Punya Islam dan Demokrasi, Presiden Jokowi: Indonesia Akan Menjadi ‘Rahmat’ Dunia

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 April 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 31.804 Kali
Presiden Jokowi menyampaikan pidato di depan Parlemen Inggris, di Palace of Westminster, London, Selasa (19/4) siang waktu setempat. (Foto: Humas/Nia)

Presiden Jokowi menyampaikan pidato di depan Parlemen Inggris, di Palace of Westminster, London, Selasa (19/4) siang waktu setempat. (Foto: Humas/Nia)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, Indonesia saat ini sedang bekerja keras untuk menjadi negara maritim yang makmur. Negara yang menjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan, pluralisme, dan toleransi. Negara yang mengedepankan demokrasi dan menghormati hak asasi manusia. Negara di mana Islam dan demokrasi berjalan seiring.

Presiden meyakini, Indonesia yang sedang dibangun ini, akan menjadi “rahmat” bagi dunia, “blessing” bagi dunia. “Dunia yang saat ini masih berkutat melawan kemiskinan, dunia yang masih kental dengan ketidakadilan, dunia yang terganggu oleh terorisme dan ekstrimisme kekerasan,” kata Presiden Jokowi saat berpidato di hadapan Parlemen Inggris, di London, Selasa (19/4) siang waktu setempat.

Keyakinan itu, lanjut Presiden Jokowi. didasarkan pada kenyataan, bahwa Indonesia dianugerahi dua aset penting dalam kehidupan bangsa kita, yakni Islam dan demokrasi.

Ia menyebutkan, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan jumlah lebih dari 200 juta penduduk muslim, dengan ciri utama yang moderat.

Presiden mengaku bangga bahwa Islam di Indonesia memiliki peran penting dalam mengkonsolidasikan demokrasi, bertindak sebagai penjaga kemajemukan dan toleransi, menyerukan moderasi dalam masyarakat, menentang radikalisme, segala bentuk terorisme, dan ekstrimisme kekerasan, dan dapat menjadi inspirasi bagi dunia.

Menurut Presiden Jokowi, sejak reformasi 1998, Indonesia telah menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dimana pemilu demokratis dan damai, yang telah berjalan selama empat kali, kini  menjadi satu-satunya mekanisme pergantian kekuasaan.

“Semua warga negara, terlepas dari latar belakang ras, gender, dan agama—adalah sama di mata hukum dan memiliki persamaan hak dan kewajiban,” papar Presiden Jokowi seraya menyebutkan, militer kini tidak lagi terlibat dalam politik, dan kebebasan berbicara, kebebasan pers dan kebebasan beragama, semuanya dijamin oleh konstitusi.

Kerja Sama Internasional         

Meski demikian, Presiden Jokowi mengakui, seperti di banyak negara lain, dua aset penting dalam kehidupan Indonesia, yakni Islam moderat dan demokrasi, masih mendapat berbagai tantangan, yaitu tindakan intoleransi dalam masyarakat, radikalisme dan ektremisme kekerasan, aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama. Bahkan ada juga warga negara Indonesia yang bergabung dengan gerakan-gerakan teroris asing di luar negeri, meskipun jumlahnya sangat kecil sekali di antara 252 juta penduduk Indonesia.

Untuk menghadapi itu semua, lanjut Presiden, pemerintah yang dipimpinnya memperkuat penegakan hukum dengan merevisi UU Anti-Terorisme, dan meningkatkan kemampuan otoritas intelijen.

“Namun, yang lebih penting adalah kami mengedepankan pendekatan soft power, menggunakan pendekatan agama dan budaya, melibatkan partisipasi masyarakat, khususnya ormas keagamaan, dan menjalankan program deredikalisasi, rehabilitasi, dan reintegrasi di masyarakat,” terang Presiden Jokowi seraya menambahkan Indonesia juga menjalin kerja sama internasional, termasuk dalam menyerukan perdamaian dan kerja sama antar-peradaban.

Presiden mengingatkan, tantangan yang dihadapi sekarang ini tidak bisa dihadapi dengan pendekatan militer semata. Tidak juga dapat diselesaikan secara unilateral. Apalagi dengan pendekatan yang diwarnai oleh intoleransi dan buruk sangka. “Justru intoleransi dan buruk sangka inilah yang ingin disamai oleh terorisme maupun oleh gerakan radikal dan ekstremisme kekerasan itu,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Presiden Jokowi, serangan teror dimana pun, harus mengingatkan kita pada pentingnya kerja sama internasional, pentingnya mempromosikan toleransi dan tidak terprovokasi, dan pentingnya mengatasi akar masalah.

“Suara dan upaya perdamaian yang diserukan Indonesia, tidak dapat kami lakukan sendirian,” tegas Presiden Jokowi.

Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi juga menekankan, bahwa kita harus bekerja sama untuk membantu proses pembangunan di negara-negara yang sedang dilanda krisis, sehingga terciptanya stabilitas politik, dalam hal ini, pembangunan ekonomi adalah kunci. “Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya, bisa dan harus memainkan peran penting disini,” ujarnya.

Presiden juga menekan, bahwa Indonesia siap bekerja sama dengan semua yang ada di Inggris  dan di Eropa demi terciptanya perdamaian dunia, bebas dari ancaman konflik antar-peradaban.

Presiden meyakini, apabila kita dapat melakukan ini secara bersama-sama, maka intoleransi dan buruk sangka tidak akan dapat tempat dalam kehidupan kita. “Kita akan kalahkan radikalisme, kita akan kalahkan ekstrimisme kekerasan, dan kita akan kuburkan terorisme,” tuturnya.

Kehadiran Presiden Jokowi di London, Inggris itu, adalah dalam rangka kunjungan kerja ke Eropa, yang dilaksanakan dari  17 – 23 April ke Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda.

Sebelum menyampaikan pidatonya di gedung Parlemen Inggris, Presiden Jokowi berbicara dalam pertemuan di Organisasi  Internasional Maritim (IMO) PBB dan juga bertemu dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron. (UN/ES)

Berita Terbaru