Peresmian Pembukaan Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tahun 2019, 20 Agustus 2019,  di The Westin Resort Nusa Dua, Provinsi Bali

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 Agustus 2019
Kategori: Sambutan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirabbil ‘alamin washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin, Sayyidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain amma ba’du.

Yang saya hormati Yang Mulia para ulama yang hadir,
Yang saya hormati Presiden Republik Indonesia kelima, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan,
Yang saya hormati Ketua Umum Partai PKB, Bapak Muhaimin Iskandar beserta seluruh jajaran pengurus DPP dan seluruh keluarga besar PKB dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote yang saya hormati,
Yang saya hormati Romo K.H. Dimyati Rais,
Yang saya hormati Ketua PBNU Bapak Prof. K.H. Said Aqil Siraj,
Yang saya hormati seluruh ketua partai yang hadir, yang tidak bisa saya sebut satu persatu hadir di sini, Bapak Surya Paloh, Bapak Airlangga Hartarto, Ibu Grace Natalie, Bapak Zulkifli Hasan, seluruh sekjen partai yang hadir, Prof. Yusril Ihza Mahendra Ketua Umum PBB, seluruh pimpinan dan sekjen partai yang tidak bisa saya sebut satu per satu,
Yang saya hormati Ketua DPR RI, Ketua MPR RI yang hadir,
Bapak-Ibu hadirin-hadirat undangan yang berbahagia,
Dan tidak lupa Bapak dan Ibu Menteri yang hadir serta Bapak Gubernur Provinsi Bali yang saya hormati.

Saya mau berbicara apa juga bingung karena semuanya sudah diborong oleh Ketua Umum PKB Bapak Muhaimin Iskandar. Dari A sampai Z yang mau saya omongkan di sini sudah disampaikan beliau semuanya. Apa yang ditulis di sini, sudah diomongkan, sudah disampaikan oleh beliau. Saya mau omong apa lagi? Mau omong program sudah disampaikan oleh beliau.

Yang jelas kita patut bersyukur bahwa pada hari ini PKB menyelenggarakan Muktamar di Bali, setelah dua belas hari yang lalu PDI Perjuangan juga menyelenggarakan Kongres di Bali.

Saya kadang-kadang mikir, ini kalau PDI Perjuangan ini punya alasan kuat kenapa Kongres diadakan di Bali karena memang basis terkuat PDI Perjuangan itu di Bali. Terus kalau PKB mengadakan Muktamar di Bali ini pasti juga ada alasannya. Saya tidak tahu alasannya apa, saya hanya nebak-nebak, jangan-jangan PKB juga ingin memperoleh suara besar di Bali 2024 nanti. Hati-hati Pak Gub, hati-hati. Pak Ketua DPD hati-hati.

Tapi memang, kelihatannya memang PKB yang partainya nahdliyin ini ingin dekat dengan masyarakat Hindu dan tentu saja tujuan akhirnya adalah untuk persatuan bangsa dan kebangkitan bangsa.

Aduh, saya ini mau bicara apa lagi. Ini yang ditulis di sini ada semuanya sudah disampaikan tadi oleh Pak Muhaimin Iskandar. Tapi baiklah, saya ingin berbicara mengenai lima tahun ke depan, apa sih yang ingin kita kerjakan, tapi memang itu barang-barang sulit semuanya.

Satu, kita sudah membangun infrastruktur dalam lima tahun belakang ini tapi tetap akan terus kita lanjutkan lima tahun ke depan. Infrastruktur tetap dilanjutkan. Kemudian, yang kedua, ini yang mungkin tantangannya lebih besar karena kita ingin membangun sumber daya manusia. Apa sih yang ingin kita kerjakan di sini? Ini dimulai betul-betul dari kandungan. Bayi dalam kandungan itu harus kita urus benar. Enggak bisa tidak dimulai dari situ, entah gizinya, entah nutrisinya. Itulah nanti urusan Menteri Kesehatan yang paling utama.

Jangan sampai bayi yang keluar itu stunting, kekerdilan, harus dihindari. Karena 2015 yang lalu angka stunting kita masih pada angka 38, tinggi sekali. Meskipun lima tahun ini sudah turun menjadi tiga puluh, tapi juga masih angka yang tinggi tiga puluh persen itu. Jangan bermimpi kita bisa bersaing dengan negara-negara lain kalau angka stunting ini tidak bisa kita kecilkan, tidak bisa kita perkecil, akan sangat sulit.

Begitu lahir lagi, yang kita urus juga masih urusan gizi, tambahan makanan bergizi bagi anak-anak kita. Dan tentu saja untuk di pendidikan dasar yang paling penting adalah membangun karakter, memberikan nilai-nilai budi pekerti, nilai-nilai etika, nilai-nilai agama, nilai-nilai toleransi, baru kemudian tambahannya adalah matematika dan lain-lainnya. Karakter-karakter seperti itulah yang harus, sopan santun terhadap yang senior, apalagi terhadap orang yang lebih tua.

Baru masuk kepada pendidikan menengah. Pendidikan menengah pun juga bukan sesuatu yang gampang karena di sinilah mulai anak-anak dikenalkan pada bagaimana membangun teamwork, kerja sama, bagaimana anak-anak kita memiliki daya kritis yang baik, memiliki daya argumentasi yang baik, dan pada tingkatan menengah berikutnya kita harus memberikan pilihan pada anak, apakah ingin masuk ke kejuruan atau ingin masuk ke bidang-bidang keilmuan. Karena ke depan, emerging skills, emerging job itu sudah berubah semuanya.

Skill yang dibutuhkan bukan lagi seperti yang sudah-sudah. Masa kini dan masa yang akan datang sudah berubah semuanya. Kalau kita mulai identifikasi, yang dibutuhkan itu misalnya, ini di tingkatan menengah, teknisi coding. Apa itu teknisi coding? Ya teknisi coding, teknisi programming yang sebelum-sebelumnya pekerjaan-pekerjaan ini tidak kita kenal. Hati-hati juga ke depan, emerging job, akan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang hilang, muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang harus kita siapkan, kita rencanakan mulai dari sekarang.

Contoh, kemungkinan yang namanya sopir itu bisa hilang nanti. Pekerjaan pengemudi/sopir  bisa hilang karena akan muncul autonomous vehicle. Mobil ke mana-mana sendiri, enggak ada yang nyetir. Bus mau ke mana juga sendiri enggak ada yang nyetir, semua sudah diprogram semuanya. Dan ini sudah ada, bukan akan, sudah ada. Hati-hati mengenai hal-hal seperti ini. Kalau tidak kita mulai siapkan, mulai rencanakan, dan kita harus mulai berubah, hati-hati, betul-betul kita akan ditinggal oleh perubahan revolusi industri jilid keempat yang setiap hari, setiap saya mengikuti baik itu yang namanya G20, APEC, ASEAN Summit, yang dibicarakan hanya ini-ini saja, ini-ini saja enggak keluar dari itu. Semuanya bingung semuanya, karena teknologinya muncul regulasinya belum ada. Teknologinya muncul, undang-undangnya belum ada. Di semua negara, bukan kita saja. Interaksi sosial berubah, interaksi antarmanusia berubah.

Sehingga kembali saya sampaikan bahwa ini akan membawa, baik perubahan di bidang ekonomi, perubahan di bidang politik, sosial, budaya, semuanya akan berubah. Hati-hati mengenai hal-hal yang berkaitan dengan teknologi sekarang ini. Bisa bermanfaat dan bisa juga merusak kalau kita tidak betul-betul menyiapkan dan merencanakan dengan baik.

Kemudian di universitas, pembangunan sumber daya manusia itu seperti apa? Ya yang sudah masuk di perguruan tinggi, mestinya kita siapkannya untuk apa? Kompetisi global, kompetisi regional. SDM kita harus bisa bersaing dengan negara lain baik di scope regional maupun di scope global. Kalau tidak seperti itu, perguruan tinggi tidak bisa berkompetisi, kembali lagi, ditinggal lagi kita, ditinggal. Inilah perubahan-perubahan yang memang harus segera kita lakukan, kita kerjakan. Universitas juga harus mau berubah, berbenah birokrasinya, terhadap disrupsi teknologi yang sekarang ini memang betul-betul banyak membuat bingung semua negara, bukan kita saja, semua negara.

