Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia Tahun 2017, 2 Februari 2017, di JCC Senayan, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Februari 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.482 Kali

Logo-Pidato2-8Selamat pagi,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Pimpinan Komisi X DPR RI,
Yang saya hormati Ketua Forum Rektor Indonesia, beserta seluruh keluarga besar Forum Rektor Indonesia,
Yang saya hormati Yang Mulia para Duta Besar yang hadir, para Rektor perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta dari seluruh Indonesia,
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Dunia berubah secara radikal, kita semuanya merasakan. Dunia seakan-akan menjadi datar dan tanpa sekat, tanpa batas, dan juga kompetisi global semakin keras, semakin sengit. Semua negara merasakan ini. Dalam dunia seperti ini, kunci untuk bertahan hidup, kunci untuk memenangkan kompetisi, kunci untuk memenangkan persaingan, kunci untuk mencapai kemajuan, terletak pada kekuatan sumber daya manusia. Karena itu kita harus berani melakukan lompatan-lompatan dalam dunia pendidikan, sehingga lahir SDM-SDM, lahir sumber daya manusia yang memiliki etos kerja yang tinggi, memiliki kreativitas yang tinggi, memiliki inovasi yang tinggi, berani berkompetisi, berani bersaing. Sekali lagi, dunia sudah sangat terbuka saat ini.

Bapak/Ibu Rektor, hadirin yang berbahagia,
Saya ingin menginformasikan terlebih dahulu mengenai pertumbuhan ekonomi yang ada di negara kita. Pada Triwulan II tahun yang lalu kita tumbuh 5,18; Triwulan III tumbuh 5,02; dan yang Triwulan IV kalkulasinya belum kita dapatkan, mungkin pada pertengahan bulan Februari ini. Tetapi kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan negara-negara lain, misalnya dibandingkan dengan negara G20 kita pada nomor yang ketiga. Tertinggi yang ketiga di antara negara-negara itu. India pada posisi yang paling tinggi 7,9; RRC 6,7; dan kita 5,18. Ini sebuah hal yang tidak mudah kita capai karena negara-negara yang lain hampir semuanya anjlok, 1 persen, 2 persen, ada yang anjlok 4 persen, ada yang sudah pada posisi minus.

Yang kedua, yang berkaitan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi di 2017. Kalau kita lihat, ini menambah optimisme kita, misalnya dari Indef mengatakan 5 persen, kemudian Bank Indonesia 5-5,4 persen, Bank Dunia 5,3 persen, Fitch Rating berani menyampaikan 5,5 persen, ADB 5,5 persen. Artinya, kemungkinan besar akan ada kenaikan pada 2017.

Oleh sebab itu, jangan ada yang pesimis. Saya selalu menyampaikan kepada menteri-menteri, bekerja itu harus optimis. Membangun optimisme, sehingga masyarakat juga ikut terbangun optimismenya. Tapi persoalan besar yang kita hadapi sekarang adalah yang berkaitan dengan kesenjangan, yang berkaitan dengan ketimpangan, yang berkaitan dengan gini ratio. Posisi gini ratio kita sebelumnya 0,41. Meskipun tahun yang lalu sudah turun menjadi 0,397, tetapi itu tetap pada posisi yang masih tinggi, kesenjangan itu. Tapi kalau dibandingkan dengan negara yang lain gini ratio kita, ya kita masih di bawah China, kita masih di bawah Malaysia, kita masih di bawah Filipina, kita masih di bawah Thailand. Tetapi apapun ini adalah sebuah persoalan besar yang memerlukan penanganan.

Oleh sebab itu, pada tahun ini, sebentar lagi akan kita keluarkan sebuah kebijakan baru dalam bidang ekonomi, yaitu kebijakan pemerataan ekonomi. Akan ada kurang lebih 12,7 juta hektar lahan yang akan kita berikan kepada masyarakat. Konsesi itu akan kita berikan pada masyarakat, bukan pada perusahaan-perusahaan besar, bukan pada korporasi, tetapi pada masyarakat. Agar, sekali lagi, gini ratio itu menjadi semakin sempit. Sudah kita mulai Januari yang lalu di Kabupaten Pulang Pisau di Kalimantan Tengah, dibagi kelompok-kelompok ada yang diberi 400 hektar, ada yang kita beri 1.300 hektar, ada yang diberi 700 hektar. Dan juga tanah-tanah adat, bulan yang lalu juga sudah kita berikan. Ada mungkin 1.800 tanah adat, yang baru kita berikan kemarin baru sembilan, tapi sudah kita mulai. Ada yang kita beri 500, ada yang kita beri 800, ada yang kita beri 1.800, kita bagi-bagi kepada rakyat dalam proses redistribusi aset dan reforma agraria. Ini harus dimulai. Kalau dulu, diberikan 500.000 hektar, diberikan 300.000 hektar, sekarang kita berikan yang kecil-kecil tapi pada rakyat.

Tetapi memang harus ada proses kerja sama. Artinya, kalau sudah diberikan itu harus produktif. Jadi yang besar sekarang boleh bekerja sama dengan rakyat. Kalau  dulu, yang gede diberikan konsesi langsung membuat pabrik. Sekarang, yang gede silakan membuat pabrik tapi konsesinya ada di rakyat. Inilah sebuah kerja sama gotong royong yang ingin kita kerjakan ke depan, agar sekali lagi, gini ratio kita menjadi menyempit. Ini yang sebentar lagi akan kita keluarkan, kebijakan pemerataan ekonomi.

Kita juga terus melakukan percepatan pembangunan infrastruktur fisik dan infrastruktur sosial untuk mempercepat pemerataan ekonomi yang tadi saya sampaikan. Jangan sampai yang menikmati kue pembangunan hanya segelintir perusahaan-perusahaan besar atau orang di kelas atas. Tapi kita harapkan juga masyarakat yang di bawah bisa menikmati konsesi-konsesi yang ada. Pembangunan juga kita lakukan dimulai di pinggiran, dimulai di pulau-pulau terpencil. Mungkin saya bisa menunjukkan, misalnya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong, yang berpuluh tahun tidak pernah kita urus. Dua tahun yang lalu saat saya ke sana, saya betul-betul malu melihat kantor yang ada di seberang, di tetangga kita, dan bangunan yang ada di tempat kita, betul-betul seperti kandang, betul. Saya harus ngomong apa adanya, seperti kandang. Tapi sekarang kita boleh berbangga, saya kira 3-4 kali lebih baik dari yang ada di tetangga kita, yang Entikong.

Ada yang di Motaain, perbatasan antara NTT dengan Timor Leste, juga sama. Saya nengok yang di sebelah dengan yang di kita, kantornya kita itu kayak kantor kelurahan, disekat-sekat. Saat itu juga saya marah betul. Saya beri waktu, saya sampaikan, saya beri waktu maksimal dua minggu kantor ini harus diruntuhkan, harus dirobohkan. Saya sampaikan saat itu. Dan saya minta maksimal dua tahun gedung yang ada di sini harus minimal dua kali lebih baik dari yang di sana. Saya sudah perintah, saya jelas saat itu. Dan sekarang sudah jadi, yang di Motaain maupun di Motamasin, di sana ada dua yang besar. Kalau dulu orang kita senangnya foto-foto di sana, sekarang orang sana foto-foto di tempat kita. Karena memang lebih baik. Kalau Bapak/Ibu enggak percaya, silakan datang ke Motaain atau ke Motamasin. Dari Atambua ke perbatasan itu kira-kira 30 menit, kalau mau foto-foto.

Dan untuk mewujudkan pemerataan juga kita bangun bandara-bandara di pulau-pulau terdepan kita. Pulau Miangas misalnya, saya adalah Presiden pertama yang datang ke pulau itu, saat membuka lapangan terbang di sana. Lapangan terbangnya kecil, runway-nya juga enggak panjang, tetapi paling tidak setiap Minggu ada satu pesawat ke sana. Apapun ini adalah pulau terdepan kita. Di Natuna juga sama, bandaranya, terminalnya juga sudah kita perbaiki. Saya kira hal-hal seperti inilah yang sering saya sampaikan: membangun dari pinggiran.

Dan untuk mewujudkan pemerataan ekonomi tersebut, perguruan tinggi kita harapkan bisa memberikan sumbangan dalam menggembleng sumber daya manusia, menggembleng SDM-SDM Indonesia, agar menjadi SDM yang berintegritas, yang punya kemauan baja, yang berani bersaing, berani berkompetisi dengan semangat gotong royong.

Saya dalam seminggu kemarin masuk ke empat SMK, masuk ke empat SMK. Karena, supaya Bapak, Ibu, Saudara-saudara tahu, bahwa tenaga kerja Indonesia, ini fakta yang juga harus saya sampaikan, 42 persen itu adalah lulusan SD, 66 persen itu adalah lulusan SD-SMP, 82 persen itu lulusan SD-SMP-SMA/SMK. Inilah kondisinya. Oleh sebab itu, harus ada sebuah percepatan agar bisa meng-upgrade, memperbaiki level mereka dalam hal skill. Tetapi yang kita lihat di SMK, yang saya lihat di SMK, kondisinya adalah, yang pertama, peralatan untuk melatih mereka mungkin sudah ketinggalan 20-30 tahun. Yang kedua, kondisi guru, ini nanti tugasnya yang di IKIP, –sekarang apa? Universitas Negeri Yogyakarta, misalnya–  agar menyiapkan guru-guru yang bukan guru normatif. Di SMK itu mestinya bukan kayak SMA. Yang saya lihat di SMK hampir mirip-mirip dengan SMA, hampir 70-80 persen adalah guru-guru normatif yang ada, yang banyak. Guru matematika, guru kimia, guru biologi, guru agama, guru bahasa Indonesia, guru bahasa Inggris. Padahal mestinya di situ 70-80 persen adalah guru-guru pelatih yang bisa melatih hal-hal yang berkaitan dengan garmen, yang berkaitan dengan assembling otomotif misalnya, atau yang bisa menjalankan mesin-mesin CNC. Inilah fakta di lapangan ini yang saya jumpai. Dan ini menjadi PR kita bersama, apabila kita ingin meng-upgrade SDM-SDM di negara kita. Tanpa itu sulit.

Dan yang saya lihat jurusan-jurusan yang ada sama saya kira di universitas, mohon maaf, kalau di SMK saya lihat jurusannya dari saya kecil sampai sekarang mesti jurusan mesin, jurusan bangunan, jurusan listrik. Itu-itu, saya lihat itu-itu saja. Padahal dunia sudah berubah cepat sekali. Mestinya jurusannya, misalnya jurusan mengenai jaringan, mempelajari mengenai jaringan IT, misalnya membuat video blog, membuat aplikasi-aplikasi, jurusan aplikasi, jurusan animasi, misalnya, yang in begitu.

Di universitas menurut saya juga harus mulai berani mengubah hal-hal yang berkaitan dengan jurusan. Mohon maaf ini menjadi pemikiran kita bersama. Kenapa tidak ada jurusan logistik, yang itu sangat dibutuhkan sekarang ini. Jurusan retail, jurusan khusus mengenai toko online (online store). Tantangan ke depan, saya kira yang sangat berat, hampir semua negara menempatkan pada ranking yang pertama mengenai terorisme dan radikalisme, mengapa enggak ada jurusan terorisme dan radikalisme?

Karena sekarang semua bergerak cepat sekali, sehingga kalau ada jurusan misalnya jurusan online store, kita bisa mendidik anak-anak kita untuk membangun sebuah platform. Bagaimana Alibaba bisa membangun sebuah logistic platform dan retail platform yang sangat besar sekali dengan ratusan juta pengunjung seperti itu. Karena nantinya apapun, ini enggak bisa kita cegah lagi keterbukaan. Yang namanya toko nantinya, yang namanya mal nantinya –saya masih belum sampai berpikir juga bagaimana menyiapkan ini– yang namanya pasar tradisional, itu akan bisa hilang karena adanya toko online, karena adanya online store, karena adanya negara-negara besar membangun logistic platform, retail platform, yang kita sendiri tidak pernah mengantisipasi itu.

Saya kira perguruan tinggi ini tugasnya melihat ke depan akan ada apa, dan membisikkan kepada pemerintah, “Pak, hati-hati mengenai logistic platform, mengenai retail platform, mengenai toko online, ini akan bisa menggerus pasar tradisional, akan menggerus toko-toko kita, menggerus warung-warung kita, persiapan kita apa. Inilah yang saya sampaikan tadi: menyiapkan sumber daya manusia ke depan, visi 50-100 tahun ke depan, SDM apa yang harus kita siapkan.

Saya kadang-kadang berpikir, kalau kita bersaing di IT, bersaing di teknologi, bersaing di industri, sulit kita mengejar negara yang lain. Oleh sebab itu, kita harus lihat DNA kita itu, kekuatan yang kuat di kita itu apa, DNA kita apa. Sehingga apa yang kita kembangkan itu harus sesuai dengan  DNA kita. Saya kadang-kadang berpikir, apakah kita tidak sebaiknya mengembangkan core business kita di bidang seni budaya, yang nanti dikaitkan dengan ekonomi pariwisata. Saya melihat negara-negara yang lain kalau pas ada acara enggak ada yang nari-nari seperti ini, kalau ada paling-paling satu, tariannya juga lucu itu. Enggak ada seninya itu, saya lihat itu. Di kita, mau cari tarian apapun dari Sabang sampai Merauke, mungkin dikumpulin lebih dari 10.000 atau 15.000 ada mungkin macam-macamnya. Ini kekuatan menurut saya. DNA kita mungkin di situ. Dan kalau ini kita link-kan dengan ekonomi pariwisata kita, keindahan alam kita, mungkin itu menjadi kekuatan negara kita ke depan. Ini menjadi pemikiran guru besar-guru besar yang ada di perguruan tinggi kita.

Bapak, Ibu, hadirin yang berbahagia,
Saya ingin mengharapkan, saya harap dari Konferensi Nasional Forum Rektor Indonesia Tahun 2017 ini lahir konsep-konsep pendidikan yang mengubah mentalitas bangsa kita menjadi bangsa yang lebih kompetitif, bangsa yang lebih inovatif dalam memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Konferensi Nasional Forum Rektor Indonesia Tahun 2017 dengan ini resmi dibuka.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru