Presiden: Kita Perlu Cara dan Budaya Baru dalam Bekerja Agar Lebih Cepat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 28 Juli 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 84 Kali

Presiden saat memberikan pengarahan kepada Peserta Program Kegiatan Bersama Kejuangan (PKB Juang) Tahun Anggaran 2020, melalui konferensi video dari Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (28/7). (Foto: Humas/Ibrahim).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa perlu cara dan budaya baru dalam bekerja yang lebih cepat, serta harus berani melakukan shortcut (terobosan), pemotongan-pemotongan sehingga tidak bertele-tele dan lamban.

Kepala Negara mengakui bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah yang sangat sulit, tidak mudah, yakni krisis kesehatan sekaligus krisis ekonomi, dan melanda hampir semua 215 negara.

“Yang kecil sulit, yang tengah juga sulit, yang gede juga sulit. Sesuatu yang tidak mudah, sesuatu yang tidak mudah,” ujar Presiden saat memberikan pengarahan kepada Peserta Program Kegiatan Bersama Kejuangan (PKB Juang) Tahun Anggaran 2020, melalui konferensi video dari Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (28/7).

Empat bulan yang lalu, Presiden sampaikan bahwa Managing Director IMF, Kristalina, menginformasikan pertumbuhan ekonomi global akan berada di minus 2,5%. Ia menambahkan sebulan setelah itu Bank Dunia menyampaikan juga bahwa ekonomi global pertumbuhannya akan berada pada posisi minus 5%, padahal sebelumnya masih minus 2,5%.

“Pada keadaan normal posisinya adalah 3 sampai 3%, tetapi 3 minggu yang lalu OECD menyampaikan bahwa ekonomi global akan terkontraksi dan berada pada minus 6% sampai minus 7,6% tahun 2020,” kata Presiden seraya menambahkan bahwa situasi saat ini sangat dinamis sekali.

Begitu juga, lanjut Presiden, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi untuk negara-negara juga berubah-ubah. “Managing Director-nya IMF mengatakan pada kita Indonesia berada di tiga besar yang paling baik. Tiga besar ini adalah China akan tumbuh masih tumbuh 1,9% (plus), India akan tumbuh tahun ini perkiraan mereka prediksi mereka 1, 2% (plus), dan Indonesia berada di angka 0,5% (plus),” ujarnya.

Dengan perubahan-perubahan yang terjadi, Presiden sampaikan belum mendapatkan angka-angka paling akhir berapa posisi Indonesia pertumbuhan ekonominya di tahun 2020.

Pada kesempatan itu, Presiden sampaikan mengenai prediksi kontraksi ekonomi di negara-negara di luar Indonesia misalnya Perancis diperkirakan akan tumbuh minus 17,2%, minus 17,2%, Inggris minus 15,4%, Jerman minus 11,2%, Amerika minus 9,7%, dan negara-negara lain posisinya.

Kepala Negara mengingatkan untuk berhati-hati karena sudah mengimbas pada geopolitik global misalnya semua harus tahu Laut China Selatan mulai memanas dan juga China-Amerika semakin memanas.

“Oleh sebab itu, kita harus mengambil momentum, mengambil manfaat dari pandemi yang terjadi sekarang ini. Tentu saja kita akan terus berjuang menyelesaikan masalah Covid-19 dan juga masalah ekonomi yang terjadi di negara kita. Tetapi momentum ini harus kita ambil, momentum ini harus kita ambil,” jelas Presiden.

Untuk itu, Presiden ingatkan bahwa bukan negara besar mengalahkan negara kecil, namun sebaliknya. “Sekarang dan yang akan datang negara cepatlah yang akan mengalahkan negara yang lambat. Artinya, yang cepat yang akan menang,” tandas Presiden. (TGH/EN)

Berita Terbaru