Saya ingin bercerita sedikit mengenai pertemuan saya dengan Syekh Mohamed dari Uni Emirat Arab. Beliau ke sini, tetapi sebelumnya, empat tahun yang lalu saya ke Abu Dhabi. Apa yang ingin saya sampaikan? Kita hanya ingin membandingkan perjalanan negara mereka dengan kita.

Saat saya ke Abu Dhabi empat tahun yang lalu, saya dijemput langsung oleh Syekh Mohamed di bawah pintu pesawat. Begitu turun saya diajak naik mobil, mobilnya beliau. Jadi tidak ikut mobil yang sudah kita siapkan, tapi naik mobilnya beliau langsung. Yang nyetiri siapa? Beliaunya sendiri. Artinya apa? Keprotokolan itu sudah hampir tidak ada di sana, begitu cepat, simpel, dan sederhana. Tidak diatur-atur, diatur-atur, ribet, ruwet. Ini di kita, terlalu banyak diatur, terlalu banyak peraturan, undang-undang, perpres, permen, pergub, perda, perwali, perbupati. Kita ini menjerat diri kita sendiri, yang buat kita sendiri, yang bingung kita sendiri, yang enggak bisa cepat juga kita sendiri. Iya, mau memutuskan cepat, saya diingatkan, “Pak, hati-hati Undang-Undang enggak boleh.” Mau memutuskan cepat, “Pak, hati-hati. Perpres juga tidak memperbolehkan.” Lho ini yang buat ini kita sendiri, kok kita enggak cepat gara-gara yang kita buat itu. Ini gimana kita ini?

Kembali lagi, naik mobil saya. Syekh Mohamed omong kepada saya, “Presiden Jokowi, izin dulu ke protokol dan ke Paspampres.” Karena mau naik ke mobilnya beliau. Saya enggak usah izin, langsung naik gitu saja. Kalau saya omong pasti enggak boleh, “Pak keamanan Pak, demi keamanan Pak, enggak boleh.” Sudah saya naik mobil saja, naik mobilnya beliau, pintu saya jeglek, sudah yang di belakang juga pasti gina-gini. Sudah naik, mobil melaju, naik. Beliau setirin sendiri.

Saya merasakan kok mobilnya biasa saja, pelan gitu. Begitu saya tengok spidometer, 190-200 kilometer per jam. Karena mobil itu sangat bagusnya, kita naiki enggak kerasa kalau itu kencang sekali mobilnya beliau ini. Saya lirik-lirik saya cari-cari ini merek mobilnya apa. Tapi nengoknya enggak banyak-banyak gini enggak, saya hanya gini saja, lirak-lirik. Saya cari merek mobilnya enggak ada, tapi saya enggak bertanya pada Syekh Mohamed, enggak tanya. Saya kan juga malu nanti, beliau nanti ngerasani saya, “Presiden Jokowi ini ndeso banget,” kalau saya tanya. Jadi saya enggak tanya, saat itu saya enggak tanya.

Pada kesempatan berdua ini saya gunakan betul untuk bertanya kepada beliau. Kita ingat, Uni Emirat Arab punya minyak, kita juga punya minyak. Dia punya gas, kita juga punya gas. Tapi di sana enggak ada kayu, kita punya kayu, saat itu booming kayu kita punya. Minerba kita punya semuanya, yang namanya batu bara, emas, nikel, bauksit, tembaga, punya semuanya, mereka enggak punya.

Tetapi sekarang ini, supaya kita tahu semuanya, income per kapita di sana USD43 ribu, kita USD4 ribu. Apa yang kita perlu garis bawahi di sini? Saya tanya, urut-urutannya saya tanya, beliau kebetulan cerita. Saya tanya, “Syekh Mohamad, kenapa Dubai, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab ini bisa melompat begitu sangat cepatnya?” Beliau menyampaikan pada saya,  “Presiden Jokowi tahun ‘60 kami dari Dubai ke Abu Dhabi itu masih naik unta.” Beliau yang cerita, bukan saya. Kita ingat saat itu kita sudah naik Holden dan Impala, kalau enggak Holden ya Impala. Saya juga belum lahir tahun ‘60. “Tahun ‘70 kami dari Dubai ke Abu Dhabi masih naik truk dan naik mobil pick up.” Kita tahun itu sudah naik Kijang. Beliau yang cerita, saya hanya membatin “Oh, tahun itu kita sudah naik Kijang.” Tapi begitu menginjak ke tahun ’80-‘85, sudah, di sana sudah melompat semuanya, Mercy BMW semuanya, kita masih naik Kijang. Dan income per kapita mereka, tadi saya sampaikan USD43 ribu.

