Punya Banyak Pilihan, Presiden Jokowi Ingatkan Perlunya Kecepatan Layani Investor

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 26 April 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 20.662 Kali

Presiden Jokowi pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional? (Musrenbangnas) Tahun 2017, di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (26/4) pagi (Foto: Humas/Oji)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, dengan globalisasi dan teknologi, investor sekarang ini punya banyak pilihan. Dia enggak suka masuk ke Indonesia dia punya pilihan ke tempat lain, Vietnam ada, Myanmar ada, Thailand ada.

“Dia enggak suka, sudah masuk di sini, dia nggak suka bisa dalam waktu 1-2 detik pindah ke negara yang lain, karena pelayanan perizinan kita yang enggak baik, karena kepastian hukum kita yang berubah-ubah,” kata Presiden Jokowi pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional? (Musrenbangnas) Tahun 2017, di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (26/4) pagi.

Menurut Presiden, itu yang harus dirombak total di pusat, di provinsi, di kabupaten, di kota, harus mau kalau kita ingin tidak ditinggal oleh negara lain.

“Sekali lagi, globalisasi berarti investor punya banyak pilihan. Kita perlu sadari kalau seorang investor nggak jadi invest, bukan berarti dia tidak investasi, bukan, artinya dia pindah ke tempat lain,” ujar Presiden.

Ditegaskan Presiden, investasi itu sangat dinamis sekarang ini, dan menjadi rebutan semua negara, karena perlambatan ekonomi dunia. Investor pun, lanjut Presiden, selalu membandingkan, bisa membandingkan antar Provinsi, antar daerah, mengenai pelayanan dan bisa membandingkan negara dengan negara-negara yang lain.

Karena, Presiden Jokowi mengingatkan, kalau tidak jadi invest di Indonesia, bukan berarti investor nggak jadi invest. Bisa jadi dia investasi di Vietnam, di Thailand, di Myanmar, atau di tempat yang lain yang lebih memberikan iklim yang kondusif terhadap investasi.

Dan investasi itu, tegas Presiden, jangan dipikir hanya orang asing saja, orang kita sendiri kalau enggak seneng di negaranya, ya pindah ke tempat yang bisa memberikan keuntungan itu.

“Itulah kecepatan perpindahan uang sekarang, dari suatu negara ke negara yang lain. Dalam hitungan detik sudah berubah, sudah berpindah,” tutur Presiden seraya menambahkan, kita rugi dua kali kalau ada perpindahan seperti itu. Yang pertama, kita kehilangan investasi, yang kedua, saingan kita dapat investasi itu.

“Sudah kita kehilangan, saingan kita dapat investasi,” ujar Presiden.

Dengan globalisasi dan teknologi, menurut Presiden, konsekuensinya adalah di dunia sekarang dalam persaingan antar negara bukan yang besar mengalahkan yang kecil, bukan.

“Keliru itu, sekarang sudah tidak seperti itu. Bukan yang besar mengalahkan yang kecil, bukan. Bukan yang kuat yang mengalahkan yang lemah, bukan. Dunia sudah berubah sekarang ini. Tidak, tetapi yang cepat yang akan mengalahkan yang lamban,” tegas Presiden.

Karena itu, lanjut Presiden Jokowi, kuncinya berarti kita harus cepat menyesuaikan diri dalam segala hal. Kalau masih terjebak pada mengulang-ulang rutinitas, kita berpikir linier, lupakan.

Menurut Presiden, banyak negara besar sekarang justru mengalami masalah dan tantangan yang luar biasa karena mereka sudah kehilangan greget. “Karena apa? Ya tadi sudah enggak cepet, sudah enggak lincah,” tuturnya.

Pasar Domestik

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menegaskan, kita tidak bisa mengandalkan besarnya pasar domestik kita. Kalau cara berpikir kita masih seperti itu, Presiden mengingatkan agar¬† hati-hati, kita justru bisa dijadikan pasar oleh negara-negara yang lain kalau cara berpikir kita tidak kita ubah. “Dijadikan ajang produk-produk luar untuk masuk ke kita,” ujarnya.

Diakui Presiden, Indonesia juga negara besar, bangsa besar, dan juga pasar yang besar. Itu memang menjadi sebuah keunggulan. Namun, kita sekarang ini mengalami ancaman yaitu fragmentasi, yaitu menjadi kurang lebih 516 pasar yang kecil-kecil, karena terbagi dalam otonomi kabupaten, kota, dan provinsi.

Presiden Jokowi mengingatkan, kita juga harus sadar bahwa kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, jangan kita terpecah- pecah oleh peraturan-peraturan yang membuat standar sendiri sendiri.

“Saya sudah perintahkan kepada Menteri agar standar-standar nasional itu di berikan panduannya kepada daerah, syukur-syukur acuan kita juga mengacu pada standar internasional, baik dalam beradministrasi, maupun di dalam kecepatan pelayanan,” pungkas Presiden.

Pembukaan Musrenbangnas 2017 itu juga dihadiri oleh Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, Mensesneg Pratikno, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, serta para Gubernur, Walikota, dan Bupati seluruh Indonesia. (FID/JAY/ES)

Berita Terbaru