Sambutan Presiden Joko Widodo pada Penyerahan Sertifikat Tanah untuk Rakyat, 25 Mei 2018, di Gelanggang Olahraga Ewangga, Kuningan, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 25 Mei 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.416 Kali

Logo-Pidato2-8Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
Wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
Wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, hadir di sini Pak Menteri ATR/Kepala BPN, Pak Menteri PU,
Yang saya hormati Bapak Agum Gumelar Wantimpres dan Bapak Jenderal Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan,
Yang saya hormati Plt. Bupati Kuningan,
Bapak-ibu sekalian seluruh penerima sertifikat yang pada siang hari ini hadir.

Yang kita serahkan hari ini adalah 7.000 (tujuh ribu) sertifikat tetapi yang diundang ke sini ada 2.500 (dua ribu lima ratus) penerima sertifikat.

Saya minta sertifikatnya diangkat tinggi-tinggi, biar kelihatan semuanya. Saya hitung dulu, jangan diturunkan. 1, 2, 3, 4 ,5 ,6 , 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23,…, 2.500. Betul. Artinya yang dibagikan betul-betul 2.500 (dua ribu lima ratus) dari 7.000 (tujuh ribu) yang hari ini dibagikan semuanya.

Kenapa sertifikat ini sekarang kita percepat dan segera diserahkan ke masyarakat? Karena setiap saya ke daerah, ke desa, masuk ke kampung selalu keluhannya adalah masalah sengketa lahan, sengketa tanah. Ada di mana-mana, di Sumatra, di Kalimantan, di Jawa, di Bali, sampai di Papua ada semuanya yang namanya sengketa lahan.

Dari total di seluruh tanah air, harusnya ada 126 (seratus dua puluh enam) juta bidang yang harus disertifikatkan. Tetapi di akhir 2014 baru 46 (empat puluh enam) juta, separuh saja belum ada, masih kurang 80 (delapan puluh) juta. Kalau setiap tahun, biasanya yang disertifikatkan hanya 500.000 (lima ratus ribu), bayangkan, berarti kita harus menunggu 160 (seratus enam puluh) tahun untuk bisa pegang sertifikat. 160 (seratus enam puluh) tahun, bapak-ibu  sudah enggak ada. Benar enggak? Kalau menunggu itu.

Oleh sebab itu, saya perintahkan kepada Pak Menteri mulai tahun kemarin. Biasanya 500.000 (lima ratus ribu), saya perintahkan 5 (lima) juta 2017 harus keluar. Saya enggak mau tahu caranya pokoknya sertifikat harus dipegang oleh rakyat. Tahun ini 7 (tujuh) juta sertifikat harus keluar dan diterima oleh masyarakat. Tahun depan 9 (sembilan) juta sertifikat harus diserahkan kepada masyarakat. Kantor BPN tidak tidur, Sabtu-Minggu kerja.

Ya memang melayani masyarakat harus seperti itu. Benar enggak? Jangan berlama-lama, jangan berbelit-belit, cepat. Jadi, serahkan, jadi, serahkan, jadi, serahkan, perintah saya seperti itu. Karena tanpa kita memegang yang namanya tanda bukti hak hukum atas tanah yang namanya sertifikat, sengketa. Tapi kalau sudah pegang sertifikat mau apa. Ada orang lain datang, mengklaim, “itu tanah saya.” “Enggak, itu tanah saya, di sini ada nama jelas.” Namanya, luasnya ada semuanya sudah. Pegang ini sudah. Mau diajak ke pengadilan juga sudah pegang ini sudah menang.

Yang kedua saya titip, kalau sudah pegang sertifikat, tolong diberi plastik. Semuanya sudah ada plastiknya? Ya, bagus.

Yang kedua, saya titip difotokopi. Sampai di rumah difotokopi karena kalau hilang, yang asli hilang, kopiannya masih ada, fotokopinya masih ada. Taruhnya di tempat berbeda, yang asli lemari sini yang fotokopi lemari sini. Sehingga kalau hilang bisa mengurusnya cepat. Kenapa diplastik? Kalau gentengnya bocor, kena air, enggak rusak. Sertifikat ini adalah barang yang penting.

Yang ketiga,  ini biasanya kalau sudah pegang sertifikat, sayaa enggak tahu kalau di Jawa Barat, biasanya ingin disekolahkan. Benar ndak? Nah, betul, ngaku semua. Enggak apa-apa, ini enggak apa-apa. Memang sertifikat ini bisa dipakai untuk jaminan, bisa dipakai untuk agunan, bisa. Tapi tolong, sebelum meminjam uang dari bank, cari bank yang paling baik, tapi dihitung dulu, dikalkulasi dulu, bisa mengangsur enggak setiap bulan, bisa mencicil enggak setiap bulan. Kalau enggak bisa dari hitung-hitungan, jangan. Saya sarankan jangan dipaksakan untuk mengambil pinjaman ini dipakai agunan.

Apalagi kalau tanahnya gede, pinjam di bank dapat 300 (tiga ratus) juta, 150 (seratus lima puluh) juta dibelikan mobil. Ini enggak benar. Paling-paling bapak-ibu sekalian, kalau dapat pinjaman 300 (tiga ratus) juta, 150 (seratus lima puluh) juta untuk beli mobil, gagahnya itu hanya 6 (enam) bulan. Bisa nyetir mobil, waduh gagah, dilihat tetangga gagah. 6 (enam) bulan, setelah 6 (enam) bulan ditarik sama dealer, sertifikatnya juga hilang ditarik bank.

Hati-hati, kalau pinjam di bank dapat 300 (tiga ratus) juta gunakan seluruhnya untuk modal usaha, gunakan seluruhnya untuk modal investasi, untuk modal kerja. Jangan diotak-atik untuk hal-hal yang berbau kenikmatan, untuk beli mobil, beli sepeda motor. Jangan. Kalau sudah usahanya berjalan dapat keuntungan 10 (sepuluh) juta tabung, keuntungan 15 (lima belas) juta tabung, keuntungan 5 (lima) juta tabung. Nah tabungannya itu mau dipakai untuk buat beli sepeda motor, mau dipakai untuk beli mobil silakan, tapi jangan dari uang pinjamannya. Hati-hati, ini saya di mana-mana selalu saya sampaikan ini karena memang kebiasaan kita seperti itu. Dapat 30 (tiga puluh) juta ingin gagah, 15 (lima belas) jutanya belikan sepeda motor. Muter-muter kampung gagah, ya 6 (enam) bulan, setelah itu sepeda motor ditarik dealer, sertifikatnya hilang. Hati-hati.

Yang terakhir bapak-ibu sekalian, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya. Negara kita ini adalah negara besar. Penduduk kita sekarang sudah 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta. Ini jumlah yang sangat besar sekali. Penduduk di Singapura itu 5 (lima) juta, Indonesia 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta. Penduduk Malaysia itu 24 (dua puluh empat) juta, Indonesia 263 (dua ratus enam puluh tiga)  juta. Ini negara yang besar dan penduduk sebanyak 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta itu hidup tersebar di 17.000 (tujuh belas ribu) pulau yang kita miliki.

Dan kita dianugerahi oleh Allah berbeda-beda, majemuk, penuh dengan keragaman. Kita memiliki 714 (tujuh ratus empat belas) suku, 714  (tujuh ratus empat belas)  suku. Di Singapura itu hanya 4 (empat) suku, Indonesia 714  (tujuh ratus empat belas). Saya pulang dari Afghanistan, saya tanya Afghanistan ada berapa suku, ada 7 (tujuh) suku, Indonesia 714  (tujuh ratus empat belas) yang berbeda-beda agama, berbeda-beda tradisi, berbeda-beda adat, berbeda-beda bahasa daerah. Kita memiliki 1.100 (seribu seratus) lebih bahasa daerah. Sekali lagi, inilah anugerah Allah yang diberikan kepada kita bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, saya mengajak kepada kita semuanya jangan sampai ada gesekan antarsuku, antaragama. Apalagi gara-gara pilhan bupati atau pilihan wali kota atau pilihan gubernur atau pilihan presiden. Itu pesta demokrasi hanya setiap 5 (lima) tahun sekali jangan sampai memecah kita, memecah-belah kita. Gara-gara pilihan bupati antartetangga enggak omong-omong, sudah enggak mau menyapa. Banyak seperti itu. Ya ndak? Benar ndak?

Jangan sampai kita ini lupa bahwa kita ini saudara sebangsa dan setanah air. Karena pilpres antarkampung tidak saling menyapa, jangan sampai. Rugi besar kita nanti. Jangan sampai kita dikompor-kompori, dipanas-panasi oleh para politisi sehingga kita antartetangga tidak saling sapa, antarkampung tidak saling sapa. Marilah, saya mengajak kita membangun persaudaraan kita, ukhuwah islamiyah kita, ukhuwah wathaniyah karena kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Silakan ada pilihan bupati, pilih yang paling baik figurnya, coblos, sudah rukun kembali. Ada pilihan gubernur, silakan pilih yang paling baik, coblos, sudah rukun kembali. Ada pilpres, pilih yang paling baik, coblos, rukun kembali. Jangan sampai kita pecah gara-gara urusan pesta demokrasi setiap 5 (lima) tahun sekali. Rugi besar kita, rugi besar.

Karena memang di dalam pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan pilpres itu banyak sekali fitnah-fitnah. Saya merasakan. Dalam pilpres ada fitnah Presiden Jokowi itu PKI. Seperti itu. Saya diam-diam saja karena logikanya enggak masuk. PKI itu dibubarkan tahun ‘65, saya lahir tahun ‘61. Masa ada PKI umur 4 (empat) tahun? Ada PKI balita? Tapi ada yang percaya gitu lho. Ada yang percaya dan malah ada gambar itu. Gambarnya dibawa ndak? Saya berjejer dengan DN Aidit, Ketua PKI tahun’55. Aidit pidato tahun ‘55 saya lahir saja belum kok saya sudah jejer di situ coba. Betapa jahatnya politik kadang-kadang seperti itu. Coba gambarnya ada ndak? Ada. DN Aidit pidato di podium, saya di dekatnya. Saya lahir tahun ’61, pidatonya ini tahun ’55. Logikanya enggak masuk tapi juga ada yang percaya.

Oleh sebab itu, hati-hati. Dalam memilih pemimpin baik di kabupaten, baik di kota, baik di provinsi, baik tingkat nasional hati-hati. Karena yang namanya cara-cara fitnah seperti ini di mana-mana.

Ada yang menyampaikan juga, saya anaknya Oey Hong Liong, dari Singapura. Waduh, bapak saya itu orang desa, orang kampung. Bapak saya dari Karanganyar, Ibu saya dari Kabupaten Boyolali, orang desa semuanya. Lah kok sampai Singapura?

Ya itulah yang namanya politik. Rakyat jangan terperdaya oleh fitnah-fitnah seperti itu.

Dan pada kesempatan yang baik ini, kita patut bersyukur bahwa negara kita memiliki ideologi Pancasila, yang mempersatukan kita. Perbedaan-perbedaan kita, keragaman kita ini bisa disatukan karena Pancasila. Ada yang hafal Pancasila? Silakan tunjuk jari! Maju ke depan. Ya tadi paling cepat itu, itu tunjuk jari. Ya sana yang itu Pak. Sebentar, ya yang belakang ini tadi yang pertama kelihatannya saya lihat tunjuk jari. Ya, silakan maju.

Tadi saya sampaikan negara kita sangat beragam, kita memiliki 714 (tujuh ratus empat belas) suku yang ada di Indonesia. Sebutkan saja 10 (sepuluh) nama suku. Sebentar, sebutkan 10 (sepuluh) nama suku. Sebentar.

Satu lagi, tadi saya sampaikan negara kita memiliki samudra/laut yang sangat luas, 2 (dua) per 3 (tiga) negara kita adalah air, di dalam air ada ikannya. Ini untuk ibu-ibu ini, untuk ibu-ibu, silakan tunjuk jari ibu-ibu. Sebutkan 7 (tujuh) nama ikan.

(Dialog Presiden RI dengan perwakilan penerima sertifikat)

Baiklah ibu dan bapak sekalian yang saya hormati,
Sekali lagi, apa yang sudah bapak-ibu terima berupa sertifikat tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki gunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan keluarga kita, untuk menyejahterakan keluarga kita. Simpan baik-baik di dalam almari karena ini adalah sebuah barang yang sangat berharga bagi kita.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru