Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019, 28 November 2019, di Ballroom Raffles Hotel, Provinsi DKI Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 28 November 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 98 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Gubernur Bank Indonesia Bapak Perry Warjiyo beserta seluruh Deputi dan keluarga besar Bank Indonesia,
Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-11, Bapak Prof. Dr. Boediono,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Para Gubernur dan Bupati/Wali Kota,
Yang saya hormati Pimpinan DPR dan seluruh anggota DPR yang hadir,
Yang saya hormati Ketua OJK beserta seluruh komisioner OJK,
Bapak-Ibu sekalian, undangan yang berbahagia.

Tadi ke sini macet, setengah jam berhenti betul, setengah jam berhenti. Ya itulah kenapa ibu kota dipindah, dan karena alasan-alasan yang banyak yang lainnya.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Tadi sudah disampaikan secara jelas dan gamblang oleh Bapak Gubernur BI. Kita melihat kondisi ketidakpastian ekonomi saat ini. Dan saya teringat akan apa yang pernah disampaikan oleh Pak Perry Warjiyo. Pak Perry pernah mengatakan setidaknya ada tiga nilai yang dapat dijadikan acuan oleh pelaku usaha Indonesia untuk tetap eksis di tengah ketidakpastian global. Tadi juga diingatkan oleh Pak Perry bahwa satu tahun yang lalu di dalam Annual Meeting Bank Dunia di Bali, saya menyampaikan mengenai bahwa akan datang musim dingin, winter is coming. Dan sekarang betul, coming-nya betul-betul benar ada.

Dan kembali lagi ke tiga nilai tadi. Ini saya melihat tiga nilai tadi kalau kita adaptasi dari film Cast Away, ini aktornya masih saudara saya, Tom Hanks. Ini bercerita sebetulnya di dalam film ini ada pesawat kargo jatuh ke dalam sebuah pulau dan hanya ada satu orang yang bisa bertahan hidup. Kenapa dia bisa bertahan hidup dan akhirnya selamat? Ini kalau dihubung-hubungkan dengan tadi ketidakpastian tadi, yang pertama, harus mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa dirinya. Ini Chuck Noland mengalami ini, Chuck Noland itu yang diperankan oleh Tom Hanks tadi. Jadi mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa dirinya, yang pertama.

Yang kedua, mampu mencari sumber baru yang dapat mendukung upaya untuk tetap bertahan. Artinya kita harus mampu mencari sumber baru, yang nanti akan kita hubungkan dengan ekonomi nanti, mampu mencari sumber baru yang dapat mendukung upaya untuk tetap bertahan. Yang kedua.

Yang ketiga, tetap optimis dalam menghadapi berbagai tekanan. Jangan kalau ada tekanan eksternal kita semuanya langsung berbicaranya pesimis, ngomong-nya selalu menunggu, wait and see, ya enggak akan memecahkan masalah.

Tiga hal ini penting untuk kita ingat, akan saya ulangi lagi biar kita ingat semuanya. Yang pertama, mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa dirinya. Yang kedua, mampu mencari sumber baru yang dapat mendukung upaya untuk tetap bertahan. Yang ketiga, tetap optimis dalam menghadapi berbagai tekanan. Enggak ada teman, sampai buat orang-orangan, membuat topeng untuk diajak bicara di dalam Cast Away tadi.

Apa yang ingin saya sampaikan di sini, bahwa kita harus bersyukur negara kita masih diberi pertumbuhan ekonomi di atas lima persen. Ini yang patut kita syukuri. Bahkan kalau dibandingkan dengan negara-negara G20 kita ini masih di ranking yang ketiga. Lha kalau kita tidak bersyukur, artinya kita ini kufur nikmat. Kufur nikmat, tidak mensyukuri pertumbuhan di atas lima persen tadi. Coba, kita ini hanya di bawah Tiongkok dan di bawah India. G20: Tiongkok, India, Indonesia, kemudian keempat  Amerika. Kita di atas Amerika, pertumbuhan ekonomi. Lha kalau kita enggak bersyukur, sekali lagi, kufur nikmat.

Tetapi ya kita juga harus berbicara apa adanya, tekanan eksternal ini tidak mudah, tidak gampang. Tapi saya bersyukur, komunikasi antara pemerintah, Menteri Keuangan, dengan Bank Indonesia, dengan Gubernur BI, dengan OJK, Ketua OJK Pak Wimboh sangat-sangat baik sekali. Ini penting, karena kalau komunikasi tidak nge-klik atau sendiri-sendiri policy-nya, bisa akan ke mana-mana situasi seperti sekarang ini.

Kemudian yang kedua, saya juga mendapatkan peringatan waktu bertemu dengan Managing Director IMF yang baru, Ms. Kristalina. Dia menyampaikan, “Presiden Jokowi tahun depan 2020 hati-hati, kemungkinan yang namanya pertumbuhan ekonomi global itu akan masih turun lagi.” Jadi harus memiliki strategi-strategi yang sangat khusus dan spesifik agar bisa keluar dari terpaan turunnya pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini hampir semua negara mengalami. Dari yang tujuh menjadi minus ada, dari empat turun menjadi dua ada, ada yang empat turun menjadi hampir nol ada, di dekat-dekat kita.

Hal-hal seperti ini memang harus kita lihat sebagai sebuah kenyataan yang harus kita hadapi dan dicarikan solusinya. Dan saya melihat masih banyak peluang-peluang yang bisa kita kerjakan. Kita memiliki sebuah framework/kerangka yang akan kita kejar, karena saya sampaikan kepada Bu Menteri Keuangan, “Bu Menteri, sudah, konsentrasi saja di fiskal yang prudent, yang hati-hati, karena pengaruh APBN itu hanya empat belas sampai enam belas persen terhadap ekonomi kita.” Betul Bu Menteri? Betul? Benar? Kok enggak yakin? Saya ingat terus lho apa yang disampaikan, pengaruhnya hanya empat belas sampai enam belas persen. Artinya, sisanya itu berada di peran sektor swasta.

Oleh sebab itu, sering saya sampaikan dan berkali-kali saya sampaikan, swasta itu berikan terlebih dahulu kalau ada peluang, ada opportunity, ada kesempatan. Hati-hati, jangan dikit-dikit diambil BUMN. Ini yang hadir BUMN juga banyak. Swasta dulu. Kalau swasta tidak mampu mengerjakan, artinya internal rate of return-nya rendah, silakan BUMN yang mengerjakan. Tentu saja biasanya ada suntikan dari yang namanya PMN (Penyertaan Modal Negara). Dia bisa karena disuntik PMN. Kalau swasta tidak mau, BUMN tidak mau, baru pemerintahlah yang mengerjakan, karena mungkin memang berada pada posisi yang tidak untung benar. Selalu saya  sampaikan itu.

Yang ketiga, saya ingin menyampaikan mengenai apa yang harus kita kerjakan di luar fiskal dan moneter. Saya sudah jaga, sudah moneter, keuangan, BI, OJK, fiskalnya silakan prudent, hati-hati, Menteri Keuangan. Saya mengerjakan di luar itu.

Yang pertama, kita sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa lima tahun ke depan pembangunan sumber daya manusia menjadi fokus dan prioritas pemerintah.

Yang kedua, kelanjutan pembangunan infrastruktur akan diteruskan dengan menyambungkan jalan-jalan tol yang ada ke dalam kawasan pertanian, kawasan industri, kawasan wisata, kawasan sentra-sentra nelayan, sentra-sentra petani.

Yang ketiga, penyederhanaan regulasi yang segera ini nanti bulan Desember kita akan mengajukan omnibus law kepada DPR. Dan bulan Januari lagi kita akan mengajukan juga omnibus law yang kedua kepada DPR. Sehingga terjadi sebuah kecepatan dalam dunia usaha apabila ingin menanamkan modalnya. Inilah yang kita namakan undang-undang cipta lapangan pekerjaan, undang-undang cipta lapangan kerja karena muaranya dari setiap investasi dalam negeri maupun dari luar adalah cipta lapangan kerja. Karena masih tujuh juta masyarakat kita yang berada pada posisi pengangguran.

Yang keempat, penyederhanaan birokrasi. Mohon maaf kalau di sini ada eselon IV, eselon III, kita akan pangkas itu mulai tahun depan. Untuk apa? Agar terjadi kecepatan dalam setiap memutuskan kalau ada perubahan-perubahan dunia yang berubah begitu sangat cepatnya. Tapi pelan-pelan, dan yang paling penting tidak mengganggu income/gaji dari tadi yang dipotong. Tidak akan menurunkan pendapatan. Saya sudah berbicara dengan banyak jago-jago IT kalau bisa itu diganti AI (artificial intelligence), sehingga muncul sebuah kecepatan, muncul sebuah perubahan, muncul sebuah budaya kerja yang lain, kultur yang baru.

Yang kelima, yang berkaitan dengan transformasi ekonomi. Ini yang penting, yang ingin saya sampaikan. Kita tahu sudah berapa tahun defisit perdagangan kita, current account deficit kita, defisit transaksi berjalan kita selalu mengganggu volatilitas dari rupiah, sehingga ini perlu kita selesaikan. Karena apa? Selalu current account deficit kita terganggu karena ketergantungan pada komoditas. Ketergantungan pada harga komoditas. Yang kedua, juga impor yang besar atas energi, terutama minyak dan gas. Ini mengganggu. Kemudian yang ketiga juga adanya impor bahan baku maupun barang modal.  Sebetulnya enggak masalah kalau ini dipakai lagi untuk ekspor ke luar. Tetapi inilah yang sangat mengganggu volatilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi kita, current account deficit kita. Sehingga saya ingin fokus ke sini, menyelesaikan persoalan-persoalan ini tanpa mengganggu apa yang sudah dikerjakan di Kementerian Keuangan.

Apa yang ingin kita kerjakan? Yang pertama, meningkatkan ekspor dan substitusi impor, produk substitusi impor. Kita tahu sekarang ini yang banyak kita ekspor adalah bahan-bahan mentah (raw material), baik itu timah, nikel, bauksit, batu bara. Padahal ini kalau diolah, kalau diolah dalam turunan menjadi barang setengah jadi atau jadi, ini akan meningkatkan nilai tambah yang luar biasa.

Sebagai contoh batu bara, kalau diolah menjadi DME (Dimethyl Ether), menjadi polypropylene, bisa mengganti impor kita atas LPG, bisa mengganti bahan-bahan baku impor untuk pakaian. Kenapa lama tidak kita lakukan? Karena kita senang impor. Siapa yang impor? Ya orang-orang yang senang impor. Bapak-Ibu saya kira tahu semuanya, ada yang senang impor dan tidak mau diganggu impornya, baik itu minyak, baik itu LPG. Ya ini mau saya ganggu.

CPO, kenapa kita selalu mengekspornya dalam bentuk crude palm oil, kenapa tidak kita gunakan sendiri di dalam negeri juga bisa kita ngerjain kok, sehingga enggak perlu  kita takut di-banned di Eropa? Kenapa takut kalau konsumsi di dalam negeri kita juga bisa kita lakukan, bisa menyerap? Kalau ini dikerjakan, artinya B20 berjalan dan sudah berjalan, sebentar lagi Januari B30 berjalan, nanti masuk ke B50 itu bisa berjalan, artinya apa? Impor minyak kita akan turun secara drastis. Sehingga tadi, urusan-urusan neraca perdagangan, transaksi berjalan kita menjadi lebih baik. Kenapa ini tidak dikerjakan dari dulu? Karena ada yang senang impor minyak. Saya tahu yang impor siapa sekarang. Yang saya sudah saya sampaikan, kalau mengganggu acara B20, mengganggu acara B30, mengganggu tadi yang urusan DME, urusan polypropylene, hati-hati pasti akan saya gigit orang itu. Enggak akan selesai-selesai kalau masalah ini tidak kita selesaikan.

Kita juga merancang sekarang ini yang namanya strategi besar bisnis negara. Yang namanya nikel itu turunannya bisa dibuat lithium battery, karena kita punya nikel, punya mangan, punya kobalt. Ya ini strategi besar bisnis negara itu harus diatur, sehingga kita nanti akan menjadi pemain besar penghasil produksi lithium battery dunia. Karena ke depan yang namanya mobil listrik itu pasti akan besar-besaran diproduksi. Karena orang sudah tidak senang lagi menggunakan energi fosil.

Nah kita harus, strategi itu harus didesain dari sekarang. Kita punya kekuatan itu kok, kenapa tidak dikerjakan? Senang masih ekspor raw material. Ndak, saya sekarang ndak, ndak, ndak. Setop! Kita gunakan sendiri di sini, kita desain yang benar, sehingga nantinya benar-benar yang namanya hub besar untuk produksi mobil listrik itu ada di sini. Baterainya ada di sini, karena komponen baterai itu cost-nya sampai hampir lima puluh persen dari cost produksi sebuah mobil listrik. Ini strategi seperti ini yang harus kita desain termasuk nanti untuk barang-barang yang lainnya.

Yang kedua, kita memiliki sebuah kekuatan besar yaitu di hydropower yang tidak pernah kita gunakan. Apa itu? Sungai besar yang kita miliki. Pak Gubernur ada di sini, Kalimantan Utara, kalau yang namanya Sungai Kayan dibendung ada sepuluh titik di situ dan dipakai untuk hydropower (pembangkit listrik tenaga air), muncul biayanya hanya dua sen. Kalau kita pakai batu bara bisa enam sampai tujuh sen. Siapa yang bisa melawan angka dua sen ini? Semuanya akan berbondong-bondong ke sini. Saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur ini akan kita mulai, karena dari sinilah kita nanti memiliki competitiveness, memiliki daya saing.

Kita masih memiliki sungai besar lagi yang ada di Papua, Mamberamo. Sama, di sini kira-kira bisa 11.000 megawatt (di Sungai Kayan), di Mamberamo bisa 23.000 megawatt. Sebuah kekuatan besar dengan hanya cost produksinya dua sen. Siapa yang bisa melawan ini? Kekuatan seperti inilah yang harus terus kita cari sehingga competitiveness kita, daya saing kita betul-betul kita miliki.

Yang kedua, yang berkaitan dengan tambahan devisa. Saya kira kita sudah sering bercerita bahwa kita akan membangun Sepuluh Bali Baru dan kita sekarang ini dalam tiga tahun sampai nanti 2020 memang fokus hanya di lima tempat: di Labuan Bajo, di Mandalika, di Danau Toba, di Borobudur, dan di Manado. Infrastruktur insyaallah nanti di akhir 2020 selesai semuanya. Airport, terminal dibesarkan, runway diperpanjang semuanya, jalan menuju ke tempat-tempat wisata dikerjain semua. Saya cek terus, saya cek  terus. Lima selesai 2020, sisanya setelah itu tiga tahun setelah itu rampungkan lagi.

Artinya kita akan mendapatkan devisa dari sektor ini. Kalau produknya selesai, barang-barang itu diperbaiki, produknya selesai, ada calendar of event, ada annual event yang besar, creative industrycreative economy di situ semuanya fokus dikerjakan. Promosi besar-besaran silakan, Kementerian Pariwisata silakan. Kalau negara lain misalnya dana promosinya sepuluh, Menteri Pariwisata minta dua puluh, saya beri. Tapi harus tepat sasaran, karena saya sampaikan, produk-produk ini tolong ada segmentasinya: ada yang super premium, ada yang premium, ada yang menengah-bawah. Jangan dicampur-campur. Yang super premium juga ada kuotanya. Misalnya Labuan Bajo, enggak semua orang boleh ke sana, bayarnya mahal, misalnya. Ini belum, baru didesain, tahun depan akan selesai.

Kemudian, kembali lagi yang terakhir, menarik FDI (Foreign Direct Investment) dengan perbaikan iklim investasi yang betul-betul riil. Oleh sebab itu,  kalau kita hanya satu-satu mengajukan revisi undang-undang, satu, satu, itu lima puluh tahun enggak akan selesai. Iya benar, lima puluh tahun enggak akan selesai. Sehingga 74 undang-undang akan kita gabungkan dan kita mintakan omnibus law kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Nah ini beliau-beliau ada, mohon didukung, jangan di-lama-lamain, jangan disulit-sulitin. Karena ini, sekali lagi, untuk cipta lapangan kerja. Ada 74 undang-undang yang akan… sudah kita teliti satu per satu, kita gabungkan, dan kita mintakan nanti untuk direvisi secara berbarengan, bersama-sama.

Kalau ini rampung semuanya, tadi yang saya sampaikan, tiga nilai pada saat sulit seperti ini, memang inilah waktunya. Kita tunjukkan bahwa kita mampu bertahan di tengah kesulitan yang menimpa kita, meskipun kita tidak sulit, masih lima persen kok. Yang kedua, mencari sumber baru. Yang tadi nikel, CPO, batu bara, itu mencari sumber baru. Tempat wisata, tempat destinasi wisata baru, itu. Dan tetap optimis. Jadi kalau di sini hadir para pengusaha, jangan sampai ada yang menyampaikan wait and seendak. Kalau mau investasi ya investasi lah, karena kita akan memperbaiki iklim investasi itu.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru