Sambutan Presiden Joko Widodo Dalam Silaturahim Dengan Pemenang Adhikarya Pangan Nusantara (APN), di Istana Negara, Jakarta, 16 Januari 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 16 Januari 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 115.555 Kali

Assalammualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,
Mohon maaf, ada urusan yang mutar-mutar sehingga tadi saya telepon Pak Menko, Pak Menteri Pertanian, Pak Menteri PU, tolong saya digantikan terlebih dahulu barang setengah jam-satu jam, dan alhamdulilah sudah, sekarang ketemu.

Yang saya hormati, Bapak Ibu semuanya, Kepala Desa, peneliti, kelompok tani, juru dan mantri irigasi, apa lagi yang belum? Pelopor, pengamat apa lagi yg blm? Nanti ada yang ga disebut, protes.

Ini memenuhi janji saya dulu di Subang. Saat itu memang saya tidak berpikir karena Pak Menteri Pertanian, “Pak, nanti kita ini aja semuanya kita kumpulkan di lapangan, di dekat sawah. Saya langsung setuju”. Saya tuh kalau lapangan dan tempat-tempat yang berkaitan dengan kegiatan program itu saya senang, jangan sampai di gedung, di ruangan. Ternyata keliru saya, ternyata Bapak dan Ibu sekalian ingin ke Istana Negara. Jadi waktu pertama kali diumumkan Bapak Menteri Pertanian, ini kok uuu..uuu… Tiga kali a..u..a..u.., ini kok apa? Saya pikir bener ini, masa petani setiap hari di sawah diajak ke sawah lagi, mau ke istana dibatalkan. Istana Negara seperti ini, nanti bisa foto-foto di depan. Kalau ke sini kepala negara dari manca negara, Bupati, Walikota senangnya bisa foto di depan istana, nanti pulang kan bisa ditunju-tunjukin, saya ngerti aja.

Bapak Ibu sekalian yang saya hormati, jadi saya melihat sekarang ini gerakan di sektor petanian kita luar biasa. Pak Menteri Pertanian nggak pernah ada di kantor. Kalau rapat pamit saya terus, “Pak saya pamit. Saya ada di Kalimantan, saya ada di Sulawesi, saya ada di Sumatera, saya  ada di Jawa Timur, Jawa Tengah Jawa Barat.” Memang yang betul seperti itu, menteri jangan diam di kantor, nggak ngerti dong permasalahan kalau nggak ke lapangan. Benar nggak?

Kalau Menteri PU juga sama, ngukur-ngukur jalan, ngecek irigasi, bendungan, cek jalan tol, kerjanya gitu. Jangan malah tekan teken di dalam kantor, nanti kualitas proyeknya gubrah semuanya, jelek gimana.

Dan target-target yang diberikan Menteri Pertanian di provinsi, kabupaten, kota jelas. Jawa Barat naik berapa juta ton? Jelas. Jawa Barat 2 juta, Jawa Timur 2 juta. Saya yang nulis-nulis saja, awas kalau tidak tercapai, itu saja. Iya kan? Masa saya ikut ngejar-ngejar? Itu tugasnya Pak Menteri. Dua juta, minta apa? Pak, minta tambah traktor? Sudah beri, benih dan pupuk harus tepat waktu.

Dulu memang tidak tepat waktu, karena apa? Benih dan pupuk harus lelang, lelang butuh waktu dua bulan. Pas lelangnya rampung sudah panen, ini kejadian seperti itu diulang-ulang sehingga kemarin Perpres sudah kita ubah. Sudah, sekarang benih dan pupuk tidak udah pakai lelang, langsung bisa tunjuk langsung sampai ke petani sehingga tepat waktu. Karena serapan untuk benih, berapa Pak? Hanya 20% coba, yang 80% gak terkirim. Gimana kita mau swasembada?

Problem-problem lapangan seperti itu yang sekarang ini betul-betul teridentifikasi dan kita kuasai betul. Saya lihat saluran-saluran irigasi hampir di semua provinsi lebih dari 50 % rusak semuanya. Ada yang bilang, “Pak, ini sudah 30 tahun nggak diapa-apain.” Airnya nggak mungkin sampai ke sawah 100%, problem ini yang ingin kita selesaikan. Waduk ngga pernah dibangun, berapa puluh tahun kita ngga pernah bangun waduk. Gimana sawah mau dapat air kalau gak bangun waduk? Dimulai dari bangun waduk.

Kemarin sudah kita hitung-hitung, kita tentukan keperluan kita 30 waduk kita bangun. Kumpulkan Bupati, Walikota, Gubernur, semuanya minta tambahan waduk akhirnya tidak 30 tapi 49 semuanya senang waduk. Bagus..bagus… Tapi kalau sudah kita beri waduk, targetmu apa? Jelas, kalau ndak, panggil pasti. Saya mintai pertanggungjawab, itu uang negara uang rakyat.

Saya meyakini, Insya Allah, dengan cara-cara kerja yang sedang kita lakukan untuk bangun irigasi, bangun benih dan pupuk terus , terus,  terus. Target saya tiga tahun harus sudah swasembada tapi saya yakin belum tiga tahun insya Allah sudah selesai. Kita negara agraris kok impor beras?

Coba, saya waktu ketemu kepala negara di Asean Summit, ketemu Kepala Negara Vietnam tanya ke saya, “Presiden Jokowi, beli berasnya lagi kapan?” Malu nggak? Ketemu, yang ditanyakan beli berasnya kapan.

Nanti setelah dua tiga tahun yang akan datang, kita harus bisa berani membalikkan keadaan. Siapa yang butuh beras, silakan ke Indonesia, harus seperti itu. Saya yakin, insya Allah nggak ada masalah. Coba nanti dilihat, diteruskan dengan jagung, gula, kedelai, semuanya terus. Kalau kerjanya sepeti ini, dukungan dari bapak ibu semuanya mendukung, saya yakin tidak ada masalah.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, terima kasih atas kehadirannya. Yamg paling penting kalau saya janji saya tepati, saya bilang Januari ya Januari. Ngak mau ada yang bisik-bisik di belakang saya, “Hanya janji saja, nggak diundang ke istana.” Repot saya nanti.

Terima kasih.
Wassalamualikum Wr. Wb.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru