Sambutan Presiden Joko Widodo pada Kongres Pancasila IX, di Halaman Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, 22 Juli 2017

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Juli 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.458 Kali

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om swastiastu namo buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Bapak Rektor UGM beserta seluruh jajaran pimpinan dan guru besar Universitas Gadjah Mada,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
Seluruh mahasiswa yang pada pagi hari ini hadir dan seluruh pelajar yang pada pagi hari ini hadir,
Hadirin yang berbahagia.

Memasuki halaman yang kita pakai untuk acara ini saya ingat, ingat apa? Ingat kalau pagi-pagi datang, kuliahnya belum dimulai saya belajarnya di bawah pohon di sebelah ini. Kalau enggak di tangga Balairung ini, ini di depan ini. Jadi kalau mau jadi Presiden belajarnya di situ, di tangga ini. Ini tangga keramat ini.

Kita tahu semuanya bahwa kampus UGM menjadi bagian penting dari perjuangan kemerdekaan negara kita Indonesia. Yang lebih penting dari itu, kita berkumpul di sini adalah untuk komitmen yang sama, untuk semangat yang sama yaitu semangat untuk memperkuat pancasila sebagai jiwa bangsa kita, memperkuat Pancasila sebagai jiwa raga kita, dan memperkuat Pancasila sebagai cara hidup berbangsa dan bernegara.

Bapak Rektor dan hadirin yang saya hormati,
Setiap saya bertemu dengan Kepala Negara, baik Presiden, Perdana Menteri, maupun Raja dari negara-negara lain selalu saya sampaikan bahwa Indonesia ini terdiri dari 17 ribu pulau, memiliki 714 suku yang berbeda-beda, yang beragam, memiliki 1.100 lebih bahasa lokal.

Mereka selalu bertanya balik kepada saya, bagaimana mengelolanya 17 ribu pulau itu, 714 suku itu, 1.100 bahasa lokal yang kita punya. Manajemennya seperti apa. Kemudian mereka bertanya, bagaimana bangsa ini bisa rukun, bisa bersatu sampai sekarang ini dengan bermacam-macam dan beragam suku seperti itu. Mereka juga bertanya kalau Presiden Jokowi pergi ke pulau itu, atau pergi ke sebuah provinsi, atau pergi ke sebuah daerah, apakah hapal bahasa-bahasa daerah semuanya? Ndak, saya enggak ngerti. Terus pakai bahasa apa? Saya sampaikan, memakai bahasa Indonesia, yang semua rakyat kita tahu dan mengetahui dan bisa berbahasa Indonesia.

Betul-betul mereka sangat kagum, sangat mengagumi bangsa kita Indonesia. 250 juta penduduk tetapi sampai saat ini dan insya Allah nanti sampai di hari akhir kita tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang paling berkesan saat saya berbicara dengan Presiden Afganistan, Dr. Ashraf Gani. Beliau wanti-wanti dan berpesan kepada saya, Presiden Jokowi hati-hati, negara Indonesia ini sangat besar, sangat beragam, majemuk, berbeda agama, berbeda suku, dan tersebar di 17 ribu pulau. Afganistan, dia bercerita, memiliki kekayaan alam yang hampir mirip-mirip dengan Indonesia. Mereka mempunyai ladang gas dan minyak, yang kata Presiden Ashraf Gani, yang terbesar yang belum dikelola. Memiliki tambang emas juga yang terbesar. Tetapi karena gesekan, karena konflik yang tidak dikelola, kemudian terjadi peperangan. Dua konflik, yang satu ngajak dari luar, yang satu ngajak dari luar, akhirnya terjadi peperangan. Sampai sekarang, beliau bercerita, sudah ada 40 faksi, 40 kelompok. Sehingga beliau membayangkan bagaimana negara kita 714 suku. Mereka hanya 1-2 suku, yang ada di negara lain 1,2,3,4,5 suku, kita 714 suku.

Inilah yang membuat mereka penasaran tentang kita. Bagaimana kita bisa membuat yang sangat majemuk, yang sangat bineka, yang sangat bermacam tersebut bersatu, bisa rukun, dan bisa damai.

Jawaban saya sederhana, karena Indonesia memiliki Pancasila. Sekali lagi, karena Indonesia memiliki Pancasila. Jangan melupakan ini.

Ilustrasi Afganistan tadi harus menjadi catatan kita. Harus menjadi catatan kita. Saat itu, Dr. Ashraf Gani, Presiden Afganistan juga meminta kita untuk mengirim delegasi menteri dan ulama-ulama untuk datang kesana, memberitahukan kepada kelompok-kelompok ini mengenai Indonesia atau mengundang mereka yang 40 kelompok itu datang ke Indonesia untuk melihat bagaimana rukunnya kita, bagaimana bersatunya kita. Kalau ada gesekan kecil-kecil segera dirukunkan. Kita ini ya biasa kok, namanya negara besar seperti kita, kalau ada gesekan kecil enggak apa-apa, tapi segera rukun kembali, segera bersatu kembali. Wajar dalam kehidupan sehari-hari kita ada gesekan-gesekan.

Sekali lagi, bahwa Pancasila itu bukan hanya kebanggaan negara kita Indonesia tetapi negara-negara lain mulai melihat kita.

Sekali lagi, kita harus belajar pengalaman buruk negara-negara lain yang dihantui konflik-konflik sosial, yang dihantui oleh perang saudara. Ini yang harus menjadi catatan kita semuanya. Alhamdulillah kita selalu terhindar dari masalah tersebut, kita bisa hidup rukun, bergotong royong untuk memajukan negeri ini bersama-sama. Dengan Pancasila, Indonesia kita harapkan nanti menjadi rujukan masyarakat internasional untuk membangun kehidupan yang damai, kehidupan yang adil, makmur di tengah kemajemukan dunia.

Hadirin yang saya hormati,
Semakin banyak saya bertemu dengan Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Raja di setiap konferensi, di setiap summit, di setiap KTT, saya melihat dan mungkin juga terutama anak-anak muda, sudah merasakan bahwa perubahan dunia yang sangat cepat ini sudah masuk ke jantung-jantung kita. Perubahan yang sangat cepat, perubahan yang sangat cepat.

Coba kita lihat, baru internet masuk sudah ganti mobile internet. Ini baru kita pelajari, sudah ganti lagi artificial intelligence. Coba buka Amazon, Alexa. Sekarang mau tanya masjid yang terdekat ada dimana, tanya ke Alexa saja pasti dijawab, datanglah ke jalan ini, tiga kilometer atau tiga setengah kilometer. Bertanya dimana restoran Padang, langsung ditunjukkan, datanglah ke jalan ini atau datanglah ke jalan ini alternatif kedua, saudara akan menemukan restoran Padang. Perubahan-perubahan cepat seperti ini harus kita sadari.

Elon Musk yang sudah berbicara masalah Tesla, mobil fantastic masa depan. Sudah berbicara hyperloop, memindahkan orang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepatnya. Sudah berbicara spaceX, bagaimana mengelola ruang angkasa untuk sebuah kehidupan. Sudah berbicara ke arah itu.

Pembayaran yang dulu dengan cash, ada sebagian yang sudah memakai kartu kredit, sekarang sudah mulai ditinggal di negara yang lain. Sudah ganti Paypal, sudah ganti Alipay.

Kita perkirakan nanti 5-10 tahun yang akan datang landscape ekonomi global maupun nasional maupun daerah, landscape politik global, nasional, maupun daerah sudah akan berubah.

Siapa yang mempengaruhi? Yang akan mempengaruhi adalah Generasi Y, Generasi Y. Siapa? Saudara, saudara, saudara, saudara, saudara semuanya. Yang akan masuk pasar, yang akan men-drive pasar, yang akan mempengaruhi pasar sehingga semuanya akan berubah. Karena saya yakin generasi-generasi ini sudah tidak baca koran lagi. Ada yang masih baca koran? 5-10 tahun lagi mungkin sudah tidak akan baca koran lagi. Sudah tidak akan melihat TV lagi. Pakainya smartphone, bacaannya ya online, ingin film ya netflix atau video, cari senangnya apa, atau mau main game ya di situ. Interaksinya ada di situ. Sehingga landscape politik, landscape ekonomi akan berubah. Inilah yang akan nanti men-drive dan mengemudikan, dan mempengaruhi pasar. Sehingga hati-hati.

Saya ingin agar seluruh rektor, seluruh guru besar, seluruh dosen-dosen menyadari ini, akan ada perubahan ini. Jangan sampai ini menggerus karakter bangsa kita. Kita harus siapkan sekarang karakter-karakter yang tidak akan tergerus oleh pengaruh-pengaruh komunikasi di dalam gawai, di dalam smartphone.

Oleh sebab itu, membekali anak-anak kita dengan Pancasila itu sangat-sangat penting sekali untuk memperkuat karakter bangsa Indonesia, sangat penting sekali. Kita bersyukur kita, sekali lagi, sudah punya Pancasila. Kita bersyukur bahwa komitmen kita berpancasila sudah bulat. Oleh karena itu, kita harus bangga berpancasila, kita harus berani bersuara lantang, saya Indonesia, saya Pancasila. Saya anak muda Indonesia, saya Pancasila. Saya mahasiswa, saya Pancasila.

(Dialog Presiden Joko Widodo dengan peserta Kongres Pancasila IX)

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini,
Saya tutup,
Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om shanti shanti shanti om.

Transkrip Pidato Terbaru