Sambutan Presiden Republik Indonesia Pada Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Rabu, 7 Januari 2026
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu, rahayu.
Yang saya hormati, Menteri Pertanian sebagai penyelenggara Saudara Andi Amran Sulaiman beserta jajaran Kementerian Pertanian;
Menteri Koordinator Pangan Saudara Zulkifli Hasan, para Menteri, Kepala Badan, Jaksa Agung, Kapolri, Wakil Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan;
Kepala BRIN yang saya hormati;
Kepala Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani yang saya hormati;
Wakil Menteri Pertanian Saudara Sudaryono yang merangkap Ketua Umum HKTI, Ketua Umum APPSI, masih? Ketua Umum TNI Merdeka, banyak sekali kau [menjabat] ketua umum?
Ketua Komisi IV DPR RI, yang saya hormati Saudari Siti Hediati Soeharto, tepuk tangannya kok panjang banget?
Para Kepala Daerah yang hadir langsung dan para Kepala Daerah yang tidak hadir tetapi lewat online. Yang hadir langsung di sini Gubernur Jawa Barat Saudara Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Timur Saudara Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Sumatra Selatan Saudara Herman Deru, Gubernur Sulawesi Selatan Saudara Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sumatra Utara Saudara Bobby Afif Nasution, Bupati Karawang Saudara Aep Syaepuloh, para Gubernur/Bupati/Wali Kota yang hadir melalui online yang saya hormati dan saya banggakan, yang hadir secara virtual;
Yang saya hormati, para Dirut BUMN yang berkenan hadir di sini sekarang, juga para asosiasi yang hadir [diantaranya] Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), Asosiasi Perbenihan Indonesia, Ketua Kolaborasi Strategis Penggilingan Indonesia, Asosiasi Penggilingan Padi, Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia, Asosiasi Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia, Penyedia Katalog Elektronik Benih Padi Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia, Perhimpunan Agronomi Indonesia, Ketua Umum APTRI hadir? Hadir enggak di sini APTRI? Baik.
Yang saya hormati dan saya banggakan, para Kelompok Tani, para Penyuluh Pertanian dan terutama para petani dari seluruh Indonesia yang saya hormati, yang saya cintai dan yang saya banggakan;
Seluruh hadirin, undangan, rekan-rekan pers dan media yang hadir langsung maupun yang hadir secara virtual.
Saudara-saudara,
Karena tadi mungkin banyak tokoh-tokoh sudah di sebut satu-satu mungkin saya tidak perlu mengulangi lagi tanpa mengurangi rasa hormat saya, tetapi kalau diminta mengulangi, saya siap mengulangi juga. Ini banyak sekali, tetapi tidak apa-apa. Perlu dibacakan satu-satu? Cukup? Baik. Tanpa mengurangi rasa hormat tetapi di sini banyak dirut perusahaan-perusahaan penting, dirut perusahaan-perusahaan penting: PTPN 3, PTPN 4, PTPN 1, Riset Perkebunan Nusantara, Sinergi Gula Nusantara, Agrinas Palma, Agrinas Pangan Nusantara. Agrinas Palma hadir dirutnya? Agrinas Palma? Catat ya, ini sambil diabsen ini. Dirut PT Berdikari Saudara Maryadi, Dirut Sang Hyang Seri, Dirut PT Pusri Saudara Maryono, Dirut Pupuk Kujang. Baik, terima kasih. Bupati-bupati juga penting ini. Bupati Banyuasin, Bupati Sukabumi, Bupati Tasikmalaya Pak Cecep Nurul Yakin, Bupati Ogan Komering Ulu Timur Saudara Lanosin, Bupati Cianjur terima kasih Pak Mohammad Wahyu Ferdian, Bupati Bojonegoro tadi sudah ya, Bupati Indramayu Saudara Lucky Hakim, Bupati Wajo Saudara Andi Rosman hadir? Terima kasih. Bupati Merauke Saudara Yoseph Gebze terima kasih hadir jauh-jauh dari Merauke. Bupati Bandung Saudara Dadang Supriatna, terima kasih, Bupati Subang Saudara Reynaldy Putra, Bupati Bekasi Saudara Asep Surya Atmaja, terima kasih. Wali Kota Tasikmalaya Saudara Viman Alfarizi Ramadhan, terima kasih, Saudara-saudara sekalian.
Menteri-menteri perlu? Sudah tadi ya disebut, sekalian sudah tadi saya catat sebagai absen. Terima kasih.
Saudara-saudara,
Selalu sebagai insan yang bertakwa, marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar, Mahakuasa, bagi umat Islam Allah SWT yang memiliki sekalian alam, hanya kepadaNya lah kita berdoa dan hanya kepadaNya lah kita meminta pertolongan. Kita bersyukur atas segala kebaikan, karunia, kedamaian dan atas kesehatan yang masih diberikan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul di siang hari ini. Kita hadir di sini dalam acara yang sangat besar artinya, sangat penting dan sangat membanggakan. Walaupun selalu, kita selalu ingat saudara-saudara kita di tempat-tempat yang jauh dari sini, yang mengalami musibah beberapa puluh hari lalu di Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara tetapi juga ada di Jawa Timur, di Jawa Tengah, ada di Kalimantan, ada beberapa tempat. Kita selalu ingat saudara-saudara kita, tetapi kita juga bangga melihat pengabdian darmabakti. Banyak unsur dari seluruh lapisan masyarakat, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, PU, PLN, perusahaan-perusahaan Danantara, semua bahu-membahu termasuk banyak relawan dari mana-mana. Kita buktikan bangsa Indonesia bangsa yang kuat, bangsa yang berkemampuan, bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri.
Saudara-saudara sekalian,
Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya, diundang hari ini pada acara panen raya dan pengumuman resmi bahwa Indonesia berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan. Terima kasih.
Saudara-saudara,
Saya selalu mengatakan dimana-mana bahwa bangsa Indonesia harus sungguh-sungguh menjadi bangsa yang waspada, bangsa yang selalu mau mengoreksi diri, bangsa yang selalu berani menghadapi segala keadaan.
Saudara-saudara sekalian,
Kita mengerti dan paham bahwa bangsa kita negara yang kaya. Setelah saya dipilih dan diangkat menjadi Presiden, setelah saya mengambil alih pemerintahan saya paham, lebih paham, lebih mengerti atas kekayaan-kekayaan kita. Tetapi, saya harus katakan saya prihatin, saya sedih dengan kenyataan bahwa banyak kenyataan kita yang tidak pandai kita kelola, sehingga banyak kekayaan kita yang bocor. Dari dulu saya mengerti hal ini, tetapi saya tidak mengerti seberapa banyak kebocoran itu. Dari tahun ke tahun sebelum saya menjadi presiden saya berjuang, berjuang sebagai Ketua Umum HKTI, berjuang sebagai ketua umum sebuah partai, kenapa? Karena, saya melihat ada kejanggalan di bangsa kita. Saya melihat sudah berapa puluh tahun negara yang begini kaya, rakyatnya masih banyak yang miskin. Saya tidak dapat menerima di akal sehat dan di hati saya bagaimana negara yang begini makmur, bagaimana negara yang berjuang ratusan tahun untuk merdeka tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Terutama yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh yang Mahakuasa, bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor, impor, impor pangan. Tidak masuk di hati saya, tidak masuk di akal saya. Saya memang bukan orang pintar, saya tidak punya gelar profesor tetapi saya bisa melihat yang benar dan yang tidak benar. Saya bisa melihat yang masuk akal dan yang tidak masuk akal. Saya bisa merasakan keadilan dan yang tidak adanya keadilan. Karena itu, saya berjuang terus, saya dituduh mau jadi diktator, saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta, tetapi saya sejak muda saya bersumpah sebagai prajurit adalah prajurit dari Tentara Nasional Indonesia, TNI adalah tentara rakyat, TNI lahir rakyat, waktu kita berjuang kita diberi makan oleh rakyat Indonesia. Waktu kita menyatakan kemerdekaan, waktu kita menyatakan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 tidak ada anggaran, belum ada Kementerian Keuangan, belum ada pajak, belum ada bea cukai, siapa yang biayai pejuang-pejuang, siapa yang mendukung perang kemerdekaan, yang mendukung perang kemerdekaan adalah rakyat Indonesia, yang memberi makan kepada tentara pejuang-pejuang adalah para petani Indonesia. Kita tidak bakal merdeka tanpa jasa para petani kita, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara sekalian,
Saya masuk tentara tahun ‘70, tahun ‘70, tahun ‘70, tetapi saya merasakan setiap saya latihan di desa-desa Jawa Tengah, Jawa Barat, rakyat keluar dari rumah, rumah-rumah yang sederhana, rumah-rumah gedek yang lantainya masih tanah, mereka keluar dari rumah, mereka memberi minuman teh, mereka memberi pisang, mereka memberi singkong kepada kami, Saudara-saudara sekalian, padahal untuk masak itu dia harus ambil kayu yang cukup jauh, dia harus ambil air yang cukup jauh, begitu cintanya rakyat kepada tentara, begitu sadarnya para petani terhadap negara bangsa Indonesia. Para petanilah yang paling setia, yang paling loyal dan yang paling merah putih di Republik Indonesia ini, Saudara-saudara sekalian.
Dan, saya tidak habis pikir, puluhan tahun para petani kita, para nelayan kita kurang dihormati, kurang dibela, kurang dilindungi. Waktu saya berhenti dari tentara saya merasa dihormati, saya merasa terhormat, tokoh-tokoh HKTI, tokoh-tokoh KTNA minta saya mantan Panglima Kostrad untuk menjadi Ketua Umum HKTI, Saudara-saudara sekalian. Dan, saya terima ajakan itu sebagai ajakan yang sangat mulia, saya diminta membela kepentingan petani dan nelayan Indonesia. Ini sungguh kehormatan bagi saya. Saya ingat waktu saya masih sangat muda, rakyat yang memberi makan kepada saya, saya tidak lupa, ini kesempatan pikiran saya, saya membalas budi, saya membayar hutang kembali pada para petani Indonesia. Saya jadi jenderal karena petani Indonesia, saya jadi jenderal karena rakyat Indonesia. Pangkat yang saya emban adalah dari rakyat, karena itu saya sekarang harus berbakti untuk rakyat. Dan, ini adalah kesadaran dari pembantu-pembantu saya semua. Mereka, Saudara-saudara sekalian, banyak di antara tokoh-tokoh ini sebenarnya mereka sudah mapan. Tuhan sudah memberi kebaikan dan rezeki kepada mereka.
Saudara Amran pengusaha yang sukses, beliau jadi menteri adalah pengorbanan. Beliau menteri yang, enggak tahu saya sehari mungkin tidur tiga, empat jam. Saya kadang-kadang merasa prihatin, tapi saya dalam hati juga bangga. Saudara Zulkifli Hasan demikian juga masih mau berjuang, masih mau terjun di politik. Orang-orang yang masuk ke politik ini juga merasa aneh juga Saudara masih mau masuk politik. Politik di Indonesia ini pengorbanan, ingin mengabdi, ingin berbuat baik selalu di kuyu-kuyu, selalu dicari-cari kesalahan dan kejelekannya. Tetapi tidak apa-apa. Saya selalu katakan semakin naik ke puncak, semakin diterpa angin yang kencang, mereka yang kuat yang akan sampai di atas.
Saudara-saudara,
Para pemimpin, para pejabat, para Gubernur/Bupati, para Wali Kota, para dirut-dirut BUMN, jangan gentar, jangan ragu-ragu, para adik-adik saya, Menteri-menteri ini jangan. Kehormatan, berjuang untuk rakyat, kehormatan, kita semua akan dipanggil yang Mahakuasa, itu kepastian saudara-saudara. Dan, selalu saya katakan, kalau gajah meninggal dia tinggalkan gading, harimau meninggal dia tinggalkan belang. Manusia pada saat kita dipanggil yang kita tinggalkan hanya nama, nama, nama baik. Tetapi pada saat kita dipanggil apakah rakyat [mengatakan], “Dia waktu mimpin dia orang baik, waktu dia memimpin dia selalu membela rakyat, waktu dia memimpin dia selalu membela keadilan, waktu dia memimpin dia selalu membela orang yang lemah, waktu dia pimpin dia selalu membela orang yang miskin, waktu dia memimpin dia selalu tegakkan keadilan.”Saya kira keluarga kita semua akan merasa bangga. Daripada nanti kalau dipanggil [rakyat], “Dia dulu maling, dia dulu koruptor, dia dulu curi uang rakyat, dia memperkaya diri”.
Jadi, Saudara-saudara, bersyukurlah kalau kau diberi kepercayaan, ini kesempatan kita berbakti, kesempatan memberi yang terbaik yang bisa kita berikan, karena Saudara-saudara kadang-kadang kebenaran dan keadilan hanya bisa datang dengan kepemimpinan yang berani dan jujur. Karena itu, Saudara-saudara, hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat, ndak ada, tidak mungkin. Tidak mungkin bangsa itu merdeka, kalau makan pangan tergantung bangsa lain. Dan, ini sudah dibuktikan, begitu ada Covid-19 negara yang punya beras tidak mau jual ke kita. Saya tahu waktu itu, saya sudah menteri, saya ngerti benar-benar. Presiden kita waktu itu sampaikan ke saya, beliau terbang ke sini, terbang ke sana, nego sama pemimpin-pemimpin negara yang punya beras. Akhirnya karena hubungan baik beliau dengan beberapa tokoh, akhirnya mereka waktu Covid-19 adalah pembuka mata, waktu Covid-19 pandemi ada warning, adalah peringatan, adalah lampu kuning bagi bangsa Indonesia, jangan mau, jangan lengah, jangan tergantung bangsa lain apalagi untuk makan. Juga, untuk BBM, untuk energi.
Saudara-saudara,
Yang Mahakuasa telah memberi karunia yang luar biasa, ternyata dari pertanian kita bisa tidak tergantung bangsa lain, juga soal makan tetapi juga soal energi. Dari kelapa sawit kita bisa menghasilkan solar, dari singkong kita bisa menghasilkan etanol untuk bensin, dari tebu kita juga bisa hasilkan etanol, Saudara-saudara sekalian, luar biasa. Waktu saya dilantik jadi Presiden memang saya beri target 4 tahun swasembada beras, swasembada pangan. Terima kasih seluruh komunitas pertanian di Indonesia Saudara bekerja keras, Saudara bersatu, Saudara kompak, Saudara hasilkan yang empat tahun saudara berikan kepada bangsa dan negara, satu tahun kita sudah swasembada, satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri, satu tahun kita tidak tergantung bangsa-bangsa lain, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara,
Saya sungguh meyakini dan saya sungguh bangga bahwa hari ini Saudara-saudara berhasil sebagai putra-putri terbaik bangsa. Saudara buktikan bahwa Indonesia bisa. Ada elit kita sebagian yang kerjanya hanya ngejek, hujat, fitnah, nyinyir, enggak ada keberhasilan bangsa Indonesia. Atlet-atlet kita berjuang, enggak ada mereka ucapan selamat. Enggak ada mereka menghargai usaha pemerintah, malah selalu ngenyek, ini aneh ya, aneh ini, kesehatan jiwa mereka agak aneh gitu. Saya sendiri bingung tetapi biarlah enggak ada urusan itu, saya kira sedikit mereka itu, mereka pintarnya hanya di sosmed, enggak jelas juga itu, jangan-jangan mereka di bayar. Yang penting Saudara-saudara, hari ini Saudara memberi kepada bangsa dan negara bukti yang nyata. Saudara telah menurut saya mencatat tonggak penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia.
Saudara-saudara,
Banyak tokoh-tokoh penting ngomong ke saya beberapa bulan yang lalu [mengatakan], “Pak Bowo, enggak mungkin swasembada Indonesia itu”, sungguh ini ngomong ke saya, tidak mungkin swasembada itu. “Amran itu hati-hati, amran itu kadang-kadang banyak janjinya saja.”Tetapi hari ini, Saudara-saudara sekalian, Saudara Andi Amran Sulaiman saya beri bintang jasa utama. Dia bersama kalian, jajaran kalian semua ini, semua kalian telah mengamankan masa depan bangsa Indonesia. Dan, saya percaya habis ini kita tidak akan bisa diberhentikan. Saya melihat tadi produk-produk hilirisasi, produk-produk dari pertanian luar biasa.
Saudara-saudara,
Nanti dengan swasembada pangan dimana-mana, tidak hanya beras tetapi jagung saya dijanjikan oleh Pak Amran, oleh Wakil Menteri Pertanian, didukung oleh TNI dan Polri, dijanjikan bahwa jagung pun kita dalam waktu dekat akan swasembada. Pakan akan murah untuk seluruh peternak dan petani, kita akan turunkan harga pakan. Kita sudah turunkan harga pupuk, kalau bisa kita turunkan lagi harga pupuk, Saudara-saudara sekalian. Saya ingin jadi presiden, saya ingin jadi presiden, prestasi saya yang saya idam-idamkan kalau saya bisa jadi presiden di mana harga-harga turun, harga pangan turun, harga pupuk turun, harga benih turun, harga untuk rakyat-rakyat kita turun terjangkau di semua bidang. Saya ingin nanti anak-anak petani kembali anak-anaknya bisa sekolah tinggi, anak-anaknya bisa jadi insinyur, anak-anaknya bisa jadi dokter, anak-anaknya bisa jadi jenderal seperti sekarang itu Menteri Pertanian-mu anaknya petani, Wakil Menteri Pertanian-mu anaknya petani, sekarang jadi Menteri dan jadi Wakil Menteri. Kalau dia itu petani asli, mereka ini, kulitnya hitam enggak ada petani yang benar kulitnya putih, yang kulitnya putih itu bintang film atau penyanyi, penyanyi band. Memang Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian ini cocok, cocok itu, kalau berjalan itu, kalau berjalan itu serasi, nomor 1 dan nomor 2, sama-sama hitam. Kalau malam gelap itu enggak kelihatan itu, hanya giginya yang kelihatan kalau senyum.
Saudara-saudara,
Tetapi saya bangga dengan kalian, ya. Hari ini bahagia bagi saya, bahagia, saya senang sekali. Dan, saya melihat tadi penuh harapan, penuh keyakinan. Kalau banyak tokoh nyinyir mengatakan kita tidak bisa swasembada pangan, hari ini kita buktikan kita swasembada pangan. Sekarang setelah kita swasembada pangan, saya dengar lagi, “Oh iya, tetapi paling swasembada pangannya paling setahun, dua tahun.”Enggak apa-apa kita buktikan tiap tahun kita buktikan swasembada, swasembada, swasembada, swasembada, swasembada, swasembada, tidak hanya swasembada beras [tetapi] jagung, singkong, semuanya kita swasembada nanti, bawang putih kita harus swasembada.
Saudara-saudara,
Ternak, ikan, semuanya kita akan produksi besar-besaran, kita akan buka ribuan desa-desa nelayan, kita akan buka ratusan budi daya ikan. Saudara-saudara sekalian, rakyat kita, anak-anak kita harus makan protein yang banyak, dia harus tumbuh kuat, tumbuh pintar dan tumbuh menjadi masa depan Indonesia yang hebat.
Saudara-saudara sekalian,
Ini rencana besar kita, ini hari ini saya sungguh terima kasih, hari ini saya merasa dapat dorongan, saya merasa dapat kekuatan energi, saya merasa sepertinya menjadi 30 tahun lebih muda, karena saya melihat tadi penghasilan petani kita naik. Dan, saya juga dapat laporan dari Menteri Kelautan, Menteri Kelautan ada? Hasil daripada nelayan-nelayan kita juga naik dan di tahun-tahun mendatang akan lebih naik lagi. Tahun 2026 ini kita targetkan 1.100 desa nelayan, tahun-tahun depan mungkin lebih banyak lagi.
Hari ini kita sudah memberi makan bergizi gratis 55 juta anak Indonesia, 55 juta dalam satu tahun, belum ada bangsa lain yang bisa seperti kita, Saudara-saudara. Walaupun terus kita dinyinyir tidak ada apa-apa, yang penting kita bekerja untuk rakyat. Tadi waktu saya datang, rakyat banyak juga yang teriak, “Pak, desa kami belum terima MBG.” Saya minta maaf kemampuan kita tetapi insyaallah tahun 2026 ini seluruh desa di Indonesia akan menerima MBG. Sasaran kita Desember 2026 semua desa mendapatkan MBG, mudah-mudahan bisa lebih cepat tetapi Desember kita harus semua anak Indonesia dan semua ibu hamil dan semua orang tua lansia juga kita beri makan.
Saya kira mungkin bangsa Indonesia adalah bangsa nanti yang terbukti mengurus rakyatnya yang sebaik-baiknya, tetapi nah ada tetapinya, tetapi para pejabat, para pemimpin, rekan-rekan saya pembantu-pembantu saya saya minta dukunganmu mari kita bersatu, mari kita kompak. Kita melawan korupsi, kita berantas penyelewengan, kita tegakkan hukum, jangan ragu-ragu, jangan ragu-ragu. Kita sudah mengawasi, sudah sita 4 juta hektare kebun kelapa sawit yang melanggar hukum sudah kita sita. Jampidsus benar? Jaksa Agung? Dan, tahun 2026 mungkin kita akan sita tambahan 4 atau 5 juta lagi. Kita sudah bertindak terhadap ratusan tambang ilegal, sudah ratusan triliun kita selamatkan, masih banyak yang bocor, terus kita kerja. Karena, Saudara-saudara, uang rakyat harus benar-benar harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak boleh sepeser rupiah pun tidak sampai ke rakyat. Ini tekad saya sebagai presiden yang dilantik dan dipilih oleh rakyat, ini tugas Kabinet Merah Putih.
Alhamdulillah, setelah satu tahun saya melihat kabinet yang saya pimpin bekerja saya bangga. Kerja sama kita cukup baik, kita sudah menjadi tim yang tidak menunggu perintah sudah mengerti, ibarat tim sepak bola masing-masing sudah mengerti tugasnya, yang striker, yang di tengah, yang bertahan, yang cadangan pun tahu menjadi cadangan yang baik, pada saatnya akan dimainkan.
Saudara-saudara sekalian,
Saya kira cukup yang ingin saya sampaikan, terima kasih. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, tadi Menteri Pertanian [mengatakan], “Terima kasih, terima kasih, terima kasih”, beliau sudah mewakili saya, tetapi saya sampaikan penghargaan terima kasih kepada saya secara garis besar kepada semua, semua Gubernur, semua Bupati, semua pemimpin, saya tidak mandang partai mana, kelompok mana, tidak ada. Saya ndak tanya, saya enggak mau tahu, kita semua putra merah putih, kita semua anak bangsa Indonesia. Persaingan baik, enggak ada urusan, bertanding bagus, masa mau bertanding, enggak ada lawan tanding, enggak seru dong, benar. Kita mau lomba 100 meter, lari sendiri enggak ada lawannya, enggak lucu itu, ya kan? Itu dagelan namanya itu. Enggak apa-apa, tetapi bersaing tujuannya sama, begitu siapapun yang menang harus bekerja, harus membela rakyat, harus bekerja sesungguhnya untuk rakyat Indonesia. Jangan berkuasa habis itu menjual diri, iya kan? Aku satu tahun saja jadi Presiden geleng-geleng kepala juga saya, berapa kali saya mau disogok, bolak-balik datang minta ini, minta itu. Tegakkan peraturan, tegakkan sesuai dengan kepentingan dan negara, saya ndak ikut yang lain-lain.
Kemarin, saya dikasih daftar. Pak, ini daftar sekian puluh perusahaan yang melanggar yang mau dicabut izinnya, silakan Bapak pelajari. Saya bilang, “Saya enggak mau, saya enggak mau lihat itu, karena saya takut ada teman saya di situ.” Iya kan?” Enggak enak, bisa terpengaruh saya. Begitu lihat daftar, oh teman saya, begitu lihat eh ini Gerindra lagi. Jadi lebih baik saya enggak lihat, saya enggak mau tahu. Jadi kalau yang dicabut ya salahkan saja Jaksa Agung, iya kan? Memang kalian Menteri-menteri kalian diangkat iya kan, kalian diangkat untuk ya untuk dihujat, enggak apa-apa. Saya enggak mau baca karena saya tidak mau terpengaruh. Kemarin ada Menteri [mengatakan], “Pak, pak, tolong di baca ini Pak, ini ada nama-namanya.” Eh, jangan-jangan. Saya takut ada teman saya di situ atau ada anggota Gerindra, kalau sekarang saya bilang saya enggak tahu, saya serahkan ke aparat penegak hukum. Mereka tanya “Pak, apa petunjuk?”, yang melanggar tindak, sederhana. Bahasa Indonesia enggak usah ditafsirkan. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 jelas, enggak usah ada penerjemah: Bumi dan air dan semua kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Apa yang kurang jelas? Yang tidak paham keluar saja dari jabatan, segera mengundurkan diri, banyak yang bisa gantikan Saudara-saudara ya. Enggak usah takut. Anak-anak muda yang baik-baik itu mau berjuang untuk kebaikan.
Jadi, Saudara-saudara, terima kasih pengabdianmu. Prestasi luar biasa ini membuat kita tambah percaya dari hasil menuju hasil, dari kemenangan menuju kemenangan-kemenangan baru. Kepercayaan diri kita mampu, Indonesia mampu, Indonesia cerah, Indonesia semangat, Indonesia makmur dan kemakmuran harus sungguh di tangan rakyat Indonesia.
Saudara-saudara sekalian,
Saya ini mantan tentara, prajurit, di tentara ada adab tentara, kebiasaan tentara, yaitu bawahan hormat atasan, itu, itu di Indonesia saja. Di beberapa negara, atasan dan bawahan hormat bersamaan. Tetapi, saya punya dari sejak muda saya memimpin pasukan tempur, saya punya kebiasaan. Kadang-kadang saya memimpin pasukan saya dengan keras, tapi akhirnya mendapat keberhasilan dan akhirnya saya menjadi kagum dan bangga dengan anak buah saya, dan akhirnya saya yang hormat mereka duluan.
Saudara-saudara sekalian,
Izinkanlah saya mengikuti naluri saya, mengikuti kebiasaan saya dari sejak muda. Izinkan saya hormat kepada seluruh dari kalian yang telah berjuang mengabdi sehingga kita swasembada pangan.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Hidup Petani!
Petani Makmur!
Indonesia Sejahtera !
Indonesia Maju!
Terima kasih.
Selamat Berjuang!
Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, hari Rabu tanggal 7 Januari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia.
Terima kasih.



