Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Musyawarah Nasional Ke-1 Persatuan Umat Budha Indonesia Tahun 2018, 18 September 2018, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 September 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.170 Kali

Logo-Pidato2-8Namo Buddhaya,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om swastiastu,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Presiden Kelima Republik Indonesia Ibu Hajjah Megawati Soekarnoputri,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja yang hadir, Wantimpres, serta seluruh jajaran pemerintahan yang pagi hari ini hadir,
Yang saya hormati Ketua Umum beserta seluruh jajaran pengurus Persatuan Umat Buddha Indonesia, Permabudhi dan para Ketua-ketua Majelis Agama Buddha, para pengurus pimpinan daerah Permabudhi dari seluruh tanah air, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,
Bapak-Ibu tamu undangan yang berbahagia.

Pertama-tama, saya ingin mengajak seluruh umat Buddha untuk bersyukur, kita semuanya untuk bersyukur karena di tengah kemajemukan kita, kita tetap bersatu, kita tetap rukun dan kita tetap bersaudara, saudara sebangsa dan setanah air.

Dan perlu saya mengingatkan kepada kita semuanya bahwa negara kita ini negara besar, negara yang besar. Sekarang kita telah memiliki penduduk 263 juta. Saya ulangi, 263 juta. Ini tidak sedikit, yang hidup di 17.000 pulau, di 514 kabupaten/kota, dan 34 provinsi.

Saya juga ingin mengingatkan kepada kita semuanya bahwa kita ini diberi anugerah oleh Tuhan keberagaman, kemajemukan, warna-warni, bermacam-macam, berbeda-beda suku, berbeda-beda agama, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi. Sering ini kita lupa. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak kita semuanya marilah kita menjaga persatuan karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan.

Sering ini saya sampaikan di mana-mana, untuk menunjukkan betapa besar negara ini. Saya pernah terbang dari Banda Aceh menuju ke ujung timur di Wamena, bukan di Jayapura tapi di Wamena. Naik pesawat, berapa jam dibutuhkan dari Banda Aceh ke Wamena? 9 jam 15 menit. Itu naik pesawat, kalau jalan kaki mungkin enggak tahu berapa tahun.

Naik pesawat saja 9 jam 15 menit. Itu kalau kita terbang dari London di Inggris ke timur itu sampai Istanbul di Turki, itu melewati 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 mungkin sampai 8 negara. Artinya apa? Negara kita ini negara besar yang sering kita tidak menyadari itu. Sekali lagi, negara kita ini negara besar.

Oleh sebab itu, saya mengajak kepada kita semuanya untuk terus merawat, menjaga persatuan, kesatuan, kerukunan, persaudaraan di antara kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Jangan sampai karena pesta demokrasi setiap 5 tahun, entah itu yang namanya pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur atau bahkan pilihan presiden kita menjadi retak dan merasa tidak sebagai saudara lagi. Inilah kekeliruan yang sering terjadi. Silakan mau berbeda pilihan, ya enggak apa-apa.

Pilihan bupati berbeda ya enggak apa-apa, ini memang pesta demokrasi. Pilihan gubernur enggak apa-apa berbeda. Tapi jangan sampai tidak saling menyapa antarteman, tidak saling sapa antartetangga, tidak saling sapa antarkampung. Ada lho. Jangan dipikir saya ngomong ini enggak ada, ada, banyak. Wong sudah pilpres 4 tahun saja masih dibawa sampai sekarang. Pilpresnya sudah rampung di 2014. Kalau kita ini bersatu, kekuatan kita ini akan muncul. Percaya ndak?

Coba lihat Asian Games ke-18 kemarin. Begitu kita enggak berpikir yang badminton itu agamanya apa, enggak mikir kan kita? Iya enggak. Yang pencak silat itu dari suku apa, enggak mikir kita. Yang panjat tebing itu dari pulau mana, dari provinsi mana enggak mikir kita.  Saat itu kita hanya berpikir satu, kita ini Indonesia dan akhirnya ya dapat 31 emas, rangking keempat. Ingat lho, ranking keempat. Enggak, karena sebelumnya kita ranking 22,  ranking 17, ranking 15 gitu, rangkingnya gitu-gitu. Kalau kita bisa masuk ke rangking 4 ya luar biasa.

Itu betul-betul berkat sebuah perjuangan keras para atlet. Kembali lagi, tidak berpikir suku saya apa, agama saya apa, saya dari daerah mana, provinsi mana enggak berpikir. Semuanya berpikir, atlet saat itu semua berpikir ini hanya untuk Indonesia, hanya seperti itu.

