Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Gedung Sekolah SMP, SMA, dan Rumah Susun Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka II, 21 Mei 2018, di Padang, Sumatra Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 21 Mei 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.554 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para ulama yang hadir pada siang hari ini, wabil khusus Profesor Buya Syafi’i Ma’arif yang datang jauh-jauh dari Jogjakarta pada siang hari ini,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, Gubernur Sumatra Barat beserta ibu, Wali Kota Padang,
Yang saya hormati keluarga besar Prof. Buya Hamka, ketua pembina, ketua umum, dan segenap pengurus Yayasan Wawasan Islam Indonesia,
Para santri, hadirin, dan undangan yang berbahagia.

Saat kita mengingat perjalanan hidup Buya Hamka maka kita akan mengingat bahwa almarhum adalah tokoh besar Islam bagi masyarakat Minang, bagi masyarakat Indonesia, dan bahkan di mancanegara. Almarhum Buya Hamka adalah tokoh ulama yang dihormati, sastrawan besar, sejarawan yang disegani, dan tokoh yang menaruh perhatian besar kepada pendidikan ilmu pengetahuan terhadap generasi muda kita, generasi Indonesia.

Hadirin sekalian yang saya hormati, Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka adalah bukti nyata bahwa cita cita almarhum Buya Hamka telah berhasil menembus waktu dan generasi. Dimulai dengan sederhana sampai dengan sekarang akhirnya kita meresmikan gedung unit sekolah baru SMP, SMA, rusun, dan juga Masjid Hj. Yuliana.

Harapan kita semuanya adalah agar Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka ini terus menjadi ladang subur bertumbuhnya santri yang berakhlak mulia, yang akhlakul karimah, yang tangguh dan ulet, yang selalu bersikap optimis, dan yang akan membawa Indonesia menjadi negara yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya bahwa negara kita ini adalah negara yang besar. Penduduk kita sekarang sudah 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta. Juga perlu saya ingatkan, negara ini adalah negara yang beragam yang majemuk. Kita memiliki 714 (tujuh ratus empat belas) suku, 714 (tujuh ratus empat belas) suku yang berbeda-beda adat, tradisi, dan bahasa daerahnya. Itu semuanya tersebar di 17.000 (tujuh belas ribu) pulau di 514 (lima ratus empat belas) kabupaten dan kota dan 34 (tiga puluh empat) provinsi. Saya hanya ingin mengingatkan marilah kita bersama-sama membangun terus persaudaraan kita, membangun ukhuwah islamiyah kita, membangun ukhuwah wathaniyah kita. Sekali lagi, karena kita adalah satu saudara sebangsa dan setanah air.

Dan pada kesempatan yang baik ini, saya pagi hari ini sudah ngomong ini 3 (tiga) kali, tapi ingin saya ulang lagi. Di provinsi yang lain juga sering saya sampaikan mengenai isu-isu yang berkembang, yang berkaitan dengan diri saya. Karena banyak yang menyampaikan di bawah.

Saya pernah datang ke sebuah pondok, pimpinan pondok bisik-bisik ke saya, “Presiden Jokowi, saya mau berbicara 4 (empat) mata.” Saya kaget, “pasti rahasia ini.” Setelah masuk ke kamar, beliau menyampaikan, “apakah benar Presiden Jokowi itu PKI?” Saya kaget, saya kaget saat itu, tapi langsung saya jelaskan juga. Syukur ada yang menyampaikan blak-blakan seperti itu sehingga saya juga bisa blak-blakan kepada beliau, Pak Kyai

Tetapi ternyata di bawah hal-hal seperti ini masih terus berjalan sehingga saya perlu berbicara. PKI itu dibubarkan tahun ’65, saya lahir tahun ’61, artinya umur saya baru 3 (tiga) – 4 (empat) tahun saat itu. Apa ada PKI balita?

Begitu luput itu, ini namanya isu khan, diisukan yang lain, orang tuanya. Sekarang ini mudah sekali, ini zaman keterbukaan. Orang bisa menelusuri orang tua, kakek-nenek, gampang sekali. Muhammadiyah punya cabang di Solo, NU punya cabang di Solo, Al-Irsyad punya cabang di Solo, Perti ada cabang di Solo, Parmusi ada cabang di Solo, dan ormas-ormas yang lain ada semuanya. Tanya saja di masjid di dekat rumah saya, rumah orang tua saya. Sangat mudah sekali, sangat mudah sekali.

Yang kedua, juga yang berkaitan dengan isu yang lain, Presiden Jokowi itu keturunan Oey Hong Liong dari Singapura. Bapak-ibu saya itu orang desa semuanya. Bapak saya dari Karanganyar, Kabupaten Karanganyar dan ibu saya dari Kabupaten Boyolali, dua-duanya dari desa. Saya ini orang kampung, sudah ngaku saja. Jadi kalau saya diisukan, mungkin sudah ada yang senang diisukan keturunan Singapura, enggak, apa adanya, memang saya dari kampung, ya saya ngomongnya dari kampung.

Isu-isu seperti ini saya kira akan menghabiskan, kalau di terus-teruskan menghabiskan energi kita. Kita banyak berpikir jelek, yang kita kembangkan selalu su’ul tafahum, berprasangka jelek, gampang curiga, gampang berpikir negatif, gampang berpikir dengan penuh kebencian lewat ujaran-ujaran kebencian. Dan tidak kita berpikir yang penuh dengan kecintaan, berpikir yang positif, berpikir yang baik, khusnul tafahum.

Tapi ya inilah politik Indonesia dan saya kira masyarakat pun sekarang semakin dewasa, semakin matang berpolitik, bisa memilah-milah.

Dan terakhir saya ingin mengingatkan kembali kutipan dari Buya Hamka, “kemunduran negara tidak akan terjadi kalau tidak karena kemunduran budi dan jiwa.” Beliau pernah mengatakan ini dan ini selalu dikutip di mana-mana.

Saya ulangi, “kemunduran negara tidak akan terjadi kalau tidak karena kemunduran budi dan jiwa.”

Saya tutup.
Terima kasih.
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya resmikan gedung unit sekolah baru SMP, gedung unit sekolah baru SMA, dan rusun Pondok Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka, dan juga Masjid Hj. Yuliana.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru