Presiden Jokowi Dorong ASEAN-AS Bantu Perdamaian di Laut Tiongkok Selatan dan Timur Tengah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 16 Februari 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 28.637 Kali
Suasana pertemuan working dinner yang dihadiri Presiden Jokowi di California, Amerika Serikat (Foto:BPMI/Laily)

Suasana pertemuan working dinner yang dihadiri Presiden Jokowi di California, Amerika Serikat (Foto:BPMI/Laily)

Mengakhiri Retreat I pada hari Senin (15/2) malam, Presiden Joko Widodo menghadiri working dinner di Sunnylands Historic Home. Presiden Amerika Serikat, Barack Obama bertindak sebagai tuan rumah dalam working dinner yang mengusung tema ‘On Regional Strategic Outlook’.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi memberikan pernyataan seperti halnya kepala negara/pemerintahan negara ASEAN. Presiden Jokowi menyampaikan dua isu utama: perdamaian di Laut Tiongkok Selatan dan perdamaian  di Timur Tengah.
Presiden Jokowi menyatakan bahwa kawasan Laut Tiongkok Selatan harus merupakan kawasan damai dan stabil. Untuk mewujudkannya, Presiden Jokowi menekankan bahwa hukum internasional harus dihormati, rivalitas kekuasaan besar harus dicegah, Declaration on the Conduct of Parties in the South Cina Sea (DOC) harus dilaksanakan secara penuh dan efektif, dan Code of Conduct (COC) harus dapat segera diselesaikan.

Selain itu, Presiden Jokowi menggarisbawahi bahwa semua pihak penting untuk menghentikan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan ketegangan. Sebagai non-claimant state, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia ingin memberikan kontribusi bagi perdamaian dan stabilitas Laut Tiongkok Selatan.

Terkait keadaan di Timur Tengah, Presiden Jokowi menyampaikan keprihatinannya. Di awal 2016 ini, keprihatinan dunia meningkat dengan memburuknya hubungan Arab Saudi dengan Iran. Terlebih lagi, masalah Palestina yang belum dapat diselesaikan dan konflik Suriah yang menyebabkan mengalirnya arus pengungsi keluar Suriah.

Menurut Presiden, pada saat yang sama, upaya melawan teroris ISIS hasilnya masih jauh dari baik. Bahkan, jumlah Foreign Terrorist Fighters (FTF) bertambah. Indonesia tidak bisa tinggal diam melihat kondisi ini.

“Saya telah mengutus Menteri Luar Negeri Indonesia ke Iran, Arab Saudi, dan sejumlah negara di Timur Tengah untuk menggalang perdamaian”, ucap Presiden.

Presiden menambahkan, pesan damai dan solusi politik juga telah disampaikan Indonesia pada PTM (Pertemuan Tingkat Menteri) Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) di Jeddah, 21 Januari 2016. Pesan damai ini telah menjadi bagian dari Communique PTM Luar Biasa OKI saat itu. Indonesia telah mengusulkan dibentuknya suatu mekanisme sejenis COC yang berisi prinsip-prinsip membangun kepercayaan (trust building), menghormati kedaulatan negara lain, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

“Ini merupakan salah satu kunci terciptanya perdamaian di Timur Tengah,” ujar Presiden.

Terkait upaya penyelesaian masalah di Palestina, Presiden menyatakan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina terus dilakukan secara konsisten. Salah satu wujud konkret kontribusi Indonesia adalah kesediaan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa  Organisasi Kerja sama Islam (OKI) pada 6-7 Maret 2016, yang akan membahas masalah Palestina dan Al Quds. Sebagai tuan rumah, Indonesia akan mengundang observer termasuk AS.

”Saya ingin mendorong agar ASEAN dan AS terus dapat memberikan kontribusi bagi penyelesaian masalah Palestina”, ujar Presiden pada akhir sambutannya. (TKP/SLN/UN/EN)

Berita Terbaru