Lompatannya saya tanya, “Kuncinya apa?” “Kuncinya kecepatan.” Jadi sering saya sampaikan, ke depan tidak lagi negara besar menguasai negara kecil, negara kaya menguasai negara miskin, tetapi negara cepat akan menguasai negara yang lambat. Oleh sebab itu, kita harus cepat.

Kecepatan di Dubai ini saya pernah merasakan. Tujuh belas tahun yang lalu, saya investasi di Dubai. Ini pribadi, saya belum jadi wali kota. Saya datang ke sana, saya minta izin ke kantor pusat perekonomian, itu sudah 17-18 tahun yang lalu. Datang ke kantor ke sana, saya membawa syarat datang ke meja. “Bapak tanda tangan,” saya tanda tangan. “Bapak pergi ke kantor sebelah,” lima puluh meter dari situ, ternyata kantor notariat. Saya datang ke sana, karena sudah online saat itu mereka. Grek, saya datang ke situ, “Bapak tanda tangan di sini.” Saya tanda tangan. Kemudian mereka perintah lagi, “Bapak kembali lagi ke meja yang tadi.” Saya datang ke meja itu, izin-izin sudah selesai semuanya. Enggak ada tiga puluh menit, itu sudah tujuh belas tahun yang lalu.

Kita di sini, lima tahun yang lalu, izin pembangkit listrik, saya tanya ke orang yang ngurus perizinan pembangkit listrik, ”Berapa tahun?” “Pak, saya mengurus ini Pak, enam tahun Pak belum selesai Pak.” Enam tahun, enam tahun. Saya kejar lagi, “berapa izin yang ada di situ?”, “259 izin.” Coba gimana kita mau cepat, ngurus satu izin saja, ini 259 izin? Bagaimana kita bisa cepat kalau ini kita terus-teruskan?

Sudah saya perintah, pangkas ini-ini-ini, pangkas! Jadi 58 izin, dari 259 izin menjadi 58 izin. Tapi yang 58 izin itu juga masih bertahun-tahun, tahun, tahunan. Bukan enam tahun lagi, tapi masih tahunan. Ini di Uni Emirat Arab tiga puluh menit, coba? Sudah.

Sekarang bandingkan, bagaimana kita akan maju kalau ini diterus-teruskan. Enggak bisa lagi budaya seperti ini diterus-teruskan. Sekali lagi, kecepatan itulah yang akan membawa negara ini menjadi negara maju.

Saya sudah sampaikan kepada Ketua Dewan, Pak Ketua Dewan, “Pak sekarang kita enggak usah buat undang-undang banyak-banyak lah, sedikit tapi kualitasnya yang baik. Saya sudah sampaikan juga kepada Asosiasi DPRD, sudah saya sampaikan juga, enggak usah buat banyak-banyak perda. Buat satu/dua tapi kualitasnya yang baik, melindungi kepentingan rakyat, melindungi kepentingan negara, melindungi kepentingan daerah, itu yang dibutuhkan.

Kalau ini tidak kita kerjakan, tidak kita pahami betul, tidak kita sadari dan kita sadar betul, saya tidak tahu bagaimana kita akan berkompetisi dengan negara-negara lain. Oleh sebab itu, saya mengajak kepada yang hadir di sini, banyak anggota Dewan di sini, banyak anggota DPRD juga yang ada di sini, untuk kita mau mengoreksi, refleksi, introspeksi diri kita dan kita perbaiki sehingga semuanya yang berkaitan dengan kecepatan itu bisa kita betul-betul dapatkan, baik di pusat maupun di daerah.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya secara resmi membuka Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa VI Tahun 2019.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru