Presiden Jokowi Minta Sulteng Fokuskan di Sektor Pertambangan, Perkebunan, dan Kehutanan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Maret 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 29.579 Kali
Presiden Jokowi didampingi Wapres Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas tentang pembangunan Sulteng, yang dihadiri Gubernur Sulteng Longki Djanggola (baju putih), di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/3) sore. (Foto: JAY/Humas)

Presiden Jokowi didampingi Wapres Jusuf Kalla memimpin Rapat Terbatas tentang pembangunan Sulteng, yang dihadiri Gubernur Sulteng Longki Djanggola (baju putih), di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/3) sore. (Foto: Humas/Jay)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, bahwa di Sulawesi Tengah pertumbuhan ekonomi saat ini adalah 9,98 persen, 2016. Jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada angka 5,02 persen. Untuk itu, Presiden berharap momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini tetap dijaga, dipertahankan, dan ditingkatkan lagi.

“Momentum pertumbuhan ekonomi ini juga kita harapkan bisa berdampak pada pengentasan kemiskinan yang saat ini masih berada di angka 14,09% di Sulawesi Tengah. Kita harapkan juga bisa mempercepat pemerataan pembangunan,” kata Presiden Jokowi dalam pengantar pada Rapat Terbatas Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Program Prioritas di Provinsi Sulawesi Tengah, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/3) sore.

Presiden mengingatkan agar pemerintah berkonsentrasi mengembangkan sektor-sektor unggulan yang menjadi core business di Sulawesi Tengah. Sesuai data yang dimilikinya, menurut Presiden,  sektor pertambangan, terutama nikel, tumbuh dengan pesatnya di provinsi Sulawesi Tengah.

Selain itu, Presiden melihat potensi yang cukup besar di sektor perkebunan, mulai dari kakao,  kopi, kelapa, sampai dengan cengkeh. “Komoditas unggulan tersebut bisa menjadi basis tumbuhnya ekonomi rakyat di Sulawesi Tengah,” tuturnya.

Demikian pula di sektor kehutanan, menurut Presiden, Sulawesi Tengah memiliki hasil hutan berupa rotan dan berbagai jenis kayu, seperti Eboni dan Meranti. Untuk itu, Presiden meminta agar komoditas hasil pertanian, kehutanan, maupun pertambangan dapat diolah terlebih dahulu di Sulawesi Tengah sehingga memberikan nilai tambah dan multiplier effect bagi masyarakat.

Adapun proses transformasi perekonomian di Sulawesi Tengah yang ditandai dengan semakin tumbuhnya sektor pertambangan dan industri pengolahan, lanjut Presiden, harus dipersiapkan dengan baik.

Untuk itu, Presiden meminta agar kawasan ekonomi khusus (KEK) di Palu, di Morowali mampu menampung tumbuhnya industri-industri pengolahan. “Saya mendapatkan informasi bahwa di kawasan ekonomi khusus Morowali telah beroperasi pabrik smelter dan pabrik stainless steel,” sambungnya.

Presiden Jokowi juga mengingatkan perlunya menyiapkan pengembangan di KEK Palu. “Perhatikan  kesiapan infrastruktur pendukung, mulai dari tenaga listrik, air bersih, sampai hunian bagi para pekerja dan juga peningkatan pendidikan dan keterampilan, terutama bagi tenaga kerja lokal,” tutur Presiden seraya menambahkan, dirinya ingin agar pembangunan di Sulawesi Tengah, khususnya di kawasan ekonomi khusus itu betul-betul memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan menghindari adanya pencemaran.

Rapat Terbatas itu dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Budi K. Sumadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Menkes Nila F. Moloek, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, dan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola. (FID/ES)

 

Berita Terbaru