Peserta Diklat Penjejangan Penerjemah Kunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 31 Maret 2019
Kategori: Berita
Dibaca: 13.455 Kali
Para peserta Diklat Penjenjangan Penerjemah Tingkat Pertama Sekretariat Kabinet mengunjungi Musium Kepresidenan Balai Kirti, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/3). (Foto: Agung/Humas)

Para peserta Diklat Penjenjangan Penerjemah Tingkat Pertama Sekretariat Kabinet mengunjungi Musium Kepresidenan Balai Kirti, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/3). (Foto: Agung/Humas)

Peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Penjenjangan Penerjemah Tingkat Pertama Sekretariat Kabinet didampingi para pejabat dari Keasdepan Bidang Naskah dan Terjemahan (Asdep Naster) Sekretariat Kabinet (Setkab) mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/3).

Dalam kesempatan ini Kepala Seksi Pengembangan Dan Pemeliharan Koleksi Museum Kepresidenan Balai Kirti, Hari Trisaptya Wahyu, memaparkan tentang sejarah dan koleksi-koleksi yang ada di museum tersebut.

Museum Kepresidenan ini dibangun pada tahun 2014 atas inisiasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penamaan Balai Kirti berasal dari kata balai yang berarti ruangan atau bangunan dan kirti yang berarti kemegahan.

“Jadi museum ini dinamakan Balai Kirti karena kita akan menampilkan kemasyhuran dari presiden dan pencapaian prestasi presiden,” kata Hari.

Museum Kepresidenan Balai Kirti merupakan salah satu jenis museum khusus yang menginformasikan sejarah dan keberhasilan seorang presiden dan/atau wakil presiden selama menjalankan bakti jabatannya (Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum).

Koleksi di Museum Kepresidenan Balai Kirti ini, pada lantai pertama adalah Galeri Kebangsaan. Di Galeri Kebangsaan ini kita akan jumpai Naskah Proklamasi, Peta NKRI, Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, Ruangan Audio Visual yang menampilkan biografi masing-masing presiden, dan Aula Patung Presiden.

“Aula Patung Presiden merupakan icon dari Museum Kepresidenan Balai Kirti,” ujar Hari.

Di lantai terdapat Galeri Kepresidenan yang terdiri dari cluster-cluster yang berisi pencapaian prestasi dan koleksi pribadi masing-masing presiden. ”Hal ini yang menjadi keunggulan dari Museum Kepresidenan Balai Kirti ini, dimana museum ini merangkum prestasi dari Presiden Soekarno sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (saat ini),” ungkap Hari.

Selain Galeri Kepresidenan terdapat juga perpustakaan presiden. “Jangan kaget melihat perpustakaan ini karena perpustakaan ini mewah, memiliki koleksi-koleksi buku yang dibaca presiden dan juga ruangan baca presiden,” jelas Hari.

Menurut Kepala Seksi Pengembangan Dan Pemeliharan Koleksi Museum Kepresidenan Balai Kirti itu.

Museum Kepresidenan Balai Kirti saat ini sudah mengakomodasi 188 koleksi. Koleksi ini diyakini akan terus bertambah seiring bertambahnya presiden.

“Saat ini, untuk mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti ini dibatasi, dikarenakan museum ini berada di lingkungan Ring 1 presiden, sehingga harus melewati Security Door dan adanya Dress Code untuk mengunjungi museum,” ucap Hari.

Meskipun kunjungan dibatasi setiap tahunnya kunjungan selalu meningkat, bahkan bisa lebih dari 1000 kunjungan, mayoritas kunjungan dari PAUD sampai mahasiswa.

“Kunjungan ini memberikan efek positif ke masyarakat luas terutama di Bogor, karena banyak yang setelah kunjungan ke museum akan melanjutkan kunjungan ke sekitar Bogor,” jelas Hari seraya menambahan, banyaknya kunjungan dari pelajar dan mahasiswa diharapkan menjadi pendidikan karakter (Revolusi Mental -red) untuk para pelajar dan mahasiswa.

Museum Kepresidenan Balai Kirti itu dibangun oleh 4 instansi, yaitu bangunan fisik dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), aset tanah dan bangunan dimiliki oleh Sekretariat Negara (Setneg), konten dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan pemasaran dikelola oleh Kementerian Pariwisata. (HIM/AGG/ES)

 

 

Berita Terbaru