Sambutan Presiden Joko Widodo pada Pembukaan Rakernas APEKSI 2015 dan Grand Launching Mangente Ambon 2015, di Ambon, Maluku, 7 Mei 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 7 Mei 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 27.606 Kali

Logo PidatoBismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua,
Shaloom,
Oom swastiastu.

Yang saya hormati seluruh Menteri Kabinet Kerja,
Gubernur Maluku, Ketua APEKSI, Walikota Ambon, dan seluruh Walikota yang pada pagi hari ini hadir,
Eksekutif APEKSI Pak Sarimun, dari dulu sampai sekarang tetap muda terus,
Ibu dan Bapak sekalian yang saya hormati.

Pertama, saya ingin menyampaikan mengenai kota, mengenai karakter kota. Saya membayangkan bahwa kota-kota di seluruh Indonesia ini ada 98 kota, mestinya setiap kota memiliki identitas dan karakter tidak sama karena memang kota-kota kita ini berbeda-beda. Mestinya setiap kota fokus, ada misalnya mau fokus di kota maritim atau kota hijau, atau kota agropolitan, atau mau konsentrasi di mycity, atau mau konsentrasi di smartcity, atau juga mau konsentrasi di heritage city misalnya.

Saat itu, waktu menjadi Walikota, Solo adalah kota satu-satunya yang menjadi anggota the World Heritage City di dunia. Dan kita saat itu memang ingin karakter warisan kota pusaka itu yang muncul. Setelah masuk menjadi anggota, saya daftarkan, kemudian 3 tahun setelah itu saya menarik Konferensi itu di kota Solo. Ada kurang lebih 39 kota, kota pusaka di seluruh dunia yang hadir. Dan ini membangun sebuah brand kota karena Solo punya keraton kasunanan dan mangkunegara dan juga bangunan-bangunan lama. Oleh sebab itu, kekuatan itulah yang saat itu ingin saya munculkan. Dan juga kekuatan itu didukung oleh warisan-warisan pusaka yang lain sehingga saat itu saya juga menyelenggarakan Solo Internasional Ethnic Music.

Bukan misalnya kita membuat Festival Rock Seluruh Dunia misalnya, karena saya senang rock. Kemudian saya juga membuat Solo International Performing Arts karena masalah tari di kota Solo juga mempunyai kekuatan, musiknya ethnic music kemudian juga tari. Itulah yang akan menjadi sebuah identitas dan jatidiri kota sehingga kota itu akan muncul citranya, brand-nya akan muncul. Semua kota bisa melakukan itu.

Misalnya ada kekuatan ethnic music-nya kuat dibuat saja. Undang saja ethnic-ethnic music seluruh dunia, tidak mahal kok. Waktu saya menyelenggarakan Solo International Ethnic Music hanya, pemerintah kota hanya menyiapkan Rp 300 juta, yang lain dari sponsor. Yang Solo Internasional Performing Arts juga sama, hanya kurang lebih Rp 300 juta yang lain sponsor. Undang dari kota-kota lain di seluruh dunia dan kota-kota tentu saja di Indonesia. Ini akan memunculkan.

Saya saat itu waktu datang ke Kota Sawahlunto, kekuatannya juga kelihatan di situ karena yang diangkat adalah heritage tapi tambang, kota pusaka tambang. Ini sangat khas sekali. Dan kalau kita ke sana ada kekhasan itu yang betul-betul muncul sebagai sebuah citra. Inilah saya kira ciri-ciri identitas, jatidiri, dan karakter sebuah kota yang harus dimunculkan di kota-kota kita.

Seperti di Ambon, dengan teluk yang sangat indah seperti yang kita lihat sekarang ini, kita harus mempunyai keberanian untuk menata teluk yang ada, pantainya kanan kiri teluknya harus berani menata. Jangan sampai kedahuluan misalnya oleh pedagang kaki lima, oleh rumah-rumah. Karena saya lihat saya pergi di beberapa kota, pantainya kedahuluan oleh pedagang kaki lima.

Inilah pentingnya bekerja detil. Seperti yang saya baca di bukunya almarhum Lee Kuan Yew, seorang Perdana Menteri yang urusan menanam pohon saja dia urus, sampai sedetil itu. Urusan mengaspal jalan saja dia urus, sampai dikorek-korek, “ini kualitasnya nggak baik.” Nanam pohon, “gini doyong sedikit, ini harus diluruskan”. Itulah pekerjaan, menurut saya pekerjaan sebenarnya dari seorang walikota. Jangan terjebak pada rutinitas administrasi, nggak kerja kita. Strategi kota, strategi kebijakan kota itu harus muncul dari setiap walikota-walikota kita.

Saya juga belum lihat sampai detik ini penanganan sampah di sebuah kota karena memang prosedurnya ruwet sekali. Saya pernah mencoba di Solo gagal karena masalah prosedur, harus ini, harus ini, harus ini. Belum rampung saya sudah jadi Gubernur. Di Jakarta juga sama, baru step menyelesaikan-menyelesaikan, belum selesai sudah jadi Presiden.

Yang kedua, yang ingin saya sampaikan, tadi Pak Ketua APEKSI menyampaikan mengenai masalah jalan, mulai tahun depan pemerintah pusat akan memberikan kurang lebih, kurang dan lebih, kurangnya bisa 40, bisa 50, bisa 60, kurang dan lebih Rp 100 miliar kepada kota-kota. Kenapa kita berikan? Karena saya melihat postur anggaran di kota/kabupaten kita ini betul-betul sangat berat. Setelah kita hitung secara nasional, anggaran pembangunan hanya 18 persen, semuanya kemakan oleh anggaran rutin, anggaran aparatur. Oleh sebab itu, ini adalah injeksi dari pemerintah pusat. Memang harus berani kita mengalihkan seperti itu. Ya kalau dapat, kota dapat Rp 100 miliar kan gede banget, bisa dipakai untuk pembangunan. Gede banget Rp 100 miliar, jangan dipikir kecil lho Rp 100 miliar. Dulu saya membangun pasar saya paling-paling habis RpĀ  4 miliar-6 miliar jadi, paling jadi berapa pasar.

Rp 100 miliar itu nanti akan kita berikan dalam bentuk inpres-inpres tetapi berdasarkan usulan dari pemerintah kota. Misalnya, kota ingin membangun pasar, silakan habisnya berapa, Rp 18 miliar misalnya atau Rp 20 miliar pasarnya. Ingin membangun tadi jalan, yang disampaikan Pak Vicky — bangun untuk pemeliharaannya atau untuk jalannya juga bisa. Infrastruktur yang berkaitan dengan jembatan, bisa masuk kesini. Tapi kita memang ingin fokus pada infrastruktur. Pelabuhan, juga bisa. Tapi memang nanti kita kumpulkan semuanya baru turun dalam bentuk-bentuk Inpres. Juga sekolah, karena kita ingin fokus ke depan sekolah kejuruan, politeknik, vokasional itu akan kita berikan perhatian sehingga juga bisa diusulkan di dalam perencanaan dari pemerintah kota. Dari itu kita harapkan akan kelihatan perubahan wajah kota.

Dan saya titip juga masalah pedagang kaki lima. Ini semuanya di semua kota ini menjadi persoalan yang sangat serius. Belikan lah lahanĀ  untuk pedagang kaki lima. Carikan tanah, terserah mau 2.000, mau 1.000, mau 5.000, bangun kios-kios untuk mereka sehingga mereka tidak mengotori kanan kiri jalan dan estetika kota, keindahan kota menjadi hilang karena itu.

Tetapi juga perlu saya sampaikan sejak awal, bahwa Rp 100 miliar itu bisa tidak rutin setiap tahun tapi bisa rutin setiap tahun. Mungkin malah bisa tambah setiap tahun, tergantung juga nanti akan ada penilaian karena nanti juga akan kita beri kewajiban. Kota yang diberi, mungkin selanjutnya, kota yang diberi adalah kota yang misalnya sudah menerapkan e-budgeting, sudah mempunyai one stop service office tapi yang betul-betul standarnya sudah kita ukur kecepatan pemberian izinnya misalnya dan syarat-syarat yang lainnya. Artinya tidak langsung diberikan terus, “silakan dipakai semaunya”. Ada memang insentif seperti itu yang kita berikan syarat-syarat

Saya kira ada yang tidak setuju diberi Rp 100 miliar tadi? Kelihatnya tidak ada yang tepuk tangan tadi. Rp 100 miliar tidak ada yang tepuk tangan, padahal nggak ada yang minta kita beri.

Baiklah Ibu dan Bapak sekalian yang saya hormati,
Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Rakernas APEKSI dan Mangente Ambon 2015 pada siang hari ini saya nyatakan resmi dibuka.

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru