Presiden Jokowi Berharap Ada Kolaborasi Antara Peneliti, Dunia Usaha, dan Perguruan Tinggi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 April 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 38.756 Kali
Presiden Jokowi didampingi mantan Presiden BJ. Habibie saat menghadiri pembukaan National Innovation Forum (NIF) 2015, di Puspitek, Serpong, Banten, Senin (13/4)

Presiden Jokowi didampingi mantan Presiden BJ. Habibie saat menghadiri pembukaan National Innovation Forum (NIF) 2015, di Puspitek, Serpong, Banten, Senin (13/4)

Usai melakukan peninjauan ke Pasar Modern Serpong, Tangerang Selatan, Senin (13/4), Presiden Joko Widodo (Jokowi) melanjutkan kunjungan kerja di Propinsi Banten dengan menghadiri National Innovation Forum (NIF) 2015.

NIF 2015 merupakan ajang untuk mempromosikan pencapaian hasil-hasil inovasi teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi kepada dunia usaha dan masyarakat.

Acara yang dihadiri mantan Presiden RI Prof. BJ. Habibie itu diawali dengan penandatanganan MoU tentang pemanfaatan teknologi antara sektor akademik dan swasta, disaksikan oleh Presiden Jokowi. MoU terbagi dalam tujuh bidang fokus, yaitu pangan, energi, kesehatan dan obat, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, hankam, serta material maju.

Salah satu contoh kerjasama yang dibangun dalam kegiatan ini adalah pengembangan pesawat N219 antara LAPAN dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), di mana akan disepakati kerjasama produksi dan penjualan antara PT DI dengan pihak pengguna.

Di bidang pangan, lembaga litbang dan perguruan tinggi telah menghasilkan produk inovasi yang akan dikerjasamakan dengan pihak industri di antaranya adalah bibit sapi unggul, bibit dan varietas padi unggul, kedelai unggul, dan sayuran unggul.

Acara NIF 2015 ini diharapkan dapat menjadi titik tolak peningkatan kepercayaan dunia usaha/industri atas hasil litbang dan perguruan tinggi dalam negeri karya anak bangsa sendiri.

Perlu Kolaborasi

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan luasnya wilayah Indonesia yang terdiri atas 17 ribu pulau, yang kalau didatangani semua wilayah itu, akan terlihat betapa sangat besarnya tantangan kita menghadapi, baik dari sisi transportasi, pangan, dan energi.

“Kita lihat transportasi. Bayangkan dari sebuah pulau kecil ke pulau yang lain di sebuah provinsi. Transportasinya apa? Apakah udara, atau laut. Mana yang efisien,” papar Jokowi.

Oleh sebab itu, Presiden mengingatkan pentingnya penelitian riset di bidang itu, bidang dirgantara. Sebetulnya pesawat apa yang paling pas untuk transportasi dari provinsi ke provinsi, kota ke kota, pulau ke pulau, apakah tipe yang besar, atau tipe yang sedang atau kecil.

“Sudah ada N219. Akan ada lagi N245. Saya tadi dibisiki Prof. BJ Habibie, yang lebih pas lagi menurut beliau yang R80, karena penumpangnya pas untuk wilayah-wilayah yang akan kita lalui,” kata Jokowi.

Hal yang sama, lanjut Presiden Jokowi, juga di bidang kemaritiman.Apakah dari provinsi ke provinsi, pulau ke pulau, itu perlu kapal yang seperti apa. Ia menyebutkan, sering kali gara-gara masalah transportasi ini, connectivity, tidak kita ukur. Harga semen di Pulau Jawa Rp 60-70 ribu/zak, namun di Papua bisa mencapai Rp 2,5 juta. “Hal-hal seperti inilah yang harus diselesaikan dengan sebuah riset/penelitian yang baik,” ujarnya.

Soal pangan, Presiden Jokowi mengemukakan, waktu di Subang sudah ada benih padi yang di satu hektar bisa mencapai 8-9 ton. Namun di tingkat petani hanya bisa 5 ton. “Kenapa dari 9 (ton) bisa jatuh ke 5? Karena tidak didampingi. Kapan petani harus memupuk, bagaimana pemeliharaan peralatannya, bagaimana cara menangani mesinnya,” terangnya.

Presiden melanjutkan contoh tanaman tumpang sari jagung di lahan milik Perhutani yang 1 hektarnya bisa mencapai 8-9 ton. Tapi, sudah bertahun-tahun hanya dicoba 1-5 hektar, tidak dinasionalkan. Padahal, jika hal itu juga dilakukan di lahan milik Perhutani yang lain atau di lahan-lahan sawit, Presiden Jokowi meyakini, masalah jagung akan rampung, dan tidak ada lagi impor.

Diakui Presiden,bahwa dari pemerintah dukungan anggaran memang belum besar. Tetapi kalau penelitian kita tidak fokus, tidak ada kesinambungan, anggaran yang sedikit itu larinya malah kemana-mana.

“Memang riset itu perlu kesinambungan, tidak boleh berhenti jika ada hambatan, harus terus. Yang kedua harus fokus, apa yang mau negara ini kerjakan. Ke arah mana riset-riset itu dibawa,” papar Jokowi.

Presiden Jokowi juga menyoroti masalah sinergi antar lembaga yang menurutnya belum terjalin. Ada yang jalan ke sana, ada yang ke sini.

“Itulah tugas Pak Menteri, dan kita ingin agar ada perwujudan yang jelas, kerjasama antara peneliti, dunia usaha, perguruan tinggi, kerjasama yang konkret, kolaborasi yang jelas, sehingga nanti keluarannya adalah sebuah produk yang bermanfaat bagi rakyat,” pungkas Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M. Nasir, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Yuddy Chrisnandi, dan Plt. Gubernur Banten Rano Karno. (Humas Setkab/ES)

 

Berita Terbaru