Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) ke-26 Tahun 2018 dan Peluncuran Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes), 2 Agustus 2018, di ICE BSD, Tangerang, Banten

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Agustus 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.082 Kali

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Menteri Perindustrian beserta seluruh menteri yang hadir, Ketua OJK, Gubernur Banten;
Yang saya hormati yang mulia para duta besar negara-negara sahabat;
Yang saya hormati Ketua Gaikindo Bapak Yohannes Nangoi, beserta seluruh jajaran pengurus dan anggota Gaikindo;
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia, utamanya para pelaku industri otomotif.

Pagi hari ini senang sekali saya bisa hadir pada acara Gaikindo Indonesia Internastional Auto Show (GIIAAS) yang setiap tahun selalu diadakan. Dan ini saya harus ngomong apa adanya, baru pertama kali saya hadir di Gaikindo Indonesia Internastional Auto Show. Banyak yang menyampaikan kepada saya, “Pak Presiden, kalau Bapak hadir di Gaikindo Indonesia Internastional Auto Show bisa lihat model-model baru, Pak. Maaf maksud saya model-model mobil baru. Jadi Bapak nanti bisa melihat karena memang ini adalah pameran mobil terbesar bukan hanya di Indonesia, tapi masuk dalam jajaran pameran mobil terbesar di dunia”.

Bapak-Ibu yang saya hormati,
Di antara semua sektor perindustrian, saya melihat sektor otomotif termasuk yang paling internasional. Rantai produksinya sudah global, skala ekonominya juga sudah global, branding-nya pun juga sudah global. Dengan demikian tentunya kita harus memperhatikan dan harus mencermati perkembangan-perkembangan sektor otomotif di dunia internasional. Karena sudah dimulai di negara-negara maju, kemudian masuk ke negara-negara tetangga, sebentar lagi tinggal tunggu waktu sampai tren-tren tersebut masuk ke negara kita, Indonesia. Karena kita juga bagian dari rantai produksi, rantai pasar dari industri otomotif global.

Otomotif sekarang menghadapi 3 tantangan yang perlu kita cermati. Ada 3 tantangan yang perlu kita cermati. Yang pertama, semakin meluasnya fenomena mobil listrik. Ini fenomena yang dimulai dari Elon Musk dengan produk mobil listriknya Tesla, dimulai dari sana. Dulu Tesla masih merupakan barang langka, barang yang eksotis, tapi sekarang dengan semakin banyak negara mengadopsi mobil listrik, tren di seluruh dunia semakin jelas, dunia semakin beralih ke mobil listrik. Ini hati-hati kita menyiapkannya. Pemerintah Prancis maupun Pemerintah Inggris, dua-duanya sudah mengumumkan tahun lalu, pengumumannya tahun lalu, mulai tahun 2040 mobil yang non-listrik akan dilarang untuk dijual di kedua negara ini, di Perancis dan di Inggris. Pemerintah Tiongkok juga sudah mengumumkan akan menjadi terdepan di dunia dalam mengembangkan industri mobil listrik. Dan sekarang juga sudah menjadi pasar terbesar dunia untuk mobil listrik. Ini kita harus hati-hati.

Tantangan yang kedua bagi industri otomotif dunia adalah teknologi-teknologi disrupsi (disruption technology) seperti kendaraan otonom, yaitu kendaraan yang bisa mengendarai dirinya sendiri. Dan aplikasi transportasi online, seperti Gojek, Grab, dan Uber. Dengan kendaraan otonom, bisa-bisa kita harus meredefinisi apa itu mobil.

Ini adalah contoh-contoh inovasi kendaraan otonom. Kita selalu pikir kendaraan otonom itu seperti mobil yang bisa mengendarai dirinya sendiri langsung dipakai konsumen di jalanan umum. Tapi mungkin di awal kendaraan otonom akan dipakai untuk mengangkut kargo dulu, untuk jasa delivery. Ini adalah sebuah kendaraan otonom dari startup di Silicon Valley untuk mengantarkan barang, untuk menjalankan jasa delivery. Hati-hati dengan perkembangan-perkembangan seperti ini. Kemudian ada kendaraan otonom dari sebuah startup di Los Angeles yang berfungsi sebagai shuttle untuk penumpang, seperti minivan yang beroperasi hanya di dalam kampus, di dalam zona yang terbatas dalam menjalankan rutenya yang tetap. Apakah kendaraan-kendaraan seperti ini masih bisa diistilahkan mobil? Ya mungkin industri otomotif yang harus memperluas definisinya supaya bisa mencakup inovasi-inovasi seperti ini.

Kemudian aplikasi transportasi online. Mobil, dari tadinya merupakan sebuah produk, sudah beralih menjadi sebuah jasa. Pasti di antara kita, anak-anak kita, sekarang ini semakin terbiasa panggil Grabcar, Gocar, dan mungkin akan malas belajar nyetir anak-anak kita nanti, mungkin malas juga bikin SIM. Nanti anak-anak kita makin banyak yang bilang, “lho ngapain saya belajar nyetir dan beli mobil, kalau saya perlu mobil tinggal panggil pakai aplikasi.” Tinggal panggil pakai aplikasi. Dan ini sudah dimulai di negara-negara lain.

Yang ketiga adalah risiko jangka pendek. Ini juga harus kita waspadai yaitu siklus otomotif yang mungkin sudah mulai memuncak terutama di pasar-pasar besar seperti Amerika dan Tiongkok. Ini juga harus dilihat. Tentunya kita semuanya sangat mengerti, sangat paham bahwa industri otomotif itu ada siklusnya, dan siklusnya sangat peka terhadap siklus ekonomi yang ada. Banyak peneliti mulai bilang, jumlah penjualan mobil di Amerika mungkin sudah setinggi-tingginya, mungkin sudah mentok dan sulit untuk naik lagi. Justru kemungkinan besar beberapa tahun ke depan akan mulai menurun. Ini yang saya baca. Kemudian kalau di Tiongkok, karena ekonominya sedang masuk tren perlambatan, apalagi sekarang juga dihantam oleh perang dagang dengan Amerika.

Jadi kita harus siap menghadapi kondisi-kondisi ini, kalau siklus otomotif dunia mengalami penurunan dalam tahun-tahun mendatang. Tetapi kita juga masih optimis bahwa pasar kita adalah juga pasar besar. Tetapi memang selalu saya sampaikan kepada industri otomotif agar terus didorong untuk pasar-pasar ekspor. Apalagi, kembali lagi, peran industri otomotif dalam ekonomi kita ini sekarang sudah besar sekali. Dengan posisi sektor nomor 2 terbesar dalam industri pengolahan, dan masuk 5 besar sumber investasi dalam sektor industri.

Apa yang harus kita lakukan? Yang pertama jelas kita, pemerintah, akan terus all out untuk membantu dan mendukung industri otomotif. Misalnya kemarin urusan dengan Vietnam, saya bertemu langsung dengan Perdana Menteri, saya sampaikan blak-blakan, ini seperti apa kok mobil kita masuk ada barrier seperti itu. “Presiden Jokowi, nanti beri waktu saya 2 bulan untuk menyelesaikan ini,” ternyata diselesaikan. Tapi masih ada lagi masalah yang non-barrier. Nanti saya ketemu ngomong lagi saya.  Semua negara sekarang seperti itu, kalau main barrier sulit, non-barrier.

Dan pemerintah sedang menyiapkan berbagai insentif yang nanti juga bisa diberikan kepada industri otomotif. Saya sudah sampaikan ke Menteri Keuangan, termasuk tax holiday yang jauh lebih agresif, tax allowance yang sedang dalam kajian adalah super deduction untuk pajak, di mana biaya perusahaan untuk kegiatan-kegiatan seperti pelatihan vokasi, ini sudah mulai banyak dilakukan oleh industri otomotif kita untuk pekerjanya, bisa dipotong 200 persen dari penghasilan yang kena pajak (PKP). Ini akan gede sekali, tapi ini masih dalam kajian di Menteri Keuangan.

Namun industri otomotif itu sendiri, Bapak-Ibu sekalian, juga harus rajin keluar dari zona nyaman. Hati-hati kita ini kadang-kadang kalau sudah masuk ke zona nyaman itu keluarnya sulit. Jadi kita harus terus dinamis, terus bekerja keras untuk meneruskan, menerapkan inovasi-inovasi yang diperlukan. Saya menyambut baik inovasi AMMDes (Alat Mekanis Multiguna Pedesaan) yang hari ini akan kita luncurkan. Ini satu jenis kendaraan tapi kaitannya dengan industri hulunya sangat banyak. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri Perindustrian, dilaporkan lebih dari 70 industri komponen dalam negeri siap menjadi pemasok komponen AMMDes ini. Saya juga sangat senang bahwa industri otomotif kita bertumbuh baik, sudah mencapai ekspor 231 ribu unit CBU, 8,1 juta bisnis komponen otomotif di tahun 2017 yang lalu. Sehingga industri otomotif sekarang menduduki peringkat nomor 4 dari top 25 sektor ekspor non migas kita di periode Januari sampai Juni 2018, dengan nilai 3,45 miliar dolar AS. Ini besar sekali.

Dan terakhir ada satu inovasi yang kita sebagai negara saat ini sangat butuh, tadi sudah disampaikan oleh Ketua Gaikindo dan juga Menteri Pendustrian yaitu implementasi biodiesel B20, sampai ke segala sektor termasuk di luar kendaraan konsumen. Saya minta bantuan Bapak-Ibu semuanya untuk mendukung penuh ini supaya substitusi biodiesel produksi lokal bisa kita jalankan semaksimal mungkin. Saat ini kita tahu semuanya kita, negara, butuh dolar, kita perlu dolar. Dan sudah kita hitung dengan asumsi harga minyak mentah, harga crude oil itu 70 dolar per barel, dan dengan asumsi peningkatan penyerapan biodiesel, akan mengangkat harga minyak sawit, harga CPO naik 100 dolar per ton. Ini lompatannya besar sekali. Kalau kita bisa implementasi itu, maka negara akan menghemat devisa sebesar 5,9 miliar dolar AS, hampir 6 miliar dolar AS. Besar sekali. Sehingga kita akan konsentrasi ke situ dan proses ini akan saya ikuti terus, karena biasanya kita ini kalau sudah rapat “iya, iya, iya, iya” tapi keluar dari rapat lupa semuanya. Sekarang enggak, saya ikuti terus, saya ikuti terus. Dengan angka seperti itu, yang hampir 6 miliar dolar AS, lebih sepertiga dari current account deficit kita, dari defisit neraca transaksi kita yang ada, ini sudah terselesaikan. Itu akan menyelesaikan defisit neraca transaksi berjalan kita, current account deficit kita akan bisa kita selesaikan dengan cara tadi.

Jadi sekali lagi, saya minta kesungguhan dan keseriusan kita semuanya untuk membantu implementasi kebijakan biodiesel B20 ini. Brazil tahun 1970 sudah bisa implementasi kendaraan 100 persen bioetanol yang dibuat dari produk lokal gula tebu, masak kita yang punya produksi sawit jutaan ton tidak bisa menyelesaikan ini.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, secara resmi saya buka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), dan sekaligus saya luncurkan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes).

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru