Ratu Denmark Kunjungi Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 26 Oktober 2015
Kategori: Nusantara
Dibaca: 13.493 Kali

Ratu BatikRatu Denmark Margrethe II  menyempatkan untuk datang ke Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2015. Lawatan ini juga menunjukkan arti pentingnya bangsa Indonesia bagi Negara Denmark.

“Menurut informasi dari Kedutaan Besar Denmark, Ratu sangat menyukai budaya Jawa yang mempunyai kekhasan dalam hal ini batik. Bahkan, katanya, Ratu hanya bepergian satu atau dua kali ke luar negeri setiap tahunnya. Kali ini, bertepatan dengan 65 tahun hubungan diplomatik  Denmark-Indonesia, Ratu memutuskan untuk mengunjungi Indonesia,” kata Kepala BBKB Yogyakarta, Zulmalizar.

Dalam kunjungannya di BBKB Yogyakarta, Ratu melakukan diskusi dengan para pengrajin batik dan memperhatikan berbagai koleksi batik Nusantara. Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan Pameran dan Workshop Batik dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional ke VI dengan diikuti sebanyak 19 pengrajin batik dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah yang menampilkan berbagai produk unggulannya.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dalam melestarikan budaya dan mengembangkan produk batik yang ramah lingkungan. Adapun jumlah peserta yang mengikuti workshop sebanyak 125 orang dari dharma wanita berbagai instansi pemerintah dan swasta, paguyuban batik, serta masyarakat umum,” papar Zulmalizar. Pameran dan Workshop tersebut dibuka secara resmi oleh Sekjen Kementerian Perindustrian, Syarif Hidayat.

Pengembangan litbang batik

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPPI Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan, peran BBKB sebagai lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) juga diharapkan menjadi inovator berbagai teknologi di bidang industri batik sehingga mendorong peningkatan efisiensi dan produktivitas IKM batik nasional.

“Hasil litbang BBKB harus dapat diterapkan di industri dan mampu memecahkan permasalahan teknis yang dihadapi oleh industri sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan kualitas produk batik,” tegasnya.

Haris menyebutkan, di lingkungan BPPI Kementerian Perindustrian terdapat 11 Balai Besar yang bersifat sektoral dan 11 Balai riset dan standardisasi yang bersifat regional serta 1 Balai Sertifikasi Industri. “Satker-satker tersebut memiliki peran dalam mendukung peningkatan kualitas dan produktifitas produk yang dihasilkan oleh industri sehingga memiliki daya saing di pasar regional, termasuk MEA, maupun di pasar global,” tuturnya.

Haris juga menegaskan, peningkatan jejaring global dalam memasarkan produk batik merupakan upaya yang harus terus dilakukan. Hal ini bukan hanya dalam rangka peningkatan keuntungan ekonomi dari produk batik, namun juga sebagai upaya menyebarluaskan budaya Indonesia sehingga dikenal secara luas di dunia internasional.

“Jejaring global memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan semua kalangan internasional. Selain keuntungan kerjasama, jejaring global dapat memberi kita kesempatan untuk sharing dan benchmarking produk kita secara lebih luas dan beragam,” urainya. Sehingga dapat menjadi input perbaikan dan menjadi sumber inovasi.

Haris mengatakan, membentuk jejaring global dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya yaitu pemanfaatan teknologi informasi dan aktif mengikuti even-even internasional di tanah air. Namun demikian, inovasi dan jejaring global tidak bisa hanya diusahakan oleh Industri batik yang didominasi oleh IKM, namun harus didukung dan difasilitasi oleh semua stakeholders terkait.(Humas Kemenperin/ES)

Nusantara Terbaru