Penyerahan Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH), 12 Februari 2019, di Graha Insan Cita (GIC) Bakti Jaya, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.824 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Bapak Menteri Sosial, Pak Wakil Wali Kota Depok,
Bapak-Ibu sekalian seluruh penerima BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) dan penerima PKH (Program Keluarga Harapan).

Yang menerima PKH mana ini?
Yang menerima BPNT?
Orangnya sama? Dapat banyak dong?

Satu, satu, satu, saya ingin kita ingat tahun kemarin, dua tahun sebelumnya PKH kita hanya mendapatkan Rp1.890.000, Rp1.890.000. Mulai tahun ini tahapan pertama saja tadi saya cek di ATM, saya bisik-bisik tanya, “Bu, sudah keluar di saldo berapa?” “Rp 1.500.000, Pak.” Saya tanya lagi yang kedua, “sudah berapa ini saldonya, sudah masuk?” “Rp 1.500.000, Pak.” Itu tahapan pertama lho, berarti nanti ada tahapan kedua lho, ada tahapan ketiga lho. Jumlahnya bisa dua sampai tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Benar ndak? Banyak yang seperti itu memang karena sekarang memakai indeks bantuan sosial PKH, dihitung betul. Untuk ibu hamil ada hitungannya, untuk yang memiliki anak usia dini ada hitungannya, yang punya anak SD ada hitungannya, yang punya anak SMP ada hitungannya, yang punya anak SMA/SMK ada hitungannya, yang disabilitas ada hitungannya, yang lanjut usia/lansia ada hitungannya. Tapi hati-hati… Ini yang ibu hamil dapat Rp2.400.000, benar ya, benar semua?  Tapi juga jangan sering-sering, “waduh dapat Rp2.400.000, langsung perbanyak ini.”

Kita tahu bahwa yang namanya PKH dan BPNT ini adalah dalam rangka memberikan, pertama, urusan pendidikan anak.  Jangan sampai dilupakan yang berkaitan dengan urusan pendidikan. Jadi anggaran yang diberikan kepada Ibu-ibu itu untuk membeli buku, boleh? Boleh. Untuk beli sepatu untuk sekolah, boleh? Untuk beli seragam sekolah, boleh? Untuk bayar sekolah, boleh? Untuk beli ini (menunjuk baju dan perhiasan), ini Ibu-ibu, boleh? Untuk beli ini, boleh? Tidak boleh. Hati-hati, hati-hati.

Anggaran ini sudah sejak awal memang diperuntukkan untuk kepentingan-kepentingan yang berkaitan dengan pendidikan, yang kedua gizi anak. Beli telur, boleh? Beli ikan, boleh? Untuk siapa, untuk suami? Untuk anak. Diprioritaskan untuk anak. Suami juga enggak apa-apa, sedikit. Misalnya telur begitu ya, telur iya kan, anaknya satu suaminya separuh lah begitu. Iya kan? Jadi hati-hati.

Terutama ibu-ibu hamil, rawatlah bayi yang masih dalam kandungan itu sebaik-baiknya dengan anggaran ini, karena sangat menentukan. Yang namanya anak dalam kandungan nanti sampai umur lima tahun itu sangat menentukan dia akan sehat atau enggak sehat, dia cerdas atau enggak cerdas. Meskipun saya mengalami, saya dulu lahir di pinggir kali, rumah saya dulu di pinggir kali digusur. Saya pernah digusur lho. Tahun ’70-an pernah digusur. Di sini ada yang pernah ngerasain digusur? Belum? Moga-moga ini jangan ada yang pernah digusur. Sedih begitu kalau ingat saya, sedih. Sehingga harus nebeng saya hampir  dua tahun di tempat kakak ibu saya karena digusur.

Artinya, saya ingin anak-anak Ibu-ibu semuanya kalau anaknya sehat, kalau anaknya pintar, anaknya sekolah setinggi-tingginya, jangan ada yang takut untuk bermimpi anaknya bisa jadi menteri, anaknya bisa jadi presiden, bisa insyaallah. Kalau kita didik anak kita dengan baik, disekolahkan dengan baik, diberi gizi yang baik, anak kita akan pasti pintar, akan pasti cerdas. Boleh, boleh bermimpi. Boleh bercita-cita. Kenapa tidak? Orang tua saya dulu juga hidup di pinggir kali kena gusur juga. Ya alhamdulillah bisa menjadikan saya, membesarkan saya, menyekolahkan saya meskipun pontang-panting, saya tahu. Itulah memang tugas orang tua.

Oke, sekarang kembali ke uang yang sudah Bapak-Ibu terima. Coba tunjuk jari maju satu. Sudah? Boleh, senang itu disuruh maju, tertawa. Saya tanya nanti enggak bisa jawab, awas. Senang banget tertawa. Baik, boleh. Ada lagi yang ingin maju? Ya, boleh. Tadi semangat sekali, ya boleh ini juga semangat dari tadi begini-begini (tunjuk jari) terus. Nah ini maju, maju, bertiga boleh.

Ya, dikenalkan, Bu. Ya dikenalkan dulu, dikenalkan, Ibu. Kok ini kenal sama ini, bukan itu. Dikenalkan, Ibu namanya siapa? Begitu loh. Kenalkan dulu. Nah ya, ya, ya agak dekat.

(Dialog Presiden Republik Indonesia dengan Perwakilan Penerima Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan)

Yang penting penggunaan tepat sasaran dan kita cek seperti tadi yang disampaikan Pak Menteri, misalnya BPNT tadi kepuasannya sangat tinggi sekali ya bisa kita tambahkan lagi. Karena tahun yang lalu itu dianggarkan Rp19 triliun untuk seluruh Indonesia, tahun ini Rp 34 triliun, hampir dua kali lipat. Untuk siapa? Untuk Ibu-ibu semuanya, bukan untuk saya. Untuk Ibu-ibu semuanya. Agar anak kita memiliki gizi yang baik, anak kita semuanya bisa sekolah.

Ya, sudah. Silakan kembali, jangan minta sepeda, enggak boleh. Tidak boleh, karena ini mau pilpres tidak boleh bagi-bagi sepeda. Nih saya beri ini saja, saya beri foto ini. Ini kalau dibandingkan dengan sepeda, ini bisa dapat sepuluh sepeda karena ini fotonya ada tulisannya ini, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’. Nih, sudah, sudah, sudah. Tadi saya tanya minta apa? Ndak, ya sudah, kebeneran saya.

Baiklah Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya,
Saya kira jelas ya, penggunaan PKH jelas, penggunaan BPNT semuanya jelas semuanya. Saya tanya tadi, saya kira arahnya sudah benar. Nanti kita survei penggunaan ini harus betul-betul tepat sasaran sehingga kita bisa berbicara lagi kalau nantinya memang diperlukan untuk dinaikkan lagi.

Saya rasa itu yang bisa sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru