Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017 dan Penyerahan Kartu Indonesia Pintar untuk Siswa Yatim Piatu Wilayah Jabodetabek, 26 Januari 2017, di JI-Expo Kemayoran, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 26 Januari 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.986 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya hormati para Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan seluruh Provinsi, seluruh Kabupaten dan Kota yang hadir pada pagi hari ini,
Yang saya hormati para pegiat pendidikan,
Hadirin dan tamu undangan yang berbahagia.

Kemajuan pendidikan sejatinya berpusat pada guru. Guru dalam proses pembelajaran di kelas dan di sekolah, pelajarannya akan tertanam pada diri siswa dan itu akan terbawa terus sampai kapanpun. Peran guru sangat penting dalam pendidikan dan ia harus menjadi sosok yang mencerahkan, yang membuka alam dan pikir serta jiwa, memupuk nilai-nilai kasih sayang, nilai-nilai keteladanan, nilai-nilai perilaku, nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kebhinnekaan. Inilah sejatinya pendidikan karakter yang menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini tadi sudah disampaikan oleh Menko PMK bahwa kita ingin fokus pada pembangunan karakter, kita ingin fokus pada pembangunan vokasional, pembangunan sekolah kejuruan.

Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengingatkan kita semuanya. Karena kalau kita lihat sekarang ini interaksi sosial yang semakin menurun. Di tingkat keluarga juga terjadi pergeseran nilai-nilai. Bersekolah juga kalau kita lihat sekarang ini hanya berkeinginan untuk mencari legalistik, mencari ijazah, bukan mencari keilmuan. Dan hati-hati juga, perlu kita sadari bersama bahwa modernisasi teknologi itu juga perlu dipagari sehingga yang negatif itu tidak menginfiltrasi anak-anak kita. Perubahan kultur budaya kalau kita lihat sekarang ini juga mulai menyerang kita, baik budaya barat maupun budaya dari negara-negara yang lain. Sehingga ini bisa melunturkan nilai-nilai kebhinnekaan kita.

Saya hanya ingin mengingatkan kita semuanya bahwa sekarang yang namanya perang fisik itu dapat dikatakan sudah mulai ditinggalkan. Sekarang yang terjadi adalah bukan lagi penguasaan kepada sebuah teritori tapi penguasaan sumber daya alam, penguasaan sumber-sumber ekonomi di sebuah negara. Oleh sebab itu, saya perlu mengingat, anak-anak kita perlu terus-menerus bahwa  nilai-nilai budi pekerti, nilai-nilai kesopanan, nilai-nilai kesantunan yang sudah menjadi karakter ke-Indonesia-an kita itu harus terus-menerus disampaikan kepada anak-anak.

Karena penghancuran sebuah negara, sekali lagi, bukan lewat perang dan penguasaan teritori. Sekarang ini negara menguasai negara yang lain dimulai dari perang ideologi, dimulai dari penyerangan pada sisi ekonomi, dimulai dari penyerangan sisi mentalitas, dimulai dari penyerangan sosial budaya, hati-hati. Jadi yang akan terjadi nantinya adalah perang budaya, perang ekonomi, perang keuangan, perang informasi, perang dalam membangun sebuah persepsi. Inilah tekanan yang ingin saya sampaikan agar anak-anak kita, kita bekali dengan karakter-karakter ke-Indonesia-an yang baik sehingga masuknya budaya, masuknya arus finansial ke negara kita betul-betul bisa kita pagari anak-anak kita jangan sampai terbawa oleh arus budaya negara lain sehingga kita kehilangan karakter dan jati diri.

Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin agar pendidikan kita yang pertama, yang namanya ekstrakurikuler ini diwajibkan kepada anak-anak kita, untuk kegiatan wajib.

Kemudian kegiatan kemasyarakatan, kegiatan sosial ini juga perlu dirancang. Saya enggak tahu, bisa sebulan sekali, bisa dua bulan sekali. Misalnya, misalnya, mengunjungi panti jompo. Biar ada rasa sosial anak-anak kita. Kemudian bersih-bersih kampung di sekitar sekolah. Supaya anak memiliki rasa sosial budaya terhadap lingkungannya. Hal-hal seperti ini yang kelihatan mulai kita tinggalkan sehingga kita lupa membangun dan memupuk rasa sosial budaya pada anak-anak kita.

Kemudian kalau memiliki kemampuan saya kira diperlukan juga, kalau yang di luar saya melihat ada overseas experience, mereka kirim anak-anak SD atau SMP atau SMA ke luar negeri untuk melihat negara yang lain, kalau kita mungkin tidak perlu lah ke luar. Anak-anak diajak ke provinsi yang lain untuk mengenalkan saudara-saudaranya yang berada di pulau yang lain. Ini akan sangat baik untuk kebhinnekaan kita, untuk keragaman kita, dan memperkaya wawasan anak-anak kita bahwa mereka tidak hanya ngerti di kabupatennya atau kotanya masing-masing. Ini penting sekali. Bukan ke tempat-tempat wisata tapi dikenalkan dengan saudara-saudaranya yang ada di provinsi-provinsi atau di pulau-pulau yang lain.

Kemudian yang lain, yang berkaitan dengan pas masuk kelas. Saya tidak tahu apakah sudah dilakukan atau belum tapi perlu diingatkan sebelum pelajaran tolong anak-anak kita ini diajak untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian Pancasila, selalu setiap hari diingatkan itu. Karena kalau tidak kita lupa bahwa kita ini memiliki lebih dari 700 suku, kita lupa bahwa kita memiliki, catatan saya, 1.100 lebih bahasa lokal. Ini kebhinnekaan seperti ini yang perlu kita ingatkan kepada anak-anak. Sehingga Indonesia Raya, Pancasila itu perlu terus kita ingatkan setiap hari kepada anak-anak kita.

Yang kelima, yang berkaitan dengan lomba-lomba untuk anak-anak. Dulu saya ingat waktu kita masih kecil, lomba per kecamatan, lomba kota itu hampir setiap semester itu pasti ada, setiap sebelum kita liburan atau pas liburan pasti ada lomba-lomba seperti itu. Sekarang kita lihat juga tidak banyak dilakukan, baik lomba-lomba olahraga, lomba melukis. Mungkin sekarang anak-anak kita yang lebih modern bisa saja lomba membikin video, lomba membikin blog, menulis dalam blog, lomba membikin aplikasi-aplikasi. Saya kira banyak sekali lomba-lomba yang di tingkat kecamatan atau di tingkat kota/kabupaten yang bisa kita lakukan.

Karena anggaran pendidikan juga tidak sedikit. Tahun ini total anggaran pendidikan kita lebih dari Rp400 triliun, sangat besar sekali. Kalau arahnya tidak tepat sasaran akan banyak yang hilang percuma.

Kemudian mengenai penguasaan IT. Saya juga ingin mengingatkan bahwa kedepan apapun penguasaan IT ini sangat penting perlu sekali. Oleh sebab itu, kenalkan sedini mungkin. Sekaligus untuk memagari anak-anak kita mengenai penggunaan sosial media. Ajari mereka misalnya di SD mengenai penggunaan microsoft excel, microsoft word, misalnya, ajarkan pada mereka. Karena apapun ini akan kedepan akan sangat berguna bagi anak didik kita.

Saya ingin apa yang saya sampaikan tadi dirumuskan dalam sebuah pemikiran-pemikiran yang lebih komprehensif. Tetapi saya ingin agar anak-anak kita semuanya bisa memenangkan persaingan, memenangkan kompetisi dalam era persaingan yang sekarang ini sangat ketat sekali.

Sekali lagi kita harus memberikan perhatian yang serius terhadap perkembangan media sosial yang sekarang ini begitu dekat dan nyata pengaruhnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kadang-kadang yang mendidik anak-anak kita ini justru dari media sosial, hati-hati. Kadang-kadang berita-berita yang tersaji seolah-olah menampilkan sebuah kebenaran di media sosial, padahal anak-anak buka. Padahal belum tentu hal-hal yang tersampaikan dalam media-media sosial itu benar, belum tentu. Banyak hal yang bohong, banyak hal yang tidak benar, sehingga anak-anak perlu dididik untuk menyaring mana yang benar, mana yang tidak benar, mana yang salah, mana yang benar. Jika tidak hati-hati maka ini bisa menimbulkan sebuah dekonstruksi anak-anak kita dalam berpikir. Dan ini harus kita antisipasi sedini mungkin.

Yang kedua, yang berkaitan dengan vocational school, sekolah kejuruan. Perlu saya sampaikan bahwa tenaga kerja kita sekarang ini 42,5 persen itu adalah lulusan SD, 66 persen itu adalah lulusan SD dan SMP, 82 persen itu lulusan SD, SMP, dan SMA. Inilah kondisi yang harus saya sampaikan apa adanya. Dan ini menjadi PR, menjadi pekerjaan rumah kita agar sumber daya manusia kita ini betul-betul disiapkan. Karena tahun 2030 nanti akan ada yang namanya bonus demografi. Kita mendapatkan sebuah bonus demografi angkatan kerja produktif yang sangat banyak, terbanyak di dunia. Tetapi kalau kualitasnya tidak kita siapkan ini justru bisa menjadi bumerang bagi negara kita, bagi kita semuanya.

Oleh sebab itu, penyiapan sekolah kejuruan baik sisi sarana, prasarana harus betul-betul disiapkan Saya mendapatkan laporan bahwa seharusnya yang namanya guru di SMK itu seharusnya 70 persen itu guru-guru pelatih tapi yang terjadi sekarang ini 70 persen guru SMK itu banyak yang guru normatif. Ini yang harus mulai dilakukan training sehingga guru-guru SMK itu lebih banyak yang guru-guru yang bisa melatih baik misalnya meng-assembling sepeda motor, baik yang namanya membuat aplikasi-aplikasi.

Jangan terus menerus kita linier, monoton, rutinitas yang tidak ada loncatan perubahan. Saya lihat dari dulu sampai sekarang yang namanya SMK itu mesti jurusannya jurusan bangunan, jurusan mesin, jurusan listrik. Kenapa tidak ada yang hal-hal yang spesifik di situ? Kenapa enggak ada spesifik jurusan, yang saya lihat misalnya, kayak di Jerman ada jurusan spesifik hanya membuat jendela saja dan memasang jendelanya, membuat pintu dan memasang pintu. Kalau membuat mesin juga spesifik, mengapa kita tidak membuat jurusan-jurusan seperti itu? Misalnya jurusan membuat video, bisa saja, jurusan membuat aplikasi-aplikasi. Karena dunia sudah berubah dan perubahannya sangat cepat sekali, sangat cepat sekali. Kalau ini tidak diantisipasi dan anak-anak didik kita tidak kita siapkan secara baik betul-betul kita akan ditinggal dan kalah dalam kompetisi ke depan.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017 saya nyatakan resmi dibuka.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru