Sambutan Presiden Joko Widodo dalam Peresmian Pusat Logistik Berikat, Cakung, Jakarta, Kamis, 10 Maret 2016 Pukul 10.00 WIB

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Maret 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 6.900 Kali
Logo-Pidato2Bismillahirahmanirahim, Assalamualaikum Warrahmatullahi wabarakatuh, Para Menteri Kabinet Kerja, para pengusaha Logistik Berikat, Dirjen Pajak, segenap pimpinan Bea Cukai, hadirin dan tamu undangan yang saya hormati.
Dunia sekarang ini berubah semakin ekstrem. Semakin ekstrem, semakin kompleks, semakin cepat. Kompetisi, persaingan sekarang menjadi realitas kita sehari-hari. Bukan hanya individu-individu, bukan hanya perusahaan dengan perusahaan, bukan hanya kota dengan kota, provinsi dengan provinsi, tetapi sudah negara dengan negara realitas kompetisi itu.
Setiap detik, setiap menit, setiap jam kompetisi itu kita hadapi dan kita tidak bisa keluar lagi dan mengatakan tidak dengan kompetisi. Sudah tidak ada waktu lagi. Semuanya harus dihadapi. Dihadapi dengan apa, dihadapi dengan kerja keras, dihadapi dengan membangun sistem yang lebih efisien, termasuk pada hari ini yang berkaitan dengan Pusat Logistik Berikat.
Kenapa kita harus merubah semuanya dengan cepat. Karena kalau tidak, saya pastikan kita akan ditinggal. Kita akan menjadi negara yang tertinggal, ditinggal dan tertinggal. Satu setengah tahun yang lalu misalnya, saya melihat perizinan yang sangat bertele-tele. Lama, bertele-tele, dari meja ke meja, dari kementerian ke kementerian. Kalau seperti itu diterus-teruskan jangan harap kita masuk ke era persaingan sekarang ini. Lupakan.
Saya sampaikan kepada seluruh menteri, lupakan jika kita terus seperti itu. Urus izin bukan pakai hitungan bulan, sudah tahun. Bayangkan negara yang lain izin-izin itu cepet-cepet, hanya urusan jam, urusan hari. Kita masih urusan bulan, urusan tahun. Artinya sistemnya belum, sistem cepat itu belum dibangun.
Ini kita mengurus izin di BKPM, bukan hanya di BKPM saja. Setelah ke sana kita harus ke kementerian, ganti ke kementerian yang lain, ganti ke kementerian yang lain. Apa ini mau diterus-teruskan? Saya sampaikan saat itu, saya beri waktu 6 bulan untuk menyelesaikan ini urus-urusan izin. 4 bulan setelah itu sampaikan ke saya.
Dulu urus izin bisa 6 bulan, bisa 8 bulan, bisa setahun. Bapak ibu tahu semuanya,tergantung berapa yang diberikan. Empat bulan setelah itu saya minta seluruh kementerian berikan yang namanya izin-izin ke BKPM. Empat bulan datang ke saya, Pak sekarang sudah bisa satu minggu. Saya tidak mau urusannya minggu, saya minta urusan seperti itu jam bukan minggu.
Dua bulan, tiga bulan setelah itu datang lagi ke saya, Pak sekarang sudah bisa 3 jam untuk 8 izin. Bukan hanya satu izin tetapi delapan izin.
Nanti bisa dicoba, investor, investasi yang ingin membuka investasi baru silakan dibuktikan. Karena saya sudah suruh beberapa pengusaha cek, bener ndak. Kembali ke saya, betul Pak sudah tiga jam untuk 8 perizinan.
Ini baru yang namanya proses-proses cepat, pelayanan cepat dan nanti akan memberikan efisiensi kepada negara. Tiga jam untuk delapan izin, bukan satu izin lagi. Semua kementerian, 21 kementerian sudah menyerahkan izinnya ke BKPM.
Dulu didorong-dorong sulitnya setengah mati. Kenapa sulit? Bapak/Ibu tahu semuanya karena di situ ada kue. Kita blak-blakan saja. Bener kan. Ada kuenya. Masak belum mau diserahin, pikir. Pola-pola lama seperti itu, cara berpikir seperti itu yang mau kita ubah, itu yang mau kita ganti.
Juga yang kedua yang berkaitan dengan dwelling time. Saya datang, cek berapa hari, enam sampai tujuh hari. Pada saat ini saya datang, berapa izinnya Singapura, hanya satu hari. Berapa Malaysia, dua hari. Kita tujuh hari. Mau bersaing dari mana? Mau bersaing dari mana kalau kita terus-teruskan seperti itu.
Saya datang ke Tanjung Priok, jelas-jelasin di monitor tv. Saya sampaikan saya, tidak usah sampaikan seperti itu. Saya 23 tahun hidup di pelabuhan ngurus ekspor, ngurus impor. Enggak usah jelasin. Saya tanya berapa hari sekarang dwelling time, tidak bisa jawab. Saya beri waktu 4 bulan harus bisa di bawah 5 hari. Kan permintaan saya juga masih wajar minta 5 hari. Saya tungu 6 bulan, tidak bergerak sama sekali. Akhirnya ada menteri yang saya ganti, saya copot. Itu masalh dwelling time.
Januari kemarin saya perintahkan ke menteri lagi. Saya cek, sudah Januari 4,7. Ya oke, berarti sudah di bawah 5. Tapi saya enggak mau. Kalau negara lain bisa, Indonesia juga harus mampu, harus bisa. Kuncinya gampang. Sudah kopi saja. Merek apakai sistem apa, mereka pakai cara apa, di-copy persis saja di sini. Kenapa kita tidak bisa melakukan? Pinter, orang-orang kita pintar, enggak kalah pinter.
Tidak. Saya sampaikan dan saya ingin betul-betul mendekati angka yang saya inginkan. Harus mendekati kurang sedikit. Saya bilang kalau ini bulan depan saya kira sudah bisa masuk angka tiga. Insyaallah sudah masuk ke angka 3. Sehingga efisiensi itu semakin kelihatan.
Dan akan saya pantau terus, akan saya tambah terus. Saya tahu, jangan ada korban lagi itu masalah dwelling time. Tidak perlu ada korban lagi.
Saya ingatkan sekali lagi, semakin ekstrem. Persaingan semakin ekstrem, semakin ketat, semakin kompleks. Kalau tidak kita hadapi dengan serius, tidak kita hadapi dengan perubahan sistem kecepatan pelayanan, sekali lagi, ditinggal kita. Tadi sudah disampaikan pak Menteri Keuangan mengenai insentif fiskal di Pusat Logistik Berikat yang menyangkut penangguhan bea masuk, pembebasan cukai, tidak dipungut pajak dalam rangka impor untuk  barang-barang impor.
Sangat lucu sekali. Negara-negara Asean, PDB negara ASEAN itu 45 % ada di Indonesia. PDB nya juga 45 persen paling besar kita di Indonesia. Konsumsi juga kita yang paling gede, cuma belum 45 persen. Tapi coba, kita mau beli kapas saja harus pergi ke negara lain. Apa-apaan.
Saya bilang tidak. Produksinya di sini, gudangnya ada di negara lain. Tidak bisa. Saya tanya ke Menteri Keuangan saat itu, ke Dirjen Bea Cukai, endak, enggak bisa diterus-teruskan seperti itu. Kita akan kehabisan ongkos.
Dan memang bener, biaya logistik kita, biaya transportasi kita ini yang memberatkan negara ini, 2-2,5 kali lipat dari Singapura dan Malaysia. Enggak, enggak bisa. Harus setop itu. Kenapa kita fokus pada insfrastruktur, karena itu. Kita ingin biaya logistik, kita ingin biaya transportasi kita nanti semuanya sama, mendekati negara-negara tetangga.
Kalau yang kecil seperti ini tidak diuruskan jangan bermimpi kita bisa bersaing. Jangan bermimpi kita bisa kompetisi. Tidak logis. Produksi ada di sini, kegiatan ada di sini, tekstil produksi ada di sini, jelas ada di sini, ngambil kapasnya ke sana. Loh loh loh loh, mau diteruskan, tidak. Kalau saya ditanya, tidak.
Lakukan apapun,bawa yang namanya logistik-logistik yang tadi saya sampaikan bawa ke negara kita. Sehingga Pusat Logistik Berikat seperti di Cakung harus ada di semua pulau, ada di semua provinsi, ada di semua daerah. Sehingga kita menjadi semakin efisien.
Dan saya gembira saat ini telah siap, berapa sebelas, sebelas Pusat Logistik Berikat ada di Balikpapan, ada di Cakung, ada di Denpasar, dan kota-kota yang lain, di Karawang, di Cikarang. Dan saya berharap para pengusaha PLB nanti, segera ini, segera dan mampu kegiatan penimbunan barang impor maupun ekspor yang semula dilakukan di luar Indonesia. Segera tarik ke sini. Yang kedua, tadi sudah saya sampaikan, menurunkan dwelling time di pelabuhan. Kemudian memangkas biaya-biaya penimbunan diluar negeri dan trip cost harus dilakukan.
Kemudian memangkas biaya penelusuran teknis di luar negeri, mendekatkan bahan baku dengan industri juga saya sampaikan. Tidak ada cara yang lain.
Bapak/Ibu dan saudara sekalian,
Di era kompetisi sekarang ini, era kecepatan kerja, era percepatan pembangunan marilah kita bersama-sama menjadikan Pusat Logistik Berikat sebagai pusat logistik ini untuk seluruh Indonesia, untuk Asia dan Pasifik ada di Indonesia. Dan dengan mengucap bismillahirahmanirahim PLB dengan ini saya nyatakan diresmikan. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Transkrip Pidato Terbaru