Sambutan Presiden Joko Widodo pada Penyerahan Sertifikat Hak Tanah Wakaf, 21 Mei 2018, di Masjid Jamiatul Huda Ketaping Bypass, Padang Sumatra Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 21 Mei 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.369 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para ulama yang hadir pada siang hari ini,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, Pak Gubernur beserta Pak Bupati, Wali Kota yang hadir,
Serta Bapak-Ibu sekalian seluruh penerima sertifikat, baik sertifikat itu untuk madrasah, untuk pondok pesantren, untuk masjid, untuk surau, dan tanah-tanah wakaf yang lainnya.

Pertama, ingin saya sampaikan bahwa kenapa saya memerintahkan kepada Menteri BPN untuk menyelesaikan sertifikat-sertifikat, baik itu untuk masjid, musala, surau, pondok pesantren, madrasah. Karena setiap saya turun ke bawah, ke daerah, ke kampung, ke desa, sering sekali saya mendengar bahwa masjid, musala, surau, maupun pondok pesantren banyak yang belum bersertifikat. Beberapa di antaranya mengeluh pada saya, ada sengketa, ada sengketa lahan. Oleh sebab itu, saya perintahkan kepada Menteri BPN saat itu, untuk segera diselesaikan sertifikatnya.

Alhamdulillah pada siang hari ini telah diserahterimakan pada Bapak-Ibu sekalian sebanyak 510 (lima ratus sepuluh) sertifikat. Alhamdulillah bisa diselesaikan di Sumatra Barat ini. Ini baru sebagian kecil tetapi paling tidak sudah kita mulai. Sehingga dengan sertifikat, tanda bukti hak hukum atas tanah yang dimiliki oleh masjid, musala, surau, pondok, maupun madrasah, dan yang lain-lainnya kita harapkan yang namanya sengketa lahan, sengketa tanah itu sudah tidak ada lagi karena tanda bukti hak hukum atas tanah itu sudah diberikan kepada Bapak-Ibu sekalian.

Yang kedua, ini mumpung pas bertemu pada siang hari yang berbahagia ini, saya juga ingin menyampaikan beberapa isu-isu yang ada di bawah. Ini tidak hanya di Sumatra Barat saja tapi di provinsi yang lain juga sama. Ada isu-isu yang mau tidak mau harus saya jawab karena mengenai diri saya.

Yang pertama, ada yang menyampaikan bahwa Presiden Jokowi itu PKI. Ada yang menyampaikan seperti itu. Bahkan waktu saya ke pondok ada pimpinan pondok menyampaikan kepada saya, “Pak Presiden saya ingin berbicara 4 (empat) mata.” Saya kaget, apa ini. Setelah sampai di ruangan, beliau, Pak Kyai bertanya langsung kepada saya, apakah benar informasi seperti ini. Saya sampaikan pada saat itu, “Pak Kyai, mohon maaf, PKI itu dibubarkan tahun ’65, saya lahir ’61, umur saya baru 3,5 (tiga setengah) tahun. Masa ada PKI balita?

Tapi ada yang termakan oleh isu-isu itu. Kemudian larinya ke yang lain lagi, orang tuanya, orang tuanya Presiden Jokowi. Silakan ditanyakan, yang namanya Muhammadiyah, yang namanya NU, yang namanya Persis, yang namanya Parmusi, yang namanya Perti, yang namanya Al Irsyad, dan ormas Islam yang ada semuanya ada cabangnya di kota Solo. Tanyakan ke masjid di dekat rumah saya, tanyakan saja, siapa orang tua saya, siapa kakek nenek saya. Ditanyakan langsung di situ. Gampang sekali, sekarang zamannya terbuka.

Tapi bahwa isu-isu seperti ini harus diluruskan. Ini saya harus berbicara. Saya enggak mau ini nanti menjadi berkembang, berkembang, dan menjadi sesuatu yang tidak baik.

Yang kedua, ada lagi, Presiden Jokowi itu anaknya Oey Hong Liong, orang Singapura, Tionghoa dari Singapura. Bapak-ibu saya itu orang desa. Bapak saya dari Kabupaten Karanganyar, dari desa, dan ibu saya juga dari Kabupaten Boyolali, orang desa juga. Orang desa. Saya ini bukan elite politik. Saya itu dari kampung, dari daerah, bukan dari Jakarta saya ini.

Jadi kalau isu-isu seperti itu terus-terus dikembangkan, kita ini nanti tidak bisa konsentrasi bekerja dengan baik, tidak fokus bekerja dengan baik, hanya membantah isu-isu yang seperti itu. Tapi kalau tidak saya sampaikan ya nanti menjadi berkembang kemana-mana.

Jangan sampai kita ini su’ul tafahum, gampang curiga, gampang berprasangka jelek, gampang berprasangka tidak baik. Harusnya kita menjaga ukhuwah islamiyah kita dan sesama saudara sebangsa dan setanah air menjaga ukhuwah wathaniyah kita. Mestinya kita ini khusnul tafahum. Selalu berprasangka yang baik, jangan sampai berprasangka buruk. Berpikiran penuh dengan kecintaan terhadap apapun. Kalau kita berpikirnya itu, enak.

Tapi memang kadang-kadang jahatnya berpolitik di situ. Saya tahu jahatnya politik di situ. Mumpung pas bertemu, kesempatan ini saya gunakan untuk menyampaikan, tapi kalau masih ada dari Bapak-Ibu sekalian ingin bertanya lagi lebih detail silakan sekarang. Saya jawab blak-blakan, saya inginnya blak-blakan saja. Tanya apa, “Pak ini…”, saya akan jawab blak-blakan. Jangan sampai nanti menjadi sebuah isu yang menurut saya akan tidak baik untuk masyarakat.

Perlu juga saya mengingatkan kepada kita semua, Indonesia, negara kita ini negara besar. Kita sekarang telah memiliki 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta penduduk di Indonesia ini. Yang tersebar di 17.000 (tujuh belas ribu) pulau, di 514 (lima ratus empat belas) kabupaten dan kota. Kita memiliki 714 (tujuh ratus empat belas) suku yang berbeda beda, berbeda agama, berbeda akidah, berbeda adat, berbeda tradisi, beda-beda semuanya.

Inilah yang ingin selalu saya sampaikan kepada seluruh masyarakat. Marilah kita bersama-sama menjaga persaudaraan kita, menjaga ukhuwah islamiyah kita, menjaga ukhuwah wathaniyah kita. Karena, sekali lagi, kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Di Sumatra Barat ini kita juga baru menyelesaikan beberapa pembangunan-pembangunan yang tadi juga sudah disampaikan oleh Pak Gubernur. Tadi baru saja kita meresmikan kereta bandara dari airport menuju ke kota Padang. Kemudian juga dalam proses membangun lagi terminal Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang sekarang daya tampungnya sudah penuh, 2,7 (dua koma tujuh) juta per tahun. Insyaallah nanti akhir tahun depan akan kita selesaikan menjadi 5,7 (lima koma tujuh) juta penumpang yang bisa ditampung di sana. Artinya terminal ini memang harus dibesarkan.

Kemudian juga dalam rangka membangun dunia pariwisata di Sumatra Barat ini, kita juga membangun jalan menuju ke Mandeh. Kita harapkan nanti ini juga menjadi sebuah tempat wisata yang sangat bagus. Saya pernah kesana, memang pemandangannya sangat bagus tapi infrastruktur jalannya belum ada sehingga mau tidak mau harus kita bangun. Jalan tol juga baru saja kita mulai tetapi juga ini masih menunggu. Agak lama kalau jalan tolnya, menuju dari Padang ke Pekanbaru.

Dan kita harapkan kalau infrastruktur ini selesai pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat, meskipun sekarang pertumbuhannya juga cukup baik, tetapi kita harapkan dengan pembangunan infrastruktur itu pertumbuhan ekonominya akan lebih baik lagi.

Dan kedepan, tahapan besar yang ingin kita bangun adalah pembangunan sumber daya manusia. Yang kita harapkan nantinya bukan hanya urusan fisik tetapi urusan yang berkaitan dengan sumber daya manusia baik karakter SDM kita, budi pekerti, yang berkaitan dengan akhlak, yang berkaitan dengan produktivitas, kedisiplinan saya kira memang ini harus kita bangun di seluruh tanah air.

Saya rasa itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi saya mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati Ibu dan Bapak sekalian dalam saya tadi menyampaikan.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru