Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Haul K.H. Abdurrahman Wahid ke-7 dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 23 Desember 2016, di Ciganjur, Jakarta Selatan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 24 Desember 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 6.929 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirabbil’alamin, washalatu wasalamu ala asrafil ambiyai wamursalin, sayyidina wa habibina wa syafi’ina wamaulana Muhammadin, wa’alaalihi washahbihi ajmain,

Amma ba’du.

Yang saya hormati Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid beserta keluarga besar Gus Dur,
Yang saya hormati Bapak Boediono,
Yang saya hormati Yang Mulia pada ulama, para kyai sepuh, para kyai, ibu nyai, para ustaz, dan seluruh pemimpin agama dan para pimpinan pondok pesantren yang hadir,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri yang pada malam hari ini hadir,
Hadirin-hadirat yang saya hormati, yang berbahagia, utamanya yang berada jauh dari sini yaitu di masjid dan di lapangan, karena yang banyak justru yang ada di lapangan.

Saya ingat pada hari Kamis tanggal 26 September 2013 di Wahid Institute, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid memberikan peci yang biasa dipakai Gus Dur kepada saya. Tadi pagi ada yang mengingatkan kepada saya untuk saya pakai tetapi karena saya simpan di Solo, waktunya tidak cukup untuk membawa kesini. Jadi tidak bisa saya pakai malam hari ini di hari haulnya Gus Dur. Nanti tahun depan insya Allah saya pakai.

Pada haul 7 tahun wafatnya Gus Dur pemberian peci itu menjadi pengingat-ingat buat saya, menjadi pengingat-ingat kita semua untuk selalu berusaha meneladani Gus Dur, meneladani ketulusan beliau yang menjaga silaturrahim, melampaui sekat-sekat primordial yang ada. Meneladani kesederhanaan beliau, meneladani kesukaleraan beliau dalam meneladani masyarakat, dan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara sampai akhir hayatnya.

Sikap hidup dan laku perjuangan Gus Dur itu sejalan dengan misi utama kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang menuntun manusia menuju akhlak mulia dan menebar rahmat bagi seluruh alam. Selama hidupnya Gus Dur selalu mengingatkan kita bahwa Negara Republik Indonesia adalah milik kita bersama, milik kita bersama, bukan milik golongan, bukan milik golongan, dan bukan milik perseorangan. Karena itu harus dikelola dengan konstitusi, dengan aturan konstitusi, bukan dengan yang lainnya.

Saya percaya Gus Dur pasti gemes, geregetan kalau melihat ada kelompok, sekelompok, atau orang-orang yang meremehkan konstitusi; yang mengabaikan kemajemukan kita; yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, dan terorisme. Dan akhir-akhir ini yang kita lihat terutama yang ada di media sosial maupun yang ada di dunia nyata, kita sudah lupa atau lalai atau tidak mengerti, tidak bisa membedakan mana yang kritik mana yang menghina, mana yang kritik mana yang menjelek-jelekkan, mana yang kritik mana yang menghasut, mana yang kritik mana yang menghujat, lupa semuanya kita. Mana yang kritik mana yang ujaran kebencian, mana yang kritik mana yang makar, tidak bisa membedakan kita sekarang ini. Benar ndak? Benar ndak?

Kalau ini kita terus-teruskan, energi besar kita habis untuk hal-hal yang tidak perlu. Bisa kita lupa strategi besar negara kita, lupa kita bagaimana mensejahterakan rakyat kita, lupa kita membangun strategi besar ekonomi negara, lupa kita membangun strategi besar industri kedepan untuk membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya bagi rakyat, lupa semuanya karena kita ribut, ribut, dan ribut. Kalau Alm. Gus Dur masih ada, ada yang memberitahu kita, kita ini masih kayak anak TK. Pasti digitukan oleh Gus Dur.

Padahal kita harusnya bersyukur, ketika banyak negara yang lain yang goyah mencari pedoman hidup kita mempunyai Pancasila. Ketika negara-negara lain kebingungan mencari panduan berbangsa dan bernegara kita mempunyai Pancasila. Seharusnya kita bisa membangun lebih cepat, bergerak lebih cepat, bergotong royong lebih cepat sehingga kita menjadi negara yang memenangkan persaingan. Agar kita menjadi bangsa yang berdaulat, bangsa yang mandiri, dan bangsa yang berkepribadian.

Ini sekarang hadir di sini 3 pasangan calon Gubernur DKI, hadir semuanya. Diabsen dulu, katanya tadi yang di sana minta diabsen. Silakan berdiri semuanya. Lha mbok ya begitu, yang rukun. Wong kita ini kan saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Persaudaraan itu yang diajarkan oleh Gus Dur.

Menurut saya, Gus Dur itu selalu optimis dalam memandang Indonesia kedepan, tidak kagetan, tidak gumunan, itu Gus Dur. Dan ketika mengambil keputusan yang rumit saya suka teringat kata-kata beliau “gitu saja kok repot”. Iya kan? Tadi saya dibisiki putri beliau Mbak Yenni, inspirasi dari ucapan itu adalah sebuah kaidah fiqih yassiru wa la tu’assiru, permudahlah dan jangan dipersulit. Kita ini sekarang ini yang mudah-mudah malah dipersulit, harusnya yang sulit-sulit dipermudah, jangan dibalik-balik. Benar ndak?

Saya tutup, terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru