Saat Seskab Pramono Anung ‘Blak-blakan’ Bicara Soal Keseharian, Pekerjaan, Istana, dan Lain-Lain

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Juli 2019
Kategori: Berita
Dibaca: 17.715 Kali
Seskab Pramono Anung dalam wawancara khusus dengan Channel YouTobu IDNTimes, di ruang kerjanya, akhir pekan lalu. (Foto: RAHMAT/Humas)

Seskab Pramono Anung dalam wawancara khusus dengan Channel YouTobu IDN Times, di ruang kerjanya, akhir pekan lalu. (Foto: Rahmat/Humas)

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menerima permintaan wawancara khusus wartawan senior Uni Lubis dari IDN Times, di ruang kerjanya Gedung III Kemensetneg, Jakarta, akhir pekan lalu. Wawancara ini telah ditayangkan di channel YouTube IDN Times, Selasa (2/7) sore. Berikut petikannya.

Uni Lubis: Jadi kita sudah di ruangan yang… saya ini kan wartawan tiga jaman… Zaman orde baru, zaman reformasi dan zaman now. Nah, zaman orde baru ini, ruangan ini ruangan yang serem.

Tapi sekarang jadi enggak serem karena kayaknya tergantung siapa yang duduk di sini. Thank you banget Mas Pramono Anung, Sekretaris Kabinetnya Pak Jokowi, Presiden Jokowi sudah menerima saya.

Seskab: Yes, mbak Uni.

Uni Lubis: Ini spesial ya… karena sudah lama Mas Pram ini enggak pernah menerima wawancara padahal sebelumnya mas Pram selalu hampir ada di semua media massa. Terutama sesudah era reformasi ketika Bu Megawati Ketua PDIP menjadi presiden, Mas Pram ini sudah kayak jubir baik di Senayan, karena waktu itu anggota DPR RI juga karena wakil Sekjen PDIP. Jadi pokoknya ini wajahnya PDIP lah. Tapi justru belakangan sejak jadi Sekretaris Kabinet kok kayak ngumpet ya….?

Seskab: Ada perbedaan yang mendasar, Mbak Uni. Jadi waktu menjadi politisi baik itu sebagai wakil sekjen, sekjen, wakil ketua DPR itu sebenarnya kalau mau jujur ya, rata-rata kita tahunya dikit tapi ngomongnya banyak. Inikan tipikal politisi. Tapi di kantor ini karena semua hal yang berkaitan dengan presiden, keputusan presiden, keppres, inpres, perpres itu kita yang menyiapkan…sehingga secara sadar pelan-pelan akhirnya bukan membatasi, tetapi memang tidak pernah bersedia untuk diwawancara.

Uni Lubis: Kenapa? Takut kemrucut atau gimana?

Seskab: Ini mungkin 3 tahun…sejak 3 tahun baru pertama kali saya bersedia diwawancarai.

Uni Lubis: Wow, thank you banget. Karena sebenarnya gini…ini mungkin it’s about time karena kita pembacanya milenial gede banget. Millenials juga perlu tahu apa sih yang dikerjakan oleh Sekretaris Kabinet, Mas Pramono Anung terutama di era sekarang nih?

Seskab: Jadi presiden ini membagi secara sederhana. Agar gampang untuk menjelaskan, presiden sebagai kepala negara dan presiden sebagai kepala pemerintahan. Presiden sebagai kepala pemerintahan itu Sekretaris Kabinet yang menjadi sekretaris, yang menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan pemerintahan. Tapi, presiden sebagai kepala negara, ini Menteri Sekretaris Negara. Nah, bedanya dengan presiden-presiden yang sebelumnya, Pak Jokowi ini kan presiden yang sangat aktif bahkan workaholic. Dulu katakanlah dalam satu minggu itu Ratas mungkin sekali, sekarang dalam satu hari Ratas bisa tiga kali. seperti kemarin….

Uni Lubis: Pak Wapres kemarin cerita juga satu tahun bisa lebih dari 500?

Seskab: 500. Dan ini semua menjadi tanggung jawab saya untuk menyiapkan, baik bahan materi, keputusan, risalah rapat dan juga follow up atau manage semua kementerian apakah sudah dijalankan atau belum. Itu berkaitan dengan manajemen kabinet. Jadi dengan demikian kalau dibandingkan dengan yang dulu, sekarang ini memang Sekretaris Kabinet menjadi sangat sibuk sekali.

Uni Lubi: Sangat sibuk ya.

Seskab: Sangat sibuk.

Uni Lubis: Tapi kelihatannya tetap segar nih! Karena masih rajin sepedaan atau gimana? Mas Pram ini dulu teman sepeda saya, kita night ride, ya?

Seskab: Night ride.

Uni Lubis: Abis itu makan durian.

Seskab (Tertawa): Jadi saya, terus terang, saya mengerjakan pekerjaan ini dengan happy, dengan kegembiraan. Saya juga selalu katakan kepada staf saya enggak boleh bekerja tidak dengan kegembiraan karena kegembiraan itu menjadi modal dasar kita untuk itu.

Yang dulu saya bayangkan tentang kantor pemerintahan atau birokrasi pemerintah itu kan bekerjanya katakanlah mulai dari jam 8 selesai jam 4 atau jam 5 maksimum. Ternyata kantor ini, itu sudah seperti kantor swasta. Jadi kita kerja dari pagi jam 08.00, kadang-kadang selesai jam 21.00-21.30 itu bukan sesuatu yang istimewa. Karena dengan model presiden yang seperti ini, kecepatan itu menjadi penting.

Dan saya juga…saya ini kan Sekretaris TPA, Tim Penilai Akhir yang menilai hampir seluruh eselon 1, sekda dan juga beberapa jabatan di TNI/Polri. Karena tugas yang sangat strategis itu, dulu Keppres itu bisa keluar 3 bulan, bahkan 6 bulan, bahkan satu tahun. Sejak saya masuk, saya membuat aturan internal bahwa Keppres itu tidak boleh keluar lebih dari 3 hari. Awalnya ditentang di dalam.

Sesi wawancara khusus Seskab Pramono Anung dengan Uni Lubis dari IDN Times, di ruang kerjanya, akhir pekan lalu. (Foto: Rahmat/Humas)

Sesi wawancara khusus Seskab Pramono Anung dengan Uni Lubis dari IDN Times, di ruang kerjanya, akhir pekan lalu. (Foto: Rahmat/Humas)

Uni Lubis: Ooo?

Seskab: Karena apa? Ternyata…pemberi nomornya sendiri, yang mengurus sendiri, pokoknya begitulah. Sejak saya masuk saya ubah dan presiden setuju semuanya pada satu pintu. Dan praktis tidak ada lagi isu-isu di dalam internal istana pada saat ini karena kecepatan pun menjadi penting. Sehingga TPA atau Tim Penilai Akhir katakanlah rapat pada hari ini, maka 2-3 hari pasti sudah keluar, bahkan satu minggu sudah kita wajibkan untuk dilantik.

Uni Lubis: Oke.

Seskab: Bahkan ketika memutuskan…misalnya jaksa agung muda jampidsus/jampidum, dulu pernah dituduh bahwa itu keppres palsu karena saking cepatnya yang enggak pernah terjadi sebelumnya. Dan ternyata bisa, dan inilah yang kemudian dibudayakan menjadi bagian…

Uni Lubis: Sekalian mengulik behind the scene deh. Mas Pram setiap hari rata-rata bangun jam berapa, terus apa yang dilakukan sesuai ini ceritanya kita mau melihat, menunjukkan sehari agendanya Sekretaris Kabinet yang pas ada Ratas?

Seskab: Jadi 1 hari rata-rata saya bangun pasti paling lambat itu jam 5.30, paling lambat. Kemudian saya selalu usahakan satu jam untuk olahraga karena bagaimanapun kita mau kerja seberat apapun, sekeras apapun kalau kita tidak maintain diri kita sendiri kita juga percuma. Jadi satu jam saya pasti olahraga di rumah…

Uni Lubis: Treadmill?

Seskab: Treadmill, crosstrainer kemudian juga angkat beban dan sebagainya. Nah, jam 08.30 paling lama sudah di kantor. Kemudian kerja ya sampai presiden meninggalkan istana. Kita menyiapkan semua materi yang ada, rata-rata baru tidur di atas jam 12, jadi tidur sekitar 4 jam, 5 jam lah maksimum.

Uni Lubis: Rapat kabinet itu biasanya jam berapa ya, Mas?

Seskab: Rapat kabinet biasanya dimulai jam 2. Jam 2, jam 3, jam 4… jadi seperti kemarin itu sehari 3 kali. Hari ini cuma 2 kali.

Uni Lubis: Oke. Pernah enggak Pak Presiden minta rapat kabinet ordernya baru 1 jam sebelumnya?

Seskab: Pernah.

Uni Lubis: Terus, apa yang dilakukan oleh Seskab.

Seskab: Kita harus bisa. Karena bagaimanapun kita menjadi supporting system dari presiden. Dan saya beruntung bahwa di internal ini sangat baik, di luar dugaan saya! Dan banyak pejabat-pejabat yang sekarang ini anak-anak muda yang saya promosikan untuk di eselon 1. Mereka bekerja dengan dedikasi yang tinggi bahkan lebih dari orang pekerja swasta.

 Uni Lubis: Kalau lagi rapat kabinet itu kira-kira bagaimana tuh protokolernya?

Seskab: Jadi pertama presiden memberikan arahan apa-apa yang… arahan itu juga harus dipersiapkan yang kemudian ini yang biasanya diambil oleh media di awal dan kemudian, di ujung atau di akhir itu presiden harus memutuskan.

Presiden kita, Presiden Jokowi ini berbeda dengan pemimpin yang lainnya. Saya tidak ingin membandingkan. Tetapi bagi beliau setiap Ratas itu harus ada keputusan. Kalau belum ada keputusan, maka harus ada alternatif 1-2, mana yang harus diputuskan. Karena memang beliau orang yang bekerja sangat detil dan hari-hari juga monitor, sehingga begitu sudah beliau putuskan risalah itu juga kita harus segera dikeluarkan. Jadi betul seperti yang disampaikan oleh Pak Wapres, memang 1 tahun bisa 500 kali.

Uni Lubis: Oke. Jadi ada Seskab kemudian ada Menteri Sekretaris Negara kemudian ada Kantor Staf Presiden/KSP. Nah biar Millenials tahu ya, ini apa nih kira-kira yang membedakan tupoksinya?

Seskab: Jadi yang tadi saya sampaikan untuk memudahkan, Mensesneg itu presiden sebagai kepala negara. Terutama hubungan dengan lembaga tinggi negara, dengan DPR, dengan MPR, dengan protokoler hari-hari besar kenegaraan, itu tanggung jawab Menteri Sekretaris Negara. Seskab adalah sebagai kepala pemerintahan, manajerial pemerintahan sehari-hari. Ada Ratas, rapat intern, Sidang Kabinet Paripurna, kemudian mengevaluasi dan juga memonitor keputusan ditingkat kementerian. Nah kalau Kepala Staf Kepresidenan itu lebih pada monev, Monitoring Evaluasi. Misalnya sebagai contoh… kenapa harga sekarang ini yang terjadi ya… kenapa harga ayam itu turun sampai dengan jatuh terutama di Jawa tengah?

Uni Lubis: Sampai katanya ada yang dikasih gratis.

Seskab: Dikasih gratis. Nah itulah yang kemudian dicari penyebabnya dan apakah karena memang suplai yang berlebihan, produksi yang berlebihan. Biasanya kan itu yang terjadi.

Uni Lubis: Saya mau lanjutin gini…karena ini kan sebetulnya masalah klasik yang menurut saya sampai sekarang masih terjadi. Data di kita itu belum baik. Sehingga misalnya keputusan impor termasuk soal suplai itu enggak termonitor dengan baik antara lain karena datanya itu tidak terdata dengan baik. Nah, saya ingin tahu bagaimana Mas Pram melihat komitmen Presiden Jokowi untuk soal ini?

Seskab Pramono Anung menjawab salah satu games yang diajukan IDN Times, di Jakarta, akhir pekan lalu. (Foto: Rahmat Humas)

Seskab Pramono Anung menjawab salah satu games yang diajukan IDN Times, di Jakarta, akhir pekan lalu. (Foto: Rahmat/Humas)

Seskab: Jadi sekarang ini memang sudah dilakukan pembenahan terutama hal yang berkaitan dengan data tunggal. Untuk menertibkan data-data di kementerian itu juga bukan persoalan yang mudah. Karena Menteri Pertanian punya data sendiri, BPS punya data sendiri, Perdagangan punya data sendiri. Sehingga ketika kemudian lapangannya ternyata berbeda dengan itu, data siapa yang kita pakai? Dan sekarang ini, kita sudah putuskan data yang kita pakai data BPS. Karena data BPS itu setiap 2 tahun selalu di update. Sehingga kementerian lain harus menyesuaikan itu.

Uni Lubis: Dengan data itu…?

Seskab: Dengan data itu.

Persoalan yang sering timbul adalah ketika edukasi kepada, misalnya kepada peternak. Kita kan selalu karena harga lagi bagus, semuanya booming semuanya pindah ke ayam. Begitu harga jatuh, semuanya akan kena. Itu yang terjadi. Sehingga dengan demikian pemerintah juga harus memfasilitasi untuk itu. Misalnya harga bawang di Brebes yang dulu selalu kalau jatuh itu dibuang…sekarang kemudian mengapa isu itu menjadi menurun? Karena pemerintah menyiapkan fasilitas untuk bisa kalau lagi harga jatuh, disimpan dan itu bertahan 6 bulan. Ketika harga naik ya silakan apakah diekspor atau dikeluarkan. Memang cara-cara itulah yang kemudian dilakukan untuk menjaga stabilitas.

Kalau dilihat, Mbak Uni, kenapa kemudian pemerintahan ini inflasinya betul-betul terjaga. Sekarang ini inflasi tidak pernah lebih dari 3,5. Jadi selalu dijaga karena memang mungkin Presiden yang sangat konsen inflasi harian ya beliau. Begitu di Cipinang atau di mana harga naik, beliau akan telepon menterinya untuk ‘kenapa naik?’ begitu.

Uni Lubis: Dan informasi seperti itu juga dimonitor dari sekarang era media sosial ya…

Seskab: Ya, kita ada datanya.

Uni Lubis: Ada datanya?

Seskab: Di kantor ini juga ada  datanya.

Uni Lubis: Jadi Presiden Jokowi adalah presiden di era digital. Mas Pramono Anung ini adalah Seskab di era digital.

Seskab: Ya..

Uni Lubis: Nah, implementasi hariannya gimana?

Seskab: Mbak saya ini… tentunya di kantor ini semua…

Uni Lubis: Seskab ini juga selebtwit ya, sudah jadi selebgram juga!

Seskab: Di kantor ini semua ada. Dia punya Facebook, punya Instagram, punya Twitter, juga punya line dan sebagainya karena memang monitoring itu harus ada.

Uni Lubis: Itu semua akun resmi dikelola oleh Setkab?

Seskab: Akun resmi. Oh, enggak. Setkab punya sendiri. Kantor Presiden punya sendiri tetapi semuanya terkoneksi.

Dan saya sendiri saya juga punya sendiri. Saya termasuk yang setiap hari pasti buka Twitter, pasti. Karena pertarungan politik dan juga apapun itu biasanya di Twitter,  tapi saya juga kalau mau menghibur diri di Instagram.

Uni Lubis: Millenials nih, (tertawa). YouTube punya enggak?

Seskab: YouTube enggak.

Uni Lubis: Oke, Facebook?

Seskab: Facebook punya.

Uni Lubis: Oke. Jadi menurut Mas Pram tantangan mengelola negara di era digital ini apa?

Seskab: Mmm, kebetulan saya mendampingi presiden di KTT G-20, KTT ASEAN, KTT APEC… semuanya sekarang mengalami keresahan dengan perkembangan digital yang luar biasa. Dan selalu pemerintah, dimanapun pemerintahan itu, terlambat mengantisipasi perubahan ataupun perkembangan digital yang ada. Kalau pemerintah terlalu restriktif atau memberikan pembatasan, pasti digital itu tidak berkembang. Maka apa yang dilakukan oleh Indonesia, Presiden Jokowi wanti-wanti kepada semua kementerian jangan pernah membuat barrier kepada perkembangan digital ini. Kenapa kemudian Indonesia dianggap sebagai salah satu surga tumbuhnya digital dan startup.

Negara seperti kita mungkin sekarang ini… sebentar lagi akan punya satu unicorn baru yang sebelumnya hanya 4, mungkin akan menjadi 5, mungkin akan menjadi 6 karena memang pemerintah memberikan perlindungan terhadap hal itu.

Nah, pemikirannya adalah supaya startup-startup ini berkembang menjadi semakin banyak. Dengan startup yang berkembang semakin banyak… kalau di negara lain kan langsung dikasih pajak, kalau kita enggak kan tidak. Karena kita memberikan keleluasaan, kebebasan untuk itu. Baru kemudian yang sudah matang, yang sudah besar mau tidak mau, suka tidak suka ya dia harus berbagi kepada negara tentunya untuk rakyat.

Dan kalau saya lihat memang persoalan digital itu tidak hanya berkaitan welfare ataupun kesejahteraan bagi masyarakat dan pertumbuhan negara tetapi juga ada sisi lain negatif yang luar biasa.

Uni Lubis: Hoaks?

Seskab: Hoaks yang luar biasa. Dan sekarang ini saya menganggap bahwa memang kita ada pada fase…apa ya,  proses literasi yang akhirnya orang akan punya kesadaran sendiri. Di Eropa, di barat sekarang kan orang sudah tahu sendiri, ah ini hoaks, ini bukan. Tapi kalau di kita kan belum. Dan itu yang kemudian kenapa peristiwa 21-22 (Mei-red) kemarin sempat kemudian itu diturunkan.

Uni Lubis: Dibatasi karena untuk video….

Seskab: Dibatasi untuk hoaks.

Uni Lubis: Saya agak keberatan sih karena saya jadi tidak bisa bebas ber-Instagram (tertawa). Lagi senang-senang Instagram kok enggak bisa upload ya. Tapi memang itu untuk membatasi karena memang penyebaran luasan hoaks.

Seskab: Membatasi. Penyebarluasan hoax.

Uni Lubis: Tapi jangan dijadikan kebiasaan ya, Mas.

Seskab: Iya.

Uni Lubis: Kita titip sebagai mantan… yang tadinya sangat reformis lho ini. Waktu jadi politisi termasuk reformis ketika sudah di pemerintahan….

Seskab: Masih reformis.

Uni Lubis: Masih ya.

Seskab: Masih.

Uni Lubis: Makanya jangan sering-sering ada pembatasan begitu…

Seskab: Mbak, kita ini terus terang mbak…secara yang kecil-kecil kita mengubah tabiat yang misalnya saya selalu sepatu sneakers. Karena hari ini ada tamu Bank Dunia saja jadi pakai sneakers warna hitam, biasanya saya pakai warna-warni. Celana juga pakai jeans…

Uni Lubis: Tampilan juga casual ya…?

Seskab: Pakai jeans juga biasa. Dulu mana pernah, mana bisa di Istana orang pakai sneakers begini, enggak boleh. Sekarang adalah hal yang biasa saja, gitu.

Uni Lubis: Mumpung orang ada terdekatnya. Presiden itu melihat replay-replay atau mention-mention di akun media sosialnya enggak?

Seskab: Presiden lebih melihat itu dari pada kontennya sendiri.

Uni Lubis: O gitu?

Seskab: Iya. Karena karena saya termasuk yang seperti itu. jadi hal yang tidak mengenakkan itu mesti dibaca bukan diabaikan. Saya termasuk yang membaca.

Uni Lubis: Jadi kayak diakun Twitternya Presiden Jokowi, @jokowi itu mention dibaca?

Seskab: Dibaca.

Uni Lubis: Ribuan loh!

Seskab: Dibaca. Jadi presiden selalu mempunyai waktu 2 jam untuk membaca itu.

Uni Lubis: Tiap hari?

Seskab: Tiap hari.

Uni Lubis: Untuk media sosialnya termasuk Instagram?

Seskab: Instagram, di Twitter, di YouTube dan sebagainya.

Kenapa itu dilakukan ketika beliau berangkat dari Bogor ke Jakarta atau sebaliknya, beliau kan enggak bisa tidur di mobil. Beliau akan melihat itu, komen-komen dan sebagainya. Sehingga beliau tahu ada jalan rusak di mana, ada ini, ada apa dan sebagainya.

Uni Lubis: Jadi media sosial juga bisa menjadi jembatan untuk komunikasi ya?

Seskab: Iya, sangat. Dan beliau adalah orang yang sangat aware terhadap itu.

Uni Lubis: Mas Pram juga?

Seskab: Saya juga, saya pasti baca untuk terutama komentar negatif ya. Tapi kan gini… kita bisa bedakan ini hoaks, ini nyinyir, ini yang memang ada sesuatu yang terjadi di lapangan. Kasus beberapa, misalnya anak yang kemudian pengen ketemu Presiden Jokowi minta sepeda dan sebagainya, beliau lebih tahu duluan dari pada kita.

Uni Lubis: O gitu? Karena memonitor ya…

Seskab: Karena monitor itu… setiap hari. Pagi biasanya dari jam 8 sampai jam 9. Kemudian malam itu biasanya beliau setelah meninggalkan Istana jam 7 atau jam 8.

Uni Lubis: Nah, Pak Jokowi itu kan ujug-ujug aja tahu-tahu kemana. Ke mall, kemana segala macam jadi susah diprediksi. Aku mau konfirmasi karena para pengkritik juga mengatakan bahwa itu didesain, di-setup ya. Tapi sebetulnya ya konsisten juga….kemana-mana, ke warung, ke segala macam.

Seskab: Enggak itu….

Uni Lubis: Sebetulnya sepeti apa dan dimana beratnya ngikutin presiden yang ujug-ujug pengen mampir ke sini misalnya…

Seskab: Saya selama 7 bulan enggak pernah putus untuk mendampingi beliau ketika campaign. Jadi kalau kemudian itu didesain akan kelihatan. Memang kelebihan beliau sebagai presiden adalah pertama dia presiden pertama kali yang bukan latar belakangnya  yang punya partai, apa sebagai ketua umum bahkan menjadi pengurus partai pun enggak pernah.

Kalau bukan hal luar biasa, karena kerja dan sebagainya menurut saya enggak mungkin. Karena dulu banyak orang menduga itu, tapi Mbak Uni, jangankan orang di luar, kita sendiri setiap hari tahu jadwal beliau kadang-kadang juga kaget. Kok kemudian tiba-tiba sudah pulang ke Bogor naik kereta Bogor-Jakarta. Atau juga misalnya tiba-tiba makan siang di mana. Karena itu enggak mungkin… jadi hal yang tidak… bahkan kalau di desain beliau enggak mau. Enggak mau.

Uni Lubis: Oke. Nah, Mas Pram ini punya track record menjadi jembatan sejak zaman jadi politisi ya. Ya, kita tahu bahwa misalnya Ibu Megawati sempat hubungannya kurang mesra dengan misalnya Presiden SBY pada saat itu dan Mas Pram waktu itu kita tahu banget, sudah menjadi rahasia umum, Mas Pram itu berusaha untuk menjembatani komunikasi. Nah,  apakah kemudian ketika Pak Jokowi menarik Mas Pram menjadi Sekretaris Kabinet, peran menjadi jembatan antara kelembagaan antar parpol apalagi dengan suasana yang sekarang ini sempat memanas itu masih dilakukan?

