Sambutan Presiden Joko Widodo Pada pada Pembukaan Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Munas HIPMI) XV Tahun 2015, di Bandung, Jawa Barat, 12 Januari 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 Januari 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 122.027 Kali

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Pimpinan MPR, Bpk. Oesman Sapta Odang (Pak Oso),
Yang saya hormati seluruh Kabinet Kerja yang pada pagi hari ini hadir beberapa Menteri: Bu Menko Mba Puan, Bu Menteri KKP Bu Susi, Menteri Perindustrian Pak Saleh Husin, Menteri Perdagangan Pak Rahmat Gobel, Menteri Seskab Pak Andi Widjajanto, semuanya saya ajak untuk meramaikan Munas Hipmi,
Yang saya hormati Gubernur Jawa Barat beserta seluruh jajaran Forkominda,
Serta tentu saja Ketua Umum Hipmi beserta seluruh senior dan pembina, serta keluarga besar Hipmi dari Sabang sampai Merauke yang pada pagi hari ini hadir di Munas yang ke XV.

Saya tadi waktu masuk ke Bandung, isinya vertical banner dan spanduk– udah kayak pilpres. Di sini ada gambarnya Bayu, di sini ada gambarnya Bahlil, di sini ada gambarnya Bagus, ramai sekali. Hipmi memang dari tahun ke tahun kalau kita lihat di setiap munas ramai sekali, tetapi sekali lagi ramainya adalah ramai kekeluargaan. Ini bedanya Hipmi dengan yang lain-lain.

Tadi sudah disampaikan bahwa Presiden dan Wakil Presidennya yang sekarang itu berasal dari keluarga Hipmi. Banyak yang belum tahu, kalau saya sudah tahun 88, Pak JK tahun 80-an, tapi ndak di pusat, di Solo dan di Makassar.

Hari ini saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan ekonomi kita. Karena banyak yang menyampaikan, karena ini temanya ‘pengusaha muda menjawab tantangan global’, saya ingin menyampaikan karena setiap pertemuan di manapun, selalu pengusaha menyampaikan kekhawatirannya tahun ini kita akan buka, akan dibuka ASEAN Economics Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Semuanya masih menerka-nerka, semuanya masih meraba-raba kejadiannya akan seperti apa sehingga semuanya khawatir. Tetapi perlu saya sampaikan, setelah saya bertemu dengan pimpinan-pimpinan pemerintahan dan pemimpin negara-negara ASEAN, mereka semuanya juga takut karena tidak bisa memperkirakan, memprediksi apa nanti yang akan terjadi dengan dibukanya ASEAN Economics Community. Artinya apa? Ya Saudara-saudara tidak usah takut, wong mereka takut kok. Mereka juga takut dan yang paling ditakuti memang Indonesia.

Coba bayangkan, penduduk kita 250 juta terakhir yang saya terima, yang lain jumlahnya 24 juta, 15 juta, 70 juta. Mereka membayangkan begitu dibuka, mereka akan diserbu oleh pengusaha dari Indonesia yang banyak sekali. Bayangkan kalau kita menyerbu negara-negara yang lain. Apalagi yang menyerbu Hipmi, biasanya yang tukang nyerang dan nyerbu kan yang anak-anak muda. Begitu dibuka larinya paling kencang. Ya yang muda-muda ini kan, pengusaha muda ini biasanya keberaniannya didahulukan hitungannya nomor dua. Ya saya kan mengalami. Jadi nyerbu dulu, hitungan belakang. Dan nggak apa-apa, misalnya jatuh ya bangun lagi, jatuh ya bangun lagi, itu saja.

Artinya apa? Artinya sebetulnya Saudara-saudara semuanya, pengusaha tidak usah takut karena negara yang lain sudah grogi. Karena kita dianggap mempunyai kalau persentase, kalau persentase katakanlah persentase 10 persen saja, sudah 25 juta, kalau persentase 20 persen berarti 50 juta kita. Hampir satu negara atau dua negara dibandingkan jumlah penduduk yang ada di negara yang lain di ASEAN.

Yang paling penting menurut saya kesiapan kita ini memang harus betul-betul dirancang yang baik. Memang sebetulnya kesiapan-kesiapan itu mestinya sudah 10 tahun atau 8 tahun yang lalu, per tahun diproses, per tahun dicek, per tahun dikontrol sehingga kesiapan kita tahun ini sudah pada posisi kesiapan yang matang.

Tetapi menurut saya dengan kondisi yang ada sekarang kita juga ndak perlu khawatir dan takut-takut amat. Yang paling penting jangan sampai ada peluang-peluang yang ada di dalam negeri ini diambil oleh pengusaha dari luar yang masuk, harus diambil oleh kita terlebih dahulu. Kalau di sini sudah diamankan yang punya kesiapan langsung serbu ke negara yang lain.

Yang saya lihat, saya kemaren senang juga waktu ada Asian Summit di Myanmar, di Nay Pyi Taw ada di sana kontraktor kita yang menang tender, ada beberapa 1, 2, 3, 4. Artinya sudah ada di sana untuk jalan dan gedung. Ada juga pengusaha di sana yang dari kita sudah ada di sana usaha ternak ayam, peternakan ayam, sudah ada. Ada juga yang sudah membuat toko, “Pak kita sudah ada beberapa outlet toko”. Artinya, sebetulnya kita juga sudah mendahului jadi tidak usah terlalu ditakutkan yang namanya ASEAN Economics Community tetapi kita memang harus siap.

Bapak/Ibu dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Pagi hari ini saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan arah dan strategi pembangunan yang mungkin bisa dipakai sebagai pegangan untuk peluang mana yang akan dimasuki dari dunia usaha.

Setelah kemarin kita melakukan pengalihan subsidi BBM, ada sebuah ruang fiskal yang sangat besar di APBN kita, dan akan kita ajukan lagi di APBN perubahan (APBN-P) pada hari ini. Dan kelonggaran fiskal seperti itu akan kita fokuskan pada pembangunan infrastruktur secara cepat dengan pola yang memang berbeda.

Saya berikan contoh, tahun ini kita akan suntikkan Rp 48 triliun kepada BUMN kita tetapi BUMN yang sehat. Kalau dulu BUMN biasanya dibebani untuk setor deviden ke APBN, kalau sekarang mulai tahun ini pola kita adalah memberikan suntikan kepada BUMN. Kenapa seperti itu? Karena saya lihat, saya berikan contoh misalnya Pelindo membangun pelabuhan atau kayak yang Karya-karya (Wijaya Karya, Anindya Karya, Hutama Karya, atau Adhi Karya) yang biasa mengerjakan infrastruktur jalan, atau KAI yang mengerjakan kereta api, atau Angkasa Pura yang mengerjakan Airport, kita beri, misalnya kita beri Rp 10 triliun itu mereka bisa mengerjakan sebanyak Rp 50-70 triliun lapangannya. Kenapa seperti itu? Karena dengan ekuiti yang ada mereka bisa pinjam ke lembaga keuangan, ke perbankan dengan sebuah business plan, dengan sebuah feasibility study hitung-hitungannya jelas, karena memang untung. Pekerjaan-pekerjaan di bidang infrastruktur dan besar tentu saja kalau diajukan ke perbankan mereka akan memberikan.

Kalau uang Rp 10 triliun kita berikan kepada Kementerian, 10 jadinya juga 10. Inilah kecepatan yang ingin kita bangun dengan memanfaatkan BUMN sehingga kecepatan itu bisa 5-7 kali lipat dari yang kekuatan anggaran yang kita punyai. Sehingga BUMN tidak berada pada posisi diminta deviden tetapi justru diberikan suntikan untuk berkembang. Ini pola yang berbeda.

Ini hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan dasar memang harus dipenuhi terlebih dahulu, masalah pendidikan, kesehatan harus segera dikirimkan kepada masyarakat anggaran yang ada dalam waktu yang secepat-cepatnya lewat sistem kartu yang sudah beberapa kali kami sampaikan. Ini adalah kebutuhan dasar terutama untuk keluarga-keluarga yang tidak mampu. Tahun ini akan kita selesaikan masalah ini. Juga yang berkaitan dengan perumahan ini adalah kebutuhan dasar. Sehingga tadi pengalihan subsidi tadi kita utamakan dulu untuk pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang akan kita kerjakan pada tahun ini.

Kemudian dari ruang fiskal yang ada dari pengalihan subsidi pada November yang lalu, sebagian besar akan kita konsentrasikan kepada sektor unggulan, yaitu pertanian. Kenapa pertanian? Karena saya sampaikan berkali-kali bahwa dalam 3 tahun saya targetkan kepada Menteri Pertanian untuk bisa swasembada– tiga tahun tidak boleh lebih. Mungkin dimulai dengan beras, kemudian nanti jagung, kemudian gula, kemudian tahun berikut kedelai, terus daging, semuanya. Karena kalau kita lihat lapangannya sebetulnya kalau manajemen kebijakan dengan manajemen lapangan itu diproses, diawasi, diikuti, saya meyakini dalam tiga tahun kita akan kelimpahan yang namanya beras. Tidak ada impor lagi beras setelah 3 tahun. Saya meyakini itu, insya Allah.

Problemnya apa? Problemnya yang kemarin karena memang pupuk ini tidak diikuti, distribusi pupuk tidak diikuti. Benih, pemberian benih pada petani juga tidak diikuti, sehingga yang terserap hanya 20 persen, yang terserap hanya sebagian kecil dari itu. Sehingga problem di petani adalah pupuk dan benih.

Sebabnya apa? Karena pupuk dan benih harus lelang. Lelang butuh waktu 45 hari-60 hari, padahal yang namanya benih, yang namanya pupuk tidak bisa nunggu-nunggu seperti itu. Begitu hujan datang petani butuh benih untuk ditanam ya harus ada. Begitu sudah ditanam, butuh pupuk, pupuknya harus ada. Kalau nunggu lelang, lelangnya 60 hari, padinya sudah panen. Ini yang tidak pernah dilihat, hal-hal seperti itu.

Kan urusannya juga hanya urusan peraturan pengadaan barang dan jasa. Peraturan itu yang buat siapa? Kita sendiri. Saya kemarin saya lihat, “lho peraturannya kok seperti ini”, saya perintahkan kepada Menteri 3 hari rampungkan, diubah untuk benih dan pupuk tidak usah pakai lelang, bisa langsung penunjukan, lewat perpres. Tiga hari diberikan ke saya, saya tanda tangani, sudah. Hal-hal yang simple seperti ini yang sekarang kita lakukan– benih, pupuk  sudah langsung. Berikan kepada petani secepatnya, pupuk berikan secepatnya kepada petani karena memang itu yang, kebutuhan-kebutuhan seperti itu yang harus cepat ditangani.

Dan kalau kita lihat juga irigasi. Irigasi hampir lebih dari 52 persen rusak semuanya. Saya lihat di lapangan rusak semuanya sehingga air itu tidak sampai kepada sawah. Ini pekerjaan-pekerjaan lapangan seperti ini kalau nggak dicek, dikontrol langsung ya nggak akan kelihatan. Sehingga tahun ini kita targetkan paling tidak minimal antara 1 juta hektar, 1 juta hektar sawah harus terairi karena irigasinya kita perbaiki. Tahun berikut 1 juta hektar, tahun berikut 1 juta lagi. Kalau irigasinya seperti apa yang digambar airnya bisa sampai ke sawah, naiknya bisa sampai 30 persen. Kalau pupuknya, benihnya bisa diberikan tepat waktu, naiknya kurang lebih juga 30 persen. Sehingga hitung-hitungannya kalau saya lihat kalau ini dibenerin, ini dibenerin, ini dibenerin, ini bukan sebuah hitungan yang awur-awuran tetapi dalam kalkulasi yang diberikan kepada saya bisa nanti kenaikannya kalau ini betul dan betul-betul tepat waktu bisa sampai 20 juta ton beras kelebihan kita.

Sehingga sudah saya sampaikan kepada Bulog, “Hati-hati Bulog, gudangmu harus disiapkan sekarang”. Kemudian kalau Bulog siap, sudah digudangkan sebanyak itu, mau dijual kemana? Mau diekspor kemana? Kalau tidak siap, pasar ekspor tidak siap menerima harus siap hilirisasi, dibuat apa beras itu. Karena produksinya akan banyak sekali. Saya kira proses-proses seperti inilah yang harus kita kerjakan.

Juga pembangunan waduk, berapa puluh tahun kita tidak pernah membangun waduk satupun? Target kita dalam 5 tahun ini akan kita bangun 49 waduk. Tahun ini ada 13. Kemarin yang sudah kita groundbreaking di-NTT Waduk Rana, kemudian Januari lagi, Februari, terus awal-awal ini akan kita kerjakan kira-kira 13 waduk.

Kemudian problem yang kedua, problem besar kita adalah listrik, pembangkit tenaga listrik. Karena apa? Ini menyangkut nanti kepada industri– industri-industri kecil, industri menengah, semuanya. Sekarang ini banyak bermasalah karena urusan listrik. Setelah saya cek problemnya apa sih? Kenapa kita tidak bisa membangun pembangkit tenaga listrik secara cepat? Problemnya ternyata hanya di perizinan.

Izin pembangkit tenaga listrik saya tanya kepada orang-orang yang terjun di bidang ini, ada yang dua tahun ngurus izin, ada yang ngurus izin 4 tahun, terakhir saya bicara lagi dengan yang masuk ke pembangkit listrik ini ada yang 6 tahun. Ngurus izin, ngurus izin bukan membangunnya, bukan, ngurus izinnya. Ngurus izin 6 tahun kok malah ditepuki? Geleng-geleng saya. Denger 6 tahun saya geleng-geleng.

Inilah, hal-hal seperti inilah yang harus disederhanakan, harus dipotong. Karena dengan listrik yang ada nanti industri akan berkembang, hotel akan berkembang, pariwisata akan berkembang. Semuanya akan bergerak, industri-industri rumah tangga akan bergerak, semuanya akan bergerak. Tapi dengan kondisi kekurangan listrik sekarang ini bagaimana industri akan bisa berkembang. Dan ternyata hal-hal sepele seperti inilah yang penghambat pertumbuhan ekonomi kita.

Ini posisi-posisinya di mana sudah, identifikasinya kita sudah ketahui semuanya.

Kemudian masalah minyak, saya hanya ingin memberikan bayangan kepada Bapak/Ibu dan Saudara-saudara semuanya. Subsidi BBM kita ada Rp 280 triliun, kalau plus listrik hampir Rp 400 triliun, bayangkan. Yang BBM saja Rp 280 triliun, kalau 5 tahun itu sudah Rp 1.400 triliun. Lima tahun yang kemarin saya cek Rp 1.300 triliun subsidi itu diberikan. Kalau Rp 1.300 triliun itu digunakan untuk membangun infrastruktur, kebutuhan untuk jalur kereta api di seluruh Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua) itu hanya Rp 360 triliun. Artinya, jadi kalau 1.300 itu kita pakai untuk membangun kereta api sudah rampung.

Kalau dipakai untuk membikin jalan tol 1.300, jalan tol itu per kilo kira-kira hanya, per kilometer hanya Rp 80 miliar. Jadi 16.000 kilometer, 16.000 kilometer di seluruh Indonesia sudah rampung.

Kalau dibuat waduk tadi, waduk itu rata-rata kira-kira Rp 500 miliar, bisa jadi 2.600 waduk, padahal kebutuhan kita hanya 49 waduk. Seluruh Indonesia bisa jadi waduk semuanya kalau dibuat waduk. Bayangkan!

Artinya apa? Kita ini pengelolaan anggaran kita ini ada yang perlu dibetulkan. Rp 1.300 triliun itu tiap hari hanya kita bakar. Dan yang menikmati itu yang pegang mobil, Saudara-saudara semuanya, subsidinya tadi, bukan yang tidak mampu. Karena yang saya lihat persentase yang tidak mampu itu hanya menerima subsidi kira-kira 16 persen, kecil sekali.

Oleh sebab itu, kenapa tidak ada sebulan setelah saya dilantik jadi presiden saya lihat postur anggaran kemudian saya putuskan untuk ada pengalihan subsidi. Karena tadi, gambaran-gambaran tadi. Kalau uang itu kita pakai untuk membuat jalur kereta api, tol, waduk, rampung, selesai. Sehingga tahun ini saya perintahkan semuanya dimulai. Sudah buat tol di Sumatera, trans Sumatera, buat kereta api Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua mulai. Jangan nunggu-nunggu lagi.

Karena dengan itu konektivitas nanti plus pelabuhan, konektivitas antar kota, konektivitas antar provinsi, konektivitas antar pulau itu akan mudah. Dan semua negara yang mendahulukan infrastruktur pasti akan melesat terlebih dahulu dibanding negara yang lain yang lebih mengedepankan sektor yang lain. Ini yang mau kita kejar.

Sehingga tadi masalah BBM saya putuskan tidak ada sebulan setelah dilantik. Banyak yang menyampaikan kepada saya, “Pak nanti kalau BBM naik itu popularitas Bapak akan turun anjlok kalau berani menaikkan BBM”. Saya sampaikan, “Saya bekerja tidak untuk popularitas, saya bekerja untuk negara, untuk rakyat, ya anjlok ya silakan.” Tapi saya ingin, saya hitung-hitungan nalar saya tadi, Rp 1.300 triliun itu kalau dipakai untuk waduk, dipakai untuk jalan tol, dipakai untuk pelabuhan, dipakai untuk airport, dipakai untuk jalur kereta api itu rampung, jadi. Jadi sudah, saya enggak berpikir masalah tadi yang menyampaikan ke saya masalah popularitas. Apa hubungannya popularitas dengan pekerjaan saya? Enggak ada.

Kemudian beberapa dari subsidi BBM tadi juga kita larikan nanti ke hal-hal yang berkaitan dengan nelayan, kapal untuk nelayan, mesin-mesin kapal untuk nelayan, kemudian alat-alat pendingin untuk nelayan. Karena itu yang di lapangan yang kita lihat nelayan butuh itu. Dan dengan itu industri perikanan akan bangkit kembali.

Bu Susi berdiri. Bu Susi menyampaikan ke saya, “Pak, ini di perairan kita ada kurang lebih 5.400-7.000 kapal yang beredar.” Beliau menyampaikan, 90 persen itu enggak ada izin. Kaget saya. Hitung-hitungan lagi ke saya, setahun kita bisa kehilangan Rp 300 triliun. Bayangkan informasi seperti itu datang ke saya. Saya perintahkan kepada Menteri, kepada TNI/Polri saat itu juga, “Kejar yang namanya illegal fishing, tangkap yang namanya illegal fishing.”

Bu Susi tanya ke saya, “Pak, kalau kapal yang nyuri itu ditenggelamkan gimana?” “Tenggelamkan!,” saya bilang. Saya perintah sampai 3 kali, tenggelamkan! Saya tunggu 2 minggu kok enggak ada yang ditenggelamkan. Saya perintah lagi, tenggelamkan! Saya tunggu seminggu enggak ada lagi yang ditenggelamkan. Baru perintah yang ketiga, tenggelamkan!, baru ada yang ditenggelamkan. Ya karena ternyata ada prosedurnya.

Tapi apa? Ini bukan hanya masalah illegal fishing Saudara-saudara, ini adalah masalah kewibawaan negara, masalah kedaulatan negara, masalah penegakan hukum. Kalau saya tidak bisa ditawar-tawar masalah seperti itu, sudah tenggelamkan! Tapi jangan dengan orangnya nanti ramai nanti. Orangnya ambil dulu, kapalnya ditenggelamkan.

Kemudian selanjutnya mengenai konektivitas antar pulau. Kenapa perlu yang namanya tol laut dari pelabuhan di barat, tengah, sampai ke pelabuhan sebelah timur. Karena kita pengen semua harga di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT, Papua itu mestinya ada keadilan, mestinya harganya sama. Beberapa kali saya sampaikan semen di Jawa harganya 70 ribu, coba lihat di Papua. Saya naik ke Wamena harganya satu setengah juta per sak. Saya tanya lagi ke yang di atas lagi, di Puncak Jaya misalnya di kabupaten yang lebih atas lagi, semen sampai dua juta lima ratus per sak. Karena apa? Karena infrastruktur menuju kesana  tidak dikerjakan. Semuanya dibawa pesawat. Ya kalau semen dibawa pesawat bisa, Bapak/Ibu/Saudara-saudara, bayangkan harganya menjadi seperti itu. Tapi ini perlu waktu hingga ini menjadi prioritas kita. Dan kita inginkan nanti semuanya posisinya harus, kalau konektivitas antar pulau, antar kota, antar provinsi itu ada ya harganya akan sama.

Juga kesempatan, saya kira Saudara-saudara kesempatan tadi ada di industri perikanan. Karena sekarang illegal fishing stop berarti produksi nanti di dalam negeri akan melimpah. Kemudian dibutuhkan industri perikanan, pendinginan ikan, cool storage, semuanya ini yang akan berkembang. Sehingga itu kesempatan Hipmi untuk masuk ke industri perikanan ini.

Juga industri pariwisata. Wisata negara kita ini mempunyai kekuatan yang luar biasa. Ada Bali, ada Borobudur, ada Raja Ampat, ada semuanya, ada Bukittinggi, ini produk-produk yang sebetulnya gampang dijual tetapi tidak dipromosikan secara besar-besaran oleh negara kita. Sehingga yang hadir turisnya di Indonesia hanya 7 juta setahun. Malaysia 24 juta, Thailand 27 juta, Singapura 15 juta, kita yang mempunyai produk yang jauh lebih banyak hanya 7 juta. Karena apa? Tidak dikerjakan promosinya, tidak dibangun brand-nya, tidak dibangun diferensiasinya, tidak dibangun promosinya secara besar-besaran. Ini yang saya perintahkan untuk fokus dan dikerjakan. Sehingga saya berikan target kepada Menteri 20 juta harus hadir di tempat-tempat wisata di Indonesia. Ini juga kesempatan Hipmi untuk mengambil peran di bidang pariwisata ini.

Juga wisata bahari untuk cruise saya kemarin sudah perintahkan juga untuk dibuat pelabuhan-pelabuhan cruise sehingga, dan izin-izin yang dulu katanya berbulan-bulan sekarang sehari sudah bisa diberikan izin itu untuk cruise untuk masuk ke pelabuhan kita, Yang simple-simple seperti itu tapi mengganggu.

Dan jalan tol tadi saya sudah cerita untuk segera di, mungkin akhir, akhir Januari kita akan groundbreaking di untuk trans Sumatera– di mulai dari Lampung menuju ke Barat dan selanjutnya kepulauan-kepulauan besar yang lainnya. Ini titik-titiknya ada di gambar itu.

Soal bandara, tadi yang saya sampaikan, kalau Angkasa Pura kita beri Rp 10 triliun dia akan bisa membangun 50 sampai 70 triliun, lima kali lipat sehingga kecepatannya itu akan kelihatan nantinya. Ini bandara-bandara yang akan kita kerjakan titik-titiknya. Dan tidak dikerjakan oleh pemerintah tapi dikerjakan oleh BUMN.

Juga pelabuhan, target kita ada 24 pelabuhan– perluasan maupun baru. Yang ini nantinya akan memperkuat kemaritiman kita. Ini juga diberikan kepadq Pelindo, disuntik kemudian dia akan bisa mengerjakan lima sampai tujuh kali lipat dari modal yang diberikan kepada BUMN kita.

Kereta api juga sama. KAI kita berikan suntikan kemudian akan bisa mengerjakan lima sampai tujuh kali. Ini jalur kereta api yang kita rencanakan, baik di Sumatera, di Kalimantan, Sulawesi maupun di Papua. Kalau Papua masih dalam studi, dalam 6 bulan ini rampung juga langsung akan saya perintahkan untuk segera dikerjakan di Papua.

Juga pembangunan kawasan-kawasan industri yang ini nanti juga akan memberikan kesempatan kepada pengusaha-pengusaha lokal untuk memperkuat, mengembangkan industrinya terutama di daerah-daerah. Kita akan konsentrasikan di beberapa titik seperti yang ada di gambar. Ini saya kira peluang-peluang yang bisa Bapak/Ibu dan Saudara-saudara ambil dalam rangka menumbuhkan ekonomi di negara kita.

Saya kira itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya optimis meskipun sekarang minyak juga turun, berarti penerimaan negara juga bisa turun, kemudian juga kondisi ekonomi global juga yang masih belum menentu karena ada pelarian dolar kembali ke kampung ke Amerika, ini juga mempengaruhi ekonomi kita. Tetapi saya optimis dengan ruang fiskal yang ada sekarang dengan bergeraknya ekonomi industri kecil yang ada di kampung, yang ada di desa ini yang justru akan memberikan pertumbuhan ekonomi yang baik kepada negara kita. Saya meyakini kalau ini terus menerus ruang fiskal kita seperti itu dalam tiga tahun insya Allah pertumbuhan kita akan di atas tujuh.

Banyak orang pesimis tapi saya bekerja dengan optimisme yang tinggi. Tetapi tentu saja dengan bantuan Bapak/Ibu dan Saudara-saudara semuanya. Jangan takut berinvestasi, jangan takut menanamkan modal sekecil apapun itu. Dan yang namanya investor jangan berpikiran, kalau di dalam pikiran saya investor itu bukan hanya yang gede-gede tetapi PKL (Pedagang Kaki Lima) misalnya dia menginvestasikan uangnya entah 500 ribu atau 200 ribu untuk mengembangkan usahanya itu sudah investasi dan dia namanya investor. Pengusaha pasar juga sama yang dulu modalnya 10 juta kemudian ekspansi usahanya 2 juta menjadi 12 juta itu juga investor. Jangan dipikir kalau yang investor itu yang gede-gede, yang besar-besar, ndak. Yang kecil-kecil itupun juga namanya investor. Jadi kalau saya mengucap investor jangan langsung dipikirannya yang gede, ndak. Yang kecil-kecil itupun saya beri nama juga investor.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Musyawarah Nasional Hipmi ke-15 pada hari ini saya nyatakan resmi dibuka.

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru