Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Executive Leadership bagi Direksi BUMN, 25 Januari 2017, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 25 Januari 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 5.812 Kali

Logo-Pidato2-8Selamat siang,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, khususnya Menteri BUMN,
Yang saya hormati para Direksi dan Komisaris Utama BUMN yang pada siang hari ini hadir,
Hadirin yang berbahagia,

Saya ingin memulai sambutan saya dengan sedikit memperlihatkan mengenai pertumbuhan ekonomi kita. Yang saya kira, menurut saya, sebuah pertumbuhan ekonomi yang baik di tengah-tengah melambatnya ekonomi global, di tengah-tengah turunnya ekonomi global, dan sulitnya situasi ekonomi yang kita alami. Kita masih bisa tumbuh, misalnya di kuartal II/2016 5,18, di kuartal III-nya turun sedikit menjadi 5,02. Kemudian kalau kita bandingkan dengan negara-negara G20, kita enggak jelek-jelek amat, masih nomor 3 kok. Kalah dengan India, kalah dengan RRT, dan lebih baik dibanding yang lainnya. Dan coba dilihat, yang lain sudah minus, yang lain turunnya sangat drastis sekali.

Inflasi kalau kita lihat dua tahun ini sangat baik. Yang sebelumnya 8,5-9 sekarang bisa kita tekan menjadi tahun 2016 3,02 dan tahun 2015 3,35, artinya masih di bawah 4. Kalau dibandingkan dengan pertumbuhan ekonominya tadi, paling penting kita enggak tekor. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi kita kelihatannya 6 tapi inflasinya 9. Untuk apa? Rakyat pasti merasakan.

Dan pertumbuhan ekonomi di 2017 ada yang menyampaikan, misalnya Indef 5%; BI 5-5,4%; Menteri Keuangan 5,1% saya suruh naik 5,3% enggak berani, kalau saya berani; Bank Dunia 5,3%; ADB 5,5%; Fitch Rating 5,5%. Artinya apa? Kita ini harusnya ada rasa optimis, di situ harus ada optimisme. Kemudian pendapatan negara di 2017 kita perkirakan akan muncul angka Rp1.750 triliun, belanja negara Rp2.080 triliun. Artinya apa? Kita harus optimis dengan angka-angka yang tadi saya sampaikan. Harus optimis, kalau masih ada yang pesimis, apalagi gitu loh? Kerja saja kok pesimis. Untuk apa kerja kalau hanya pesimis.

Kalau saya biasa menyampaikan kepada Menteri, kerja itu harus optimis, tapi optimisme yang realistis, optimisme yang berpijak pada kondisi obyektif. Karena kita juga harus mengerti, bahwa dunia kan sekarang sangat volatil sekali, gampang bergejolak. Tiba-tiba ada yang tidak kita perkirakan, mulai dari misalnya dari setelah pelantikan kita, misalnya krisis Yunani; muncul lagi pertumbuhan ekonomi di Tiongkok yang anjlok; bingungnya belum rampung muncul lagi Brexit; kemudian orang sekarang ragu-ragu lagi, bimbang lagi, karena terpilihnya Presiden Donald Trump. Saya tidak, tidak ada rasa pesimis. Orang kok yang dilihat senangnya kok yang negatif, orang melihat kok senangnya yang hal-hal yang tidak baik. Kenapa kita enggak selalu positive thinking? Itu yang menumbuhkan optimisme di situ. Kenapa senang kita menyampaikan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang jelek-jelek? Kenapa kita tidak sampaikan yang baik-baik tetapi yang realistis?

Sehingga saya mengajak Saudara-saudara semuanya untuk optimis melihat ke depan. Kalau tahun 2016 pertumbuhan ekonomi 5 lah ya, karena hitungannya belum selesai, 5 lebih sedikit, 5 koma nol berapa gitu, tapi 5 lah, jangan sampai di bawah 5. Kemudian muncul 2017, ada yang tadi: 5,1; 5,3, kenapa dengan angka-angka yang sudah diperkirakan, diprediksi seperti itu kita pesimis?

Yang ingin saya sampaikan adalah BUMN ini harus berani. Berani apa? Kalau saya, meningkatkan target investasi. Saya mendapatkan laporan, 2016 Rp285 triliun, 2017 targetnya Rp450 triliun, 2018 Rp700 triliun. Ini saya ikuti terus, jangan di pikir saya enggak mengikuti. Saya ikuti terus.

Tapi yang paling penting bagaimana kita mengantisipasi perubahan-perubahan tadi, perubahan-perubahan yang sangat cepat ini, dengan cara-cara yang tidak linier, dengan cara-cara yang tidak rutinitas, dengan cara-cara yang tidak monoton, apalagi senang dengan zona nyaman. Ya sudah, habislah kalau kita masih seperti itu. Apalagi BUMN sebagai entitas bisnis, habis kita dengan perubahan yang cepat sekali sekarang ini.

