Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Musyawarah Nasional VI Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Tahun 2018, 20 Juli 2018, di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 Juli 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 5.014 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillahirrabbilalamin,

wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,

Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,

wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Wakil Ketua MPR Bapak Muhaimin Iskandar,

Yang saya hormati Ketua Umum Ikatan Alumni PMII, IKA PMII beserta seluruh jajaran pengurus wilayah maupun cabang. Saya tadi mendapatkan informasi dari Pak Ketua bawa hadir dari 27 provinsi dan 284 cabang kabupaten dan kota,

Yang saya hormati seluruh dewan pembina, senior-senior PMI yang hadir,

Yang saya hormati Bapak Ketua Umum PBNU Profesor Kyai Haji Said Aqil Siradj,

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja yang hadir pada siang hari ini,

Ketua-ketua umum partai yang hadir, yang hari ini hadir 2 ketua umum, Bapak Ketua PKB Pak Muhaimin Iskandar dan Bapak Romy Romahurmuziy, Bapak Ketua Umum PPP yang saat ini baru bersaing,

Bapak-ibu hadirin yang berbahagia.

Saya sebagai Presiden pertama-tama ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh alumni-alumni PMII karena alumni-alumni PMII sudah banyak yang membantu kerja-kerja pemerintah. Tadi sudah saya sebutkan alumni PMII, Bapak Muhaimin Iskandar, beliau ini banyak membantu saya. Ada yang kelihatan, ada yang tidak kelihatan yaitu kerja-kerja politik, terutama dalam mendirikan posko-posko JOIN. Yang lain, Pak Sekjen, Pak Hanif Dhakiri, beliau ini menteri yang pendekatan kepada komunitas maupun serikat pekerja ini sangat intens sekali sehingga kalau kita lihat dalam 4 tahun ini, alhamdulillah karena sangat bagusnya pendekatan sehingga demo-demo sangat banyak berkurang dari serikat pekerja. Kemudian juga Pak Imam Nahrawi, ini saat ini, bukan saat ini mungkin sudah 6 bulan ini mungkin kurang tidur karena mempersiapkan Asian Games 2018. Kemudian Pak Nusron ada? Enggak ada? Karena enggak ada, enggak saya teruskan.

Bapak-ibu sekalian yang saya hormati,

Saya ingin, sekali lagi di mana-mana sering saya menyampaikan ini, menyadarkan kepada kita semuanya, mengingatkan kepada kita semuanya betapa negara kita Indonesia ini adalah negara besar. Sering kita melupakan ini. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, ini yang juga sering tidak kita suarakan. Oleh sebab itu, sudah 3,5 ini selalu saya sampaikan di konferensi-konferensi internasional, di pertemuan-pertemuan summit-summit yang ada, selalu saya sampaikan Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Kita juga sering tidak sadar bahwa negara ini adalah negara besar. Kita memiliki 17.000 pulau, 514 kabupaten dan kota, 34 provinsi. 17.000 pulau, 714 suku yang berbeda-beda adat dan tradisinya, serta 1.100 lebih bahasa daerah, bahasa lokal yang mereka miliki. Inilah kenapa sering saya sampaikan berkali-kali dalam setiap sambutan yang saya sampaikan, supaya kita sadar bahwa negara ini memang negara besar, negara besar.

Saya pernah terbang dari Banda Aceh langsung ke Timur, bukan ke Jayapura tetapi ke Wamena. Berapa waktu yang dibutuhkan? 9 jam 15 menit. Sekali lagi, ini sebuah bentangan yang sangat panjang sekali, dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. 9 jam 15 menit dari Banda Aceh ke Wamena. Artinya apa? Pernah saya bandingkan, itu kalau dari London di Inggris ke timur itu sampai Istanbul di Turki melewati 1, 2, 3, 4, 5, 6, mungkin 7 negara yang dilewati. Betapa, sekali lagi, negara kita ini adalah negara yang sangat besar.

Oleh sebab itu, konektivitas baik antarpulau, konektivitas baik antarprovinsi, antarkabupaten, dan antarkota itu sangat diperlukan. Saya sering merasa sedih kalau kita sekarang ini dibandingkan dengan negara-negara di dekat-dekat kita. Urusan investasi dan urusan ekspor kita kalah dengan Singapura ya sudah jauh. Kalah dengan Malaysia, ya kita sudah kalah. Dengan Filipina kita juga sudah kalah. Dengan Thailand kita juga kalah. Baru saja kita juga kalah dengan Vietnam. Apakah ini mau diterus-teruskan kita nanti kalah dengan Laos, kalah dengan Kamboja? Kan tidak. Sebagai negara terbesar di ASEAN saya kira kita ingin bahwa kita di depan mereka-mereka yang tadi saya sebutkan.

Tapi dengan sebuah tantangan besar tadi yang saya sampaikan betapa sangat luas negara ini. Kita sekarang ini masih mengejar hal yang sangat fundamental yaitu yang berkaitan dengan infrastruktur. Karena stok infrastruktur kita, informasi yang diberikan pada saya, baru pada angka 37 persen, sehingga daya saing kita kalah dengan negara-negara tetangga.

Setelah infrastruktur selesai kita akan masuk ke tahapan besar yang kedua, yaitu pembangunan sumber daya manusia. Kenapa infrastruktur ini penting sekali lagi, ini bukan hanya urusan ekonomi. Negara sebesar kita dengan 17.000 pulau kita memerlukan pelabuhan, kita memerlukan airport, kita memerlukan jalan, baik jalan biasa maupun jalan tol karena dari situlah sebetulnya persatuan, pemerataan itu bisa kita berikan dari barat sampai ke timur dari utara sampai ke selatan.

Saya berikan saja contoh saja misalnya, ini yang ekstrem, memang problem besar kita sekarang ini adalah kesenjangan dan kemiskinan. Kesenjangan antarwilayah barat dan timur, kemiskinan juga kelihatan di barat dan di timur, di desa dan di kota. Ini tantangan besar kita. Jadi yang disampaikan oleh Pak Kyai tadi betul, tantangan besar kita adalah kemiskinan dan kesenjangan. Kemiskinan desa dan kota, timur dan barat, kesenjangan timur juga dengan yang barat.

Saya berikan contoh misalnya infrastruktur di Papua. Di Papua, ini jalan utama di Papua, jalan utama di Boven Digoel, Merauke. Ini jalan utama, jalannya seperti ini. Kita mungkin di Jawa atau di Sumatra tidak merasakan hal-hal yang seperti ini. Ini jalan utama lho, bukan jalan kampung atau jalan kabupaten. Ini jalan utama. 120 kilometer bisa 3 hari, sampai masak di tengah jalan, bawa kompor. Ya ini, ini fakta yang saya lihat sendiri di Kabupaten Boven, bisa 3 hari, bisa 2 malam. Betapa beratnya kondisi seperti ini kalau kita suruh bersaing, yang timur dengan yang barat. Kalau digabungin dengan negara lain juga tidak mungkin kita bisa bersaing. Harga-harga bahan pokok pasti berlipat-lipat lebih mahal dari yang kita nikmati di Jawa karena memang transportasi membutuhkan biaya yang sangat tinggi sekali.

Oleh sebab itu, jalan-jalan seperti inilah yang sekarang ini sedang kita kerjakan di Indonesia bagian timur, dalam rangka pemerataan, dalam rangka mempersempit kesenjangan antara barat dan timur. Kalau nantinya insyaallah yang berkaitan dengan bandara misalnya, contoh lagi ini contoh lagi, di bandara di Wamena, sekarang alhamdulillah baru tahun yang lalu kita resmikan terminalnya, juga nanti setelah ini akhir tahun ini di Timika. Bapak-ibu mungkin tidak bisa merasakan karena belum pernah ke sana. Saya ke Timika sudah tiga kali.

Ini belum saya tunjukkan gambar yang Kabupaten Nduga, jalan aspal 1 meter saja tidak ada. Kalau dari Wamena menuju ke Nduga karena belum ada jalan, tapi sudah kita bangun sekarang ini sudah tembus, sebelumnya dari Wamena menuju ke Nduga itu jalan kaki 4 hari 4 malam, 4 hari 4 malam. Saya ke sana saat itu pakai helikopter karena memang tidak ada jalan dan kita melihat sendiri fakta-fakta lapangan seperti itu.

Inilah kesenjangan antara timur dan barat yang kita coba sekarang ini untuk lebih dekatkan. Dan enggak usah kita tutup-tutupi bahwa memang ada kesenjangan seperti itu. Oleh sebab itu, infrastruktur menjadi hal yang sangat penting, baik sekali lagi, baik itu pelabuhan, baik itu jalan, baik itu airport karena ini sangat fundamental sekali.

Jembatan-jembatan seperti ini juga diperlukan di timur karena banyak antarpulau. Ini Jembatan Holtekamp di Jayapura menuju ke Skouw, perbatasan antara Papua Nugini dan Indonesia. Pelabuhan-pelabuhan kecil seperti Pelabuhan Wasior, pelabuhan di Halmahera Tengah misalnya. Saya pernah tanya ke masyarakat di sana setelah ada pelabuhan kecil ini, ini pelabuhan kecil di Halmahera Utara, setelah ada pelabuhan selain sembako bisa masuk dan harga lebih murah, semen bisa masuk dengan harga yang lebih murah, komoditas-komoditas lokal yang ada pun juga bisa keluar. Jagung yang dulunya enggak bisa dijual bisa dijual. Kemudian kelapa yang dulunya tidak bisa dijual bisa dijual keluar. Kemudian lada yang dulu tidak bisa keluar menjadi bisa keluar.

Hal-hal seperti ini yang kalau kita hanya tinggal di Jawa tidak mengerti kita, tapi begitu kita masuk ke tempat-tempat paling ujung betapa memang sekali lagi negara ini negara yang sangat besar. Konektivitasnya sangat diperlukan sekali.

Kemudian yang kedua yang ingin kita bangun ke depan adalah investasi di bidang sumber daya manusia. Tahun ini telah kita coba dan Pak Sekjen, Pak Hanif telah mencoba tahun ini 50 balai latihan kerja komunitas di pondok pesantren. Tahun ini sudah dimulai 50 tapi tahun depan saya sudah perintahkan untuk dibangun 1.000, minimal 1.000. Kita akan bantu di pondok-pondok pesantren, gedungnya kita bantu, kemudian peralatan. Gedung, peralatan, infrastruktur semuanya nanti akan kita siapkan.

Tapi memang mulanya baru awal 2019 secara besar-besaran. Kalau 1.000 lebih nanti selesai, kita akan menginjak kepada angka yang lebih besar lagi. Karena kita memiliki hampir 29.000 pondok pesantren yang saya kira membutuhkan pelatihan-pelatihan skill, pelatihan-pelatihan keterampilan bagi santri-santri yang ada di pondok pesantren ini. Ini saya kira hal yang riil karena ke depan menyongsong perubahan besar ekonomi global tidak ada kata lain bahwa investasi di bidang sumber daya manusia menjadi kunci bagi kompetisi, bagi persaingan kita dengan negara-negara lain.

Jangan sampai SDM-SDM kita tidak mengerti masalah artificial intelligence, sekarang sudah ada advanced robotic, sudah ada big data, sudah ada internet of things. Orang sudah berpikiran ke yang lain, tesla, hyperloop, spaceX, kita masih, memang masih berkutat kepada hal yang fundamental yaitu infrastruktur dan tahapan besar kedua, SDM. Saya kira kita juga akan sampai kepada hal-hal yang tadi saya sampaikan asal SDM-SDM kita memang siap untuk menuju ke sana.

Kemudian yang ketiga di bidang ekonomi kecil, ekonomi keumatan. Kita tahun ini telah membangun 40, memang baru 40 sampai saat ini, 40 bank wakaf mikro di pondok-pondok pesantren. Tetapi kalau ini nanti kita lihat, kita evaluasi, kita koreksi benar bermanfaat bagi umat, bermanfaat bagi komunitas bisnis yang ada di pondok, saya sudah sampaikan ini juga akan kita besarkan dalam jumlah yang lebih banyak lagi.

Tadi Pak Kyai menyampaikan bahwa penguasaan lahan, aset-aset lahan memang kita ngomong apa adanya memang ada satu orang atau satu perusahaan menguasai 200 ribu hektar, 300 ribu hektar, 600 ribu hektar. Ada, iya, saya tidak akan bilang tidak, iya. Hanya perlu saya sampaikan bahwa yang memberi konsesi itu bukan saya. Itu saja yang perlu digarisbawahi. Saya tidak pernah memberi 1 meter persegi pun kepada mereka. Sehingga, kembali lagi saya sampaikan, bahwa kesenjangan, kemiskinan menjadi tantangan kita bersama.

Saya rasa itu mungkin yang menjadi PR besar kita, yang menjadi tugas besar kita bersama-sama agar yang namanya kesenjangan, kemiskinan itu bisa diselesaikan dengan baik. Dan alhamdulillah seperti tadi yang disampaikan oleh Pak Muqowam, Pak Ketua Umum bahwa kemiskinan, baru seminggu yang lalu disampaikan oleh BPS sudah berada pada posisi 9,8. Artinya sudah masuk ke angka single digit.

Terakhir, saya berharap para alumni PMII ikut bersama dengan pemerintah menyukseskan berbagai program yang tadi saya sebutkan. Karena dengan kerja sama itu insyaallah negara ini akan maju, pondok pesantren akan maju, para santri juga akan makin maju. Dan dengan begitu maka Indonesia akan menjadi maju, menjadi negara yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Selamat melaksanakan Munas yang ke-6. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya buka Munas VI IKA PMII.

Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru