Pidato Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Muktamar XXXIII Nahdlatul Ulama, Di GOR Merdeka, Alun-Alun Jombang, Jatim, 1 Agustus 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Agustus 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 13.713 Kali

Logo PidatoBismillahirrahmanirrahim,

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi robbil alamin, wassholaatu wassalaamu alaa asrafil anbiyaa’ i  wal mursaliin, sayyidina wa habibina wa syafiina wa maulana muhammadin, wa’ala aalihi wasohbihi ajma’in, amma ba’du.

Yang saya hormati para alim ulama.

Yang saya hormati Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri Presiden RI ke-5.

Yang saya homati Ibu Sinta Nuria Abdurrahman wahid.

Yang saya hormati para pimpinan lembaga negara.

Yang saya hormati Ketua Umum dan keluarga besar serta jajaran Pengurus Besar NU.

Para Menteri Kabinet Kerja. Yang saya hormati Gubernur Jawa Timur, Bupati Jombang beserta seluruh jajarannya.

Hadirin Muktamirin Muktamirat yang berbahagia.

Marilah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat hadir pada pembukaan Muktamar ke-33 NU di Kota Jombang, Jawa Timur.

Salawat serta salam kita haturkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Saya kalau ke Jawa Timur paling senang bertemu gubernur dan wakilnya, keduanya lucu. Coba tadi kita lihat, hadirin hadirat, hadirin di dalam hadirat di luar. Pak Wagub ada-ada saja. Jadi kalau ke Jawa Timur banyak senyumnya, banyak tertawanya.

Para kyai, dan hadirin sekalian yang saya muliakan. Dengan penuh rasa gembira, saya menyambut Muktamar dimulainya Muktamar ke-33, jam’iyah NU malam ini. Sebagai salah satu jam’iyah diniyah islamiyah terbesar di Indonesia, NU telah memberikan kontribusi besar untuk menjaga Indonesia, dan tetap menjadi Indonesia.

Sejarah mencatat, sejak didirikannya tahun 1926, tokoh-tokoh NU turut membidani lahirnya NKRI dan menjaga dari berbagai bentuk ancaman. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi, jika NU senantiasa menjadi garda terdepan dalam nenjaga NKRI dan Pancasila. Dan ini menjadi bukti keteguhan sikap NU dalam menjunjung semangat kebangsaan, menjunjung semangat menegakkan ke-Indonesia-an, mennghargai kebhinekaan.

Saya mengapresiasi tema besar yang dipilih NU dalam Muktamar kali ini, yakni meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia. Saya mendorong agar tema ini dimaknai secara positif karena tema ini menunjukkan bahwa NU dan umat Islam Indonesia mempunyai posisi yang strategis. Bukan hanya dalam membentuk peradaban bangsa, tapi bisa menjadi inspirasi peradaban dunia.

Sebagai role model pengusung Islam yang rahmatan lil alamin, yang memberikan kedamaian dan manfaat bagi alam semesta, tema itu juga cermin keteguhan warga Nahdiyin untuk menjadikan Islam sebagai pijakan terciptanya masyarakat unggulan, yakni masyarakat yang menjadikan agama sebagai sumber kemajuan, keadilan, dan kedamaian.

NU memiliki peran yang sangat penting dalam menampilkan serta meneguhkan wajah Islam yang moderat. Untuk itu, kita mengucapkan terima kasih kepada Hadratus Seikh Hasyim Asy’ari yang telah menanam benih unggul sikap hidup moderat bagi warga nahdiyin di manapun berada.

Muktamirin dan Muktamirat yang saya hormati, Senin lalu, saya menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris David Cameron, di Istana Negara, Jakarta. Dalam kunjungannya itu beliau tertarik mempelajari sejarah perkembangan Islam di negara kita yang demokratis, yang toleran, dan Islam yang maju. Beliau bahkan ingin mengetahui lebih banyak mengenai peran organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia, dan menghadapi tantangan radikalisme global.

Beliau bertanya sangat detail sekali. NU ditanyakan, Muhammadiyah juga ditanyakan, secara detail. Sehingga penjelasannya pun kita sampaikan secara detail. Beliau sangat menghargai apa yang terjadi di Indonesia, karena di luar semuanya sekarang ini pada posisi yang tidak baik.

Karena itulah saya menaruh harapan kepada NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk mampu menjadi jembatan peradaban. Bukan hanya jembatan bagi perbedaan paham keagamaan, tetapi juga menjadi peradaban antar bangsa dalan wujud nyata Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Sebagai jam’iyah diniyah Islamiyah yabg sejak kelahirannya mengedepankan nilai-nilai Islam moderat, saya berharap NU dapat meningkatkan kerja sama dengan berbagai kalangan untuk membangun tatanan dunia yang berkeadilan, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan, keterbelakangan, serta ketimpangan yang merupakan akar dari bentuk-bentuk terorisme dan radikalisme.

Dengan sikap NU yang mengutamakan solidaritas kemanusiaan, ukhuwah basyariah, maka warga Nahdliyin berperan besar dalam membangun peradaban antar bangsa yang semakin terbuka, demokratis dan berkeadilan. Dengan cara itu, Indonesia sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, akan selalu dikenang menjadi rujukan dunia.

Tadi waktu masuk ke ruangan ini ada yang bisik-bisik, Pak Jokowi pakai sarung. Sarung ini dibelikan istri saya kemarin, “Pak, besok ke Muktamar NU pakai sarung.” Ya saya senang-senang saja.

Tadi saya pakai di hotel, saya turun bertemu Bu Mega.

“Wah, Dik, sarungnya bagus”

“Apanya yang bagus, Bu?”

“Warnanya.”

Tetapi saya kaget tadi waktu turun dari mobil, justru yang di sini banyak yang pakai jas. Untung saya ditemani Gus Mus.

Para ulama dan hadirin sekalian yang saya hormati, sebelum mengakhiri sambutan ini, izinkan saya atas nama negara dan pemerintah menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap keluarga besar NU, atas peran besar dalan menjaga ke-Indonesia-an dan keBhinekaan.

Kejadian rusuh di Tolikara Papua saat Idul Fitri 1 Syawal 1436H, harus menjadi pelajaran berharga. Harus menjadi koreksi bagi kita senantiasa menbangun komunikasi yang baik antar umat beragama. Toleransi yang telah dibangun sejak lama di seluruh Nusantara tidak boleh ternodai karena sikap segelintir orang. Mari kita teguhkan posisi NU sebagai Jam’iyah diniyah Islamiyah yang moderat.

Mari kita tingkatkan dialog, sikap toleran, dan komunikasi yang baik dalam kehidupan keagamaan. Dengan karakter NU yang sering menggiatkan semangat toleransi, kebersamaan dan musyawarah mufakat, saya berkeyakinan, bahwa muktamar ini berjalan dengan lancar, damai sejuk dan sukses.

Dan sebagai sedikit tambahan, sejak saya menjadi presiden, gelar pahlawan nasional pertama kali akan saya anugerahkan kepada tokoh NU dari Jombang, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Demikian yang bisa saya sampaikan.

Terima kasih.

Wassalamualaikum wr.wb.

(Humas Setkab)

 

Transkrip Pidato Terbaru