiden Jokowi, ini untuk apapun, saya hanya ingin memberikan contoh.” “Bisa untuk sepakbola?” “Oh bisa, pingpong bisa, sepakbola bisa, tenis lapangan bisa, semua bisa”. Bayangkan nanti kita hanya pakai kacamata, main bola tanpa bola, tanpa lapangan. Sudah kejadian, bukan akan, ini sudah. Hanya tinggal masuknya ke kita kapan. Ini kan harus direspons hal-hal seperti ini. Saya ngeri terus terang saja kalau tidak kita respons.

Sekali lagi, teknologi automasi, robotik, artificial intelligence, cryptocurrency, bitcoin, 3D printing. Elon Musk mengeluarkan SpaceX, mengeluarkan Tesla, mengeluarkan Hyperloop. Baru belajar, keluar yang lain-lain. Baru belajar, keluar yang lain lagi. Sekali lagi, kalau kita tidak respons dan kita hanya monoton, terjebak pada rutinitas, habislah kita. Yang saya tunggu dan saya harapkan hanya satu, perguruan tinggi/universitas. Akan saya ulang-ulang terus ini. Di manapun saya masuk ke sebuah universitas pasti ini akan saya katakan. Biar, ini masuk ke universitas kok omongannya sama, biar, saya ulang-ulang terus. Supaya kita paham dan sadar betul untuk merespons perubahan ini.

Dalam dunia yang berubah sangat cepat seperti ini. Kecepatan merupakan kunci. Kecepatan respons ini merupakan kunci untuk memenangkan persaingan dan kompetisi. Coba kita sudah berapa puluh tahun, tadi di laporan Menristekdikti hanya tiga universitas yang masuk ke 500 besar. Harus kita respons dong. Apakah proses manajemen di dalamnya? Atau proses yang lain? Bapak-Ibu yang lebih tahu dari saya.

Sekali lagi, kecepatan merupakan kunci yang terpenting dalam memenangkan kompetisi. Sekarang ini yang besar belum tentu mengalahkan yang kecil, negara besar belum tentu mengalahkan yang kecil. Sebentar lagi akan ada perubahan-perubahan. Yang kaya belum tentu mengalahkan yang miskin, belum tentu. Negara pun juga sama, negara kaya belum tentu bisa mengalahkan negara yang miskin, belum tentu. Tetapi yang jelas dalam waktu ke depan ini, yang cepat akan mengalahkan yang lambat. Yang cepat akan mengalahkan yang lamban. Itu pasti, saya pastikan. Dan negara-negara sekarang sudah sadar mengenai itu.

Kecepatan menjadi kunci. Yang dinamis pasti mengalahkan yang statis. Kalau kita masih nyaman-nyaman seperti ini terus, tidak merespons dinamika yang ada, ya sudahlah berarti ditinggal kita. Jika tidak sigap menghadapi perubahan, jika tidak segera membenahi diri untuk melakukan efisiensi bisa dipastikan kalah menghadapi kompetisi. Baik negara, baik perusahaan, baik universitas, sama saja. Dan dalam hal negara, ya kita akan ditinggal oleh bangsa-bangsa lain.

Saya selalu katakan agenda penelitian fakultas dan program studi juga perlu tanggap terhadap tantangan dan peluang-peluang ini. Sangat mengherankan jika zaman sudah berubah tapi fakultas dan program studi tidak banyak berubah. Bagaimana? Ini sudah saya ulang-ulang lho ini, sudah tiga tahun lho ini. Saya tunggu lho, sebelum saya mengeluarkan kebijakan yang drastis. Saya menunggu Bapak-Ibu sekalian untuk merespons ini. Jangan sampai kita yang… enggak lah. Jangan top-down, saya tunggu bottom-up-nya. Saya sudah tiga setengah tahun ngomong ini di beberapa universitas.

Beberapa universitas besar dunia sudah sangat tanggap terhadap tantangan dan peluang baru ini untuk memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Coba kita lihat di MIT, ada Department of Brain and Cognitive Science, coba dilihat ada apa di situ. Ada juga yang mengintegrasikan Computer Science, Economics, dan Data Science. Di Kent State University, ada Hospitality and Tourism Management, karena ke depan ini sangat prospek sekali yang namanya tourism sector. Di University of Southern California ada juga College of Games Studies.

Kita harus mengerti sekarang ini anak-anak muda senang e-sport, senang Mobile Legend, dan itu mendatangkan income yang gede. Bapak-Ibu ada yang kenal tidak Jess No Limit? Ada yang kenal? Berarti tidak pernah main Mobile Legend, tidak pernah main game. Coba, anak muda ini umurnya masih sangat muda sekali income-nya sudah ratusan juta hanya gara-gara main game, main Mobile Legend. Di negara-negara lain, kayak gini sudah dibiayai untuk memenangkan pertarungan sehingga industri game itu menjadi sebuah industri besar. Hati-hati ini akan berkembang, percaya saya. Lha kita fakultas, jurusan tidak pernah berubah-ubah 30-40 tahun yang lalu. Ini saya ulang-ulang juga.

Juga terdapat Sport Studies yang mencakup bidang kesehatan, manajemen event, turisme, industri kreatif, dan industri alat-alat olahraga. Lebih fokus. Saya kira ini mungkin di Palembang ini memiliki warisan venue Asian Games yang besar, kenapa tidak dikembangkan Sport Studies di sana. Ini tantangan. Enggak tahu, saya mungkin dua tahun atau tiga tahun yang lalu saya menyampaikan gagasan pentingnya mendirikan fakultas kopi. Saat itu ada yang tertawa. Menurut saya fakultas kopi, fakultas kelapa sawit, ini industri besar kita lho. Dan itu saya sangat serius ngomong seperti itu, banyak berpikir saya tidak serius, serius. Saya sudah ngomong, ya mungkin ada guyonnya, tapi itu serius yang saya sampaikan.

Dan baru bulan September kemarin ada SMK di Jawa Barat yang membuka jurusan kopi. SMK sudah ada jurusan kopi, saya sangat mengapresiasi inisiatif ini, karena kekuatan kopi di Jawa Barat juga sangat kuat, tapi di provinsi yang lain juga sangat kuat. Pendidikan tinggi harusnya tidak kalah inovatif dengan SMK, gagasan fakultas kopi ini serius harus kita pikirkan bersama-sama. Bukan hanya kopi saja, produk-produk yang memiliki kekuatan komoditas kita. Bagaimana mendidik barista buat kopi, bagaimana kita bisa mengeluarkan sebuah produk kapucino yang dari Indonesia. Kalau kapucino kan dari mana, bukan dari kita kan. Kenapa tidak?

Jangankan tingkat fakultas, di Italia dan Amerika Serikat itu ada institut kopi, coba Bapak-Ibu cari. Kopi dipelajari, kopi diteliti, kopi diajarkan, mulai dari cara bertanam, mulai diolah, mulai diindustrikan, mulai diberikan brand, mulai kemasannya seperti apa, diperdagangkannya seperti apa. Detail seperti itu ada. Ini sebuah studi multidisiplin dan mengelola omset ekonomi kelas dunia yang sangat besar. Jangan dipikir ini sebuah pekerjaan mudah, sulit sekali.

Bagi Indonesia sebagai pekebun kopi tentu ini akan memberikan nilai lebih yang sangat besar. Jangan sampai kita sudah beratus tahun jualan kopinya masih kopi… bukan kopi tubruk, ekspornya masih kopi mentahan, di sini kopi tubruk lebih parah. Kita tidak bisa meningkatkan. Iya kopi itu bagus juga, kopi tubruk itu bagus, tapi bagaimana meng-internasional-kan lewat perguruan tinggi. Namanya enggak apa-apa kopi tubruk, enggak apa-apa, kopi luwak juga sangat terkenal sekali. Tapi siapa yang dapat manfaat, kita hanya mengirim raw material saja, mentahannya saja. Inovasi kita mana? Coba nilai tambahnya, added value-nya bisa 100-200 kali kalau kita menyajikan dalam sebuah produk akhir yang betul-betul memiliki kualitas, memiliki kemasan, membangun brand-nya.

Hadirin Bapak-Ibu sekalian yang berbahagia,
Saya paham agar lembaga perguruan tinggi ini dinamis perlu juga memang ekosistem yang mendukung. Saya tidak tahu ini mau saya cari betul, ini ekosistemnya yang tidak mendukung, atau perguruan tingginya yang tidak merespons, belum merespons dari perubahan itu. Perlu ekosistem nasional yang mendukung, seperti regulasi dan birokrasi nasional. Perlu ekosistem kawasan yang mendukung, seperti kawasan industri dan kolaborasinya dengan perguruan tinggi.

Mumpung ini ada eselon I, eselon II di Kemenristekdikti, saya mau bicara sekalian ini masalah ekosistem, juga di internal perguruan tinggi. Ini terutama untuk eselon I, eselon II di Kemenristekdikti, ini juga harus mulai berubah. Jangan sampai saya dengar suara-suara mengurus fakultas baru sulit, mengurus prodi baru sulit, mengurus jurusan sulit. Kalau gaya-gaya lama, tradisi lama ini masih diterus-teruskan siapa yang bisa berubah. Pangkas semuanya. Pangkas regulasi yang mempersulit, pangkas, sudah. Tadi, kalau yang lamban pasti ditinggal, sudah. Yang cepat pasti memenangkan, itu sudah rumus itu. Tidak yang namanya kementerian, tidak yang namanya negara, tidak yang namanya perguruan tinggi, sama saja. Tidak yang namanya perusahaan, tidak yang namanya korporasi, sama saja.

Pangkas regulasi yang mempersulit, bahkan menjebak dan menyibukkan kita. Kita ini kelihatannya sibuk sekali, pagi sampai malam sibuk. Ini apa tho saya cek-cek, “Pak, baru mengurus SPJ.” Sibuknya tidak inovasi, tidak urusan merespons perubahan tadi, urusan SPJ, coba. Saya sudah berkali-kali sampaikan kepada seluruh kementerian, terutama Kementerian Keuangan, pangkas itu. Saya lihat betul-betul ada aturan 43 laporan yang harus disampaikan. Kalau 43 saja saya sudah mikir mabuk, “Pak, itu baru bapaknya, Pak, anaknya itu ada 123.” Bapak beranak pinak, lho setiap hari berarti Bapak-Ibu sekalian hanya mengurus laporan, laporan, laporan, laporan, laporan. Apakah ini? Ini yang baru saya kejar terus ini. Tidak hanya di perguruan tinggi, tidak di SMA/SMK, SD, SMP semuanya, saya kejar terus. Jangan sampai SD, SMK, SMA/SMK tidak berada pada posisi kegiatan belajar mengajar, lembur terus tapi urusan SPJ. Saya enggak tahu di perguruan tinggi ini terjadi atau tidak, tapi akan saya lihat secara detail.

Bahkan regulasi yang membuat takut dan tidak berani berinovasi itu pangkas, hilangkan sudah lah. Kalau perlu tidak pakai regulasi kalau saya itu. Apa sih sebetulnya prosedur itu? Kan untuk memudahkan kita mengontrol, mengecek. Membuat laporan coba tadi 43, bapaknya beranak pinak menjadi 123 laporan, coba. Saya tanya kepada Menteri, “Pak Menteri dibaca tidak sih?” “Tidak tahu Pak, tidak pernah saya baca, mengerti saja tidak, Pak.” Lha terus laporan 123 laporan itu untuk apa? Dirjen membaca tidak sih kayak gitu itu? Paling juga tidak kan? Direktur membaca tidak sih? Paling juga tidak kan. Saya yakin tidak. Terus ini dibuat untuk apa? Untuk kita lamban?

Saya mau menyadarkan pada kita semuanya, ini adalah ekosistem yang harus kita bongkar, agar inovasi itu muncul, agar ekosistem baru itu muncul, agar respons terhadap perubahan itu muncul. Karena paling cepat memang harus dari perguruan tinggi perubahan ini direspons, tidak dari yang lain-lain. Saya meyakini itu. Artinya saya percaya kepada Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, saya percaya. Tapi kalau saya tunggu-tunggu enggak nongol-nongol, enggak keluar-keluar, aduh, saya menjadi tanda tanya ini nanti, “ini ada apa? Ada apa?”

Setiap saya konferensi internasional, baik tingkat ASEAN, tingkat Asia, tingkat dunia, selalu semua kepala negara bingung masalah menghadapi perubahan-perubahan ini, tapi mereka saya lihat meresponsnya sangat cepat sekali. Bingung, tapi bingung. Ada cryptocurrency, ada bitcoin, bagaimana? Perdagangan lewat big data seperti apa? Kena pajak atau tidak kena pajak, bingung semua. Oleh sebab itu, kita harus merespons ini.

Dan sekali lagi, harapan saya nomor satu itu ada di perguruan tinggi, di universitas, di Bapak-Ibu sekalian. Tolong disampaikan, sudah blak-blakan saja, “Pak, ini yang di bongkar, ini bongkar, ini yang ini bongkar, Pak.” Bongkar itu kalau kayak gitu-gitu. Saya kalau sudah ke lapangan, masuk ke lapangan saya bongkar, pasti saya bongkar betul. Seperti kita jalan tol, kenapa sih lama sekali. Saya lihat lapangannya, ya benar kalau kayak begini, enggak akan jadi-jadi sampai kapanpun. Ada yang 26 tahun, ada yang 16 tahun, ada yang 23 tahun. Ada apa? Ada problem di situ. Setelah dibongkar ya cepat. Harus betul-betul kita bersama-sama.

Saya takut sekali negara kita ini terjebak pada yang namanya middle income trap, enggak bisa keluar dari situ sehingga kita tidak bisa meloncat menjadi sebuah negara maju. Gara-gara kesiapan SDM kita yang tidak siap. Ini kuncinya, fondasi infrastruktur saya yakin ini akan mendorong kita pada sebuah kecepatan. Tapi tanpa didukung oleh SDM yang baik, oleh sebab itu, saya ngomong di mana-mana, infrastruktur ini selesai, kita akan masuk ke tahapan kedua di pembangunan sumber daya manusia.

Fokus poinnya nanti ada di Bapak-Ibu semuanya. Ini nanti ada di Bapak-Ibu semuanya. Anggaran, riset, semuanya saya akan belokkan karena saya yakin itu, infrastruktur, sumber daya manusia, inilah yang akan memberikan fondasi kita untuk bersaing, untuk berkompetisi dengan negara-negara lain. Bonus demografi kita gede, tapi kalau SDM ini tidak kita siapkan, sudah, saya takut sekali kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi negara ini.

Sekali lagi, saya tidak mau mendengar, ini tugasnya eselon I, eselon II, dosen yang lebih sibuk mengisi form administrasi daripada mengajar, kelihatan sibuk tapi membuat formform. Saya tidak mau mendengar lagi ada para peneliti yang lebih sibuk membuat SPJ. Sekali lagi, SPJ daripada mengurus substansi penelitiannya, karena itu wajib urusan SPJ. Itu pangkas saja. Pak Dirjen, Pak Direktur, pangkas.

Saya cek nanti. Ini akan saya cek ini. Saya cek. Karena tahun depan kita sudah masuk ke SDM dan besar-besaran lagi pada tahun berikut. Karena infrastruktur saya lihat ini sudah mulai banyak yang hampir selesai. Brebeg begitu biar kelihatan. Kita sekarang kan fokus, lima tahun fokus betul ke situ. Infrastruktur sudah gede-gedean ke sana karena memang stok infrastruktur kita ini masih sangat rendah sekali 37 persen. Saya sekarang enggak tahu hitungan terakhirnya berapa. Ini rampung, anggaran harus belokkan lagi ke sumber daya manusia. Saya yakin ini adalah kunci dalam memenangkan persaingan.

Sekali lagi, saya juga tidak mau lagi mendengar perguruan tinggi tidak mau menghapus fakultas atau prodi yang sudah usang. Ganti yang baru. Sudah 40 tahun, 50 tahun, fakultas/prodi itu-itu saja. Saya enggak usah sebutkanlah namanya, Bapak-Ibu tahu semuanyalah. Bapak-Ibu lebih tahu daripada saya. 40 tahun, 50 tahun fakultasnya itu-itu saja, dunia sudah berubah seperti ini. Dan sulit mendirikan fakultas dan prodi yang baru. Enggak mengerti ini ekosistem di perguruan tinggi atau di kementerian atau dua-duanya. Bisa dua-duanya. Kita blak-blakan saja kalau sudah kayak begini blak-blakan sudah. Saya senang kok blak-blakan itu. Bapak-Ibu nanti mau mengeluh juga saya juga senang. “Pak, ini ada problem di sini.” Kita akan bongkar bareng-bareng.

Dan saya meyakini Bapak-Ibu sekalian adalah di fron yang paling depan dalam membongkar yang enggak benar-benar ini. Tapi kalau yang di fron paling depan masih tidak bergerak, saya enggak mengerti kepada siapa lagi saya harus meminta dan memohon. Enggak mengerti saya ke mana lagi.

Saya juga tidak mau mendengar ada kesulitan perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan mitranya. Ini harus banyak mitra perguruan tinggi. Berkolaborasi dengan industri, mudah mendirikan teaching industry, mudah mendirikan industrial park, teaching factory, dan berbagai bentuk kegiatan yang memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan kepada perguruan tinggi.

Di Belanda misalnya, ada kolaborasi Universitas Delft dengan Microsoft di bidang komputer kuantum, juga pengembangan Amsterdam Smart City, misalnya. Seperti ini di kita juga harus memiliki. Di Amerika Serikat, Adidas misalnya dengan Arizona State University bekerja sama membentuk Global Sport Alliance. Hal seperti ini yang juga harus kita lakukan, kekuatan apa yang ada di kanan kiri, di lingkungan perguruan tinggi itu, di provinsinya, di kotanya.

Sekali lagi, di tahun depan kita akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Anggaran negara akan diprioritaskan kepada pembangunan SDM, seperti yang sudah saya sampaikan tadi.

Sekali lagi, ekosistem di dalam kampus harus kita benahi bersama-sama, cara-cara baru harus dikembangkan, kreasi-kreasi baru harus diberikan fasilitas dan dikembangkan, inovasi yang memecahkan masalah dan memberikan nilai tambah harus didukung. Kita akan membuat nanti Badan Riset Nasional yang saya kira perannya nanti hampir mungkin 70-80 persen ada di perguruan tinggi. Sehingga anggaran riset kita menjadi jelas, larinya ke mana, hasilnya apa, output-nya apa, outcome-nya apa.

Riset kita sekarang ini setahun kira-kira sudah 26 triliun. Saya tanya pada kementerian-kementerian hasilnya mana? Mana? 600 miliar setahun mana hasilnya? Saya minta kok, saya blak-blakan. “800 miliar untuk riset di Kementerian-mu mana?” Ini ada sesuatu yang memang harus kita luruskan. Sekali lagi, Bapak-Ibu semuanya berada di fron paling depan dalam pembenahan ini. Ini kepercayaan saya kepada Bapak-Ibu semuanya.

Perguruan tinggi harus berani melakukan berbagai terobosan, berani mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan lama, berani memunculkan program studi baru yang mencetak keahlian masa kini dan masa depan. Wong sudah berubah. Berjualan sekarang, sering saya sampaikan, berjualan sekarang sudah tidak di mal, tidak di toko, sudah online store semuanya. Pelajarannya juga harus berubah dong. Mestinya ada fakultas jualan online, kenapa tidak? Sering saya sampaikan kan? Fakultas digital economy.

Ada satu peran lagi yang ingin saya titipkan kepada lembaga pendidikan tinggi yaitu pengembangan entrepreneurship, pengembangan kewirausahaan. Kita membutuhkan para wirausahawan yang baru, yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Dalam Global Entrepreneurship Index Tahun 2017, peringkat kita, peringkat kewirausahaan kita berada di ranking ke-90 dari 137 negara. Aduh, masih sangat di bawah sekali. Dan itu juga tugas kita bersama untuk memperbaiki ini.

Kita kemarin misalnya, sudah memperbaiki ranking kita untuk apa coba? Indeks dari 120 ke-72. Ada yang ingat? Ease of Doing Bussiness, kemudahan dalam berusaha. Ranking-nya dulu 120, kemudian kita benahi dan tiga tahun ini sudah meloncat ke-72. Menterinya sudah senang. Saya sampaikan jangan senang dulu, 72 itu masih… Saya inginnya 40, masuk ke Top 40, itu baru bangga. 72 saja bangga. Menteri kadang-kadang kan juga senang udah meloncat kayak begitu, tapi ndak, ndak, ndak, bukan itu target saya. Top 40 itu baru kita bicara, kalau belum…

Ini kita sudah mulai kelihatan, Competitiveness Index kita kelihatan, sudah mulai kelihatan. Stok infrastruktur kita naik tapi saya lupa angka-angkanya. Ini yang akan terus kita kerjakan. Karena kita ini kalau ndak bekerja lari, bekerja keras dan lari, ekspor investasi kita sudah kalah jauh. Kita kalah dengan Singapura sudah lama, kalah dengan Malaysia sudah lama, kalah dengan Filipina sudah lama, kalah dengan Thailand, baru saja kita kalah dengan Vietnam. Lha kalau kita enggak lari bisa kalah dengan Laos, bisa kalah dengan Kamboja. Muka kita ditaruh di mana? Coba, kayak gini-gini ini tanggung jawab kita bersama, Bapak-Ibu sekalian. Kalah semua kita, baru saja dengan Vietnam kalah, kalau terus-terusan kayak begini, dengan Kamboja kalah, dengan Laos kalah, bagaimana?

Sekali lagi, terakhir saya ingin menegaskan bahwa perguruan tinggi juga harus membuat alumninya mencintai Indonesia, mencintai negara ini, yang melahirkan para pembela Pancasila, yang menancapkan jiwa kerakyatan, yang menanamkan integritas moralitas dan profesionalisme untuk membangun negara ini, untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Nanti akan saya lihat, akan saya ikuti mana yang sudah merespons, mana yang belum merespons, baik di perguruan tinggi maupun yang ada di Kementerian Dikti. Karena eselon-eselonnya ada di sini semuanya.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru