Pidato Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peluncuran Program Investasi Menciptakan Lapangan Kerja Tahap III dan Peresmian Pabrik PT Nesia Pan Pacific Clothing serta Peresmian Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, 22 Januari 2016

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 26 Januari 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 8.072 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semua.

Bapak/Ibu dan Saudara-saudara sekalian,

Saya kira, sudah beberapa kali saya sampaikan mengenai kenapa infrastruktur itu menjadi prioritas dan fokus pekerjaan program pemerintah sekarang. Kita tahu, tahun yang lalu telah dimulai dibangun tol Trans Sumatera, telah dibangun beberapa pelabuhan di Kuala Tanjung Sumatera Utara, Makassar New Port, kemudian di Kalimantan, kemudian di Papua, dan juga beberapa airport-airport (bandara-bandara) baru, termasuk pembangunan rel kereta api di Sulawesi, di Sumatera, dan yang terakhir kemarin telah dibangun, dimulai pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Kenapa kita berikan prioritas dan fokus pada infrastruktur? Sekali lagi saya sampaikan, eranya era kompetisi, eranya sekarang era persaingan, antarindividu, antarkabupaten, antarkota, antarprovinsi, dan antarnegara. Sudah tidak bisa kita tolak-tolak lagi, itu sudah kejadian. Masyarakat Ekonomi Asean sudah masuk kita mulai awal tahun ini, sebentar lagi mau tidak mau dengan kalkulasi yang matang, kita akan masuk lagi  ke Trans Pacific Partnership, bloknya Amerika. Mau tidak mau juga sebentar lagi kita akan masuk ke FTA EU, bloknya Uni Eropa. Sebentar lagi, mau tidak mau, kita juga masuk ke RCEP, bloknya China. Sudah tidak bisa ditolak-tolak lagi.

Begitu kita bilang tidak, “saya tidak mau masuk ke TPP”, apa kejadiannya? Barang kita masuk  kesana kena pajak 15 persen, produk kita masuk kesana kena pajak 20 persen. Yang masuk menjadi anggota diberikan pajak hanya 0 persen. Artinya apa? Barang kita tidak akan bisa bersaing. Ini fakta yang kita hadapi.

Oleh sebab itu, mau tidak mau, dengan infrastruktur-infrastruktur tadi yang siap, produktivitas kita akan naik, daya saing kita akan naik, competitiveness kita akan naik. Dengan infrastruktur itu efisiensi kita akan menjadi lebih baik karena harga barang pasti lebih murah karena biaya transportasi, biaya logistik akan jatuh lebih murah, arahnya kesana.

Tetapi kalau tidak dibarengi dengan etos kerja SDM-SDM kita, bagaimana kita bisa bersaing?

Oleh sebab itu, saya sangat menghargai Nesia Pan Pacific, SMK Negeri 2 Wonogiri, dan juga Akademi Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Surakarta. Ini dalam rangka meningkatkan skill, meningkatkan keterampilan, dan tentu saja meningkatkan produktivitas dan etos kerja agar kita mempunyai daya saing dan dalam kompetisi kita bisa memenangkan pertarungan itu. Tanpa itu, saya pastikan kita ditinggal oleh negara-negara lain. Akan terjadi yang namanya deindustrialisasi. Orang tidak mau masuk ke industri di Indonesia. Mereka akan pilih di Vietnam, mereka akan pilih di Myanmar, mereka akan pilih di negara-negara yang lain karena lebih efisien, lebih punya daya saing, skill, etos kerja dari SDM-SDM yang ada lebih baik. Inilah kenyataan dan fakta yang harus kita hadapi dan harus kita cepat-cepat kita benahi, kita perbaiki. Tidak ada, tidak ada cara yang lain kalau ingin kita survive, kita memenangkan kompetisi, dan kita memenangkan persaingan.

Yang ketiga, ini di pemerintahan harus kita rombak besar-besaran! Sudah tidak ada lagi yang namanya izin bertahun-tahun, tidak ada. Tidak ada yang namanya izin berbulan-bulan, tidak ada. Saya sudah sampaikan kepada seluruh kementerian. Begitu kementerian nanti sudah akan rampung saya akan masuk ke daerah. Semua harus satu garis kalau, sekali lagi, kita ingin memenangkan persaingan.

Dulu di BKPM coba, ngurus izin bisa tahun. Tahun! Kalau pinter-pinter ya mungkin bisa 6 bulan, bisa 7 bulan, bisa 8 bulan. Saya sampaikan, “saya tidak mau tahu, saya ingin urusan itu selesai dalam jam!” Alhamdulillah sekarang sudah tiga jam, tiga jam untuk delapan perizinan. Kalau tidak percaya silakan coba. Nanti kalau tidak tiga jam ngomong ke saya. Saya pastikan, saya akan saya ganti Kepala BKPM-nya.

Tapi saya kemarin sudah saya tes. Ada teman yang mau urus izin, “udah diurus saja, urus ke BKPM.”

Saya telepon ke teman saya, “bagaimana, sudah diurus?”

“Sudah, sudah selesai, kaget saya tiga jam rampung.”

Bener?”

“Iya.”

Saya sendirikan belum mengecek yang tiga jam. Kalau yang dulu yang hari saya sudah mengecek. Sudah senang saya bisa, terakhir potong-potong bisa duapuluh hari. Saya tidak mau hari, jam. Sekarang sudah jam, tapi belum saya cek. Tapi saya sudah cek lewat teman pengusaha yang lain dan saya lebih percaya. Kalau yang datang ke saya bisa saja disiap-siapin tapi kalau yang datang itu pengusaha, pasti betul dan dilayani dalam waktu jam.

Kemarin  dengan  Gubernur DKI juga sama, saya sampaikan, “dulu mengurus yang namanya IMB sampai bertahun-tahun di DKI.” “Nggak Pak, sekarang kita online.” Nah ini. “SIUP juga online Pak. Tidak ada urusan hari kalau SIUP sama TDP, Pak. Sudah online, langsung tarik, jadi, sudah.”

Karena saya pernah mencoba sendiri waktu di DKI, saya cek, saya masuk ke kantor, “coba saya mau minta SIUP, perlakukan saya sebagai pemohon!” Saya tungguin. Ketik, bukan ketik, semuanya kan computerized. Tik… tik… tik… Saya meniti, dua menit jadi. Saya pakai pegangan dua menit. Saya tanya, “kenapa jadinya bisa satu minggu-dua minggu, padahal ini dua menit jadi?”

“Pak, kalau kita dua menit kita bisa Pak menyelesaikan Pak,” ini yang di front (depan).

“Tapi yang di atas Pak, itu bisa seminggu-dua minggu Pak.”

“Yang di atas siapa?”

“Yang tanda tangan Pak.”

Saya datangi ke atas, untung tidak ada, orangnya untung tidak ada. Saya sudah emosi saat itu, untung tidak ada. Tapi tetap saya copot, meskipun tidak ada tetap saya copot, hanya minus dimarahi, itu saja.

Saya kira memang cara-cara ini yang akan menyelesaikan masalah. Begitu yang ketiga tadi, pelayanan perizinan bisa cepat, di pusat cepet, di daerah juga cepat, itulah nanti yang menyelesaikan persoalan masalah kompetisi dan persaingan kita.

Hanya dua menit. SIUP itu isinya apa sih? Hanya nama, namanya siapa, alamatnya mana, nama perusahaan apa, modalnya berapa, hanya enam yang harus dimasukkan. Standarnya juga sama, kertasnya hanya satu lembar begini. Saya tanya, waktu di daerah saya tanya, “kenapa sampai seminggu, sampai dua minggu?” “SOP-nya Pak. Norma dan SOP-nya memang segitu Pak.”

Saya kemarin sudah perintah ke Menteri Perdagangan, sekarang dibuat dari pusat SOP-nya jam, tiga jam, sudah. Saya tidak satu jam lah, tiga jam untuk SIUP, TDP, ini baru disiapin. Jadi yang Kepala Dinas Perdagangan di daerah siap-siap. Begitu ini surat, Permendag datang ke daerah, tiga jam, Kepala Dinas harus menyelesaikan 3 tiga jam karena itu norma dan standar SOP, karena yang diikuti ternyata itu. Sekarang saya punya kewenangan untuk membuat itu, saya buat yang cepet, masa saya buat yang lambat? Sudah, itulah penyelesaian-penyelesaian yang terus akan kita reform, kita perbaiki, kita benahi. Karena tanpa itu, sekali lagi, ini era persaingan, ini era kompetisi.

Kemudian yang keempat, hal-hal yang berkaitan dengan insentif, tadi disampaikan oleh Pak Gubernur Jawa Tengah. Insentif juga, yang namanya industri padat karya, saya sudah sampaikan ke Pak Wakil Menteri Keuangan, ke Menteri Keuangan, berikan yang namanya tax holiday, tax allowance, berikan. Diajukan, ini mengangkut tenaga kerja yang banyak padat karya, berikan. Memang tugas negara itu memang melayani, tugas pemerintah itu melayani, tugas birokrasi itu melayani, tidak ada yang lain. Dan melayani kalau sekarang ini harus dengan cepat.

Dan hati-hati, di Jawa Tengah Pak Gubernur, ini sekarang menjadi incaran investasi-investasi yang padat karya. Karena mungkin di sini tidak banyak demo. Mungkin, saya tidak tahu. Kondusif, orangnya nurut-nurut, mungkin. Ini betul. Silakan mungkin ditanyakan ke Yang Mulia Duta Besar Korea, kenapa berbondong-bondong ke Jawa Tengah, pasti ada sebabnya. Semuanya sekarang ini, meskipun tadi di Nusa Tenggara, di Maluku, di Papua juga ada, tetapi di sini. Tapi saya dibisiki juga oleh Pak Menteri Perindustrian, katanya Nesia Pan Pacific juga di Wonogiri kesulitan juga cari tenaga kerja. Betul? Betul? Artinya investasi semakin banyak dan lebih baik sulit mencari tenaga kerja daripada mudah. Kalau mudah berarti yang menganggur banyak, kalau sulit berarti sudah mulai semuanya terangkut dalam industri, dalam industri-industri manufaktur, sangat baik.

Saya berterima kasih sekali kepada Korea Selatan yang telah naik investasinya tahun kemarin sebesar 24 persen. Ini sangat besar sekali kenaikannya. Tahun 2015 kenaikan investasi Indonesia sebesar 17,8 persen. Ini juga sebuah kenaikan yang sangat tinggi dan kita harapkan tahun ini mulai terealisasi seperti PT Nesia ini. Terealisasi, ada rekrutmen tenaga kerja, di Bali nanti juga ada, di Nusa Tenggara ada, di Maluku ada, di Papua ada. Saya kira kalau terus seperti ini kita harapkan dalam 3-4 tahun ini akan kelihatan. Ekspor kita akan kelihatan, masalah ketenagakerjaan juga akan kelihatan. Kalau infrastruktur sudah hampir jadi semuanya, sudah jadi semuanya, akan kelihatan lagi daya saing kita pada posisi yang mana, daya saing kita berada pada level yang mana.

Karena memang kita ini semuanya masih pada posisi yang rendah. Seperti ease of doing business (kemudahan berusaha) di Indonesia, rangking kita masih 109 dari 189 negara, 109. Sebelumnya 120, kemudian menginjak sekarang 109. Saya sampaikan kepada Kepala BKPM dan seluruh menteri, baru rapat dua hari yang lalu, “saya tidak mau lagi di angka-angka yang namanya 100.” Tahun depan saya sudah minta, target saya 40. Kerja itu kalau tidak diberi target tidak seram. “Pak, tapi targetnya jangan tinggi-tinggi Pak.” Ndak, saya udah menghitung, 40 itu jangan ditawar. Ada kemarin menteri yang nawar-nawar, tidak, itu target. Saya harus melihat, kalau yang bisa mencapai berarti artinya kerja, kalau tidak bisa mencapai artinya tidak mampu. Itu saja, jangan dibuat sulit.

Saya ingin hal-hal yang simpel, yang sederhana, yang betul-betul langsung bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat menunggu, masyarakat menanti action, bukan wacana, bukan rencana. Karena dari dulu naik turun, naik turun antara 110-120, ita-itu terus. Kalau tidak naik dikit, turun dikit, naik dikit, turun. Tidak, saya tidak mau, 40. Menterinya bingung silakan tapi ini target saya, angka saya ini. Saya memberi angka itu juga punya alasan, bukan aur-auran.

Kemarin sudah kita kumpulkan semua yang di lapangan, apa yang harus diperbuat, apa yang harus dikerjakan, mana yang dipotong, mana yang harus dihilangkan. Sudah, semuanya sudah. Kemarin saya beri waktu, ini yang dipotong, yang disederhanakan, yang dihilangkan, saya beri waktu dua minggu segera.

Karena kita ini terlalu banyak regulasi, terlalu banyak peraturan. Saya suruh ngitung Kepala Bappenas, berapa sih aturan dan regulasi kita ini? 42.000 banyaknya, 42.000 menjerat diri kita sendiri. Kita sendiri yang membuat, yang bingung kita sendiri. Sudah potong, bisa potong separuh, separuh, bisa potong tinggal seperempat, potong sudah. Banyak-banyak peraturan ini untuk apa? Menyulitkan dunia usaha, menyulitkan kita sendiri pemerintah. Menjadi tidak lincah dalam kompetisi global yang perubahannya menit, tiap menit, tiap detik berubah terus. Kita ini kadang tidak bisa bekerja gara-gara peraturan yang kita buat sendiri.

Belum yang namanya perda. Ada 3.000 perda yang numpuk di Kementerian Dalam Negeri yang harus kita evaluasi. Saya sudah sampaikan, tidak usah evaluasilah, langsung dihapus. Kalau dikaji, dievaluasi, dikaji, tiap hari hanya mengkaji-mengkaji-mengkaji, setahun hanya dapat 10, setahun hanya dapat 15, kapan rampungnya? 3.000 perda-perda yang memang bermasalah. Ada yang perda pungutan, ada yang perda perizinan, aduh. Saya baca saja sudah langsung kepala pusing sudah. Sudahlah, tidak usah kaji, mengkaji-mengkaji-mengkaji, pokoknya yang memberatkan rakyat, yang menyulitkan rakyat, yang meruwetkan rakyat, yang meyebabkan kita bertele-tele, sudah langsung hapus. Sudah tidak ada alasan-alasan dikaji-dikaji. Bayangkan 42.000 peraturan, 3.000 perda sudah bertahun-tahun tidak pernah diapa-apain. Perintah saya tadi, simpel sudah, hapuskan.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Akhir kata, saya nyatakan Program Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja Tahap III dan

Peresmian PT Nesia Pan Pacific Clothing, serta Peresmian Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, secara resmi dibuka dan diluncurkan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru