Puncak Peringatan HUT ke-78 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2023 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, 25 November 2023

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 25 November 2023
Kategori: Sambutan
Dibaca: 3.108 Kali

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Puncak Peringatan HUT ke-78 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2023, 25 November 2023

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shallom,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju, hadir bersama saya Pak Menko PMK Prof. Muhadjir, Pak Mendikbud Pak Nadiem, juga hadir bersama saya Panglima TNI beserta seluruh Kepala Staf, Pak Kapolri juga hadir bersama kita, [Pj.] Gubernur DKI Jakarta.
Yang saya hormati Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia Ibu Prof. Dr. Unifah Rosidi, M.Pd.
Yang saya hormati para Bupati dan Walikota yang hadir pada pagi hari ini, seluruh ketua dan perwakilan PGRI dari seluruh provinsi, kabupaten, kota, cabang dan ranting yang pagi hari ini hadir, Keluarga Besar PGRI yang saya hormati para guru, dosen, tenaga kependidikan serta hadirin dan undangan yang berbahagia yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Pertama-tama, kepada keluarga besar PGRI, saya menyampaikan Selamat Hari Ulang Tahun PGRI yang ke-78 dan sekaligus selamat merayakan Hari Guru Nasional. Pada kesempatan yang baik ini atas nama pribadi, atas nama pemerintah, atas nama rakyat, saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi, atas kontribusi, para guru dalam mendidik generasi muda Indonesia, dalam mendidik kita semuanya.

Menjadi guru itu bukan pekerjaan yang ringan, bukan pekerjaan yang ringan. Menurut sebuah lembaga riset internasional, ini yang saya baca di RAND Corporation tahun 2022, saya kaget juga setelah membaca bahwa tingkat stres guru itu lebih tinggi dari pekerjaan yang lain, tapi kalau saya lihat seluruh anggota PGRI ndak, saya lihat ceria semuanya, artinya lembaga riset ini mungkin bukan di Indonesia. Kembali lagi, ini lembaga riset internasional, bahwa tingkat stres guru itu lebih tinggi dibandingkan pekerjaan yang lain, kenapa? Di situ disebutkan antara lain, karena perilaku siswa, juga karena perubahan kurikulum. Hati-hati, Pak Mendikbud. Tapi ya kurikulum memang harus berubah, karena setiap saat perubahan itu selalu ada, apalagi sekarang ini disrupsi teknologi begitu sangat cepatnya setiap hari berubah, berubah, berubah terus. Dan, juga karena perkembangan teknologi.

Jadi ada tiga; yang pertama karena perilaku siswa, yang kedua karena perubahan kurikulum, yang ketiga karena perkembangan teknologi. Karena apapun, semua guru harus mengikuti perubahan teknologi yang ada. Kalau mungkin yang di kota-kota lebih enak, tapi untuk guru-guru yang bekerja di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal) yang infrastrukturnya terbatas, yang fasilitasnya terbatas, yang gurunya juga terbatas, ini saya pastikan lebih berat. Saya kalau ke daerah mampir ke SMK, saya lihat SMK di sebuah kabupaten, kemudian saya bandingkan dengan SMK yang ada di kota, memang gapnya sarana prasarana memang sangat jauh berbeda, dan itu tugasnya Menteri Pendidikan. Oleh karena itu, sekali lagi atas nama pribadi, atas nama pemerintah, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi terhadap Bapak/Ibu Guru pahlawan kita semuanya.

Bapak/Ibu Guru yang saya hormati,
Kita tahu bahwa dalam tahun 2030-an, tahun 2030, tahun 2035, kita akan berada di puncak bonus demografi. Dalam sebuah peradaban negara itu hanya sekali kesempatan itu diberikan biasanya, dan kalau kita bisa menggunakan kesempatan itu, menggunakan peluang itu,  negara ini akan melompat menjadi negara maju. Tapi kalau tidak bisa, seperti yang kita lihat di negara-negara Amerika Latin, tahun 50-an [1950], tahun 60-an [1960], tahun 70-an [1970] mereka sudah berada di posisi negara berkembang, tetapi sampai sekarang sudah 50 tahun, 60 tahun, 70 tahun, mereka tetap menjadi negara berkembang dan bahkan ada yang jatuh menjadi negara miskin. Karena apa? Saat diberikan peluang, tidak bisa menggunakan peluang itu sebaik-baiknya.

Oleh sebab itu, peluang bonus demografi yang akan muncul di tahun 2030-an, 2035, betul-betul harus kita manfaatkan dan pada saat itu penduduk kita didominasi oleh anak-anak muda. Ini adalah kesempatan emas bagi kemajuan negara kita Indonesia, apabila bisa memanfaatkannya. Karena pembangunan, oleh sebab itu, pembangunan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci dan itu menjadi tanggung jawab ibu dan bapak sekalian yang hadir  disini, maupun yang tidak hadir di sini yang memiliki profesi sebagai guru.

Kembali lagi, peluang itu bisa kita manfaatkan jika kita mampu mencetak generasi unggul, generasi yang tangguh, generasi yang sehat fisik dan mentalnya, generasi yang berkeIndonesiaan, yang cerdas dan terampil. Saya sudah berbicara dengan banyak lembaga-lembaga internasional, “Presiden Jokowi, kuncinya itu ada di pembangunan sumber daya manusia, kualitas sumber daya manusia itu menjadi kunci.” Saya tanya ke bank dunia, mengatakan hal yang sama. Saya tanya ke IMF, mengatakan hal yang sama. Saya tanya ke OECD, mengatakan hal yang sama. Saya tanya ke McKinsey, mengatakan hal yang sama. Oleh sebab itu, kita harus hati-hati betul memanfaatkan peluang ini bisa tidak masuk ke Indonesia emas 2045 dan kuncinya sekali lagi, di kualitas pembangunan sumber daya manusia. Dan, semua itu hanya bisa diraih dengan guru-guru yang unggul dan hebat yang berada di depan saya saat ini.

Guru yang menjadi pembimbing, guru yang menjadi motivator, guru yang menjadi mentor, guru yang menjadi sahabat sekaligus guru yang menjadi panutan. Kalau di Jawa ini ada “Guru iku digugu lan ditiru”. Guru itu dipercaya dan dijadikan panutan. Dengan peran Bapak/Ibu Guru yang sangat strategis ini, pemerintah menaruh harapan besar kepada Bapak/Ibu Guru dan saya berharap PGRI dan seluruh jajaran pendidik untuk terus memperjuangkan pendidikan yang inklusif, yang aman, yang nyaman dan sekaligus menyenangkan anak-anak kita semuanya. Sekolah harus menjadi taman belajar untuk menumbuhkan, menumbuhkembangkan bakat dan potensi anak, menjadi anak yang kokoh secara fisik, emosional, dan spiritual, serta anak yang cerdas dan terampil.

Ibu dan Bapak Guru yang saya banggakan,
Pemerintah terus bekerja keras untuk memberikan dukungan terhadap Bapak/Ibu Guru termasuk peningkatan kesejahteraan, permasalahan guru honorer misalnya, terkait dengan kepastian karir dan kesejahteraannya, saat ini sudah tahap demi tahap teratasi berkat program seleksi guru ASN PKKK. Ini laporan yang saya terima, baru saja dari Mendikbud dan Menpan, rekrutmen guru ASN PKKK tahun 2021 dan tahun 2022 telah terdapat 544 ribu guru honorer yang lolos seleksi ASN PPPK. Dan, harapan kita nanti dalam tiga tahun akan ada kurang lebih 840 ribu guru yang direkrut sebagai ASN PPPK dan tahun 2024 nanti akan mencapai 1 juta guru ASN PPPK.

Sekali lagi, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun PGRI yang ke-78, Selamat Hari Guru Nasional. Teruslah berinovasi, beradaptasi dengan perubahan-perubahan zaman, beradaptasi dengan perkembangan-perkembangan teknologi untuk mencetak SDM-SDM unggul Indonesia, untuk kemajuan Indonesia yang kita cintai ini.

Hidup guru! Hidup guru! Hidup PGRI!
Solidaritas! Siapa kita?

Terima kasih, saya tutup.
Wassalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru