Puan: Tidak Perlu Panik, Pemerintah Siap Antisipasi Penyebaran Virus Zika

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 3 Februari 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 26.435 Kali
Menko PMK Puan Maharani, Menkes Nila F. Moeloek, dan Seskab Pramono Anung memberikan penjelasan tentang pencegahan penyebaran virus Zika (3/2). (Foto: Humas/Deni)

Menko PMK Puan Maharani, Menkes Nila F. Moeloek, dan Seskab Pramono Anung memberikan penjelasan tentang pencegahan penyebaran virus Zika (3/2). (Foto: Humas/Deni)

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengimbau masyarakat untuk tidak panik terhadap merebaknya berita penyebaran virus Zika. Puan menegaskan, pemerintah siap untuk bisa mengantisipasi hal tersebut agar jangan sampai kemudian menjadi suatu wabah yang terjadi di Indonesia.

“Tetap menjaga kebersihan, menjaga sanitasi, dan tentu juga mencegah tempat-tempat terjadinya jentik nyamuk itu kemudian menjadi berkembang. Caranya, membersihkan seluruh genangan air, sampah, selokan, jamban, toilet, WC, dan lain-lain. Ini kami juga akan mendorong ke semua setiap sekolah,” kata Puan kepada wartawan usai Rapat Terbatas mengenai pencegahan penyebaran virus Zika, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (3/2) sore.

Menko PMK mengingatkan, jangan sampai kemudian anak-anak sekolah karena toiletnya atau jambannya tergenang air karena memang sekarang musim hujan, kemudian membuat jentik nyamuk itu bisa tumbuh atau berkembang di sekolah-sekolah.

“Kami harapkan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat untuk bisa menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing, memberikan obat larvasida, pemati jentik nyamuk, yang ada di got-got atau selokan-selokan,” pinta Puan.

Sejauh ini, lanjut Menko PMK, ditemukan satu pasien yang terkena virus Zika di Jambi. Namun kemudian dari hasil paparan yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), dinyatakan bahwa itu sudah terkendali, bisa diantisipasi, dan kemudian disembuhkan.

“Memang gejala penyakit virus Zika ini hampir sama atau sama dengan DBD atau penyakit demam berdarah. Gejalanya itu adalah demam, kulit berbintik merah, sakit kepala, nyeri sendi, kemudian nyeri otot, dan karena itu kemudian terjadi peradangan selaput lendir mata, dan pasien kemudian menjadi lemah. Gejala itu terjadi 2-7 hari dan pada beberapa kasus Zika dilaporkan adanya gangguan saraf sesudahnya,” terang Puan.

Kalau sekarang ini timbul satu berita di Brazil yang menyatakan bahwa ada kecenderungan  seorang ibu hamil itu kalau kemudian melahirkan anaknya itu kemudian menjadi mempunyai penyakit cephalus, menurut Puan,  sampai saat ini belum ditemukan penelitian secara otentik atau bukti otentiknya dalam penelitian yang sedang dilakukan.

Dari Demam Berdarah
Sementara itu Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F. Moloek mengemukakan, virus Zika merupakan satu keluarga dengan virus demam berdarah. Keduanya berasal dari nyamuk yang sama yaitu aedes aegypti.

“Nyamuk tadi yang dikatakan di genangan air bersih. Dia senang di air bersih. Jadi pergantian musim kemarau ke musim hujan ini, nyamuk ini biasanya berkembang kalau kita tidak membersihkan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Namun virus Zika ini, lanjut Menkes, gejalanya jauh lebih ringan daripada demam berdarah dimana virus tersebut juga menyebabkan demam dan ada ruam atau merah-merah di bintik-bintik tetapi akan sembuh sendiri dalam 2-7 hari.

Menkes menyatakan penetapan virus Zika menjadi masalah kesehatan masyarakat global oleh WHO sudah tetap sebagai suatu peringatan (warning) agar penyakit tersebut tidak mewabah.

“Karena itu kebersihan nomor satu. Kita harus tetap melakukan 3M, kita menguras, mengubur, dan menutup tempat-tempat yang tergenang air tersebut.” papar Menkes seraya menyebutkan, pencegahan juga dapat dilakukan dengan memberikan obat untuk mematikan larva, mengoleskan kulit dengan anti nyamuk, serta menggunakan pakaian lengan panjang jika diperlukan.

Tetapi apa yang ditakutkan hubungan dengan ibu hamil dengan anaknya terlahir berkepala kecil (microcephaly), menurut Menkes, kaitan ini masih dalam penelitian dimana diduga di Brazil setelah terjadi endemik virus Zika ini, terjadi penyakit saraf Guillain-Barre dan adanya anak-anak dengan kepala yang otaknya kecil. “Jadi ini diduga ada kaitannya tetapi tentu masih dalam satu proses,” tegasnya.

Menkes mengimbau agar masyarakat untuk bersama-sama menjadi juru nyamuk atau jumantik di satu rumah, satu rumah satu jumantik. “Mari rumah kita, sama-sama kita bersihkan. Artinya tanggung jawab masing-masing. Bapak Wapres juga mengatakan, mengapa? Parit di depan rumah kita dengan satu sekop kita bersihkan, nanti tetangga bersihkan, dan akhirnya menjadi bersih. Saya kira, itu yang harus kita lakukan,” kata Menkes.

Menkes juga memastikan  tidak ada travel warning, tetapi travel advisory, atau memberikan peringatan dan kewaspadaan kepada masyarakat yang ingin ke luar negeri, khususnya ke daerah Amerika Latin atau daerah endemis untuk hati-hati, terutama ibu yang sedang hamil trimester pertama. “Jadi kalau hamil sudah besar, saya kira insya Allah tidak terjadi,” pungkasnya. (UN/ES)

Berita Terbaru