Presiden Jokowi: Dengan Demokrasi, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Cukup Kuat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 27 Januari 2018
Kategori: Berita
Dibaca: 14.577 Kali
Presiden Jokowi bersama anggota Parlemen (National Assembly) Pakistan, di Islamabad, pada Jumat (26/1) malam. (Foto: Humas/Rahmat)

Presiden Jokowi bersama anggota Parlemen (National Assembly) Pakistan, di Islamabad, pada Jumat (26/1) malam. (Foto: Humas/Rahmat)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, demokrasi merupakan cara yang paling tepat untuk melayani kepentingan masyarakat Indonesia. Demokrasi juga memberikan ruang bagi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

Presiden menunjuk contoh Indonesia, dimana demokrasi telah membuat stabilitas politik di Indonesia dapat terjaga, dan menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup kuat di atas 5% setiap tahun. 

“Dengan demokrasi, ekonomi Indonesia merupakan salah satu dari 20 terbesar di dunia,” kata  Presiden Jokowi saat  berbicara di hadapan anggota Parlemen (National Assembly) Pakistan, di Islamabad, pada Jumat (26/1) malam.

Presiden juga memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi ini dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. “Pembangunan yang berkeadilan terus menjadi prioritas,” kata Presiden.

Selain itu, Presiden Jokowi menekankan, yang diperlukan adalah komitmen kuat semua elemen bangsa, komitmen untuk bertoleransi agar kemajemukan terjaga, dan komitmen untuk saling menghormati agar demokrasi berfungsi dengan baik.

Indonesia Tidak Lupa
Sebelumnya saat mengawali sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa menjadi kehormatan bagi dirinya untuk dapat berbicara di depan Sidang Joint Session of the Parliament itu.

Ia mengingat, pada 26 Juni tahun 1963, Presiden Soekarno berbicara di depan Parlemen Pakistan dan saat itu menggelorakan semangat melawan kolonialisme dan menggelorakan semangat kerja sama negara-negara yang baru merdeka.

“Lima puluh lima tahun kemudian, Presiden Republik Indonesia kembali mendapatkan kehormatan untuk berbicara di depan Parlemen Pakistan. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menggelorakan kerja sama untuk perdamaian dan kesejahteraan dunia,” ujar Presiden.

Persahabatan Indonesia dan Pakistan, lanjut Presiden, bukan persahabatan yang baru terjadi kemarin. Ia menegaskan, Indonesia tidak akan lupa akan dukungan rakyat Pakistan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Sebagai wujud penghargaan, pada 17 Agustus 1995, bertepatan dengan perayaan 50 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Kelas 1 Adipurna kepada Bapak Bangsa Pakistan, Muhammad Ali Jinnah atas jasa-jasa Almarhum mendukung kemerdekaan Indonesia,” ungkap Presiden.

Selain persahabatan, menurut Presiden, banyak sekali kesamaan diantara dua negara kita. Indonesia dan Pakistan adalah dua negara berpenduduk Muslim yang besar. “Kita sama-sama menjadi negara anggota D-8, sesama negara OKI, sesama negara Non-Blok, kita sama-sama inisiator Konferensi Asia Afrika dan yang tidak kalah penting, kita sama-sama negara demokrasi,” kata Presiden.

Indonesia juga merupakan dua negara yang terus konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. “Melalui Forum ini, saya kembali menyerukan agar kita terus memberikan dukungan bagi Saudara-saudara kita di Palestina. Mari kita terus dukung perjuangan Palestina!” ucapnya.

Presiden menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Sekitar 87% dari 260 juta penduduk Indonesia, yang berarti 226,2 juta penduduk adalah Muslim.

“Sebagaimana Pakistan, selain rumah untuk umat Islam, Indonesia juga menjadi rumah bagi Umat Hindu, Katolik, Kristen, Buddha dan lainnya. Indonesia adalah negara yang majemuk,” tutur Kepala Negara.

Presiden mengatakan rakyat Indonesia patut bersyukur bahwa walaupun Indonesia sangat majemuk dengan jumlah penduduk yang cukup besar dengan jumlah pulau yang lebih dari 17.000 dengan 1.340 etnis, Indonesia masih dapat menjaga kesatuannya.

“Bhinneka Tunggal Ika, itulah moto kehidupan berbangsa kami. Kami juga bersyukur bahwa kami dapat menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis.

Semua orang memahami bahwa mengelola kemajemukan bukanlah hal mudah, menjalankan demokrasi juga bukan hal mudah,” kata Presiden.

Tampak hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dalam kesempatan itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amri.

Sebelum tiba di National Assembly of Pakistan, Presiden Jokowi terlebih dahulu mengikuti upacara peletakan karangan bunga di Monument Wall of Unsung Heroes.

Saat tiba di National Assembly of Pakistan, Presiden disambut Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi, Ketua Senat, dan Ketua Majelis Nasional Pakistan. (EN/RAH/ES)

Berita Terbaru