Presiden Jokowi: Pengelolaan Air, Maritim, serta Perdagangan dan Investasi Fokus Kerja Sama Indonesia-Belanda

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 April 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 31.454 Kali
Presiden Jokowi dan PM Rutte berjabat tangan di depan Catshuis, Den Haag (22/4) pagi waktu setempat (Foto: BPMI/Laily)

Presiden Jokowi dan PM Rutte berjabat tangan di depan Catshuis, Den Haag (22/4) pagi waktu setempat (Foto: BPMI/Laily)

Memulai kegiatannya di Belanda, Jumat (22/4) pagi waktu setempat, Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Mark Rutte di kediaman resminya Catshuis, Den Haag.

Kepada PM Rutte, Presiden Jokowi mengungkapkan kebahagiaannya dapat membalas kunjungan PM Belanda tersebut pada tahun 2013 yang lalu, saat Presiden masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

“Ini adalah kunjungan Seorang Presiden Indonesia dalam 16 tahun terakhir”, kata Presiden seraya berharap kunjungan ini dapat meningkatkan hubungan bilateral RI dan Belanda.

Presiden menyampaikan bahwa sulit untuk memilih prioritas kerja sama saat berbicara mengenai hubungan Indonesia dan Belanda. Hal ini dikarenakan hubungan RI dan Belanda sangat intensif hampir di semua sektor.

“Namun, pada kesempatan ini, saya ingin memfokuskan pada tiga prioritas pengelolaan air, maritim, serta perdagangan dan investasi.

Kerja Sama Pengelolaan Air
Dalam pertemuan ini, Presiden menyatakan kegembiraan dengan telah berlangsungnya proyek-proyek infrastruktur, terutama yang terkait dengan water supply dan sanitasi, water for food dan ekosistem, water governance, dan water safety. Indonesia, menurut Presiden, tengah menghadapi tantangan untuk menanggulangi banjir, mengatasi abrasi pantai, dan ketersediaan air bersih.

Presiden berharap kerja sama pengelolaan air dapat difokuskan untuk mengatasi tiga tantangan tersebut, terutama dalam bidang transfer keahlian dan teknologi.

“Saya apresiasi pembaruan MoU kerja sama air pada tahun 2015 untuk lima tahun ke depan”, ujar Presiden.

Presiden juga mengapresiasi kerja sama Belanda dalam Jakarta Coastal Development Strategy (JCDS) serta kerja sama proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang sedang berlangsung saat ini.

“Termasuk dukungan Belanda dalam penyusunan Master Plan NCICD”, ucap Presiden.

Kerja Sama Maritim
Di bidan maritim, Presiden mengapresiasi minat Belanda untuk mendukung Indonesia mewujudkan visi poros maritim. Visi tersebut diwujudkan dengan pengembangan klaster maritim, baik perikanan, pembangunan kapal laut, infrastruktur, dan sumber daya laut. Selain itu juga peningkatan kapasitas SDM melalui program vocational training bagi pelajar dan mahasiswa sekolah maritim di Indonesia. Hal lain yang tak kalah penting adalah pengembangan peta jangka panjang pembangunan maritim Indonesia.

“Saya undang perusahaan-perusahaan bidang maritim di Belanda untuk terlibat dalam pembangunan deep seaports di wilayah Indonesia Timur”, kata Presiden. Partisipasi perusahaan-perusahaan Belanda dalam proyek-proyek infrastruktur maritim di Indonesia seperti pembangunan Deep Seaport Kuala Tanjung dan Pelabuhan Tanjung Priok, sangat dihargai oleh Indonesia.

Perdagangan dan Investasi
Pada kesempatan ini, Presiden Jokowi menyatakan bahw Belanda merupakan salah satu mitra utama Indonesia untuk perdagangan dan investasi di Eropa. Namun, nilai perdagangan bilateral menunjukkan penurunan. Pada tahun 2014, nilai perdagangan mencapai 4,89 milyar dolar AS, sementara 2015 nilai perdangangan sebesar 4,22 milyar dolar AS.

Untuk investasi Belanda ke Indonesia, juga tercatat penurunan. Tahun 2015 sebesar 1,31 milyar dolar AS sedangkan di tahun 2014 1,73 milyar dolar AS. Menanggapi hal tersebut, Presiden menyampaikan bahwa untuk menunjang ekonomi Indonesia yang tebuka dan kompetitif, pemerintah telah luncurkan 11 paket deregulasi dan reformasi ekonomi, layanan cepat pemberian izin investasi di kawasan industri dalam waktu 3 jam, layanan cepat One Stop Service di BKPM, dan pembaruan Daftar Negatif Investasi.

“Saya undang Belanda untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek infrastruktur maritim di Indonesia, yaitu Deep Seaport Sorong dan Deep Seaport Makassar”, ucap Presiden.

Di akhir pertemuan bilateral ini, Presiden dan PM Rutte menyaksikan penandatangan MoU. Indonesia diwakili oleh Menlu RI Retno Marsudei. Adapun MoU yang ditandatangani antara lain MoU di bidang pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan serta MoU di bidang kerja sama maritim.

Mendampingi Presiden dalam pertemuan ini Menteri Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Kepala BKPM Franky Sibarani, dan Duta Besar RI untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja.(TKP/RAH)

Berita Terbaru