Kita ini sering ribut hal yang kecil-kecil. Misalnya di pembukaan. Misalnya ini di pembukaan, ini contoh. Yang diributin apa sih yang di pembukaan? Stuntman waktu ini, ya kan, naik sepeda motor kemudian meloncat, akrobatik di udara itu, ramai. Urusannya ya itu, stuntman. Lho ya musti pakai stuntman, masa presiden disuruh meloncat kayak gitu. Ya masa presiden disuruh meloncat sendiri. Kan enggak mungkin, ya pasti stuntman, enggak usah ditanyakan itu. Di film saja yang perang kecil-kecil banyak pakai stuntman masa kita yang akrobat seperti itu suruh sendiri, yang benar saja.

Kalau anak muda sekarang bilang, gila lu Ndro, gitu. Ini kan hiburan. Kita kan opening ceremony itu hiburan pertunjukan, jadi  jangan ditarik ke mana-mana. Kita ini ingin memberikan hiburan di opening ceremony, kok ditariknya ke urusan stuntman.

Jadi kembali lagi, kembali lagi. Jadi kalau kita bersatu, kalau kita ini rukun bangsa ini bisa melompat dalam semua bidang. Saya meyakini itu. Tapi kita sering energi kita habis untuk hal-hal yang tidak perlu. Coba dilihat coba, setiap hari kita lihat di medsos, di media sosial isinya saling mencela, saling mencemooh, saling mengejek. Hoax, kabar bohong, fitnah beredar hampir setiap hari. Apa energi kita mau kita habiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti itu? Melupakan, lupa semuanya kita bahwa ada persoalan besar yang harus kita selesaikan, baik berupa kemiskinan, kesenjangan, yang ini menjadi pekerjaan besar kita semuanya.

Kita juga karena habis waktu kita untuk mengurusi media sosial yang ramainya seperti itu, kan jadi lupa bahwa dunia sekarang ini sangat perubahannya sangat cepat sekali, sangat cepat sekali. Ada artificial intellegence, ada 3D printing, ada internet of thing, ada virtual reality, ada bitcoin, cryptocurrency.  Sering kita lupa. Terbawa oleh harus saling mencela, saling menjelekkan, saya mencemooh. Dan saya kira itu bukan etika, sopan santun, dan nilai-nilai Indonesia yang kita miliki. Bukan. Hati-hati, perubahan-perubahan dunia sekarang ini begitu sangat cepatnya. Membangun rumah hanya 24 jam sekarang ini bisa dengan 3D printing. Sudah ada. Bukan akan, sudah ada.

Saya sering cerita waktu saya masuk di Silicon Valley di Amerika. Masuk ke markasnya Google, Twitter, Facebook, Plug and Play. Saya masuk ke markasnya Facebook, ketemu Mark, diajak main pingpong. Itu sudah dua setengah tahun yang lalu. Pingpong tapi tidak ada mejanya, tidak ada bolanya, tidak ada betnya, enggak ada. Hanya disuruh pakai kacamata oculus, kemudian diajak main pingpong, tang tung tang tung enggak ada bolanya hanya gini-gini saja. Gini, gini, ini apa tho. Tapi persis kayak kita main pingpong.

Saya tanya kepada Mark, “Mark, ini apakah hanya untuk pingpong?” “Enggak, Presiden Jokowi, ini untuk  apa saja.” Jadi nanti ada sepakbola enggak ada bolanya, enggak ada lapangannya. Enggak, ini benar, benar. Wong pingpong saja seperti itu apalagi main bola. Ya nanti tendang-tendangan gitu enggak ada bola, enggak ada lapangan, tendang-tendang. Betul-betul terjadi nanti.

Kalau kita hanya terjebak pada hal-hal yang berkaitan dengan media sosial, bisa kehilangan waktu kita, kehilangan energi kita, kehilangan pikiran kita, konsentrasi kita, fokus kita untuk menghadapi tantangan perubahan dunia yang begitu sangat cepatnya. Hati-hati mengenai ini. Saya selalu mengingatkan kepada kita semuanya, betapa kita sekarang ini menghadapi sebuah perubahan yang sangat cepat.

Sekali lagi, saya perlu mengingatkan kembali. Kita harus hidup rukun, kita harus bersatu, kita harus saling membantu, kita harus saling berbagi bukan hanya untuk diri kita, bukan hanya untuk kelompok kita, bukan hanya untuk golongan kita, tapi untuk kepentingan bersama, kepentingan seluruh rakyat Indonesia di masa yang akan datang.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan pagi hari ini secara resmi saya buka Musyawarah Nasional Persatuan Umat Buddha Indonesia.

Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Namo Buddhaya.

Transkrip Pidato Terbaru