Sambutan Presiden Joko Widodo pada Pembukaan Musyarawarah Nasional V Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia Tahun 2015, di Makassar, Sulawesi Selatan, 25 November 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 26 November 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 12.494 Kali

Logo-PidatoAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillahirabbilalamin, wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin. Sayyidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du,

Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati pimpinan lembaga negara, hadir malam hari ini Wakil Ketua MPR Bapak Oesman Sapta Odang,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,

Yang saya hormati para Gubernur se-Indonesia, seluruh Walikota dan Bupati yang hadir,

Bapak/Ibu/Hadirin yang berbahagia.

Tadi telah banyak disampaikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Syahrul Yasin Limpo, hal-hal yang berkaitan dengan APPSI, dan juga berkaitan juga dengan ekonomi yang ada di Sulawesi Selatan.

Bapak/Ibu sekalian, ada lima tolok ukur hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah, baik pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota, serta pemerintah pusat. Kita boleh bekerja keras dari pagi sampai pagi, dari pagi sampai pagi, tapi kalau lima hal ini tidak bisa kita kejar, percuma kerja keras kita itu. Yang pertama adalah, pertumbuhan ekonomi. Yang kedua adalah, tingkat pengangguran. Yang ketiga adalah, angka kemiskinan. Yang keempat adalah, inflasi. Yang kelima adalah, gini rasio atau masalah kesenjangan.

Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kita di kuartal III ini berada pada posisi 4,73; tingkat pengangguran bisa dilihat 6 koma; angka kemiskinan 11 koma; inflasi sampai Oktober ini 2,16; gini rasio juga pada angka yang perlu perhatian khusus 0,41.

Kita melihat dulu masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi 4,73. Tetapi coba dilihat inflasinya. Perkiraan saya nanti ekonomi 2015 ini pada angka 4,7-4,8-4,9 tetapi inflasinya kalau tahun lalu kira-kira 8 lebih sedikit (8,5). Inflasi tahun ini insya Allah berada pada posisi di bawah 4. Artinya apa? Masih ada keuntungan  beda antara inflasinya dan pertumbuhan ekonominya. Percuma kita punya pertumbuhan ekonomi 5 misalnya, tetapi inflasinya 8, berarti malah ada -3 di situ. Hati-hati, yang namanya inflasi ini hati-hati. Kita punya pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi inflasinya lebih tinggi tidak ada artinya. Ini hati-hati angka-angka ini.

Jadi pegangannya indikator-indikator yang saya sampaikan tadi. Lima: pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, angka kemiskinan, inflasi, dan gini rasio. Dan ini daerah sangat mempengaruhi sekali. Begitu daerah ada pertumbuhan ekonomi yang baik, nasional pasti juga ada pertumbuhan ekonomi yang baik. Begitu daerah bisa mengendalikan inflasi, nasional juga inflasinya juga akan baik. Karena di daerah ada TPID.

Ini angka-angka pertumbuhan ekonomi yang saya dapatkan baru pagi tadi. Dan saya kaget, Sulawesi Selatan angka pertumbuhannya memang sangat tinggi sekali, 7 persen. Yang Kalimantan memang berada pada posisi yang cukup tapi kalau dibanding yang dulu memang jauh, karena harga komoditas sekarang semuanya turun, karet turun, batubara turun, kelapa sawit turun, CPO turun, semuanya turun. Jadi angka-angka ini saya kira bukan sesuatu yang mengagetkan. Sulawesi Selatan tadi angkanya 7, nasional 4,7. Artinya memang Sulawesi Selatan lebih tinggi dari nasional, berkat kerja keras Bapak/Ibu semuanya.

Tetapi juga tolong dilihat inflasinya. Kendalikan, terutama hal-hal yang berkaitan dengan harga-harga bahan pokok. Stabilitas itu bisa dilihat dari inflasi. Ada yang teriak-teriak, “harga naik Pak, harga sekarang semuanya mahal, inflasinya separuhnya dari tahun yang lalu. Bagaimana teriakan itu akan berbunyi? Perkiraan kita 3,6-3,8 mungkin bisa lebih karena ini masih satu bulan di Desember, biasanya inflasinya agak tinggi, tapi insha Allah di bawah empat. Artinya apa? Pengendalian harga-harga di daerah (kabupaten/kota/provinsi), nasional bisa dikendalikan dengan baik. Ini inflasi.  Saya berharap seluruh Gubernur/Bupati/Walikota terus tahun depan tekan lagi agar bisa di bawah 3. Tahun depannya agar bisa di bawah 2, terus akan kita lakukan itu terus. Karena rata-rata kalau di Eropa, di negara-negara maju biasanya sudah pasti di bawah 2.

Ini yang berkaitan dengan serapan anggaran. Saya agak sedih yang satu ini, duitnya ada membelanjakannya kok terlambat? Biasanya nyari duitnya yang sulit, ini duitnya sudah ada. Apa masalahnya? Takut? Takut apa? Saya tanya, takut? Takut apa? Kalau Bapak/Ibu semuanya tidak mengambil serupiah pun, yang ditakuti apa?

Saya pastikan, saya akan bantu. Saya tidak usah sebut yang sudah saya bantu siapa, tapi kalau kebijakan, bisa menunjukkan pada saya dan itu betul, saya akan back-up penuh, seperti itu. Takut apa? Saya dulu juga pernah jadi walikota, pernah jadi gubernur, tidak pernah itu saya takut, nggak pernah. Karena saya juga nggak, serupiah pun nggak pernah pegang-pegang yang namanya uang. Apa yang saya takuti?

Kembali ke serapan anggaran, sekarang ini di pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota masih ada uang  Rp 259 triliun, sangat besar sekali. Dulu waktu saya sampaikan pada bulan Agustus 273 trilyun, naik menjadi Rp 290 triliun, ini sudah turun tetapi tetap masih pada angka yang sangat besar. Padahal uang itu kalau dibelanjakan, itu akan menggerakkan ekonomi masyarakat. Tapi belanjakan pada tempat yang tepat.

Oleh sebab itu, tahun depan, ya kita sekarang pakai cara baru. Kalau ditransfer dari pusat, uang tidak cepat dihabiskan, masalah didepositokan di bank, bank daerah atau bank nasional, tiap pagi itu saya lihat provinsi mana. Sarapan pagi saya itu angka-angka, Sulawesi Selatan seperti apa, Kabupaten Pinrang seperti apa, Kabupaten Maros seperti apa, kelihatan semuanya, keliatan. Sebelum sarapan, saya kalau pagi nggak pernah sarapan sih, sarapannya angka-angka. Pagi data langsung semuanya, dapat semuanya. Jangan ada yang bilang, “ndak Pak, di tempat saya ndak.” Saya tunjukkan ini ada, komplit semuanya.

Padahal uang itu ditunggu masyarakat kalau dibelanjakan, uangnya bisa berputar. Kita ini mencari investor, arus modal masuk, arus uang masuk, arus investasi masuk dari luar negari, pontang-panting kesana-kesini, di sini ada uang Rp 259 triliun yang ada di bank, yang sebetulnya bisa dibelanjakan.

Oleh sebab itu, ini serapan-serapannya ada di situ, tapi saya tidak tunjukan semuanya, angkanya terakhir ini. Moga-moga nanti Desember langsung meloncat menjadi 100 persen. Saya kan hafal birokrasi itu kalau sudah Desember tahu-tahu dari 60, dari 70 langsung 92, langsung 95, ndak tahu saya ilmunya apa. Tahu, tahu, saya tahu.

Oleh sebab itu, kembali lagi, tahun depan acaranya akan berbeda, mohon maaf. Kalau yang serapannya, yang naroh uangnya terlalu banyak di bank, nanti yang kita transfer bukan uang lagi. Kalau uang cash lagi nanti ditaroh lagi di deposito, ndak. Nanti yang akan kita transfer untuk yang serapannya rendah adalah surat utang.

Bingung? Surat utang, artinya kalau daerah itu memerlukan katakanlah 102 milyar ya hanya Rp 102 miliar yang bisa diambil. Itu kayak surat utang. Kalau dulu pokoknya Januari saya transfer 200, dipakai 50 silakan, dipakai 100 silakan, sisanya dideposito. Sekarang nggak, kita harus mulai melakukan hal-hal sehingga negara ini efisien. Uang kalau sudah ditransfer itu memang harus digunakan.

Karena visi kita ke depan adalah visi kompetisi, visi persaingan. Tadi disampaikan oleh Pak Gubernur Sulawesi Selatan, Masyarakat Ekonomi Asean sudah dibuka, sudah tidak ada kesempatan lagi kalau kita masih seperti yang lalu-lalu. Kita harus mau berubah, kita harus mau meninggalkan pola-pola lama, cara-cara lama, dan harus melakukan dengan cara-cara baru. Kalau kita tidak melakukan itu, saya pastikan kita akan dilindas oleh waktu, oleh zaman dalam era kompetisi, dalam era persaingan sekarang ini.

Bapak/Ibu bisa bayangkan, sekarang ini pertarungan bukan antar kota, bukan antar individu, bukan antar kabupaten, bukan antar provinsi, tetapi sudah antar negara. Negara yang efisien, negara yang cepat dan fleksibel mengikuti perubahan-perubahan global itu nanti yang akan memenangkan pertarungan, yang akan memenangkan persaingan, yang akan memenangkan kompetisi.

Garis pusat sampai ke daerah memang harus tegak lurus dan jelas. Kalau pusat ke utara, provinsi ke selatan, kabupaten ke timur, kota ke barat, ya sudah, kesulitan-kesulitan yang akan kita hadapi.

Sekali lagi, persaingan sudah antar negara dan itu sudah nggak bisa kita tolak. Kita sudah tidak bisa lagi bilang, “Saya nggak mau”, nggak bisa. Ini baru tingkat Asean, arus barang, arus orang semuanya akan lalu lalang. Belum nanti sebentar lagi kita harus memutuskan kita masuk RCEP atau tidak dengan Tiongkok, masuk TPP (Trans-Pacific Partnership) atau tidak dengan Amerika dan teman-temannya, kita masuk FTA dengan EU (Uni Eropa) atau tidak. Apakah kita akan bilang tidak? Sudah tidak mungkin. Yang ada adalah bagaimana kita memperbaiki di dalam negeri, yang ada adalah tekad kita bagaimana mengefisienkan sehingga punya daya saing, punya produktivitas di semua kabupaten, di semua kota, di semua provinsi, tidak ada yang lain. Sudah tidak ada lagi pilihan-pilihan.

Kalau kita tidak masuk misalnya ke TPP (Trans-Pacific Partnership), barang kita masuk ke Amerika dan teman-temannya kena barrier, kena tarif, non-tarif, mau apa kita? Mau jualan kemana? Mau masuk Amerika kita nggak masuk ke TPP, barang mau masuk Amerika kena pajak 20%, 15%. Negara lain yang ikut gabung, pajaknya 0 masuk kesana. Apa barang kita bisa bersaing? Nggak akan bisa. Yang sini kena pajak 0, yang sini kena pajak 20%. Konsumen pasti pilih yang ini dong. Kita dengan FTA-EU sama saja, kita nggak masuk, barang-barang kita kesana keblok semuanya. Nggak bisa sekarang ini negara tertutup, yang ada adalah bagaimana kita berkompetisi, bagaimana kita bisa bersaing.

Oleh sebab itu, sinergi pusat, provinsi, kabupaten, kota itu harus, merupakan keharusan. Birokrasi kita harus tahu semuanya, kemana kita harus akan menuju. Tidak ada pilihan lagi Bapak/Ibu/Saudara-saudara semuanya, nggak ada. Dan bukan hanya pemerintah saja, perbankan semuanya, BUMN kita, semuanya harus mengubah pola pikir, mengubah mindset semuanya. Kalau tidak pasti kelindes, kalau tidak pasti ketinggal. Visi kedepan hanya satu, visi kompetisi. Negara mana yang tidak berkompetisi sudah pasti ditinggal.

Oleh sebab itu, kita sudah jangan lagi mengharapkan yang namanya jualan bahan mentah, jualan raw material, jualan sumberdaya alam. Itu harus mulai kita lupakan.

Dulu kita pernah harusnya berjaya karena minyak saat itu. Ada pesta booming minyak tahun 70-an, kita tidak bisa membangun sebuah pondasi dan pilar yang baik. Yang kedua, kita pernah dapat lagi kesempatan booming kayu. Tebang, tebang, tebang, tebang tapi yang dijual log, dapatnya kita hanya 5 US dollar setiap kubik, tidak juga bisa membangun pondasi. Kita dapat lagi minerba, harga komoditas. Kita lupa hiliriasi dan industrialisasi, karena di situlah nilai tambah, di situlah ada added value. Sehingga kedepan, mau tidak mau industrialisasi yang harus kita kerjakan, hilirisasi yang harus kita kerjakan. Kalau dulu ekspornya mentah, misalnya Sulawesi kakao, buat sekarang cokelat di sini. Kalau dulu ekspor bauksit atau aluminia, buat barang setengah jadi atau barang jadi aluminium. Nikel juga sama, buat barang setengah jadinya atau langsung bisa barang jadinya. Karena nilai tambah bisa 30, 40, sampai ada yang 200 kali dibanding kalau kita mengekspornya bahan mentah. Dan bisa membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya.

Arahnya kedepan apa hilirisasi dan industrialisasinya? Ya investasi yang padat karya, yang padat orang. Karena Bapak/Ibu dan Saudara-saudara, saya juga baru tahu setelah jadi presiden, bahwa tenaga kerja kita 60% lebih sedikit adalah tenaga kerja lulusan SD, SMP, SMA, SMK. Sehingga lapangan pekerjaan yang pas adalah investasi yang padat karya. Apa itu? Ya garmen, tekstil, sepatu, dan yang lain-lainnya yang pokoknya yang padat orang, padat karya. Karena itu yang menyerap tenaga kerja yang paling banyak.

Oleh sebab itu, saya minta pada gubernur, bupati, walikota, kalau ada investasi-investasi yang mau masuk ke daerah dipilih, buka lebar-lebar karena memang ekonomi terbuka, tetapi dipilih. Pilihnya yang menyerap tenaga kerja yang banyak. Jangan sekali-kali malah membuka yang diberikan malah yang sumberdaya alamnya. Buka yang industri, buka yang manufaktur, buka yang investasi padat karya, yang masuknya kesana, ada nilai tambah di situ. Buka lebar-lebar, buat kawasan industri tapi tetap harus selektif. Sehingga, saya titip, kalau yang ada namanya industri yang padat karya tadi, manufaktur yang padat karya tadi, perizinannya agar sudahlah, jangan sampai berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun, secepat-cepatnya diselesaikan. Tambah lagi tadi infrastruktur– investasi manufaktur, industri, dan infrastruktur.

Kemudian selanjutnya masalah daya beli masyarakat. Saya ingin mengingatkan Bapak/Ibu dan Saudara-saudara semuanya, bahwa daya beli masyarakat itu muncul kalau ada belanja pemerintah. Oleh sebab itu, nanti tahun 2016, segera keluarkan uang dari APBD kita. Agar uang itu cepat beredar di masyarakat. Agar apa? Rakyat punya daya beli, bisa belanja. Karena belanja pemerintah itu mempengaruhi belanja masyarakat, mempengaruhi daya beli masyarakat. Kalau terlambat kita membelanjakan, artinya kita menghambat daya beli masyarakat. Ini yang sering tidak kita sadari bahwa belanja APBD provinsi/kota/kabupaten, belanja juga di APBN itu sangat berpengaruh sekali pada daya beli masyarakat.

Begitu sebuah jembatan dibangun, begitu sebuah jalan diperbaiki, begitu sebuah jalan dibangun, begitu tadi siang yang sudah kita cek rel kereta api pertama di Sulawesi, itu yang akan membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya beli karena di situ akan ada perputaran uang. Kayak ini, kereta api dari Makassar menuju ke Pare-pare menuju ke Manado, sampai ke Pare-pare akan menghabiskan uang Rp 10 triliun. Artinya uang itu kan beredar di masyarakat Rp 10 triliun, entah untuk gaji, entah untuk beli kayak tadi pasirnya, beli batunya, semuanya akan bergerak uang itu. Ini yang sering kita lupa. APBD misalnya ganti rugi lahan, juga sama. Itu akan meningkatkan daya beli masyarakat.

Inilah yang ingin saya titip, agar yang berkaitan dengan yang paling bawah, tahun depan Dana Desa itu segera. Ini kita terlambat Dana Desa yang tahun ini, baru bisa masuk pada bulan November kemarin. Saya cek bulan Oktober masih 26%, sehingga apa? Daya beli rakyat di desa juga tidak bisa terdongkrak. Padahal sekarang baru, tahun ini baru Rp 20 triliun, tahun depan Rp 47 triliun. Ini kalau ini cepat tersebar mulai Januari, Februari, Maret, sudah langsung masuk ke desa uang itu, desanya akan tumbuh bergerak. Membangun jalannya usahakan beli pasirnya dari lingkungan setempat, beli batunya untuk perkerasan dari lingkungan setempat, sehingga uang itu beredar di situ-situ saja. Gajinya yang ikut bekerja di situ juga orang-orang setempat., Rp 47 triliun akan beredarnya di desa.

Padahal selain ini ada anggaran-anggaran yang lain lagi yang masuk ke desa. Irigasi mungkin hampir Rp 20 triliun di PU maupun di pertanian. Tapi kalau tidak cepat masuk ke desa, disimpan di bank, tadi Rp 259 triliun, dosa kita. Gubernurnya dosa kalau tahu, bupatinya dosa, walikotanya juga dosa, malah disimpan. Duitnya ditunggu rakyat malah disimpan di bank. Itu Pak Gubernur dimarahi itu yang Biro Keuangan, Kepala Dinas Keuangannya dimarahi, jangan sampai kebanyakan ditaruh di bank. Memang harus cepat digunakan kalau ada uang itu sehingga cepat beredar di masyarakat.

Nanti juga ada dana-dana yang diberikan kepada daerah. Setiap kabupaten/kota akan mendapatkan kurang lebih tambahan Rp 100 miliar, tapi yang provinsi belum. Itu juga Rp 50 triliun artinya, kalau dikali 516 kan 50 triliun, besar sekali.

Kembali lagi ke visi kompetisi, visi kompetisi, visi persaingan itu hanya akan muncul kalau konektivitas antar pulau kita itu ada, 17 ribu pulau. 34 provinsi ini harus terkoneksi semuanya, terhubung semuanya. Sehingga kita harapkan nanti kalau ini berjalan, mungkin 3 tahunan baru kelihatan, ongkos transportasi lebih murah karena kereta api dan laut itu lebih murah, ongkos biaya logistik juga akan lebih murah. Sehingga apa? Jatuhnya barang nanti akan lebih murah. Kenapa dibangun rel kereta api, kenapa dibangun tol laut arahnya kesana, agar biaya transportasi, agar biaya logistik itu jatuh lebih murah.

Itu Pak Gubernur Papua, nanti kereta apinya ini masih distudi dan FS, moga-moga nanti tahun depan juga sudah bisa dimulai di Papua. Jangan nanti saya ke Papua disemprot, “Pak masa Sulawesi sudah, Papua belum.” Tahun depan, studi selesai langsung akan kita kerjakan, FS selesai langsung akan kita kerjakan, DED selesai akan langsung kita kerjakan.

Dan kekuatan-kekuatan kita yang lain menurut saya adalah pariwisata. Saya kira ini sudah menikmati sekarang ini banyak sekali. Jogja sangat menikmati income dari pariwasata, Bali sangat menikmati income dari pariwisata. Sehingga daerah-daerah yang lain, provinsi-provinsi yang lain kalau mempunyai kekuatan itu, ini adalah juga kekuatan dan potensi kita.

Turis kita, kita bandingkan dengan Thailand, Thailand itu 26 juta, Malaysia itu 24 juta. Kalau kita lihat potensi destinasi-destinasi wisata di Indonesia itu 10 kali lipatnya, tempat-tempat yang sangat indah. Di Raja Ampat, saya kemaren lihat di Mandalika di NTB, saya lihat lagi di Sumatera Barat di Mandeh, di Wakatobi, di Pulau Komodo yang itu memang butuh infrastruktur, tapi selain infrastruktur promosinya memang harus digerakkan. Coba, kita mempunyai puluhan destinasi wisata tetapi kalah, kita hanya 9 juta turis kita. Ini pasti ada yang keliru, ini yang harus diluruskan, dibetulkan. Ini tugas kita semuanya, tugas gubernur, tugas bupati, tugas walikota, dan tugas menteri, dan juga tugas saya sebagai presiden.

Saya kira ini masih banyak sekali, waktu sudah larut malam, saya kira itu saja yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, pada malam hari ini. Karena kalau saya teruskan nanti bisa tambah setengah jam, ngantuk semuanya, saya juga ngantuk. Saya lihat diam semuanya, diamnya mikir atau ngantuk, mungkin ya dua-duanya, ya mikir ya ngantuk.

Saya kira itu Ibu dan Bapak sekalian para Gubernur yang bisa saya sampaikan pada kesempatan Munas V APPSI tahun 2015 pada malam hari ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Munas V APPSI tahun 2015 saya nyatakan dibuka.

Terima kasih,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

 

Transkrip Pidato Terbaru