Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan the 11th APKASI International Trade and Investment Summit 2015, JIExpo Kemayoran, Jakarta, 13 Mei 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 Mei 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 19.674 Kali

Logo PidatoBismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati seluruh pimpinan lembaga negara,
Para Menteri, seluruh Duta Besar, dan juga para Menteri dari negara-negara sahabat, Asia Afrika, seluruh Gubernur yang hadir, para Bupati, seluruh pengusaha/investor, pimpinan TNI dan POLRI, dan hadirin yang berbahagia.

Perdagangan dan investasi saat ini menjadi kunci bagi pertumbuhan sebuah daerah. Saya titip, jangan sampai pimpinan-pimpinan daerah, baik gubernur, bupati, maupun walikota, terjebak pada rutinitas birokrasi sehingga melupakan membangun sebuah strategi kebijakan ekonomi di daerah.

Saya lihat banyak sekali potensi daerah, banyak sekali kekuatan ekonomi di daerah yang tidak terangkat dengan baik karena pimpinan-pimpinan daerahnya terjebak pada rutinitas keseharian di pemerintahan.

Saya melihat banyak sekali peluang yang bisa ditawarkan investor, banyak sekali komoditas-komoditas yang juga bisa saling ditukarkan antar kota, antar kabupaten, dan antar provinsi, tetapi ini tidak banyak dilakukan. Oleh sebab itu pimpinan daerah, bupati, harus menjalin komunikasi dengan daerah, antar daerah.

Saya berikan contoh, misalnya, di sebuah daerah beras terlalu melimpah, padahal di kota yang lain berasnya, stoknya tidak ada. Mestinya tanpa harus melewati pihak kedua, ketiga, keempat, dan lain-lainnya bisa langsung komunikasi itu dilakukan oleh bupati dengan bupati, walikota dengan walikota. Tapi inilah yang saya lihat, daerah-daerah belum melaksanakan.

Kemudian yang kedua masalah investasi. Membangun karakter sebuah kabupaten, sebuah kota itu sangat penting. Membangun identitas sebuah kota dan kabuparen itu sangat diperlukan di bidang investasi. Jangan sampai sebuah kota, misalnya, mempunyai kekuatan kakao, cokelat misalnya, justru menawarkan investasi untuk komoditas yang lainnya.

Ada sebuah daerah yang mempunyai hamparan yang luas untuk sawah padi tetapi yang ditawarkan adalah kawasan industrinya. Ini benar, tapi seharusnya potensi yang besar yang ditawarkan lebih dahulu. Memang kadang-kadang inveatasi memerlukan dukungan dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, komunikasi yang baik antara daerah dan pusat sangat diperlukan sekali.

Tiga hari yang lalu, saya ke Kabupaten Merauke. Bupatinya sangat aktif sekali menawarkan daerahnya untuk investasi sawah padi. Kalau kecil, saya tidak meluncur. Karena yang disampaikan ke saya adalah jutaan hektar, saya meluncur kesana. Saya melihat, luar biasa, ada tanah yang sangat datar, di kanan kiri ada sungai yang sangat besar, artinya air tidak ada masalah. 4,6 juta hektar yang bisa ditawarkan untuk investasi sawah padi. Setelah kita hitung, kalau 4,6 juta, 1 hektar bisa menghasilkan, kalau dilaksanakan, kalau sudah 4,6 juta tidak mungkin dilaksanakan dengan tangan, dengan cangkul. Dan saya sudah sampaikan kepada Bupati dan Gubernur untuk total dikerjakan dengan mekanisasi, tapi siapa yang mengerjakan?

Kalau dibuka ke swasta semuanya, tidak mungkin. Oleh sebab itu, kemarin sudah kita putuskan, oke kita bagi, 30 persen pada swasta, 70 persen akan dikerjakan oleh BUMN. Saya beri target 3 tahun, Merauke harus bisa jadi lumbungnya beras, bukan hanya nasional, tapi internasional. Karena apa? Hitung-hitungannya kalau 4,6, kalau mekanisasi dikali delapan, dikali setahun panen tiga kali, ya lebih dari enam puluh juta. Padahal produksi beras nasional kita juga kurang lebih enam puluhan juta.

Ini sebuah kekuatan yang besar sekali, tetapi karena tidak diangkat, tidak dikomunikasikan dengan pemerintah pusat, kita juga tidak tahu. Tapi setelah kita lihat kemarin, sudah ada team plotnya, sudah dicoba sekian tahun, sehingga kita putuskan itu untuk dikerjakan.

Kemudian juga kota, bisa ditawarkan sebagai financial city, kota keuangan, kenapa tidak? Singapura juga kota keuangan, Dubai juga kota keuangan, Hong Kong juga kota keuangan. Kenapa tidak ada salah satu, salah dua kota yang memunculkan ide itu? Sehingga keuangan, uang beredar tidak hanya berkumpul di Jakarta, tapi juga di kabupaten atau kota di luar Jakarta. Kenapa tidak ada juga kabupaten yang memunculkan sebagai kota MICE, MICE City, atau Sport City?

Ada kekhususan-kekhususan sehingga kota karakternya nampak dan menjualnya kepada investor itu lebih mudah. Kalau kota semuanya sama, pengen industri, pengen industri, tidak akan menjadi sebuah hal yang menarik bagi sebuah investasi. Tetapi memang ke depan, saya harapkan seluruh produksi barang mentah yang ada di daerah, tidak ada lagi yang harus disiapkan, tidak ada lagi yang diekspor dalam bentuk raw material atau bahan mentah lagi, tetapi harus ada hilirisasi, industrialisasi sehingga minimal yang diekspor itu setengah jadi, syukur langsung meloncat ke barang jadi. Inilah saya kira ke depan yang perlu dibangun oleh daerah-daerah sehingga lapangan pekerjaan muncul di mana-mana.

Saya kira itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya juga ingin mengucapkan selamat atas Munas APKASI yang keempat. Semoga pemikiran-pemikiran dari APKASI bisa kita pakai bersama untuk memajukan bangsa dan negara kita.

Akhir kata, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, APKASI International Trade and Investment Summit saya nyatakan resmi dibuka.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

 

Transkrip Pidato Terbaru