Sambutan Presiden Joko Widodo dalam Munas REI XV Tahun 2016 di Grand Ballroom Hotel Fairmont, Jakarta, 29 November 2016

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 November 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 6.005 Kali

Logo-Pidato

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Ketua dan Dewan Pengurus serta Anggota Persatuan Perusahaan Realestate Indonesia (REI),
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Akhir-akhir  ini kalau saya bertemu dengan pihak swasta, dengan dunia usaha, pasti yang dipertanyakan kepada saya bukan soal ekonomi, tapi malah soal politik. Kalau soal politik, saya kira Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semuanya bertanya, di sini ada Pak Akbar Tanjung. Tanyanya ke Pak Akbar Tanjung. Atau ada di sini Pak MS Hidayat, tanya kesana. Atau Pak Theo Sambuaga juga ada di sini. Jangan tanya ke saya. Beliau adalah senior-senior politik kita.

Memang belakangan ini, sebetulnya bukan mendadak, politik kita agak sedikit, tensinya agak sedikit naik. Tapi bukan apa-apa, karena wajar dan ini setiap saat menjelang atau dalam kurun kampanye pilkada baik pilgub, pilihan bupati dan wakil bupati, pilihan wali kota dan wakil wali kota, selalu seperti ini. Bukan hanya saat ini saja. Tetapi memang sekarang ini agak istimewa, terutama pilgub di Jakarta. Meskipun sebetulnya pilihan gubernur dan bupati/wali kota itu ada di 101 provinsi, kabupaten, dan kota tetapi selalu yang disorot adalah Jakarta.

Dan gosip, rumor sekarang ini juga banyak di media sosial. Tapi jangan langsung dipercaya. Banyak rumor, banyak gosip yang banyak tidak benarnya.

Bahwa benar memang kita perlu konsolidasi kebangsaan, perlu konsolidasi kenegaraan kita. Agar Bangsa Indonesia, bangsa kita menjadi semakin kuat, menjadi semakin tangguh, menjadi semakin dewasa dalam berpolitik, menjadi semakin matang dalam berpolitik. Tapi untuk kita semuanya yang hadir di sini, terutama seluruh anggota REI marilah kita bekerja saja, kembali bekerja, fokus menjalankan program pembangunan untuk masyarakat, untuk rakyat. Dan memastikan setiap rakyat Indonesia nantinya memiliki tempat tinggal yang layak.

Saya tadi menanyakan kepada Menteri PU, backlog kita sekarang masih ada berapa? Masih 11 juta rumah. Ini angka yang sangat besar sekali. Tahun yang lalu, tahun 2015, angkanya sudah kita kejar kurang lebih 690.000. Ini terus harus kita kejar agar angka backlog 11 juta itu betul-betul nantinya bisa kita segera tutup.

Menurut saya, modal ekonomi kita sudah cukup kuat untuk mengembangkan sektor properti. Coba kita bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dengan negara-negara yang lain. Kita ini patut bersyukur masih pada posisi yang sangat baik. Kuartal I pertumbuhan ekonomi kita masih 4,94. Kuartal II sudah naik menjadi 5,18. Kemudian kuartal III sudah 5,02. Moga-moga nanti yang kuartal IV ini naik lagi paling tidak 5,1-5,2.

Sekali lagi bandingkan dengan negara yang lain. Ekonomi kita pada posisi yang seperti ini. Kita kalah dengan India, dengan Tiongkok, tapi kita pada posisi nomor tiga (5,18). Yang lain-lain coba kita lihat hanya 0,1; hanya 1,2; hanya 1,8; 2,5. Sehingga kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan oleh seluruh anggota REI agar sektor properti betul-betul tumbuh di negara kita.

Kemudian dari sisi inflasi juga sama. Tahun yang lalu 3,53. Tahun ini perkiraan kita di bawah 3,5 persen. Artinya pengendalian sisi inflasi, kemudian sisi harga betul-betul bisa kita kendalikan dengan baik.

Kemudian kalau kita berbicara tax amnesty. Amnesti pajak kita pada periode I menjadi tax amnesty yang paling sukses di dunia. Karena dari deklarasi harta yang mencapai Rp3.483 triliun di periode I ini betul-betul sebuah angka yang sangat besar sekali. Dan banyak nanti yang bisa ditempatkan dalam investasi sektor properti. Nanti pada periode II ini kita harapkan nanti juga tax amnesty masih dimanfaatkan oleh seluruh pengusaha. Dan saya harapkan seluruh anggota REI yang belum ikut tax amnesty silakan segera ikut, mumpung masih  tarifnya 3 persen. Kemarin saya buka-buka, berapa sih yang sudah ikut tax amnesty di seluruh daerah? Belum ada 5 persen, belum ada 5 persen dari seluruh wajib pajak kita, belum ada 5 persen. Jadi masih ada 95 persen yang akan saya kejar-kejar terus. Ya, tugas saya mengejar Saudara-saudara yang belum ikut tax amnesty agar semuanya menjadi clear, bersih di bidang perpajakan kita.

Dan yang ketiga mengenai Paket Kebijakan Ekonomi XIII. Sudah dilakukan deregulasi perizinan dan penyederhanaan birokrasi di sektor properti. Sudah kita potong-potong. Memang masih ada yang perlu diperbaiki lagi. Dulu 33 izin, sekarang hanya 11 izin. Dulu sampai 900 hari, sekarang hanya 40 hari kurang lebih bisa. Tapi dalam pelaksanaannya kalau masih ada problem, masih ada masalah silakan disampaikan kepada kita, kepada Menteri, kepada saya, silakan. Karena kita ingin mempercepat semuanya. Sekali lagi backlog kita masih 11,8 juta rumah yang ingin kita kejar. Ini bukan angka yang kecil, bukan angka yg kecil.

Saya ingin mengingatkan pada kita semuanya bahwa inti dari Paket Kebijakan Ekonomi XIII adalah mempercepat penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Rumah MBR dengan harga yang terjangkau.

Sekali lagi, Rumah MBR, bukan yang lain. Nanti yang dikebut yang lain, yang MBR ditinggalkan. Jadi yang saya sebut-sebut selalu yang ini, MBR. Jangan nanti salah di lapangan, yang banyak malah rumah yang dibangun adalah rumah yang sering hanya dipakai untuk investasi, sudah punya dua atau tiga rumah sebelumnya,  tapi agar diarahkan sekali lagi kepada rumah-rumah yang MBR.

Paket XIII menyederhanakan sekaligus mengurangi regulasi dan biaya pengembang untuk membangun rumah. Jadi kalau tadi disampaikan oleh Pak Eddy, Pak Ketua Umum bahwa PP-nya belum jadi, ya memang belum jadi. Tadi pagi sebelum berangkat kesini saya ingin memastikan PP-nya ini ada di mana. Saya kejar di Menteri PU, sudah tidak ada di Kementerian PU, sudah pindah ke Menko Ekonomi. Menko Ekonomi sudah janji kepada saya bulan ini, bulan Desember ini akan diselesaikan.

Saya kira banyak yang telah kita lakukan terobosan-terobosan. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Ketua Umum tadi, masalah PPh Final, masalah DIRE, masalah BPHTB yang ini juga akan terus kita kalkulasi agar semuanya meringankan, yang pada akhirnya rumah-rumah akan dibangun sebanyak-banyaknya untuk masyarakat.

Saya tahu bahwa di lapangan masih ada kendala, baik yang berupa perizinan, tata ruang, yang lain-lain, baik yang di pusat maupun yang di daerah. Tapi sekali lagi ini akan terus kita perbaiki, terus akan kita  benahi. Saya telah banyak menerima laporan dari berbagai pihak. Bahkan juga saya mencari tahu sendiri kondisi nyata yang ada di lapangan. Di sini saya ingin menyampaikan bahwa ketika ada masalah di lapangan tolong langsung dilaporkan dan bersama-sama kita carikan solusinya. Apalagi itu kalau menyangkut rumah MBR.

Pemerintah selalu terbuka untuk mendapatkan masukan yang konstruktif dan berdialog dalam rangka orientasinya adalah mencari solusi. Datang ke menteri. Saya kira menteri-menteri kita yang sekarang gampang dicari. Tapi kalau masih sulit, langsung sampaikan kepada saya. Tadi bisik-bisik Pak Eddy menyampaikan,  gampang kok, Pak. Ya berarti enggak usah ke saya.

Karena itu saya menghargai, saya mengapresiasi Munas REI XV tahun 2016 ini yang konsepnya adalah dialog dengan pemerintah, bersama-sama mencari solusi. Tradisi dialog seperti ini sangat bagus sekali dan sesuai dengan nilai-nilai Ke-Indonesia-an kita. Jangan sampai kita hanya mengeluh terus di media sosial tapi tidak mau berdialog mencari solusi.

Terakhir, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya nyatakan Musywarah Nasional (Munas) REI XV Tahun 2016 resmi dibuka.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Transkrip Pidato Terbaru