Seskab: Mbak Uni mesti tanya jangan kepada saya (tertawa)…kepada teman-teman yang di luar Istana. Tapi begini Mbak Uni, saya memang melakukan tidak hanya tugas sebagai Sekretaris Kabinet. Jadi tugas di luar itu saya lakukan dan alhamdulillah kalau kita lihat bagaimana hubungan misalnya Bu Mega dengan Pak Jokowi sekarang sangat mesra, Pak Jokowi dengan Pak SBY sangat mesra.

Kemudian juga bahkan Bu Mega dengan Pak Prabowo, Pak Prabowo dengan Pak Jokowi. Dan ini menurut saya setelah MK banyak kejutan yang terjadi.

Uni Lubis: O gitu? Maksudnya kejutannya….

Seskab: Kejutan yang menggembirakan….

Uni Lubis: Kejutan Gerindra masuk ke kabinet gitu maksudnya?

Seskab: Saya enggak… enggak nyampe pikiran saya hal itu. Pokoknya itulah, kejutan terjadi.

Uni Lubis: Oke, yang membedakan menariknya berhubungan sama Bu Mega dan Pak Jokowi di mana?

Seskab: Jadi kalau Bu Mega adalah orang yang memikirkan sesuatu itu lebih panjang, jangka panjang begitu. Karena mungkin beliau tertempa sejak kecil untuk itu. Sedangkan Pak Jokowi adalah sesuatu itu harus segera diputuskan dan bisa harian. Itu yang membedakan karakter manajemen kedua-duanya. Tetapi saya sekarang berada diantara keduanya, sehingga….

Uni Lubis: Nah, itu dia tuh. Banyak yang enggak terlalu sukses untuk mencoba berada di antara keduanya!

Seskab: (Tertawa)

Uni Lubis: Ibu Mega kalau di Istana ngapain ya Mas Pram? Makan Siang?

Seskab: Ada macam-macam sama presiden.

Uni Lubis: Oke, satu lagi pertanyaannya itu adalah. Balik lagi ke DPR.. eh tapi enggak sih, enggak ikut nyaleg?

Seskab: Enggak…

Uni Lubis: Enggak iku nyaleg ya. Tapi, balik lagi ke DPR atau di kabinet?

Seskab: Saya sudah dua kali… saya 4 kali terpilih sebagai menjadi anggota DPR tapi dua kali saya mundur ketika menjadi sekjen dan ketika menjadi menteri. Yang sekarang tidak nyaleg. Jadi kalau ditanya itu, tentunya enggak akan kembali ke DPR.

Uni Lubis: Jadi terakhir mungkin ya karena Mas Pramnya juga sibuk, mungkin membuat millenials yang selama ini juga monitoring kegiatan presiden, kegiatan Sekretaris Kabinet. Apa yang ingin disampaikan?

Seskab: Yang pertama…sekarang semua orang bisa bermimpi untuk menjadi apapun. Menjadi pengusaha, menjadi presiden, menjadi apapun di Indonesia. Itu sudah terbukti, Pak Jokowi yang bukan siapa-siapa, anaknya orang biasa-biasa saja bisa jadi presiden. Kemudian banyak sekali para pengusaha yang berasal dari betul-betul dari 0 sekarang menjadi milyuner. Sehingga dengan demikian pada para millenials, jangan pernah takut untuk bermimpi, berambisi, berkeinginan, bercita-cita untuk terbang setinggi langit. Karena dengan mimpi itulah menjadi guidance, menjadi penuntun untuk mencapai ataupun untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat dirinya pada masyarakat.

Uni Lubis: Oke, menarik. Kita harus bersyukur dapat waktunya Mas Pram. Mudah-mudahan ini bukan yang terakhir kita ngobrol dengan Mas Pram. Terima kasih sekali lagi atas obrolan eksklusif dari Suara Milenial by IDN, jangan lupa subscribe, like dan share semua episode. Sampai ketemu di episode berikutnya. Thank you banget Mas Pram!

Seskab: Matur Nuwun Mbak Uni…(FID/RAH/ES)

Berita Terbaru