Presiden Jokowi: Hanya di Indonesia, Islam dan Demokrasi Berjalan Beriringan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 19 Desember 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 23.704 Kali
Presiden Jokowi didampingi Menteri Agama Lukma Hakim Saefudin berdialog dengan rektor PTAIN, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/12)

Presiden Jokowi didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin berdialog dengan rektor PTKIN, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/12)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Peluncuran Program 5.000 Doktor Tahun 2015-2019, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/12) siang. Transformasi PTKIN tersebut meliputi 9 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan 3 IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

Dalam sambutannya Presiden Jokowi mengatakan, sangat menyambut baik transformasi dari perguruan tinggi ke institut, atau yang institut ke universitas. Presiden mengaku, ia sudah banyak melihat di UIN Jakarta, dimana Fakultas Kedokterannya sangat bagus sekali.

“Waktu jadi Gubernur, kami menyerahkan rumah sakit dan dari Kementerian Agama kepada UIN Jakarta. Daripada mengelolanya sulit, lebih baik diberikan kepada UIN. Bisa untuk belajar dan bisa dipakai juga untuk rumah sakit. Ada dua pekerjaan yang bisa diselesaikan,” ungkap Jokowi.

Presiden bercerita bahwa dalam setiap pertemuan dengan pemimpin dunia, juga dengan tamu negara, dirinya selalu sampaikan bahwa Indonesia adalah Negara Islam yang terbesar di dunia, dan juga sekaligus negara demokrasi yang terbesar juga di dunia.

“Islam dan demokrasi bisa berjalan beriringan, dan saya meyakini menjadi modal besar kita juga kekuatan kita dalam rangka politik global,” tutur Jokowi

Kenapa? Presiden menjelaskan, perasaannya  saya setiap yang  datang ke Indonesia maupun saat  bertemu dengan pemimpin dunia di dalam konferensi atau summit, selalu mereka menanyakan itu.

“Artinya mereka memandang dari sisi itu. Saya dahului, perlu saya sampaikan bahwa Indonesia adalah negara Islam dan negara demokrasi dan islam demokrasi bisa berjalan beriringan dengan baik. Apa ada negara yang lain yg seperti kita? Belum ada,” ujar Presiden Jokowi.

Kemudian mereka (para pemimpin negara asing, red) juga selalu menanyakan masalah penanganan terorisme di Indonesia.  Selalu juga Presiden mengatakan bahwa pendekatan keamanan yang dilakukan hampir di selurh dunia, itu adalah pendekatan yang tidak menyelesaikan masalah.

Menurut Jokowi, di Indonesia, pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan keamanan tetapi yang lebih penting adalah pendekatan keagamaan dan pendekatan kultural.

“Ini yang akan lebih permanen dan  bisa menjaga negara kita. Pendekatan keagamaan dan kultural itu seperti apa? Tanyalah pada ustad kami, kyai kami, kepada NU, Muhammadiyah dan ormas lain. Bagaimana pendekatan beliau-beliau ini kepada masyarakat,” jelas Presiden.

Kiblat Pendidikan Islam

Sementara itu Menteri Agama Lukman Hakim dalam laporannya mengatakan, bahwa pendidikan Islam memang dibutuhkan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Agama mencanangkan untuk menjadikan Indoenesia sebagai kiblat Pendidikan Islam dunia.

“Jika selama ini hanya di Timur Tengah, sudah saatnya Indonesia menjadi kiblat Pendidikan Islam bagi dunia,” kata Lukman seraya menyebutkan, untuk mendukung proses itu, Kementerian Agama akan mengadakan program untuk memberikan 1000 doktor setiap tahunnya selama 5 tahun ke depan.

Menteri Agama mengemukakan, saat ini terdapat 693 perguruan tinggi Islam, yang terdiri dari 55 Perguruan Tinggi Negeri dan 638 Perguruan Tinggi Swasta. Dengan jumlah perguruan tinggi sebanyak itu, menurut Menteri Agama, Indonesia memiliki Perguruan Tinggi Islam yang paling bnyak di antara negara muslim.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi, Duta Besar Negara Sahabat, dan para Rektor Perguruan Tinggi Islam dari seluruh Indonesia.

(Humas Setkab/ES)

Berita Terbaru