Sambutan Presiden Joko Widodo dalam Munas Alim Ulama dan Rapimnas I PPP Tahun 2016 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 13 November 2016

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 November 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 7.573 Kali

imageAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati, yang saya muliakan para alim ulama,

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja yang hadir,

Yang saya hormati Ketua Umum PPP beserta seluruh jajaran pengurus pusat PPP dan pengurus DPW yang pada siang ini hadir,

Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Hari ini saya gembira bisa bersilaturahim lagi dengan keluarga besar PPP, dengan para alim ulama. Saya kira tadi sudah disampaikan banyak sekali oleh Ketua Umum PPP Bapak Romy. Sebagian besar sebetulnya ingin saya sampaikan. Jadi saya mengambil yang belum tadi disampaikan.

Yang pertama, saya ingin mengingatkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa besar, negara besar. Penduduk kita adalah nomor 4 terbesar di dunia. Juga perlu kita ingatkan, kita memiliki 17.000 pulau. 17.000 pulau. Dua per tiga negara kita adalah air, adalah samudera.

Inilah karunia yang diberikan Allah kepada kita sebagai bangsa yang besar. Geografisnya berada di tengah-tengah Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sumber daya alamnya, saya kira saya tidak ingin bercerita banyak, dari yang gas, minyak, minerba, barang tambang, semuanya ada. Hutan, kayu, semuanya ada. Kesuburan, kita tidak, sudah tidak juga saya sebutkan lagi. Tanah di negara kita, tanah air kita tanah yang sangat subur. Sejarah kalau kita lihat, dari mulai Sriwijaya, Majapahit yang kemudian Kerajaan Islam Samudera Pasai, Kerajaan Demak.

Inilah yang membuktikan bahwa negara kita adalah negara besar. Kekuatan sebagai alat pemersatu bangsa kita adalah Pancasila sebagai ideologi. Sistem ketatanegaraan kita menghargai, memberikan jaminan, menjamin kita untuk menyampaikan aspirasi, menyampaikan pendapat. Kita juga menghargai adanya kebhinnekaan, kemajemukan karena memang bangsa kita adalah beragam, adalah majemuk.

Kalau kita sudah berpakaian dari beberapa daerah, kelihatan sekali betapa kita ini memang berbeda-beda. Bahasa lokal kita, kalau informasi yang saya terima ada 340, tetapi saya mendapatkan informasi lagi ada 646 bahasa lokal. Suku, kalau informasi yang saya terima kira-kira ada 700. Tetapi informasi terakhir, data yang saya dapat ada 1.128. Betapa banyaknya, betapa beragamnya kita ini. Betul-betul beragam. Inilah anugerah yang diberikan Allah kepada kita untuk kita kelola secara baik.

Oleh sebab itu, saya sebagai Presiden, sebagai Kepala Negara, dan kita bersama-sama ingin agar persatuan, kebersamaan di antara kita ini betul-betul kita jaga. Kita bersama-sama menjaga agar prinsip-pinsip yang ada di dalam Pancasila betul-betul tetap utuh.

Mengenai demo yang tanggal 4 kemarin, saya sangat mengerti sekali, saya sangat mengerti sekali, niatnya baik, niatnya sangat baik. Tetapi pada kesempatan yang baik ini saya juga ingin mengingatkan kita, proses mengenai Jakarta sudah pada proses wilayah hukum. Sudah diproses oleh hukum sebelum demo itu terjadi. Saksi-saksi sudah dipanggil, saksi ahli sudah dimintai pendapat.

Dan sudah berkali-kali saya sampaikan, saya tidak akan intervensi apapun terhadap proses hukum itu. Begitu saya intervensi, setiap hal apapun pasti larinya ke saya untuk ikut-ikutan. Iya, pasti. Sehingga saya betul-betul menjaga itu. Dan proses hukum ini masih berjalan. Jadi, sabar. Sabar.

Sehingga saya perlu mengingatkan kembali mengenai kebersamaan kita sebagai bangsa. Perlu mengingatkan ini. Yang mayoritas saya ajak untuk melindungi yang minoritas. Tapi yang minoritas juga mau menghormati, menghargai yang mayoritas. Saling menghargai, saling menghormati. Itu yang terus saya ingatkan. Dan akan terus saya ingatkan.

Kalau kita lihat coba di dalam 1 bulan ini, 2 minggu ini, 3 minggu ini, 1 minggu ini, coba Bapak/Ibu semuanya buka di media sosial, isinya saling menghujat, saling mengejek, saling memaki, fitnah, adu domba, provokasi. Ajaran Nabi adalah kelembutan, akhlak kelembutan, akhakul qarimah, bukan yang tadi saya sebutkan.

Oleh sebab itu saya mengajak Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian untuk mendingingkan suasana, terutama di media sosial ini. Memberikan rasa kesejukan. Gunakan media sosial untuk syiar, untuk dakwah, ajaklah kesana.

Saya kadang-kadang kalau di media sosial pilih yang lucu-lucu untuk hiburan pikiran. Kalau yang baca yang sudah dengan kata-kata yang seram, ada yang bunuh, ada yang bantai, ini apa ini? Kita itu mau kemana?

Itu bukan tata nilai Islami, itu bukan tata nilai bangsa Indonesia. Ini akan merusak karakter kita, merusak identitas kita, merusak jati diri kita sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Selalu saya sampaikan setiap konferensi besar apapun, baik di G20, di APEC, di ASEAN selalu kata-kata ini saya pakai sebagai pembuka. “Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ingin menyampaikan: 1, 2, 3, 4, 5.” Selalu saya gunakan itu untuk mengingatkan negara-negara yang lain bahwa kita negara besar, negara dengan penduduk muslim terbesar. Dan di Indonesia Islam dan demokrasi bisa berjalan beriringan, bisa berjalan dengan baik. Keberagaman bisa kita tunjukkan berjalan dengan baik.

Inilah hal-hal yang pada sore hari ini perlu saya mengingatkan pada kita semua, termasuk pada saya, bahwa kita memang sangat beragam. Sangat beragam.

Saya kadang-kadang kalau ke daerah ingin membuka itu dengan bahasa daerah. Saya membaca saja masih banyak yang tertawa, kadang keliru. Yang saya hapal Jawa Barat, sampurasun, itu saya ngerti, hapal. Tapi yang lain sulit sekali untuk menyampaikan, padahal saya tinggal membaca. Ini memang berbeda-beda.

Jadi apa yang sudah tadi disampaikan oleh Bapak Ketua Umum PPP saya kira sesuatu yang harus kita laksanakan bersama-sama agar negara kita menjadi semakin baik. Dan kita menggunakan energi kita, energi kolektif kita, energi kebersamaan kita, energi persatuan kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang betul-betul mendasar, yang menjadi tantangan bangsa kita ke depan. Baik yang berupa kemiskinan, ketimpangan kaya dan miskin, pengangguran. Saya kira tantangan kita ada di situ.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi terima kasih atas undangan yang diberikan kepada saya pada sore hari ini dalam Munas Alim Ulama dan Rapimnas Pertama Partai Persatuan Pembangunan

Dan saya mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang, ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Bapak/Ibu bisa sampaikan kepada Bapak Ketua Umum untuk disampaikan kepada saya, untuk dibisikkan kepada saya. Jangan terlambat. Saya hanya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.

Saya tutup,

Terima kasih,

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru