Pidato Presiden Joko Widodo Pada Hari Ulang Tahun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Di Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya, 17 April 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 April 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 30.756 Kali

admin-ajax.php_Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang saya hormati para alim ulama, para Kyai, Bu Nyai.

Yang saya hormati para menteri kabinet kerja, Gubernur Jawa Timur, Gubernur Jambi, serta seluruh sahabat-sahabati Pergerakan Mahasiswa Islam Ondonesia yang pada malam hari ini hadir disini. Salam pergerakan!

Saya tidak sampai hafal seperti sahabat Aminuddin Ma’ruf tadi. Semuanya disebut dan hafal diluar kepala. Saya sudah tua. Jadi nggak sehafal kayak Ketua Umum PMII.
Pertama tama marilah kita memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayahnya kepada kita sekalian. Dan sholawat dan salam tidak lupa kita haturkan pada nabi besar Muhammad SAW yang terus kita nantikan sahabatnya di hari kemudian.

Bapak ibu, sahabat sahabati, saya ingin menyampaikan sedikit mengenai permasalahan dan tantangan yang kita hadapi kedepan. Dan juga masalah masalah yang sekarang dan mungkin setahun, dan dua tahun ini kita hadapi.
Negara sekarang ini dapat dikatakan sudah tanpa batas. Paspor di Uni Eropa sudah tidak dipakai, KTP apalagi. Sebentar lagi juga di ASEAN pada akhir tahun ini, awal 2016 juga sudah dibuka namanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, Asean economy community. Terus itu nanti lalu lalang sisi ekonomi terutama dan mungkin sisi ideologi juga kalau kita tidak hati hati. Tiap hari kita lihat. Oleh sebab itu akan saya sampaikan mengenai hal hal yang berkaitan dengan keadaan kita saat ini.
Ini jumlah masyarakat Indonesia yang masih buta huruf. Dari kita lihat 2010, 2011,2012 sampai 2013, posisinya masih seperti ini. Sekali lagi itu bukan angka yang sedikit. Angka 15,15 persen, ini adalah angka yang besar. Padahal sekali lagi, Masyarakat Ekonomi ASEAN akan dibuka. Memang ini umurnya bisa dilihat, tetapi kenyataannya ini yang paling besar.

Kemudian juga fasilitas pendidikan yang kita punyai dari sekolah dasar, lanjutan, tingkat artas, perguruan tinggi, juga sebetulnya kurang, di tingkat atas juga masih sangat kurang. Oleh sebab itu ke depan kita ingin, kalau dulu ada SD Inpres, kita ingin didalam pemerintahan saya nanti akan ada SMK Inpres, SMA Inpres dan baik yang umum maupun yang agama. Nanti, ini untuk mempercepat fasilitas agar pendidikan di tingkat atas ini bisa kita lakukan.

Lulus dari sekolah dasar, sekolah lanjutan, kemudian sekolah lanjutan atas paling tidak ini kita lihat prosentasenya kelihatan sekali seperti apa. Karena apapun ke depan pertarungannya kualitas sumber daya manusia. Pertarungannya ada disitu. Bukan masalah kekuatan sumber daya alam, tetapi ada di SDM, sumber daya manusia. Karena kalau kita lihat coba, Singapura punya apa?, Jepang punya apa? Korea punya apa?.

Kita melimpah ruah, alhamdulilah, tetapi coba apakah kita bisa menggunakan itu. Ingat, tahun 70an ada bom minyak, minyak melimpah di kita tahun itu, tahun tahun 70an kesempatan itu hilang.  Dan kita tidak bisa membuat sebuah pondasi pembangunan yang baik. Tahun 80 kita ingat ada booming kayu, tebang, tebang, tebang. Kita lupa tidak membangun industri hilirnya. Minyak juga tidak membangun industri hilirnya. Lupa lagi tidak bisa membuat pondasi untuk pembangunan, untuk kesejahteraan rakyat kita. Diulang lagi dan diulang lagi. Minerba, batubara. Bayangkan ini. Batubara yang kita mempunyai kekayaan yang sangat besar diekspor mentah mentahan.
Row material semunya. Padahal jika di situ kita kunci, kita punya kekuatan energi disitu. Diekspor ke negara lain, mereka membangun industri dengan batubara kita, produknya masuk ke Indonesia. Kita membeli produk produk mereka. Itu sebuah kesalahan menurut saya. Kenapa tidak kita kunci, kita miliki. Kalau kamu mau buat industri, buat di Indonesia. Batubara banyak di sini. Sehingga akan ada keuntungan pajak, tenaga kerja, nilai tambah yang lain lain, akan banyak sekali. Inilah yang akan kita lakukan.

Kita akan mulai stop satu persatu. Tidak hanya masalah batubara, tidak hanya nikel, tidak hanya masalah bauksit, tidak hanya masalah timah. Ini harus kita olah, hilirisasinya ada di Indonesia. Kita sudah tidak mau lagi kita kirim mentahan. Diolah disana, kembali ke sini kita beli. Bener tidak seperti itu. Siapa coba yang berani menjawab benar. Inilah kesalahan yang harus mulai kita stop.
Kemudian posisi pekerka dan pengangguran di kita masih bukan angka yang kecil. Inilah kenapa tadi yang namanya raw material bahan mentah itu harus kita olah di sini karena kita ingin membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya. Itulah yang kita inginkan. Tapi untuk menuju ke sana, transisinya memang memerlukan perubahan pola pikir yang total. Tidak mungkin kita hanya langsung merubah cepat kemudian semuanya bisa menerima. Saya berikan contoh. Kita sudah bertahun tahun impor beras. 3,5 juta. Kemarin waktu Desember – Januari sudah ada usul lagi kepada saya. Pak ini posisi stok sudah berbahaya, kita harus impor, kita harus impor, menyampaikan ke saya. Sebentar, saya akan cek dulu stok kita seperti apa. Saya cek memang tinggal sedikit.

Tetapi setelah saya hitung, ini sampai berani sampai panen raya. Tetapi dengan keputusan seperti itu yang terjadi adalah spekulasi. Harga beras menjadi naik. Ini memang sebuah resiko yang harus saya ambil. Memang tidak populer saya, tetapi memang kita harus berani merubah itu. Kalau kita masih impor 3,5 juta ton per tahun saya meyakini, petani petani kita tidak akan mau berproduksi. Untuk apa, impor aja lebih murah. Tetapi orang berproduksi menjadi marah. Ngapain kita berproduksi. Inilah sering saya sulit menjelaskan. Tetapi ini memang harus ini dijelaskan secara gamblang.

Memang menahan-nahan seperti itu ada resikonya. Kalau kita tidak impor berarti harganya akan naik tetapi kalau kita impor dari dulu sampai sekarang kita akan seperti itu terus. Impor terus dan petani menjadi tidak rajin untuk berproduksi. Jagung juga sama, berapa juta ton kita impor. Inilah yang terus kita tahan. Gula juga sama, kedelai juga sama. Inilah yang ingin kita benahi tetapi sekali lagi memerlukan perubahan pola pikir, total cara cara kita berproduksi.

Pada saat kita memutuskan pengalihan pengalihan subsidi BBM dari yang konsumtif kepada yang produktif coba, semuanya demo. PMII nggak ada. Karena PMII ngerti. Kita ingin mengalihkan subsidi dari konsumtif kepada produktif. Ini perlu saya jelaskan. Kita sudah berpuluh puluh tahun menikmati subsidi itu tanpa terasa. Setahun Rp 300 triliiun kita bakar dan hilang. Saudara bayangkan Rp 300 triliun setiap tahun kemudian dibakar kemudian hilang. Kemudian bayangkan kalau 10 tahun menjadi Rp 3 ribu triliun.

Saya punya hitung hitungan. Untuk membangun jalur kereta api di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara sampai di Papua itu hanya butuh duit Rp 360 triliun. Tapi sampai saat ini kita tidak bisa membangun karena tiap hari kita bakar yang namanya BBM itu dengan subsidi. Kenapa yang dulu dulu tidak berani memotong mengalihkan ke yang produktif. Karena masalah popularitas. Saya tahu dan saya sudah diingatkan oleh tangan kiri kita. Bapak kalau ini nanti dialihkan,pengalihan subdisi dari yang konsumtif dipakai kendaraan tiap hari kemudian dialihkan kepada sektor produktif, pertanian, perikanan, infrastruktur, hati-hati. Bapak bisa jatuh popularitasnya. Saya sampaikan, itu resiko sebuah keputusan. Karena Rp 300 triliun per tahun, kemudian yang menikmati subsidi itu siapa?

Saya cek data 82 prosen yang menkmati subsidi itu yang punya mobil. Terus yang ini seperti apa. Subsidi ini untuk mereka dari mana. Saya mau tanya. Apa nggak terbalik. Yang punya mobil disubsidi, yang ini malah tidak. Inilah yang baru dalam proses kita tata untuk menuju subsidi yang produktif, subsidi ke tempat tempat sasaran yang betul. Tapi perlu perubahan pola pikir. Memang berat, saya ngerti memang berat karena sekarang ini ada tekanan ekonomi global. Ada tekanan dollar kepada rupiah. Ada tekanan kemerosotan ekonomi dunia. Tetapi pilihan pilihan itulah yang sekarang kita ambil. Ini tantangan kemiskinan.

Yang kedua tantangan narkoba. Saya perlu menyampaikan di Indonesia sekarang ini mati karena narkoba sehari 5 orang. Kalau setahun 18 ribu. Ada 1,2 juta yang sudah tidak bisa direhabilitasi. Itu tinggal menunggu. 4,5 juta itu sudah direhabilitasi. Ini angka yang sangat besar sekali. Saya sampaikan saat itu, Indonesia darurat narkoba, dan kita harus perangi yang namanya narkoba. Sehingga grasi yang masuk ke meja saya, saya tandatangani ditolak, semuanya saya tandatangani ditolak. Tetapi ada yang tanya. Ini yang 11 tidak didor dor. Ini ada proses hukum yang harus dilalui dengan cermat. Dan itu yang memutuskan adalah Kejaksaan Agung. Saya sudah tidak ikut ikut. Wilayahnya ya disana. Wilayah saya hanya grasi ditolak Presiden, hanya itu. PMII mendukung nggak? Hukuman mati.
Ada yang mengatakan ini Presiden ditekan dari internasional, dari negara negara lain, kiri atas bawah, ya betul memang, bener dan memang betul. Tiap hari saya ditelpon, benar. Saya ngomong apa adanya. Dari Kepala Negara, dari Presiden, dari Perdana Menteri, dari Raja yang warga negaranya ada disini, yang akan dieksekusi. Surat dari Human Rights, dari Amnesti. Tetapi sekali lagi saya sampaikan, ini adalah kedaulatan negara kita. Ini adalah kedaulatan hukum kita. Selau saya sampaikan kepada mereka kalau pas telpon. Tetapi saat ini ada prosesnya. Jangan dipikir presidennya nggak berani.
Kemudian juga ini. Tadi sudah disampaikan oleh sahabat Aminuddin mengenai radikalisme, mengenai ISIS. Siapa yang bisa menangkal itu? PMII betul. Saya tadi sudah cerita banyak dengan ketua umum. Saya siap pak. Ya memang harus siap semuanya. Tidak bisa negara sebesar kita ini. Bayangkan negara sebesar kita ini, 300 lebih etnis dan bahasa daerah. Ujung barat sampai ujung timur. Sabang sampai Merauke, 17 ribu pulau. Saya setiap ketemu kepala negara, kepala pemerintahan mereka saya terangkan 17 ribu pulau di Indonesia, 300 etnis lebih, ada dua pertiga adalah air, 250 juta penduduknya. Banyak yang bertanya ke saya mengelolanya seperti apa, betapa sangat sulitnya. Ya betul.

Oleh sebab itu dengan NKRI, dengan kebhinnekaan kita, dengan mukadimah tadi sudah disampaikan oleh ketua umum tadi. Sekali lagi yang namanya radikalisme, kemudian gerakan gerakan ekstrimisme ya memang tidak ada kompromi dengan mereka. Jangan ada kompromi dengan mereka. Wong kita ini sering dipuji oleh negara negara lain, di Timur Tengah, di Midle East. Mereka kagum dengan kita. Betapa kita adem ayem, dingin, tentrem. Padahal kita ini bersuku suku bangsa, bahasa daerah yang berbeda beda, kok bisa. Kita ini bisa bersatu. Dewasa dalam berdemokrasi. Mereka kagum dengan kita.

Oleh sebab itu kita sendiri sebagai bangsa harus bangga bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar. Nomor 4 jumlah penduduknya di dunia. Oleh sebab itu kalau saya konferensi internasional, saya minta duduk dengan negara negara besar. Saya tidak mau di pinggir pinggirkan. Karena Indonesia adalah negara besar. Waktu di APEC saya diberi tempat duduk yang agak jauh dengan tuan rumah nggak mau. Saya tidak akan datang kalau seperti itu. Sehingga waktu di APEC lihat. Disini ada tuan rumah Presiden Tiongkok, Presiden Xi Jinping, disini Putin, disini Presiden Jokowi, disini Presiden Obama. ini baru yang namanya kita bangga dan harus bangga bahwa kita adalah negara besar. Bahwa tantangan masih banyak. Itulah yang harus kita hadapi.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini dan saya mengucapkan selamat ulang tahun, selamat harlah untuk PMII yang ke 55. Salam pergerakan.

Terima kasih.

Wasalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

 

 

Transkrip Pidato Terbaru