Rapat Koordinasi Pengendalian Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, 8 Oktober 2018, di Balairung Kantor Bupati Deli Serdang, Sumatra Utara

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 8 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.613 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Bu Menko PMK, Pak Menteri Desa, Bapak Gubernur Sumatra Utara, Bapak Bupati Deli Serdang,
Yang saya hormati para pendamping desa, para pengurus BUMDes, para kader-kader Posyandu, para guru-guru PAUD se-Provinsi Sumatra Utara,
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia.

Dalam kunjungan terakhir saya ke Palu, ada seorang anak kecil yang berlari mengikuti saya, namanya Israel. Ketika saya masuk mobil saat itu, dia minta ikut terus bertanya pada saya, “Pak saya boleh ikut enggak?” Belakangan saya baru tahu bahwa Israel ini ibunya meninggal karena tsunami, bapaknya masih ada di rumah sakit karena luka-luka yang cukup berat. Saat itu saya sangat terenyuh sekali, tapi ternyata di sampingnya ada bibinya. Kalau ndak, mungkin saya ajak ikut. Tapi karena ada bibinya, sudah saya sampaikan kepada dia bahwa, “Israel, kamu tetap harus sekolah, harus belajar terus, jangan menyerah.” Apa jawaban dia? “Iya, Pak. Saya dipesan oleh mama saya untuk sekolah dan belajar terus.”

Saya ingin mengatakan bahwa anak-anak kita semuanya membutuhkan perhatian. Selalu membutuhkan kasih sayang, baik dari orang tuanya, maupun dari orang-orang di sekitar dari lingkungan kita. Oleh sebab itu, kita harus membangun lingkungan kasih sayang di perdesaan-perdesaan yang kita miliki. Dana Desa yang sudah kita berikan ke  desa bukan hanya untuk membangun infrastruktur. Ya, kemarin tiga tahun kita konsentrasi fokus membangun infrastruktur, tapi ke depan penting bagi kita semua untuk juga membangun sumber daya manusia, menyiapkan anak-anak kita, kesehatan, pengembangan ekonomi rakyat, termasuk BUMDes.

Saya lihat tadi yang disampaikan Bu Menko, 2015 anggaran untuk Dana Desa Rp20 triliun, 2016 Rp47 triliun, 2017 Rp60 triliun, 2018 Rp60 triliun. Tahun depan Rp73 triliun. Jangan tepuk tangan dulu. Uang segede itu artinya total sampai sekarang saja sudah Rp187 triliun, sampai akhir tahun ini. Hati-hati mengelola dana sebesar ini, Rp187 triliun, belum lagi ditambah tahun depan Rp73 triliun.

Saya titip, dana yang besar seperti ini harus tepat sasaran, sasarannya harus tepat. Oleh sebab itu, ada yang namanya pendamping desa. Ini yang penting sekali peranannya. Banyak negara sekarang ini mulai mau belajar pada kita: apa itu yang namanya dana desa, bagaimana mengelolanya, pendampingannya, kemudian efeknya apa terhadap perputaran ekonomi yang ada di desa.

Ingat, dulu perputaran ekonomi, perputaran uang itu hanya ada di Jakarta dan hanya ada di kota-kota. Desa dapat dikatakan dilupakan. Oleh sebab itu, munculnya angka Rp187 triliun ini harus betul-betul memberikan manfaat bagi rakyat desa, bagi masyarakat desa. Oleh sebab itu, sekali lagi saya mengajak kepada kita semuanya untuk membuat bagaimana agar Dana Desa ini betul-betul bermanfaat.

Ada enam negara baru belajar pada kita. Dana Desa di Indonesia itu seperti apa, penggunaannya untuk apa saja, manfaatnya apa yang sudah muncul dari sana, belajar kepada kita. Jangan sampai mereka belajar kepada kita, eh ternyata Dana Desa itu pemanfaatannya kurang bagi masyarakat.

Penyerapan untuk Dana Desa saya lihat peningkatannya sangat bagus sekali. Dari 82 persen, meningkat menjadi 97 persen, menjadi 98 persen, seperti disampaikan oleh Bu Menko. Artinya apa? Pembangunan desa tidak boleh setengah-setengah, tidak boleh nanggung-nanggung. Dan saya enggak senang, tidak boleh basa-basi. Ini harus betul-betul bermanfaat bagi masyarakat.

Saya mengecek sendiri, enggak tahu sudah beberapa puluh atau ratus desa saya cek. Ada pembangunan irigasi berapa meter, ada pembangunan jembatan di desa, ada pembangunan jalan di desa.

Dan perlu saya ingatkan, ini terutama untuk pendamping, ingatkan kepada pengguna anggaran agar pembelian-pembelian barang-barang itu pembeliannya di desa dan sekitarnya. Mungkin bisa di desa, kalau enggak bisa di kecamatan. Jangan sampai uang yang sudah masuk desa, itu dibelikan ke kota. Hati-hati. Yang dapat manfaat ekonomi kota. Sehingga kita harapkan Rp187 triliun dana, nanti ditambah lagi Rp73 triliun itu muter-nya di desa terus uang itu. Jangan ada yang kembali ke kota, apalagi kembali ke Jakarta. Hati-hati itu.

Sehingga, misalnya membangun irigasi atau membangun jalan, batu beli dari desa, atau dari gerakkan masyarakat untuk cari batu di sungai. Pasir beli dari desa itu, atau kalau enggak ada di desa itu paling tidak di lingkup kecamatan. Semen, ada yang menyampaikan kepada saya, “Pak semen kalau di desa agak mahal sedikit Pak, kalau di kota kita beli bisa Rp2.000-3.000 lebih murah.” Tetap belilah di desa, mahal sedikit enggak apa-apa tapi uangnya beredar di desa. Kelihatannya ngirit Rp3.000 uangnya pindah ke kota, hati-hati, ini hati-hati.

Jadi sekali lagi, bahwa pembangunan desa ini harus betul-betul manfaatnya dirasakan oleh masyarakat desa. Bisa mengurangi kemiskinan di desa, bisa mengurangi kesenjangan antara desa dan kota. Dan yang paling penting juga memberikan/membuka  lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Nah saya ingat. Jadi, kalau membangun jalan gunakan masyarakat yang ada di desa itu. Tapi dipilih yang menganggur, yang keluarganya tidak mampu, ikutkan di dalam kegiatan-kegiatan pembangunan jalan, pembangunan irigasi, pembangunan talut, pembangunan embung, sehingga kita harapkan kemiskinan, ketimpangan itu betul-betul  hilang dari desa kita.

Saya lihat, saya tadi dapat informasi dari Pak Menteri Desa, bahwa  dari tahun ke tahun ada pengurangan yang sangat signifikan angka kemiskinan di desa. Angkanya ada itu dibaca sendiri. Angka-angka seperti itu yang kita perlukan. Kelihatan turun, turun, turun, turun.

Oleh sebab itu, Dana Desa sebesar Rp187 trilliun plus nantinya tahun depan Rp73 trilliun, betul-betul digunakan untuk keperluan desa, untuk pembangunan infrastruktur yang di dasar yang ada di desa, digunakan untuk membuat usaha-usaha asli yang ada di desa itu, termasuk juga untuk kesehatan masyarakat di desa.

Bapak-Ibu hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya minta ada pendamping desa satu, tunjuk jari. Ya, maju, maju, satu saja cukup. Ada kader posyandu? Tunjuk jari, maju. Ya itu Ibu yang putih. Ada guru PAUD? Guru PAUD banyak, sebentar, sebentar. Yang belakang yang semangat yang gini-gini. Silakan satu saja maju, jangan minta maju semuanya. Kenapa sih senang pada ingin maju? Biar dekat saya? Biar difoto gitu? Tahu saja saya, sini, sini, sini. Sebagian di samping saya, di samping saya agak dekat. Saya sudah izin Bu Jokowi kok, enggak apa-apa.

Kembali lagi saya sampaikan, bahwa setelah membangun infrastruktur sudah saatnya desa sekarang membangun manusianya. Kita ingin manusia Indonesia sudah sehat sejak dalam kandungan, cukup gizi, bebas dari stunting, bebas dari gizi buruk. Jangan ada lagi, sudah ada Dana Desa masih ada gizi buruk, masih ada stunting atau kekerdilan, enggak boleh. Anak-anak di desa harus diberi asupan gizi yang banyak, yang baik. Karena Dana Desa itu ada.

(Dialog Presiden RI dengan Peserta Rapat Koordinasi)

Saya kalau lihat yang disampaikan tadi oleh Ibu-ibu, saya kira ini sebuah manfaat yang sangat besar Dana Desa itu bagi masyarakat. Urusan izin diurus, urusan infrastruktur diurus, urusan tadi ada BUMDes untuk ekonomi diurus. Tapi memang yang namanya kepala desa, pendamping, guru PAUD, posyandu, semuanya harus terpadu terintegrasi semuanya. Sehingga tim ini akan kelihatan manfaatnya. Tidak mungkin hanya setahun-dua tahun, akan kelihatan nanti kalau anak-anak kita sudah besar, akan kelihatan. Percaya saya. Manfaat infrastruktur, manfaat membangun sumber daya manusia tidak bisa dirasakan langsung, instan itu enggak bisa.

Kita ini senangnya instan, apa-apa inginnya cepat, enggak ada. Semuanya pasti ada prosesnya. Dirasakan, angka-angkanya kelihatan. Itu bisa 5 tahun yang akan datang, bisa 10 tahun yang akan datang, atau bisa 20 tahun yang akan datang. Tapi memang harus dipersiapkan, dikerjakan mulai dari sekarang. Kalau tidak, ya kita akan kalah bersaing, kalah berkompetisi dengan negara-negara lain.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi saya mengajak kepada kita semuanya Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, seluruh Kepala Desa, agar bersama-sama kita manfaatkan Dana Desa ini, diawasi oleh Pemda, Pemprov, Pemkab, agar penggunaannya betul-betul bermanfaat bagi negara, bagi rakyat.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru