Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2016 Di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Senin, 04 Januari 2016 Pukul 09.00 WIB

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 4 Januari 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 7.126 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Bapak/Ibu, hadirin sekalian.

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2016.

Tahun 2015 adalah tahun yang sangat berat bagi kita semuanya. Tahun yang penuh tantangan terutama di sektor keuangan, karena banyak hal-hal yang harus kita hadapi, baik perlambatan ekonomi dunia, baik ketakutan dengan kenaikan suku bunga The Fed, dan juga optimisme dan kepercayaan yang belum muncul pada tahun kemarin.

Tetapi, mengikuti perjalanan secara detail satu tahun kemarin, saya optimis pada tahun ini, tahun 2016 kita akan lebih baik, jauh lebih baik dari tahun kemarin. Banyak orang yang ragu-ragu mengenai realisasi APBN. Itu setiap hari, Bapak/Ibu bisa tanya ke Menko Perekonomian, boleh bertanya ke Menteri Keuangan, setiap hari, pagi, tengah malam, pasti saya cek, saya kontrol penerimaannya seperti apa. Karena Bapak/Ibu kan banyak yang meragukan itu. Pajaknya paling-paling 70 persen, iya kan? Realisasinya nanti paling-paling di bawah 80 persen. Iya kan?

Tapi, akhirnya pada penutupan tahun kemarin, ini perlu saya sampaikan, pendapatan negara mencapai 84,7 persen (Rp1.491 triliun). Kemudian penerimaan pajak mencapai 83 persen (Rp1.235,8 triliun). Penerimaan non pajak 93,8 persen (Rp252,4 triliun plus penerimaan hibah kurang lebih Rp3 triliun).

Artinya apa? Apa yang kita takutkan tidak terjadi. Kalau kita kerja biasa-biasa mungkin yang seperti diperkirakan orang itu akan terjadi. Tetapi dengan deregulasi yang setiap seminggu, setiap dua minggu keluar, keluar, keluar, keluar terus saya meyakini ini memang kesempatan. Pada saat-saat sulit, pada saat-saat ekonomi sulit, itulah kesempatan kita untuk merombak total tatanan-tatanan yang menghambat kita. Dan itu akan terus kita lakukan. Dan saya yakin dengan itu perbaikan ekonomi akan lebih baik.

Kemudian serapan belanja negara. Serapan belanja negara mencapai 91,2 persen. Saya pernah berbicara saat itu kira-kira serapannya saya yakin 92-93, tapi meleset dikit enggak apa-apa. 91,2 persen atau sebesar Rp1.810 triliun. Jangan berpikir ini angka yang main-main. Penerimaan itu, dalam perlambatan ekonomi yang seperti kemarin kita rasakan, penerimaan itu seperti itu juga bukan sesuatu yang kecil. Dan masih ada silva Rp10,8 triliun.

Pertumbuhan ekonomi perkiraan antara 4,7 – 4,8 turun dari 2014(5 persen). Agak turun sedikit. Coba dilihat negara-negara yang lain yang turun sampai 1,5 persen, yang turun sampai 3 persen, yang turun sampai 1 persen, kita hanya 0,3–0,2. Itupun sebetulnya kalau saat itu, tahun kemarin kita optimis semuanya, sebetulnya kejadiannya akan berbeda. Karena rasa optimis itu sulit sekali dimunculkan. Semuanya menunggu semuanya. Semuanya wait and see semuanya.

Oleh sebab itu, tahun ini semuanya harus percaya, semuanya harus optimis, bahwa kita akan lebih baik. Itu harus, kuncinya ada di situ. Inflasi 2014 8,3 persen. Waktu kita pasang pasti di bawah lima persen, banyak orang yang tidak percaya. Tapi alhamdulillah 2015 inflasinya hanya 3,3 persen. BI kerja keras, pemerintah kerja keras, semuanya. Demand dan supply betul-betul kita lihat setiap hari.

Bapak/Ibu boleh bertanya kepada Menteri Perdagangan, kepada Bulog, kepada Menteri Pertanian, bagaimana tengah malam saya telpon, pagi-pagi subuh saya telpon, kalau ada beras sudah akan naik, baru akan naik, cari siapa yang nimbun. Cabe, telur, baru akan merangkak saja, pasti saya kan telpon. Karena saya punya orang-orang di pasar induk, di pasar-pasar tradisional saya punya orang. “Pak, cabai sudah naik. Pak, beras sudah merangkak naik.” Rp20 ribu, Rp50, Rp20, Rp100.

Ini yang akan terus kita lakukan agar inflasi betul-betul di bawah lima persen. Saya kerja keras, Bapak/Ibu semuanya merasa optimis, merasa percaya bahwa 2016 lebih baik, itulah yang ingin kita harapkan. Tidak mungkin dalam era kompetisi, dalam era persaingan yang seperti kita alami, dan tahun ini masuk ke Masyarakat Ekonomi ASEAN, tidak mungkin lagi kita melakukan proteksi, melakukan perlindungan, memberikan subsidi yang berlebihan, tidak mungkin. Karena memang era kompetisi, era persaingan sudah ada di depan kita.

Apa yang harus kita lakukan? Hanya yang kurang, itu yang kita perbaiki. Yang belum baik, kita benahi. Hanya itu. Tidak mungkin lagi, jangan berharap bahwa negara ini akan memproteksi, akan melindungi, memberikan subsidi yang besar-besaran, yang itu justru akan melemahkan daya saing kita, melemahkan competitiveness kita, sudah tidak ada lagi. Bagaimana deregulasi paket-paket itu akan kita keluarkan, terus agar daya saing, daya kompetisi kita semakin baik. Enggak ada cara yang lain.

Oleh sebab itu saya mengajak kita semuanya untuk kerja keras dalam rangka meraih pertumbuhan ekonomi, kerja keras mengendalikan inflasi, kerja keras menurunkan angka kemiskinan, kerja keras kita semuanya untuk membuka lapangan pekerjaan, kerja keras mengatasi ketimpangan wilayah yang kaya dan miskin. Ini pekerjaan kita semuanya.

Dan saya senang karena dalam kondisi yang sulit, 2015, saya dan pemerintah diberikan kesempatan melakukan perombakan kreatif yang akan terus kita lakukan. Kalau keadaan normal kita melakukan itu pasti akan banyak yang berteriak. Tapi kalau keadaan sulit, kita melakukan apapun, orang akan maklum. Ini yang justru, buat saya, ini kesempatan.

Saya ingin mengajak juga tahun ini berbondong-bondong semua perusahaan, kecil, tengah, atas, semuanya melakukan revaluasi aset. Nanti keluar tax amnesty. Berbondong-bondong semuanya. Enggak usah ada yang ragu lagi nanti seperti apa. Kalau sudah keluar, artinya pemerintah memberikan jaminan, presiden juga memberikan jaminan, enggak usah ragu-ragu. Jadi yang revaluasi aset jangan yang gede-gede, yang tengah juga lakukan, yang kecil juga lakukan. Itu merupakan sebuah kekuatan, sebuah power yang akan menaikkan pertumbuhan ekonomi kita.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih atas kerja keras Bapak/Ibu dan Saudara-saudara semuanya.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru