Rupiah Tembus Rp 13.000, Presiden Jokowi Sebut Sebagai Sinyal Perlunya Perbaikan Ekonomi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Maret 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.386 Kali
Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana dilepas Wapres Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah, di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Minggu (22/3)

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana dilepas Wapres Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah, di Bandara Halim PK, Jakarta, Minggu (22/3)

Presiden Joko Widodo terus memperhatikan pelemahan pada nilai tukar rupiah yang sudah menembus angka Rp 13.000 sejak dua pekan terakhir. Presiden menilai, pelemahan rupiah itu merupakan sinyal perlunya perbaikan ekonomi Indonesia.

“Lemahnya rupiah adalah sinyal bahwa kita harus melakukan perbaikan. Modernisasi pada ekonomi kita,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan sebelum melakukan lawatan ke Jepang dan RRT, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (22/3) siang.

Namun demikian, Presiden menjelaskan, bahwa melemahnya nilai tukar rupiah juga memberikan keuntungan bagi komoditi ekspor kita, karena bisa lebih kompetitif di pasar dunia.

“Depresiasi Rupiah yang terjadi belakangan ini menjadikan investasi di Indonesia sangat menarik dan kompetitif sebagai basis produksi,” ujar Jokowi.

Menurut Presiden, posisi Indonesia yang semakin berpotensi menjadi basis produksi itu sejalan dengan keinginannya untuk menjadikan Indonesia tidak lagi sebagai negara konsumtif tetapi produktif.

“Perekonomian Indonesia saat ini terlalu mengutamakan ekspor bahan mentah. Ke depan, Indonesia harus mengandalkan ekonomi yang berbasis produksi dan investasi,” papar Jokowi.

Jepang dan RRT

Terkait kunjungannya ke Jepang dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Presiden Jokowi yang didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, bahwa kunjungannya itu dimaksudkan untuk menindaklanjuti pembicaraan pada November lalu dengan Presiden Tiongkok Xi Jin Ping dan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Menurut Presiden Jokowi, kunjungannya ini terkait erat dengan agenda pembangunan Indonesia dalam mempercepat infrastruktur, menufaktur serta meningkatkan investasi.

Hingga saat ini, Jepang masih merupakan investor terbesar kedua di Indonesia, sedangkan Tiongkok juga memiliki potensi besar untuk menanamkan investasinya ke Indonesia. Namun demikian, Presiden berharap masih banyak lagi investasi, khususnya di industri manufaktur yang ditanamkan kedua negara tersebut di Indonesia.

“Kita menghargai tidak hanya modal yang mereka bawa tapi juga teknologi, sistem dan jaringan yang. mereka punya untuk dapat diterapkan di Indonesia,” kata Presiden.

Ikut mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja ke luar negeri kali ini adalah Ibu Negara Iriana Widodo, Menko Perekonomian Sofyan Jalil, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P. Marsudi, Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, dan Panglima TNI Moeldoko. (*/ANT/ES)

Berita Terbaru