Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Penutupan Pengkajian Ramadan 1439H Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tahun 2018, 29 Mei 2018, di Kampus Universitas Hamka, Ciracas, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Mei 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 2.672 Kali

Logo-Pidato2-8Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
Wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
Wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Bapak Ketua PP Muhammadiyah beserta seluruh jajaran pengurus,
Yang saya hormati Ketua Umum Aisyiyah beserta seluruh jajaran pengurus,
Yang saya hormati Bapak Rektor Uhamka beserta seluruh civitas akademika,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, Koordinator Staf Khusus,
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia.

Pertama, saya ingin menjawab mengenai rusun. Tadi sebetulnya di ruangan Pak Rektor, Pak Ketua Umum sudah menyampaikan bahwa nanti di Solo akan ada muktamar di tahun 2020. Dibutuhkan rusun untuk para peserta. Di ruangan tadi saya sudah saya sampaikan, saya sanggupi tahun ini akan saya kerjakan. Tapi Pak Rektor belum menyampaikan saat itu. Begitu masuk ke sini ada tambahan lagi rusun lagi, ya saya sanggupi lagi Pak. Insyaallah nanti 2 (dua) minggu setelah ini akan dicek di lapangan dan moga-moga segera dikerjakan dan selesai di akhir tahun ini. Biasanya dikerjakan 6 (enam) bulan selesai, insyaallah selesai. Yang lain nanti kalau ada yang penting bisa disampaikan lewat Prof. Muhadjir.

Saya itu kalau ketemu dengan Pak Ketua Umum, saya ingat, ketemu di Jogja ditanyakan, “Pak, mengenai kedokteran Uhamka dan kedokteran Ahmad Dahlan seperti apa?” Saya kan belum mengerti, saya enggak jawab. Ketemu lagi ditanya, sudah saya jawab, “sudah saya urus Pak Ketua, ditunggu.” Tapi ketemu lagi, “belum jadi itu Pak.” Tadi saya senang sudah dapat kabar untuk fakultas kedokteran baik di Uhamka maupun di Universitas Ahmad Dahlan sudah selesai. Ya karena kita ini masih kurang dokter terutama untuk yang di daerah-daerah, sangat kurang sekali, sangat kurang sekali. Jadi kalau Muhammadiyah mendirikan fakultas kedokteran baik di Jakarta maupun di Jogja saya kira memang itu sebuah kebutuhan.

Yang kedua, saya juga ingin mengapresiasi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menekankan pentingnya tanwir dan juga tajdid. Sehingga harapan kita semuanya dengan tanwir dan tajdid tadi ada harapan kebangsaan yang diletakkan kepada Muhammadiyah, di pundak Muhammadiyah. Karena memang bangsa ini adalah bangsa besar yang berbeda-beda dan bersuku-suku, beragam. Sama seperti harapan yang dipanggul dan dijalankan Muhammadiyah selama ini dalam menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.

Dan saya juga mengapresiasi, tadi sudah disampaikan oleh Pak Ketum, Muhammadiyah yang terus mengumandangkan negara Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah. Saya kira ini kalau terus digaungkan akan memberikan sebuah kesejukan karena sebuah perjanjian antarelemen bangsa Indonesia untuk kepentingan negara bersama ini telah kita sepakati, telah disepakati oleh para pendiri bangsa. Sebuah negara yang di dalamnya umat Islam mengisi kemerdekaan ini dengan kebaikan-kebaikan.

Yang kedua, yang berkaitan dengan masuknya kita ke era digital, era revolusi Industri 4.0. Apa yang saya lihat kira-kira 2,5 (dua setengah) tahun yang lalu saat saya masuk ke Silicon Valley di Amerika, saya masuk ke markasnya Twitter, markasnya Facebook, markasnya Google, markasnya Plug-and-Play, saya masuk ke sana. Ternyata betul-betul perubahan itu sudah ada dan sudah mereka kerjakan.  Saya begitu terkaget-kaget betapa misalnya kayak Google mereka mempunyai sebuah perangkat yang bisa melihat  ikan itu menuju ke mana, ikan itu ada di mana dan menuju ke mana. Ikannya kelihatan. Jadi kalau nelayan diberi ini dapat ikannya pasti banyak, kelihatan sekali.

Kemudian waktu saya masuk ke markasnya Facebook, ketemu dengan Mark Zuckerberg, CEO-nya. Saya diajak main pingpong pakai ini, pakai kacamata ini yang namanya Oculus. Main pingpong tapi enggak ada meja pingpongnya, enggak ada bola pingpongnya. Ya main biasa kayak gini dan keringatan juga. Main pingpong, di sana tik, gantian sana tik. Padahal enggak ada mejanya dan enggak ada bolanya. Saya tanya kepada Mark, “Mark ini sepak bola juga bisa?” “Oh, bisa.” Jadi di ruangan seperti ini, kayak kita main bola tendang-tendangan, main tenis juga bisa. Ya artinya nanti kita bisa main bola, main tenis, main pingpong di manapun kita berada dengan alat ini.

Ini bayangkan betapa lompatan kemajuan karena revolusi Industri 4.0 era digital ini betul-betul sudah masuk, sudah ada. Bahkan, McKinsey Global Institute mengatakan bahwa revolusi Industri 4.0 ini kecepatannya 3.000 (tiga ribu) kali dibandingkan revolusi industri yang pertama, 3.000 (tiga ribu) kali. Begitu nanti akan sangat cepatnya perubahan ini.

Sekarang orang sudah berbicara, Elon Musk berbicara mengenai hyperloop, orang dari satu tempat ke tempat lain begitu dengan sangat cepatnya. Tesla, mobil listrik masa depan. SpaceX  yang berbicara mengenai penggunaan ruang angkasa yang sudah lama juga tidak kita bicarakan. Ini sudah semuanya sudah mulai semuanya.

Kemudian sekarang sudah juga dipakai misalnya di airport. Di Changi, Changi Airport di Singapura, orang menyapu karpet enggak ada lagi, yang membersihkan karpet robot. Terus nanti yang nyapu itu mau kemana? Kemudian juga mulai lagi orang membangun rumah, membangun rumah itu hanya 24 (dua puluh empat) jam jadi, dengan 3D printing. Saya juga belum pernah melihat tapi gambarnya ada. Crek, crek, crek, crek, 24 (dua puluh empat) jam jadi.

Inilah perubahan-perubahan yang begitu sangat cepatnya yang harus kita antisipasi, yang harus kita ketahui. Kita tidak mengikuti ketinggalan, mengikuti juga kalau enggak hati-hati juga… Inilah peluang dan tantangan yang ada di depan kita yang memang harus kita hadapi.

Indonesia sebagai sebuah negara besar dengan penduduk kita sekarang ini sudah 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta, yang hidup 263 (dua ratus enam puluh tiga) juta ini hidup di 17.000 (tujuh belas ribu) pulau yang kita miliki, di 514 (lima ratus empat belas) kabupaten/kota yang kita miliki, di 34 (tiga puluh empat) provinsi yang kita miliki. Kita mempunyai 714 (tujuh ratus empat belas) suku dengan bahasa daerah yang berbeda-beda, ada 1.100 (seribu seratus) lebih bahasa daerah. Inilah kondisi juga yang harus kita pahami dengan adanya era digital ini seperti apa kondisi di lapangannya nanti karena kita berbeda-beda, karena kita majemuk, yang ini sering tidak kita sadari.

Saya saja hampir sering keliru. Misalnya di Provinsi Sumatra Utara, di sana kan Batak. Saya pikir setelah salam, “horas bah” atau “horas” tapi begitu masuk ke tengah ternyata sudah berbeda. Saya, “horas.” “Pak Presiden, keliru Pak keliru, di sini bukan horas Pak di sini mejuah-juah.” Padahal masih satu provinsi. Ke timur sedikit sudah beda lagi, “Pak, di sini bukan mejuah-juah Pak, di sini juah-juah,” beda lagi. Di selatan saya horas keliru lagi, “bukan horas Pak di sini, kalau di Nias itu ya’ahowu.” Beda-beda semuanya.

Inilah anugerah Allah yang diberikan kepada kita bangsa Indonesia yang juga harus kita sadari bersama-sama. Karena apa, di era digital sekarang ini yang namanya opini, menyampaikan pendapat, menyampaikan gambar, menyampaikan video itu semua orang bisa. Semua orang bisa entah lewat Instagram, entah lewat YouTube, entah lewat Twitter, entah lewat Facebook, bisa semuanya. Beda kalau TV itu ada redakturnya, media mainstream itu ada redaksinya yang menyaring, yang memfilter sehingga berita yang disampaikan itu ada saringannya. Tapi kalau ini tidak ada. Mau apa, kita mau berpendapat apa, berpendapat yang ekstrem, berpendapat yang aneh-aneh disampaikan bisa.

Inilah kenapa perlu sebuah antisipasi dalam kita masuk ke era digital ini. Dakwah pun sekarang, syiar pun juga sudah banyak sekali yang menggunakan Instagram, YouTube, Facebook, Twitter. Misalnya di Muhammadiyah, saya lihat Prof. Din Syamsuddin di Twitter-nya pengikutnya 129.000 (seratus dua puluh sembilan ribu), itu kan banyak sekali. Ya memang sekarang penggunaan-penggunaan seperti ini yang sangat efektif. Saya lihat Pak Haedar Nashir punya follower 12.000 (dua belas ribu), kan banyak sekali juga. Ini kalau hal seperti ini tidak kita pakai, tidak kita gunakan ya bisa menjadi sebuah hal yang kita menjadi tertinggal. Tetapi kalau penggunaannya juga tidak benar bisa melenceng kemana-mana. Sangat berbahaya sekali.

Coba kalau kita lihat di media sosial, kita buka, betapa yang namanya saling mencela, saling mencemooh, saling membuka aib, menyampaikan hal yang buruk-buruk. Sehingga sekarang ini hampir di seluruh negara, hampir di seluruh negara, orang itu menjadi sensitif. Kalau anak muda bilang baper, gampang sensitif, gampang berperasaan. Karena apa, ya  ini penyampaiannya sudah individu-individu bisa langsung menyampaikan apa-apa di dalam media sosial. Berbahayanya adalah kalau kita terbawa kepada hal-hal yang tidak baik, gampang curiga, gampang berprasangka negatif, gampang berprasangka buruk, dan selalu su’ul  tafahum. Harusnya khusnul tafahum, berperasangka yang baik, berprasangka positif, selalu berpikiran dengan penuh kecintaan. Yang harus dikembangkan itu. Kalau melencengnya ke sini, berprasangka yang buruk yang ini yang berbahaya.

Dan ini sekarang sudah terjadi hampir di semua negara karena enggak ada filter. Pemiliknya, platform ini pemiliknya swasta bukan negara. Kalau negara bisa mengendalikan. Sekarang negara enggak bisa mengendalikan ini. Dan semua kepala negara, baik perdana menteri maupun presiden yang bertemu dengan saya mengeluhkan hal yang sama. Seperti ini suasananya, ada pergeseran yang mereka juga rasakan seperti yang sekarang kita rasakan.

Inilah menurut saya pentingnya kita memiliki adab dalam bermedia sosial, pentingnya kita memperkuat nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya, norma-norma agama, norma-norma budaya yang terus harus kita perkuat. Sehingga jangan sampai kita ini tanpa sadar terintervensi oleh budaya-budaya barat, oleh budaya-budaya yang tidak betul, dan tanpa sadar kita sudah mengikuti mereka. Sangat berbahaya sekali kalau ini terjadi. Dan kejadian ini saya kira bisa kita lihat sehari-hari di dalam media sosial. Ada orang mengunggah ini menjadi ramai. Apalagi kalau sudah dibarengi dengan kepentingan-kepentingan politik, wah bisa kemana-mana itu.

Hati-hati, saya ingin mengingatkan kembali seperti tadi yang saya sampaikan bahwa McKinsey  Global Institute menyampaikan perubahan revolusi Industri 4.0 ini 3.000 (tiga ribu) kali kecepatannya dibandingkan revolusi industri yang pertama. Saya juga belum bisa membayangkan 3.000 (tiga ribu) kali itu seperti apa. Tapi menurut saya membangun karakter, membangun nilai-nilai, membangun norma-norma yang kita miliki, ke-Indonesia-an yang kita miliki menjadi hal yang sangat penting dalam kita membentengi pengaruh-pengaruh intervensi dari luar terhadap nilai-nilai baik yang telah kita miliki selama ini. Jangan sampai yang berkaitan dengan budi pekerti, dengan sopan santun, dengan keramahan kita menjadi hilang gara-gara terpengaruh oleh era digital yang telah masuk ke negara kita, yang saya harus ngomong apa adanya, yang sulit menyaringnya. Karena kendali itu memang tidak berada di negara kita.

Sekarang di era digital ini, sebentar lagi Bapak-Ibu sekalian, membayar apa-apa dengan smartphone, dengan handphone kita. Sekarang mungkin beberapa sudah mulai memakai tapi nanti yang namanya uang cash mungkin sudah enggak dipakai lagi. Kartu kredit saja mungkin sudah enggak kepake lagi nanti ke depan, pakai ini saja membayar. Bukan handphone-nya dipakai untuk membayar, enggak, dengan handphone itu uang kita tersimpan di handphone dan kemudian akan kalau kita belanja akun kita akan terkurangi di situ. Di Tiongkok saya kira sudah hampir, hampir semuanya sudah berpindah ke yang namanya Alipay. Di kita saya lihat dengan sudah memakai misalnya kayak Go-Pay ada di Indonesia sudah ada, Paytren juga sudah ada. Saya kira akan mulai ke sana, arahnya akan mulai ke sana.

Penyesuaian-penyesuaian seperti yang tadi saya sampaikan memang harus terus kita kawal bersama-sama agar perubahan ini benar-benar memberikan sebuah peluang yang baik, memberikan sebuah lompatan yang baik bagi kemajuan bangsa kita. Bukan sebaliknya, kita terkaget-kaget dan mereka mengintervensi nilai-nilai kita, norma-norma kita, budi pekerti kita, karakter kita karena kita tidak sadar sudah mengikuti apa yang sudah mereka sampaikan di dalam media sosial, di dalam internet, dalam media-media online. Yang tanpa sadar hampir sekarang ini kita tidak pernah yang namanya keluar dari, masuk kamar pun sekarang kita pakai, dalam mobil kita buka. Inilah pengaruh yang sangat harus kita betul-betul antisipasi.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya sangat berterima kasih kepada PP Muhammadiyah yang terus dan selalu berkomunikasi dengan baik dengan pemerintah. Juga memberikan kritik-kritik yang membangun disertai dengan solusi. Saya kira ini juga sesuatu yang terus akan kita kaji setiap masukan-masukan yang ada. Dan saya percaya bahwa Muhamadiyah dapat terus memainkan peran strategis dalam pemanfaatan dan pengembangan teknologi digital ini untuk keperluan dakwah yang amar ma’ruf nahi munkar di berbagai bidang.

Maka dengan mengucap alhamdulillahirrabbil’alamin dengan ini saya menutup acara Pengkajian Ramadan 1439 Hijriah yang diadakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Saya tutup,
Terima kasih,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

Transkrip Pidato Terbaru