Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Peresmian Pengoperasian Perdana Mesin Bor Bawah Tanah “Antareja” Proyek MRT Jakarta, Di Patung Pemuda Senayan, Jakarta, 21 September 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 21 September 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 12.698 Kali

Logo-PidatoBismilahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum wr.wb

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para menteri kabinet kerja, Yang Mulia Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia,

Yang saya hormati Wakil Gubernur DKI Jakarta beserta Ketua DPRD DKI Jakarta dan anggota DPRD,

Yang saya hormati Komisaris dan Direktur PT MRT, para tamu undangan dan hadirin yang berbahagia.

Saya selalu sampaikan, jangan menunda-nunda yang berkaitan dengan infrastruktur. Kenapa seperti itu? Semakin kita tunda akan semakin mahal harganya.

Contohnya MRT. 26 tahun tidak diputuskan. Kenapa? Selalu yang dihitung adalah untung dan rugi. Profitnya. Ya pasti tidak untung, sampai kapanpun dijelaskan dan kalkulasi apapun tidak akan pernah untung. Mestinya yang dihitung adalah benefitnya, untuk negara, untuk masyarakat, untuk kota, seperti apa.

Oleh sebab itu, saat saya menjadi gubernur, beberapa kali pertemuan saya putuskan untuk langsung dikerjakan. Kenapa seperti itu? Dengan pertemuan berapa kalipun angkanya akan seperti itu terus, nggak akan berubah. Ganti berapa gubernur pun angkanya tidak akan berubah. Karena memang yang namanya transportasi massal itu pasti tidak akan mendatangkan keuntungan

Oleh sebab itu, hitung-hitungannya hanya satu, subsidinya berapa? Ketemu subsidinya sekian. Kemudian uang subsidi didapat dari mana? Dari mana, kalau Bapak/Ibu tanya, dari penerapan ERP (Electronic Road Pricing). Sudah ketemu ya sudah putuskan. Ini keputusan politik.

Oleh sebab itu, pada tanggal 10 Oktober 2013, meskipun ada yang demo, sudah saya putuskan jalan. Alhamdulillah sekarang, bisa kita lihat proses pengerjaannya sangat bagus. Dulu semua orang demo, takut nanti ini dikerjakan pasti akan ada kemacetan di mana-mana, ternyata dengan manajemen yang baik, dengan manajemen traffic yang baik, tidak ada apa-apa. Saya harus mengatakan apa adanya, manajemen yang dilakukan oleh yang mengerjakan sangat bagus sekali. Jepang. Kita harus bicara apa adanya, sangat bagus.

Kemudian, coba dilihat kenapa tadi biaya dan cost-nya menjadi mahal? Bukan apa-apa. Bayangkan kalau ini dikerjakan 25 tahun yang lalu, pembebasan lahan pasti jauh lebih murah. Tidak juga kita harus meruntuhkan Lapangan Lebak Bulus, karena memang sudah terkonsep sejak awal.

Inilah biaya-biaya yang harus dikeluarkan, baik teknis maupun non teknis, yang menambah biaya dan cost dari proyek ini. Oleh sebab itu, kenapa seminggu yang lalu saya putuskan juga LRT (Light Rail Transit) dari luar Jakarta masuk ke Jakarta saya putuskan juga, karena kalau dihitung sampai kapanpun untung dan ruginya tidak akan ketemu.

Kita ini sudah ketinggalan jauh sekali dengan kota-kota besar di seluruh dunia. Kalau terlambat memutuskan, itu juga keputusan politik, jangan dihitung-hitung lagi untung ruginya. Tidak mungkin. Hanya kuncinya, dari mana subsidi itu harus diberikan. Kalau kita ragu terus, bagaimana nanti lalu lintas macet, buat terowongan jangan-jangan nanti ambrol, itu bukan urusan kita. Itu sudah ada ahlinya, jangan kita sok ngerti, sering memberikan perkiraan-perkiraan. Kita belum pernah mengerjakan, ini kan yang pertama. Apalagi pengamat-pengamat sering menakuti-nakuti. Di negara-negara lain tidak ada masalah kok kita ini ragu-ragu memutuskan.

Begitu juga yang sering diributkan, kereta api cepat misalnya. Kenapa diributkan, itu juga belum pernah ada di Indonesia. Kalau saya hitung-hitungannya tidak seperti itu. Ada yang mengatakan tidak mungkin kita bisa bayar 200 ribu atau 300 ribu, itukan hitungan sekarang. Nanti 10-30 tahun yang akan datang, orang-orang kita ini sudah kaya semuanya. Bayar 300 ribu pasti berani. Sekali lagi jangan dihitung untung dan rugi terus. Tidak akan ketemu. Ini MRT harus dijadikan pengalaman.

Ini keputusan politik. Sekarang lalu lintas juga biasa-biasa saja, di atas tidak ada pengerjaan, tapi yang bekerja di dalam tanah terus tidak berhenti.

Tadi saya tanya pada Dirut PT MRT, “Pak Dono, gimana masalah progress dan schedule

“Tidak ada masalah, selalu tepat waktu.”

Jadi ini yang perlu kita berikan acungan jempol, kepada PT MRT dan seluruh kontraktor yang bekerja di proyek ini. Dan saya titip kepada Pak Menteri Bappenas, Menteri Perhubungan, agar ini ditindak lanjuti dengan progress selanjutnya yang dari HI – Kampung Bandan dan yang dari Timur ke Barat jangan sampai terlambat. Yang paling penting, hitung-hitungannya dipaparkan, kemudian anggaran duitnya berasal dari mana, itu yang perlu dirapatkan.

Dan tahapan-tahapan penting pembangunan MRT saya kira harus terus dikomunikasikan kepada masyarakat, komunikasi itu penting sehingga masyarakat tahu bahwa pekerjaan ini terus berjalan. Dan pembangunan MRT juga harus disampaikan secara transparan, karena masyarakat Jakarta sudah 26 tahun menanti adanya MRT. Jadi wajar jika kita tidak sabar menunggu kapan jadinya, kapan selesainya.

Sekali lagi saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada Pemprov DKI Jakarta, dan kita berharap, proyek ini selesai tepat waktu sesuai dengan schedule yang ada.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan kepada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi terima kasih.

Wassalamualaikum wr.wb.

 

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru