Rupiah di Atas Rp 13.000, Presiden Jokowi Sebut Situasi Sekarang Berbeda

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Maret 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.794 Kali
Presiden Jokowi didampingi Gubernur Aceh dan Dirut Pertamina menjawab wartawan seusai mengunjungi LNG Arun, di Lhok Seumawe, Aceh, Senin (9/3)

Presiden Jokowimenjawab wartawan seusai mengunjungi LNG Arun, di Lhok Seumawe, Aceh, Senin (9/3)

Setelah sempat menguat menjadi Rp 12.983 pada Jumat (7/3) lalu, setelah pada Kamis (6/3) menembus Rp 13.022, mata uang rupiah pada perdagangan hari Senin (9/3) ini kembali melemah. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat nilai rupiah sebesar Rp 13.047 per dollar AS.

Atas kondisi itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Aceh mengatakan pelemahan itu terkait faktor global. Ia menyebutkan, fundamental ekonomi kita ini baik, inflasi sangat rendah bahkan januari kemarin deflasi. Yang kedua, index harga saham juga naik. Yang ketiga, pasar obligasi juga naik.

“Ini kan memang faktor global, faktor eksternal yang semua negara mengalami. Kita selalu bertemu dengan Gubernur Bank Indonesia (BI)  untuk mengantisipasi ini tetapi sekali lagi ini faktor global seluruh dunia juga mengalami. Jadi waspada tapi tenang-tenang saja kita,” kata Jokowi kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke LNG Arun, di Lhok Seumawe, Aceh, Senin (9/3) siang.

Mengenai kemungkinan adanya krisis moneter terkait dengan pelemahan nilai tular rupiah itu, Presiden Jokowi menegaskan, pelemahan sekarang berbeda dengan dulu, saat rupiah meloncat dari Rp 2.000 menjadi Rp 15.000, dan Rp 18.000.

“Berbeda donk, loncatannya berapa kali. Ini yang paling penting sekarang selalu menjaga volatilitas pergerakan itu, yang paling penting itu,” tuturnya.

Listrik Industri

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menegaskan, pemerintah tidak akan menaikkan tarif listrik untuk industri. Bahkan ia meyakini, kalau ada efisiensi, tarif listrik untuk industri juga tidak perlu dinaikkan.

“Di tempat lain, di-switch ke gas, di Bali juga saya dengar bisa di-switch lagi ke gas, ada efisiensi terus. Kalau ada efisiensi artinya tidak usah dinaikkan,” ungkap Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, ia bahkan sudah meminta untuk industri agar kalau perlu diturunkan agar industri Indonesia efisien bisa bersaing. “Larinya ke sana,” pungkasnya. (Humas Setkab/ES)

 

 

Berita Terbaru