Oleh sebab itu, saya ingin menyampaikan bahwa yang namanya transformasi menuju dunia digital itu harus di semua BUMN. Kalau tidak mengikuti ini, habis sudah. Karena kalah kecepatan, karena kalah pelayanan. Karena bisnis sekarang kalau tidak lincah, tidak cepat, tidak segera memutuskan, ditinggal kita, ditinggal.

Waktu kita masuk ke markasnya Alibaba misalnya, melihat. Cerita saja sudah bingung kita, kita berada di posisi mana, dengan mereka sudah berada pada posisi seperti itu. Mereka membangun berapa retail platform, membangun logistic platform yang besar sekali, yang selalu mendahului. Kalau kita tidak bisa meloncati di sisi itu, ya harus bisa meloncati di sisi yang lain, kalau tidak semuanya, di tinggal kita.

Sekali lagi, peta persaingan akan berubah secara radikal dengan perubahan-perubahan yang sangat cepat sekali. Contoh di minyak dan gas, kita masih berkutat pada batubara, batubara, batubara, misalnya. Di Amerika ketemu shale gas dan shale oil, tapi belum itu urusan energi itu belum rampung kita mengerti itu apa sih, muncul lagi sekarang yang lebih murah yang Solar Cell yang dulu mahal, saya dengar baru beberapa minggu ini harganya sudah 1,9 – 3 sen di Timur Tengah. Perubahan-perubahan seperti ini kalau BUMN tidak mempunyai R&D yang baik, tidak mempunyai lembaga riset yang baik, atau misalnya kerja sama dengan BPPT, ya kita masih berkutat, senang dengan hal-hal yang kita hadapi, rutinitas setiap hari. Orang lain sudah ke mana-mana.

Sekali lagi, tinggalkan yang namanya zona nyaman, tinggalkan. Kita masih urusan-urusan yang konvensional saja belum selesai. Betapa kita ini sudah berhadapan dengan persaingan yang betul-betul sangat kompetitif dan persaingan yang sangat radikal betul, antar negara, apalagi antar perusahaan.

Oleh sebab itu saya titip, yang pertama mengenai holding. Ini setelah pelantikan saya sampaikan, segera holdingisasi ini dilakukan. Tetapi hati-hati, kalkulasinya yang matang, tetap harus dengan catatan-catatan. Kalkulasinya yang matang, menaati Undang-Undang yang ada, betul-betul ini harus dijaga. Ini ada prosesnya yang kita harus lakukan. Saya tahu bahwa dengan holding nanti ini kita akan mendapatkan sebuah lompatan karena modal perusahaan menjadi tambah besar, mudah cari pendanaan, akan kesana arahnya. Tapi sekali lagi hati-hati, karena kadang-kadang lincah kalau dipecah, pecah juga.

Oleh sebab itu, saya sampaikan garisbawahi, tolong digarisbawahi, hati-hati kalkulasinya. Cepat, tapi kalkulasinya yang matang, jangan asal gabung, jangan asal besar. Arahnya baik, tujuannya baik tetapi prosesnya ini harus betul-betul hati-hati. Karena ke depan ini harus dikalkulasi betul masalah yang berkaitan dengan kendali manajemennya seperti apa, supervisinya seperti apa, tata kelolanya seperti apa, efisiensinya seperti apa, betul-betul dihitung detil betul, rinci betul, beban finansialnya seperti apa. Mungkin untuk BUMN-BUMN kita yang sudah baik bisa tetapi banyak yang masih tidak baik. Itu yang harus dihitung, hati-hati. Jangan sampai membebani, yang baik malah terbebani yang tidak baik, yang baik menjadi tidak baik. Enak dong yang tidak baik, gandul yang baik.

Jadi libatkan banyak institusi, terbuka, sehingga semua orang bisa memberikan masukan yang baik untuk perbaikan BUMN kita. Saya optimis sekali kita akan menjadi baik, BUMN akan menjadi baik. Tapi apa yang saya sampaikan tadi, hati-hati.

Yang berkaitan dengan bisnis. Saya kira banyak sekali sekarang ini peluang-peluang yang sebetulnya tidak pernah kita pikirkan. Dan tentu saja kalau BUMN mempunyai kemampuan, kenapa tidak masuk. Contoh BPO (Business Process Outsourcing) tidak pernah dilirik, tidak ada yang lihat. Tapi di Filipina yang saya baca, ingat di Filipina, itu per tahun bisa mencapai turn over-nya 25 miliar US Dollar. Dan yang bisa diangkut ke sana ada 130.000 tenaga kerja anak-anak muda. Ini bisnis jasa. Tidak usah lah ikut-ikutan Filipina yang mereka punya segmen sendiri, yang berkaitan dengan call center misalnya, di sana yang berkaitan dengan telemarketing, yang berkaitan dengan nagih kredit, yang berkaitan dengan customer service, yang jaringannya jaringan internasional, bukan hanya di Filipina.

Kita tidak usah mengikuti mereka di situ, bisnis jasa yang lain kan banyak. Saya lihat mulai tumbuh, tetapi ini tidak ada yang mendorong. Hal-hal yang berkaitan dengan jasa animasi, jasa desain. Bukan untuk kita lho ya, untuk masuk ke bisnis internasional. Kenapa tidak? Saya melihat sudah ada 1, 2, 3, 4. Kenapa kita tidak bisa masuk ke sana? Hal-hal seperti itu yang mulai harus kita pikirkan. Jangan berkutat dengan bisnis-bisnis konvensional yang sudah berpuluh-puluh tahun kita geluti, padahal ada bisnis-bisnis baru yang juga menjanjikan yang saya kira perlu perintisan. BUMN saya kira memiliki peluang untuk masuk ke hal-hal yang tadi saya sampaikan.

Hal yang berkaitan dengan perbankan. Saya kira saat bertemu sebelum ini juga saya sampaikan, target pertumbuhan kredit. Tahun yang lalu kita tumbuh 8%, rata-rata seluruh perbankan hanya 8%. Tahun ini, kemarin ditulis 9-12%, betul ya? Saya enggak mau ambil 9-nya, saya ambil 12-nya. Mentang-mentang diberi 9-12 ngambil-nya yang 9, enggak mau saya. 12% rata-rata harusnya dapat.

Tetapi saya titip, ini kepada semua Direksi, Komut, agar arahnya itu ke usaha-usaha kecil, arahnya itu ke usaha-usaha menengah, arahnya itu ke produksi-produksi petani, arahnya itu nelayan, arahnya itu ke daerah, arahnya itu ke desa-desa. Kenapa seperti itu? Saya kira Saudara-saudara sudah tahu, kesenjangan antara kaya dan miskin di negara kita ini sudah lebar. Gini ratio kita sebelumnya 0,41, itu kuning menuju merah, meskipun 2016 kemarin turun sedikit menjadi 0,397 tapi baru sedikit.

Oleh sebab itu, semangatnya kesana. Perbankan maupun BUMN yang lain arahnya ke tadi yang saya sampaikan. Berbahaya kalau kita terus-teruskan. Kita urus yang benar lah usaha-usaha kecil kita, usaha-usaha menengah kita, usaha-usaha mikro kita, keuangan syariah kita, bisnis syariah kita. Kita urus betul. Yang paling cepat, paling enak memang mengurus dengan yang gede, 9 orang ya sudah, sudah beres. Yang kecil-kecil jutaan. Saya tahu itu opex-nya juga lebih tinggi, belanja operasional mesti lebih tinggi. Tapi ini sekali lagi, ini adalah keberpihakan, saya ingin mengingatkan jangan lupa mengenai itu.

Yang terakhir, yang berkaitan dengan governance. Saya minta semua BUMN betul-betul jangan sampai ada yang kena masalah lagi. Saya enggak mau ada yang kena masalah lagi, baik dirutnya, baik direksinya, baik yang ada di bawah direksi, jangan sampai. Hati-hati semuanya, governance hati-hati, karena sekarang ini era keterbukaan ini. Saudara-saudara melakukan kesalahan sekarang, ketemunya baru lima tahun – sepuluh tahun yang akan datang, bisa. Tapi kalau enggak ngambil ya jangan takut, ngapain takut memutuskan, enggak ngambil saja kok. Hati-hati. Kejadiannya 2012 ketemunya sekarang, hati-hati. Saya enggak ngomong di BUMN mana, tapi gambarnya ada. Hati-hati, hati-hati, hati-hati, governance hati-hati.

Jangan ada yang datang ke Saudara-saudara atas nama saya, misalnya. Siapa pun, enggak ada. Enggak mau saya, nama saya dipakai-pakai, ndak. Siapa pun, entah orang dekat saya, entah saudara saya, enggak ada. Ini saya ingatkan. Kenapa saya ingatkan, saya mencintai Saudara-saudara semuanya, jangan sampai kena.

Saya ingin BUMN kita ini bisa meloncat, bisa melompat. Dan saya melihat ada kesempatan, saya melihat ada peluang untuk itu. Jangan hilangkan kesempatan dan peluang yang ada ini, kita perbaiki bersama-sama, kita benahi bersama-sama.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya mengucapkan selamat bekerja, selamat bertugas, semoga tadi yang kita targetkan semuanya bisa kita capai, dan betul-betul BUMN memberikan manfaat bagi rakyat, bagi negara kita.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru